12 Minggu Menuju Pelaminan - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
25530
single,single-post,postid-25530,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
12-weeks-to-get-married

12 Minggu Menuju Pelaminan

12-weeks-to-get-marriedBelum ketemu jodoh dan berniat ta’aruf? Boleh saja. Asalkan kamu tahu benar apa makna sebenarnya dari ta’aruf ini. Kalau kamu benar-benar menjalankan proses ta’aruf ini dengan baik dan sesuai kaidah, kamu nggak akan butuh waktu lama untuk married dan ijab-kabul. Kok bisa?

Lalu, tahukah kamu bahwa ta’aruf itu bisa dilakukan baik secara online maupun offline? Nah, bagi yang belum tahu, yuk ikuti wawancara QultumMedia bersama Maswahyu ST, penulis buku 12 Weeks to Get Married sekaligus penggagas rumahtaaruf.com.

 

ilust-12-weeks

Belum ketemu jodoh dan berniat ta’aruf? Boleh saja. Asalkan kamu tahu benar apa makna sebenarnya dari ta’aruf ini. Kalau kamu benar-benar menjalankan proses ta’aruf ini dengan baik dan sesuai kaidah, kamu nggak akan butuh waktu lama untuk married dan ijab-kabul. Kok bisa?

Lalu, tahukah kamu bahwa ta’aruf itu bisa dilakukan baik secara online maupun offline? Nah, bagi yang belum tahu, yuk ikuti wawancara QultumMedia bersama Maswahyu ST, penulis buku 12 Weeks to Get Married sekaligus penggagas rumahtaaruf.com.

Apa kabar Maswahyu?
Alhamdulillah, masih diberi nikmat iman, Islam, dan kesehatan. 🙂

Selain mengurus rumahtaaruf.com dan menulis buku, sekarang ini sedang sibuk apa?
Saat ini saya masih menjalani rutinitas pekerjaan sebagai karyawan swasta, juga sebagai kepala rumah tangga tentunya. 🙂

Bagaimana perasaannya melihat buku 12 Weeks to Get Married hadir di toko-toko buku?
Pastinya senang dan bangga, akhirnya karya perdana saya bisa berjejer di toko-toko buku. Sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan bisa menulis buku, bahkan sampai menerbitkannya serta beredar ke penjuru nusantara.

Apa sih yang melatarbelakangi Maswahyu menulis buku 12 Weeks to Get Married?
Buku seputar pranikah yang sudah terbit saya lihat kebanyakan belum menggambarkan secara jelas bagaimana cara menjalani proses ta’aruf. Semangat untuk mengampanyekan ‘jangan pacaran, pilihlah ta’aruf’ belum diimbangi dengan penjelasan secara detail bagaimana tahapan proses ta’aruf itu harus dilakukan.

Buku 12 Weeks to Get Married saya tulis untuk memberikan pencerahan bagi rekan-rekan yang belum memahami sepenuhnya bagaimana pelaksanaan/praktik ta’aruf yang diikhtiarkan untuk berjalan secara syar’i.

Dapat ide dari mana sih hingga akhirnya menggagas rumahtaaruf.com?
Berdirinya Rumah Ta’aruf tak lepas dari keberadaan forum diskusi online myQuran (www.myQuran.com ). Pada tahun 2001 menggunakan nama subforum Perkenalan dan Perjodohan, kemudian beberapa kali mengalami perubahan nama hingga pada tahun 2009 nama yang digunakan adalah subforum Ta’aruf. Pada tanggal 10 Agustus 2009 saya diangkat menjadi moderator subforum Ta’aruf di forum myQuran hingga sekarang.

Pada bulan Januari 2014 saya mulai memperkenalkan RumahTaaruf.com sebagai sarana “melebarkan sayap” dan meningkatkan manfaat bagi masyarakat khususnya dalam tema perta’arufan. Penggunaan nama Rumah Ta’aruf terinspirasi dari nama beberapa organisasi dan lembaga Islam yang menggunakan kata “Rumah” di bagian depan nama lembaganya (contoh: Rumah Zakat, Rumah Quran, Rumah Tahfidz, Rumah Yatim, Rumah Fiqih, dll.)

Harapan saya RumahTaaruf.com ini dapat menjadi salah satu pusat edukasi ta’aruf dan sarana penyebarluasan taaruf pranikah islami yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Kenapa ada ta’aruf online dan offline?
Seiring berkembangnya teknologi informasi yang semakin pesat, ta’aruf online bisa menjadi salah satu metode ta’aruf yang bisa dipilih saat rekan-rekan belum menemukan calon pasangan yang pas di lingkungan sekitar. Ta’aruf jarak jauh yang mungkin dianggap mustahil beberapa puluh tahun lalu, kini dengan mudah dijalani dengan fasilitas teknologi yang ada. Meskipun demikian, perlu kehati-hatian yang lebih karena dunia maya rawan sekali akan orang iseng dan yang berniat jahat.

Ta’aruf offline merupakan kelanjutan dari ta’aruf online yang dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan lebih jauh seseorang secara langsung. Dengan adanya ta’aruf offline ini, maka sosok yang dikenal di ta’aruf online bisa dibuktikan keberadaannya, bukan sekadar nama tanpa rupa. Dengan demikian, informasi yang didapat adalah informasi yang nyata, langsung dari sumbernya. Jadi bukan sekadar informasi “semu” yang sedemikian mudahnya ditampilkan oleh orang iseng di dunia maya.

Boleh ceritakan sedikit nggak tentang buku 12 Weeks to Get Married?
Buku 12 Weeks to Get Married diawali dengan gambaran keseharian saya menjadi mediator ta’aruf serta beberapa kisah nyata mediasi ta’aruf yang pernah saya fasilitasi (300-an proses ta’aruf online dan 70 proses ta’aruf offline saat buku ditulis). Dari kisah seorang rekan yang mengajukan biodata hingga 30-an lebih namun belum ada yang cocok, kisah penampakan fisik beberapa rekan yang cukup berbeda dengan yang ditampilkan di foto, kisah ta’aruf yang mentok di orangtua, kisah ta’aruf jarak jauh yang sukses hingga pernikahan, kisah pendampingan ta’aruf di gerai bakso, kisah rekor tercepat proses ta’aruf dari pertemuan perdana hingga hari pernikahan yang hanya berjarak 38 hari, dan kisah nyata pasangan yang prosesnya ta’arufnya berjalan lancar dalam waktu 12 pekan.

Di bagian selanjutnya saya sampaikan gambaran langkah-langkah 12 pekan menuju pernikahan, dari persiapan ta’aruf, pengajuan ta’aruf, pelaksanaan ta’aruf, hingga akhir proses ta’aruf yaitu hari pernikahan. Tahap persiapan sebelum ta’aruf saya detailkan di bagian berikutnya, mulai dari persiapan diri, pengondisian orang tua, pembuatan CV/biodata ta’aruf beserta contoh formatnya, mencari mediator ta’aruf, serta tips-tips observasi sebelum ta’aruf untuk memperbesar peluang agar pengajuan ta’aruf diterima.

Di tahap pelaksanaan ta’aruf, ada gambaran tahapan ta’aruf online dan ta’aruf offline yang bisa dijalani, lengkap dengan tips-tips praktis seputar pelaksanaannya. Bagaimana teknis tukar menukar biodata, teknis validasi data, dan teknis tanya jawab lewat email saya paparkan di bagian panduan proses ta’aruf online. Di bagian panduan proses ta’aruf offline, saya sampaikan apa saja yang perlu disiapkan sebelum ta’aruf offline, gambaran ta’aruf offline, serta keputusan ta’aruf offline.

Di bagian akhir buku saya sampaikan dua tema utama yang merupakan tindak lanjut ta’aruf offline, yaitu panduan saat ta’aruf gagal, dan panduan saat ta’aruf berhasil. Alasan kegagalan dan penolakan ta’aruf beserta kiat-kiat menyikapinya saya sampaikan di bagian ini. Saat ta’aruf berhasil yaitu proses berlanjut hingga pernikahan, saya sampaikan juga tips-tips berinteraksi yang ‘aman’ sehingga proses ta’aruf berjalan syari dengan mengharapkan keridhaan-Nya.

Apa yang Maswahyu ingin sampaikan melalui buku ini?
Melalui buku ini saya ingin menyampaikan bahwa proses ta’aruf itu mudah dijalani, bisa berjalan dengan lancar dan aman sesuai koridor-Nya. Hasil proses ta’aruf pun ada kemungkinan bisa gagal, ada juga kemungkinan berhasil. Dengan beberapa metode dan strategi tertentu, peluang keberhasilan ta’aruf bisa ditingkatkan sehingga hasilnya nanti sesuai dengan yang diharapkan, yaitu prosesnya berlanjut hingga pernikahan.

Kendala apa yang Maswahyu alami saat menulis buku ini?
Buku ini merupakan kumpulan artikel dan tips-tips seputar ta’aruf yang saya susun dan dimuat di salah satu situs islam online, yang memang mengharuskan penulisannya menggunakan gaya bahasa baku. Ada sedikit kendala di penyusunan gaya bahasanya karena terikat gaya bahasa baku yang terkesan serius dan kaku, sehingga perlu banyak penyesuaian gaya tulisannya agar lebih santai dan enak dibaca.

Pengalaman apa sih yang paling berkesan saat Maswahyu menulis buku ini?
Yang paling berkesan saat saya dikirimi karikatur-karikatur dan cover oleh tim redaksi sebagai pelengkap tulisan saya. Pertama kali melihatnya sangat ‘surprise’, karena karikatur dan desain cover bukunya lucu-lucu dan menarik.

Bisa kasih tips seputar ta’aruf online dan offline?
Tips-tips menjalani ta’aruf, baik itu ta’aruf online maupun offline (saya ambil dari bagian pendahuluan buku ini) :

a. Ta’aruflah saat sudah mampu menikah
Proses ta’aruf hanya dijalani bagi yang sudah mampu menikah. Bagi rekan-rekan yang belum mampu, maka belum perlu menjalani proses ta’aruf.

b. Jadikan kriteria agama dan akhlak si calon sebagai pertimbangan utama
Kriteria calon yang ditetapkan boleh macam-macam sesuai selera, namun kriteria agama dan akhlak calon pasangan adalah haruslah yang baik.

c. Rahasiakan proses ta’aruf
Proses ta’aruf sifatnya rahasia, tidak perlu menyebarluaskan proses ta’aruf yang dijalani. Publikasikan ke khalayak umum dalam bentuk undangan pernikahan nanti.

d. Adanya orang ketiga dalam ta’aruf
Tidak ada proses ta’aruf yang dijalani berduaan saja, karena setan bisa menjadi yang ketiganya. Pastikan ada pihak yang mendampingi proses selama ta’aruf dijalani.

e. Aktivitas nazhar/melihat calon pasangan
Apabila kenalnya berawal dari dunia maya, jangan langsung iyakan untuk berproses ke jenjang yang lebih serius bila belum pernah bertemu muka. Pastikan dulu bahwa sosok yang dikenal itu adalah sosok yang nyata dengan melihatnya secara langsung.

Apa suka duka menjadi admin di forum ta’aruf?
Alhamdulillah, sejauh ini kebanyakan sukanya yang saya rasa dibanding dukanya. Senang bisa membantu ikhtiar rekan-rekan dalam pencarian jodohnya. Apalagi bila yang difasilitasi proses ta’arufnya bisa berlanjut hingga pernikahan, suatu kebahagian yang luar biasa (alhamdulillah, hingga tanggal 20 Oktober 2014 lalu ada 12 pasangan yang berlanjut prosesnya hingga pernikahan).

Untuk dukanya hampir tidak ada, hanya saja mungkin terkendala di jumlah anggota ta’ruf pria yang jauh lebih sedikit dibanding jumlah anggota ta’aruf wanita (perbandingannya sekitar 1:4), sehingga cukup kewalahan dalam memfasilitasi kesenjangan ini.

Apa harapan Maswahyu dengan hadirnya buku ini?
Buku ini semoga bermanfaat bagi rekan-rekan yang masih belum paham bagaimana ta’aruf dalam ranah pelaksanaan/praktiknya. Dan, semoga buku ini bisa menjadi salah satu media penyebarluasan ta’aruf pranikah islami yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat Indonesia.


12-weeks-to-get-married12 Weeks to Get Married berisi kisah sukses penuh hikmah tentang mereka yang ber-ta’aruf. Dilengkapi juga dengan tahapan ta’aruf, beragam tip dan kiat sukses menjalankan ta’aruf.

 

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X