Admin Qultum, Author at Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
2
archive,author,author-admin-qultum,author-2,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
rezeki kita harus dijemput

Rezeki Kita Memang Sudah Ada yang Mengatur, Tapi…

Rezeki kita harus kita jemput, dengan ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Sekaligus.

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Ar-Rum [30]: 40)

Rezeki kita adalah ketetapan Allah SWT. Seperti jodoh dan kematian, rezeki setiap manusia sudah diatur oleh-Nya. Allah Mahakuasa terhadap apa yang ada di bumi dan langit beserta isinya.

Allah menciptakan semua itu semata untuk makhluk-makhluk-Nya. Air dan matahari sebagai sumber kehidupan, tumbuhan untuk dikonsumsi manusia dan hewan, langit dan bumi sebagai “rumah dan atap” sebagai tempat mereka berlindung.

Rezeki Kita: Ikhtiar Menjemputnya Adalah Keharusan

Meskipun rezeki kita sudah ditetapkan sedemikian rupa oleh Allah, bukan berarti kita tidak perlu berikhtiar dalam menjemputnya. Fasilitas dan kemudahan yang Allah ciptakan berupa alam semesta dan isinya ini hendaknya membuat kita lebih bersyukur, yakni bersemangat dalam menjemput rezeki dan tidak berpangku tangan saja.

Menjadi kaya itu tidak dilarang dalam Islam. Apalagi jika rezeki kita itu membuat kita lebih dekat dengan Allah. Membuat kita tidak hanya semangat memperkaya diri sendiri tapi juga berbagi dengan orang yang membutuhkan. Dengan begitu, rasa lelah yang kita rasakan saat bekerja akan berbuah pahala dari Allah SWT.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita ikhtiarkan dalam menjemput rezeki.

  1. Bertakwa
  2. Bertawakal
  3. Bersyukur
  4. Memperbanyak istighfar
  5. Bersedekah
  6. Shalat Khusyu’
  7. Shalat Dhuha.

Kiat-kiat di atas merupakan cara untuk memperoleh keberkahan rezeki kita, bukan sekadar menjemputnya. Memang, tanpa ikhtiar batin seperti itu, rezeki kita akan lebih sulit diperoleh. Tapi bagaimanapun, tanpa keberkahan rezeki yang kita dapatkan tidak akan banyak memberikan manfaat.

Tentang Kiat-kiat Menjemput Rezeki Kita

Selain berisi tentang bagaimana mendapatkan rezeki secara halal dan thayib, buku Amalan-amalan untuk Mempercepat Datangnya Rezeki juga dilengkapi dengan amalan-amalan penarik rezeki yang sebaiknya kita lakukan saat pagi, siang, dan malam hari. Buku ini juga dilangkapi dengan doa-doa untuk memperlancar pekerjaan dan terbebas dari utang dan kemiskinan.

Membaca buku ini seperti menemukan pelengkap yang selama ini kita cari-cari, yang dengannya kita menjadi tahu mengapa rezeki yang kita peroleh selama ini terasa kurang berkah. Selamat membaca!

 

Sumber gambar: AboutIslam.net

hati kita perlu dijaga

Hati Kita Bisa Ragu Tiba-tiba, Karenanya Jagalah Senantiasa

Hati kita memang sifatnya berubah-ubah.

Mudah terbolak-balik sesuai dengan situasi yang kita hadapi. Karena itu, keyakinan yang letaknya juga di dalam hati kita tentu ikut pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup. Salah satunya saat menentukan jodoh dan melakukan persiapan menjelang pernikahan.

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen dari pelakunya untuk istiqamah menjalaninya. Hanya saja, jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen diri sendiri, maka berbeda dengan pernikahan. Pernikahan adalah satu-satunya ibadah yang membutuhkan komitmen dari diri kita dan pasangan.

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa semakin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, bisa juga muncul dari diri kita sendiri. Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya.

Ragu karena perbedaan cara berpikir, ragu karena latar belakang keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Hati Kita Harus Selalu Dijaga

Jika tak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada hari-hari kita melakukan persiapan hari bahagia. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, kita bisa membaca beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia ini.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan.

  1. Memahami bahwa tak ada manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan dimaksudkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang tak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan kita tak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang penggenggam hati kita.
  5. Saat keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.
Hati Kita Rawan Terpengaruh

Ada saudara jauh yang mengendarai kendaraan baru, hati kita bergumam, “Kapan memiliki kendaraan seperti itu?” Ada tetangga membeli furnitur mewah, hati kita bertanya, “Kenapa aku bisanya hanya mendapatkan furnitur seperti ini?” Dan tatkala seorang teman menggandeng pasangannya yang lebih tampan atau cantik di sebuah pesta, hati kita kembali berbisik, “Calon kita kok jauh banget, ya?”

Dear Pembaca, kiat-kiat di atas adalah satu dari sekian banyak kiat tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari bersama pasangan kita. Buku Jungkir Balik Nikah Muda ini bukan hanya menjelaskan apa saja yang perlu kita persiapkan dalam menyambut hari bahagia tapi juga realita kehidupan rumah tangga pasangan muda.

Membaca buku ini membuat kita tak hanya membayangkan indahnya menikah muda tapi juga mempersiapkan mental dalam mengelola permasalahan yang akan kita hadapi.

 

Sumber foto: studiosomething.com

membayar zakat harus disegerakan

Membayar Zakat: Bukti Iman dan Cara Menjaga Kesucian Harta

Membayar zakat harus muncul dari kesadaran diri kita, bukan karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu.

Zakat bukan hanya sebuah kewajiban dalam Islam tapi juga bukti. Bukti bahwa pemeluknya benar-benar muslim yang sejati, bukan sekadar mencari keuntungan dengan mengaku muslim. Seorang muslim yang sejati pasti akan sukarela membayarkan zakatnya, betapapun nilainya sangat besar, bukan justru menunda-nunda, menahan, apalagi mengingkari kewajiban tersebut.

Pada zaman Nabi saw dulu, sebagian orang yang mengaku memeluk Islam merasa sayang dengan harta bendanya dan memilih untuk tidak membayarkan zakatnya. Mereka inilah yang disebut sebagai orang munafik. Keselamatan mereka terjamin dengan menjadi pengikut Nabi saw tapi pada saat yang sama enggan menunaikan kewajiban tersebut.

Zakat adalah salah satu pilar dalam agama kita. Kalau kita enggan membayar zakat maka itu sama artinya kita tidak menegakkan salah satu pilar di dalamnya, yang bisa juga diartikan membiarkan agama yang kita cintai ini roboh. Dan jika Islam yang sudah diperjuangkan oleh Rasulullah dan para ulama ini roboh maka itu artinya akan segera terjadi kebinasaan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, “Allah tidak akan menerima iman seseorang yang tidak menunaikan zakat, dan tidaklah seseorang itu beriman kecuali dia menunaikan zakatnya.”

Membayar Zakat dan Hubungannya dengan Iman

Iman adalah keyakinan di dalam hati, yang diutarakan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Di sinilah hubungan antara iman dan zakat bisa kita lihat. Kalau seseorang benar-benar beriman maka ia pasti membayarkan zakatnya, sebab itu adalah bukti kesungguhan imannya. Jika tidak, maka iman yang diucapkannya tidak lebih sekadar kata-kata yang tidak bermakna.

Kalau kita cermati, seseorang yang enggan membayarkan zakatnya muncul karena rasa cinta yang berlebihan terhadap harta bendanya. Kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda membutakan hatinya, dan membuatnya lalai bahwa dunia dan isinya yang kita miliki sekarang suatu saat akan kita tinggalkan.

Orang yang terjaga imannya sadar bahwa akhirat itu kekal, sementara dunia ini sementara saja. Itu sebabnya, perasaan cinta terhadap harta benda tidak menghinggapi hatinya. Jangankan untuk membayar zakatnya, uangnya hilang pun mereka tidak terlalu merasa sedih. Sebab mereka tahu, bahkan jiwanya sendiri adalah milik Allah dan suatu saat akan kembali pada-Nya.

“Hubbun dun-yaa ro`su kulli khothi`ah, cinta dunia adalah akar segala masalah”. Betapa banyak pertikaian di dunia ini terjadi akibat orang-orang dilalaikan oleh harta benda. Bahkan belakangan ini, munculnya hoax dan pecahnya perang konon terjadi juga karena hasrat sebagian orang untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya, tanpa memedulikan kebaikan dirinya dan orang lain.

Membayar Zakat Akan Menjaga Kesucian Harta Kita

Menahan zakat tidak akan membawa faedah apa-apa bagi kita. Itu bukan hanya membuktikan kepalsuan iman dan Islam kita tapi juga tidak bisa mempertahankan apalagi menambah jumlah harta benda kita. Sebaliknya, enggan membayarkan zakat justru merupakan awal bagi musnahnya limpahan rezeki yang telah Allah berikan pada kita sekaligus keberkahannya.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis, “Tidak akan binasa harta benda di daratan dan di lautan kecuali dengan menahan pembayaran zakat.”

Mungkin ada baiknya kita renungkan doa Sayyidina Ali berikut, sebuah ungkapan yang mencerminkan kearifannya dalam menempatkan harta benda duniawi di dalam hidupnya. “Alloohummaj’alhaa fii aydiinaa, walaa taj’alhaa fii quluubinaa (Ya Allah, letakkanlah harta benda itu di tanganku, janganlah Kau meletakkannya di hatiku).”

Mengapa Sayyidina Ali memohon pada Allah agar harta benda duniawi diletakkan di tangannya dan bukan di hatinya? Karena tangan adalah simbol kekuasaan dan kendali, sementara hati adalah simbol pusat kekuasaan dan kendali. Harta benda yang ada di dalam genggaman tangan kita akan mudah kita kendalikan untuk tujuan yang baik, tapi jika ada di hati kita maka akan sulit untuk kita arahkan.

Walloohu a’lam.

 

Sumber foto: https://ekonomi.kompas.com

Saatnya nanti duduk pun jomblo ada yang menemani

Jomblo dan Pertanyaan “Kamu Kapan?”

Jomblo dan pertanyaan “Kamu kapan?” adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sepintar apa pun ia menghindarinya, seseorang akan menemukannya dan menyampaikan pertanyaan itu juga.

Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) seperti kita-kita ini adalah lebaran dan kondangan. Alasannya sepele, tapi sangat mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi sanak famili kita untuk bertanya, “Kamu kapan?”

          Baca juga:
          Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat untukmu? Ikuti Petunjuk Ini
          Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan oleh Pria Saleh

Pertanyaan itu atau sejenisnya ternyata hanyalah pembuka bagi sebuah “bencana” yang lebih besar dalam kehidupan seorang jomblo di dunia fana ini. Selesai kita jawab, pertanyaan tersebut tak berhenti begitu saja, tapi segera berubah menjadi godaan, yang lama-lama terdengar seperti ledekan, sebelum kemudian fix menjadi “bully-an”.

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Tak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan,  itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Shalat sunah, misalnya, atau umrah.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda (dan sebagian besar mereka memang jomblo), dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini adalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Jomblo Harus Tahu Ini

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan lain waktu, sementara tukang parkir kita lupakan saja. Buat kamu yang masih jomblo, simak baik-baik bagian ini, ya!

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini kita tak sendiri, tapi sudah ada jodohnya. Hanya saja tak seorang pun tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun tak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai bibit-bibit ibadah. Kita memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah dari bibir jombloers yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum menemukan calon pendampingnya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah kebingungan kita, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini, ada seberkas cahaya yang bisa membimbing kita menjalani hidup, agar kita tak salah jalan. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib kita lakukan.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk Dia. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar, atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Jomblo dan Prasangka Baik

Berbaik sangka pada Allah mungkin tak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita dan sekonyong-konyong berkata “I love you, will you marry me?”. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan menyuntikkan energi positif ke tiap mikro milimeter urat sabar para jomblo.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar menyerah dan putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan tidak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu cari pasangan).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian yang tulus pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka: para penanya, penggoda, peledek, atau pem-bully itu untuk bersabar. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan? Mereka harus bisa bersabar menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs masih kemping di dataran tinggi Tibet atau asyik sunbathing di tengah-tengah gurun Sahara sana.

“Aku saja yang menjalani bisa bersabar, masak kamu nggak, sih?”

 

Gambar/Foto dari www.pixabay.com

Menjemput Jodoh dengan Istikharah

Menjemput jodoh yang didambakan tentu bukan perkara mudah. Dan meski berikhtiar semampunya serta mengerjakan shalat Istikharah secara istiqamah sudah dikerjakan, boleh jadi harapan untuk menemukan jodoh itu belum menjelma sebuah kenyataan. Kita masih diharuskan bersabar dan berprasangka baik pada Allah. Bagaimanapun Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita ketimbang diri kita sendiri.

Seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw, ada empat faktor yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih pasangan, yaitu (1) harta, (2) keturunan, (3) kecantikan/ketampanan, dan (4) agamanya. Kriteria ini secara keseluruhan telah mencukupi bagi seseorang untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa arrahmah.

Akan tetapi, mendapatkan keempat kriteria itu pada calon pasangan ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Sebab, bisa dikatakan orang yang memenuhi keempat kriteria itu jumlahnya sangat sedikit. Selain itu, interpretasi terhadap harta, kecantikan, keturunan, dan agama bagaimanapun berbeda-beda.

Jodohku, Agamamu Adalah yang Utama

Itu sebabnya, Rasulullah tidak hanya menentukan kriteria calon pasangan yang ideal saja tapi juga memberikan banyak pengecualian dan himbauan berdasarkan keempat kriteria tersebut. Di antaranya, agar kita mengutamakan agamanya dan jangan sampai terkecoh oleh kecantikan/ketampanan dan hartanya.

Selain itu, interpretasi terhadap harta tidak melulu soal kekayaan yang berlimpah, kecantikan tidak harus seperti model, keturunan tidak hanya karena keturunan bangsawan, dan agama tidak sebatas agama menurut definisi umum. Ada hal lain yang mesti kita pertimbangkan dan kita jadikan pertimbangan.

Islam sebagai agama yang hanif, selain menentukan kriteria sekaligus interpretasi di atas juga mengajarkan kita untuk melakukan shalat Istikharah. Shalat khusus untuk mencari jawaban dari Allah tentang jodoh yang terbaik. Shalat ini perlu kita kerjakan bersamaan dengan ikhtiar yang sedang kita jalankan.

Tujuan shalat Istikharah adalah untuk memberikan kemantapan hati, menemukan ketenangan, dan mengambil jarak dari masalah. Yakni agar Allah memberikan ketetapan kepada hati dari kebimbangan dan keraguan, memberikan ketenangan dan pencerahan, dan menjauhkan dari permasalahan, baik yang diduga maupun yang tidak terduga.

Melalui shalat Istikharah, kita akan mampu mengurai “matematika” jodoh dengan pertolongan dan kehendak Allah. Sebab, memilih jodoh ideal itu lebih rumit daripada memilih ke mana kita melanjutkan sekolah. Kerumitan ini bisa diakibatkan oleh faktor pendidikan, idealisme, keluarga, kepribadian, karakter, dan banyak hal yang lainnya.

Di dalam buku “Istikharah Cinta: Cara Cerdas Mendapatkan Jodoh Ideal” karya M. Shodiq Mustika, dkk yang diterbitkan QultumMedia ini, banyak hal tentang masalah di atas yang dibahas. Buku ini bisa dibilang rujukan yang pas dan cerdas bagaimana memilih calon pasangan hidup.

Meraih Cinta Bahagia dengan Doa & Zikir

Segala puji bagi Dia yang menciptakan untuk kita jodoh-jodoh dari jenis kita sendiri, supaya kita hidup tenang dengan mereka, dan dijadikan-Nya rasa cinta dan kasih di antara kita dan mereka. Sesungguhnya Tuhan kita Mahalembut terhadap segala yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Mahatahu, Mahabijaksana.

Dengan ilmu-Nya dan kebijaksanaan-Nya, Dia tuntun kita untuk mengatasi segala masalah. Tak terkecuali persoalan cinta. Baik cinta orangtua-anak maupun asmara pria-wanita; baik pranikah maupun suami-istri.

Sekarang, apakah Anda ingin:
– Si dia tidak berselingkuh?
– Anda selamat dari cemburu buta?
– Selamat dari rayuan gombal?
– Terlindung dari pelet (pengasihan)?
– Memperoleh jodoh terbaik?
– Memperoleh hubungan manis/romantis?
– Lahir-batin memuaskan?
– Mendapatkan kekayaan?
– Mendapatkan kemudahan dalam segala urusan?
– Dan keinginan-keinginan lainnya…?

Namun, masalahnya bagaimana kita meraihnya dengan cara yang benar sesuai Al-Quran dan tuntunan Rasulullah? Dan, apakah keinginan tersebut bisa tercapai dengan mudah? Relatif. Tergantung bagaimana proses yang kita tempuh.

Ada cara termudah yang dituntun Al-Qur`an dan Rasulullah, yaitu dengan doa dan berzikir. Yakni sebagaimana yang akan Anda temukan pada buku “Doa & Zikir Cinta” yang ditulis oleh M. Shodiq Mustika, penulis buku best seller “Istikharah Cinta”.

Semua kebutuhan di atas akan terpenuhi melalui zikir dengan cara-cara seperti yang dipaparkan di buku ini. Bukan hanya itu, buku ini juga menyediakan solusi bagi lebih dari 70 masalah lain yang tak jarang kita jumpai di dunia cinta. Isinya mencakup pula persoalan bagaimana menghadapi perubahan di jalan cinta, mengatasi konflik (pertikaian) dengan si dia, mengobati kerinduan, mencegah perzinaan, menghadapi kehamilan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Buku ini disusun dengan mengacu pada Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, mengikuti pemahaman ulama-ulama salaf (terdahulu) yang terpercaya. Tentu saja, bukti dan pengaruhnya tidak harus dipertanyakan lagi.

Selamat berzikir, seluruh harapan dan keinginan Anda terkabul segera!


 

“Buku ini memberi banyak cara bagaimana mengatasi masalah kehidupan percintaan berdasarkan Al Quran dan Hadist. Bacalah dan masalah Anda akan lenyap setelah baca buku ini.” Hartati Nurwijaya; penulis buku, menetap di Yunani dengan 3 orang anak.
<http://perkawinan-antarbangsa-loveshock.blogspot.com/>

“Dengan dzikir kita mendekatkan diri pada Sang Maha Pecinta, Sang Maha Pengasih, agar selalu selamat dan menuai cinta di sepanjang seluk kehidupan. Buku ini mengajak kita mendekap cinta yang sejati untuk menjadi manusia bahagia.” Rini Nurul Badariah; Co-translator buku Keajaiban Al Quran (Harun Yahya).
<http://rinurbad.multiply.com>

“Di dalam buku ini dapat kita temukan kiat-kiat praktis secara Islami yang dapat digunakan untuk menyiasati berbagai ancaman dan godaan, khususnya yang berkaitan dengan masalah kemelut dalam membangun cinta kasih terhadap lawan jenis. Sungguh, buku ini sangat layak dibaca dan dimiliki ketika peradaban sudah semakin ‘sakit’ dan cenderung abai terhadap persoalan-persoalan moral dan agama.”
Sawali Tuhusetya; seorang pendidik dan cerpenis, tinggal di Kendal, Jawa Tengah.
<http://sawali.info/>

jodoh impian

Shalawat Tak Hanya Berpahala Tapi Juga Bermanfaat Besar

Shalawat adalah ibadah yang mendatangkan pahala besar, bukan hanya sebuah bacaan tapi juga jalinan cinta dengan kekasih Allah SWT. Bukankah Allah dan malaikat-Nya senantiasa bershalawat untuk Nabi Muhammad sebagai tanda cinta, rahmat, dan penghormatan kepada pemimpin para nabi itu?

Baca juga:
Menjemput Jodoh Sesuai Panduan Rasulullah
Rasulullah dan Keajaiban Menjelang Kelahirannya

Shalawat memiliki memiliki banyak keutamaan. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat padaku, malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya. Maka, bacalah shalawat, baik sedikit maupun banyak,” (HR Thabrani & Ibnu Majah).

Shalawat: untuk Hidup yang Lebih Bahagia

Selain itu, ia juga penawar kesedihan, obat kepedihan, dan merupakan curahan rahmat Ilahi bagi para pembacanya. Tiada satu ibadah pun yang Allah SWT perintahkan hamba-Nya untuk melakukannya, kecuali Dia membalas kebaikan yang berlipat-lipat. Oleh karena itu, betapa besar dan dahsyatnya keutamaan ibadah ini.

Menurut Imam Ghazali, saat orang mencintai sesuatu, ia akan selalu menyebutnya. Saat ia mencintai Allah SWT, ia akan selalu mengingat dan berzikir kepada-Nya. Begitu pula saat ia mencintai Rasulullah saw, ia juga akan memperbanyak menyebut namanya. Apabila seorang hamba banyak berzikir kepada Allah tapi tidak bershalawat kepada Rasulullah saw, zikirnya itu tidaklah sempurna.

Shalawat merupakan cahaya yang mengeluarkan kita dari kegelapan, sarana untuk menambah iman pada Allah SWT dan cinta kita pada Rasulullah saw, juga merupakan rasa terima kasih kita kepada pribadi yang paling mulia, yang mengiringi kita dan mengajarkan kita untuk mencapai kebahagiaan dan keindahan nan abadi.

Tentang Buku Mukjizat Shalawat

Dalam buku  “Mukjizat Shalalawat”  yang ditulis oleh Habib Abdullah Assegaf dan Indriya R. Dani ini Anda akan dibawa menuju hidup yang penuh dengan ungkapan cinta dan kerinduan. Selain itu, buku ini juga memaparkan beberapa macam pujian untuk Rasulullah, faedah dan kedahsyatannya, serta adab membacanya. Apa yang diungkapkan dalam buku ini semua berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.

Pada saat ini, banyak di antara kaum muslim mengalami krisis moral dan krisis global ekonomi. Insya Allah dengan membaca shalawat, Allah SWT akan memberi jalan keluar bagi kita, baik dari krisis moral maupun krisis ekonomi secara global.

 

Sumber foto: http://hdfreewallpaper.net/masjid-nabawi-wallpaper-download/

Cinta dan senyuman banyak manfaatnya bagi kita dan orang lain yang menerimanya.

Cinta dan Senyuman Dapat Merebut Hati Orang Lain

Cinta dan senyuman dapat merebut hati orang lain, sayangnya tak banyak orang yang menyadarinya. Senyuman adalah bahasa cinta yang paling dahsyat. Jika kita ingin dicintai dan dihormati oleh orang lain, cerahkanlah wajah di hadapan mereka, mereka akan menyukai kita. Senantiasa tunjukkan senyuman pada mereka, niscaya mereka akan senantiasa mengingat kita. Cinta dan senyuman adalah kunci untuk membuka hati manusia.READ MORE

pasangan ideal harus ditemukan

Pasangan Ideal Harus Kita Cari, Tak Bisa Hanya Dinanti

Pasangan ideal tak ada yang seperti putri-putri di negeri dongeng, yang kecantikannya seakan abadi dan satu-satunya yang tak mereka miliki hanya kekurangan.

Memiliki pasangan ideal adalah salah satu di antara tiga kunci untuk meraih surga kebahagiaan. Ideal di sini terdiri dari beberapa kriteria. Terkadang, masing-masing memiliki kriteria khusus yang berbeda dengan orang lain.

Dalam Islam, kriteria yang paling utama tentu saja seiman dan saleh atau saleha. Pasalnya, jika seseorang memilih pasangan yang seagama tapi tidak baik (tidak saleh/salehah), rumah tangga yang dibina tidak akan menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bahkan itu bisa mengakibatkan jatuh ke jurang fitnah dan ketidakharmonisan.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Mengapa Agamanya Harus Baik?

Seseorang yang baik agamanya akan memuliakan pasangannya, tidak akan menzaliminya ketika sedang marah dan emosi. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. Ia berkonsultasi pada Hasan mengenai pasangan ideal untuk anak putrinya.

“Sudah banyak laki-laki yang datang meminang putriku. Menurut Anda, dengan siapa aku nikahkan putriku itu?” tanya laki-laki itu.

Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkanlah dia dengan seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Sebab, jika dia mencintai putri Anda, dia akan memuliakannya. Dan jika dia marah atau benci pada putri Anda, dia tidak akan menzaliminya.”

Setelah kriteria itu terpenuhi, kita akan beranjak pada kriteria lanjutannya. Kriteria lanjutan ini, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kriteria khusus. Kriteria suami ideal adalah lemah lembut dan penyayang, kuat dan amanah, mampu memberikan nafkah, bertanggung jawab, dan sepadan. Sedangkan pasangan istri yang ideal adalah sehat rahimnya, mencintai sang suami, masih gadis, cantik, berasal dari keturunan yang mulia, dan selalu menjaga kesuciannya (‘afifah).

Masalahnya, bagaimana cara untuk mendapatkan seluruh kriteria tersebut? Apa bukti kebahagiaan yang dijanjikan jika kriteria-kriteria itu telah terpenuhi? H. Amru Harahap, Lc., M.S.I memiliki jawabannya detail di dalam bukunya, Ikhtiar Cinta, ini. Ia memberikan berbagai kiat dan strategi untuk mendapatkan pasangan ideal yang menjadi impian setiap orang.

Tak hanya itu, buku terbitan QultumMedia ini dilengkapi pula dengan tanya-jawab seputar perjodohan, sehingga Anda bisa langsung mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Sebagai tambahan, penulis juga melengkapinya dengan doa-doa agar pasangan impian segera hadir dalam hidup kita.

 

shalat istikharah membantu kita menemukan jodoh impian

Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Jodoh impian? Bagaimana mengenalinya? Bagaimana pula menemukannya?

Kita mungkin sering membayangkan siapa yang akan menjadi jodoh impian kita nanti. Mulai tetangga kita yang cantik, teman sekelas yang menjadi rebutan, sampai artis ternama yang sering diberitakan. Nah, buat yang ingin tahu siapa jodoh yang tepat untuknya, coba deh ikuti lima petunjuk ini.

Memiliki pasangan hidup adalah keinginan setiap orang. Ketika dewasa, laki-laki dan perempuan akan memikirkan siapa yang menjadi pasangan hidupnya nanti. Kadang, ada yang sampai menetapkan kriteria-kriteria tertentu. Apakah Pembaca juga demikian?

Tak apa, ini wajar, kok. Sebab, memilih pasangan hidup tak seperti memilih baju atau perhiasan. Ketika kita sudah tidak suka, kita bisa menjualnya kembali atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Pasangan hidup akan menemani kita sampai tua. Merawat, menyayangi, dan mengasihi kita. Karenanya, sudah seharusnya kita mencari orang yang tepat. Orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sayangnya, kita kadang masih bingung dalam memilih jodoh impian. Laki-laki seperti apa yang tepat untuk kita, atau perempuan yang bagaimana yang pantas mendampingi kita?

Baca juga:
Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan Oleh Pria Saleh:
Ingin Rumah Tangga Bahagia? Hindari Hal-hal Ini:

Tapi, tak perlu khawatir. Bukankah kita diajarkan oleh Rasulullah untuk memilih pasangan yang baik agamanya? Di samping hal-hal lain, seperti memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan memiliki harta yang melimpah, agama adalah yang utama.

“Adalah fitrah seorang Muslimah untuk menikah dengan laki-laki kaya, memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan tampan. Itu nggak salah. Tapi, jangan dilupakan, kualitas agamanya harus tetap dinomorsatukan” (Halaqah Cinta, h. 257)

Jadi, Bagaimana Mengenali Sekaligus Menemukan Jodoh Impian Itu?

Setelah kita menentukan kriteria tersebut, bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang memenuhi kriteria itu? Berikut langkah-langkah yang perlu kita lakukan.

1.    Perbaiki Niat
Niat yang sungguh-sungguh akan memudahkan kita untuk mengenali dan menemukan jodoh impian yang tepat. Harus ada keseriusan dan niat semata-mata ingin menjalankan sunah Rasulullah, yaitu untuk memiliki keturunan.

2.    Ikhtiar
Tak cukup hanya memasang niat. Kita juga harus berikhtiar mencari jodoh impian kita. Jika masih malu-malu, kita bisa minta bantuan teman untuk mengenalkan kita pada orang yang kita sukai, atau kita bisa meminta teman untuk mengenalkan kita dengan orang yang baik.

3.    Istikharah
Jika kita sudah menemukan orang yang menurut kita baik, jangan lupa beristikharah. Kita minta petunjuk pada Allah, apakah pilihan kita ini tepat untuk kita, untuk dunia dan akhirat kita? Persis seperti doa yang kita panjatkan ketika Shalat Istikharah. Lihat: Penuntun Mengerjakan Shalat Istikharah, h. 16.

4.    Utarakan Keinginan Kita
Jika Allah sudah memberikan jawaban atas Istikharah kita, utarakan kepada orang terdekat kita. Bisa ayah, ibu, atau saudara kita, agar niat baik untuk menikahi pilihan kita itu diridhai juga oleh mereka. Sampaikan bahwa kita ingin meminangnya.

5.    Nikahi Karena Allah
Nikahilah pilihan kita semata-mata karena Allah. Allah akan memberikan keberkahan pada pasangan yang menikah dengan didasari cinta kepada-Nya. Yang bertujuan untuk menjalankan sunah Rasul-Nya, agar melahirkan generasi-generasi yang saleh dan saleha.

Nah, inilah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan pasangan hidup yang tepat. Melibatkan Allah dalam semua urusan kita adalah sebuah keharusan. Dengan begitu, kita tak perlu ragu lagi untuk memilih pasangan hidup.

 

Gambar/foto dari www.pixabay.com

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat