pray, Author at Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
5
archive,author,author-pray,author-5,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat Untukmu? Ikuti Lima Petunjuk Ini!

 

Kita mungkin sering membayangkan siapa yang akan menjadi jodoh kita nanti. Mulai tetangga kita yang cantik, teman sekelas yang menjadi rebutan, sampai artis ternama yang sering diberitakan. Nah, buat yang ingin tahu siapa jodoh yang tepat untuknya, coba deh ikuti lima petunjuk ini.

Memiliki pasangan hidup adalah keinginan setiap orang. Ketika dewasa, laki-laki dan perempuan akan memikirkan siapa yang menjadi pasangan hidupnya nanti. Kadang, ada yang sampai menetapkan kriteria-kriteria tertentu. Apakah Pembaca juga demikian?

Tak apa, ini wajar, kok. Sebab, memilih pasangan hidup tak seperti memilih baju atau perhiasan. Ketika kita sudah tidak suka, kita bisa menjualnya kembali atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Pasangan hidup akan menemani kita sampai tua. Merawat, menyayangi, dan mengasihi kita. Karenanya, sudah seharusnya kita mencari orang yang tepat. Orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sayangnya, kita kadang masih bingung dalam memilih pasangan hidup. Laki-laki seperti apa yang tepat untuk kita, atau perempuan yang bagaimana yang pantas mendampingi kita?

Baca juga:
Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan Oleh Pria Saleh:
Ingin Rumah Tangga Bahagia? Hindari Hal-hal Ini:

Tapi, tak perlu khawatir. Bukankah kita diajarkan oleh Rasulallah untuk memilih pasangan yang baik agamanya? Di samping hal-hal lain, seperti memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan memiliki harta yang melimpah, agama adalah yang utama.

“Adalah fitrah seorang Muslimah untuk menikah dengan laki-laki kaya, memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan tampan. Itu nggak salah. Tapi, jangan dilupakan, kualitas agamanya harus tetap dinomorsatukan” (Halaqah Cinta, h. 257)

Setelah kita menentukan kriteria tersebut, bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang memenuhi kriteria itu? Nah, berikut langkah-langkah yang perlu kita lakukan.

1.    Perbaiki Niat
Niat yang sungguh-sungguh akan memudahkan kita mendapatkan pasangan hidup yang tepat. Harus ada keseriusan dan niat semata-mata ingin menjalankan sunah Rasulullah, yaitu untuk memiliki keturunan.

2.    Ikhtiar
Tak cukup hanya memasang niat. Kita juga harus berikhtiar mencari calon pendamping hidup kita. Jika masih malu-malu, kita bisa minta bantuan teman untuk mengenalkan kita pada orang yang kita sukai, atau kita bisa meminta teman untuk mengenalkan kita dengan orang yang baik.

3.    Istikharahi
Jika kita sudah menemukan orang yang menurut kita baik, jangan lupa beristikharah. Kita minta petunjuk kepada Allah, apakah pilihan kita ini tepat untuk kita, untuk dunia dan akhirat kita? Persis seperti doa yang kita panjatkan ketika Shalat Istikharah.
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Mahaagung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahui dan Engkau Maha Mengetahui hal yang gaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan hal yang diistikharahi) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku, takdirkanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berikanlah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini (sebutkan hal yang diistikharahi) lebih berbahaya bagiku dalam agama, kehidupan dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku” (Penuntun Mengerjakan Shalat Istikharah, h. 16).

4.    Utarakan Keinginan Kita
Jika Allah sudah memberikan jawaban atas Istikharah kita, utarakan kepada orang terdekat kita. Bisa ayah, ibu, atau saudara kita, agar niat baik untuk menikahi pilihan kita itu diridhai juga oleh mereka. Sampaikan bahwa kita ingin meminangnya.

5.    Nikahi Karena Allah
Nikahilah pilihan kita semata-mata karena Allah. Allah akan memberikan keberkahan pada pasangan yang menikah dengan didasari cinta kepada-Nya. Yang bertujuan untuk menjalankan sunah Rasul-Nya, agar melahirkan generasi-generasi yang saleh dan saleha.

Nah, inilah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan pasangan hidup yang tepat. Melibatkan Allah dalam semua urusan kita adalah sebuah keharusan. Dengan begitu, kita tak perlu ragu lagi untuk memilih pasangan hidup.

Jadi, langkah-langkah memilih pasangan hidup yang tepat adalah:

1.    Perbaiki Niat, niat yang sungguh-sungguh akan memudahkan kita dalam memilih pasangan hidup.
2.    Ikhtiar, jangan berdiam diri, carilah semampu kita calon pendamping hidup kita.
3.    Istikharahi, yakinkan pilihan kita dengan Shalat Istikharah. Allah akan memberikan kita petunjuk jika dia orang yang tepat.
4.    Utarakan Keinginan Kita, utarakan maksud kepada orang terdekat kita agar memudahkan kita meminang pilihan hidup kita.
5.    Nikahi Karena Allah, menikah yang didasari niat yang tulus karena Allah akan memberikan keberkahan dalam rumah tangga.

Ingin Rumah Tangga Bahagia? Hindari Hal-hal Ini!

 

Kita pasti memiliki keinginan agar rumah tangga kita bahagia. Tapi, tahukah kita apa saja yang harus dilakukan dan dihindari agar hal itu bisa terwujud?

Masalah pernikahan dan rumah tangga memang tak pernah habis untuk dibahas. Fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini membuatnya semakin menarik dibicarakan. Satu di antara fenomena-fenomena itu, yang kadang membuat kita miris dan ikut bersedih, adalah perceraian.

Perceraian adalah masalah serius dalam berumah tangga yang paling banyak menyedot perhatian kita. Mulai perceraian teman-teman atau tetangga kita sendiri dengan pasangannya, sampai kehancuran rumah tangga para selebriti yang begitu detail ditayangkan dalam berbagai acara infotainmen.

Baca juga:
Lima Sahabat Nabi ini Punya Kekayaan Luas Biasa. Ingin Sukses Seperti Mereka?
Wisata Kuliner di Mekah, Madinah, dan Jedah

Badan Pusat Statistik mencatat, dari 2012 sampai 2015 angka perceraian terus mengalami peningkatan. Tahun 2012 tercatat 346.480 gugatan perceraian, tahun 2013 sebanyak 324.247, tahun 2014 sebanyak 344.237, dan tahun 2015 sebanyak 347.256 (https://goo.gl/wsS7sr).

Banyak faktor yang menyebabkan angka perceraian di Indonesia semakin meningkat, di antaranya:

1.    Masalah Ekonomi
Faktor ekonomi memiliki dampak besar dalam mempengaruhi keharmonisan rumah tangga. Tak terpenuhinya kebutuhan rumah tangga menyebabkan perselisihan, saling menyalahkan yang berujung pertengkaran.  Di kalangan masyarakat kelas atas, hal ini juga kerap terjadi. Gaya hidup yang berlebih-lebihan, entah itu suami atau istri, dapat menimbulkan ketidaknyamanan pasangan.

2.    Perselingkuhan
Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terjadinya perceraian. Perselingkuhan bisa disebabkan seseorang tertarik dengan orang lain, kurang diperhatikan pasangannya, dan suami yang otoriter.

3.    Terlalu Sibuk dengan Pekerjaan
Terlalu sibuk mengurus pekerjaan dapat membuat komunikasi suami-istri menjadi tidak berkualitas.

4.    Pernikahan Dini
Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang sudah dipersiapkan dengan matang. Menikah dini dapat menyebabkan rumah tangga tak berjalan dengan baik. Banyak hal yang belum dipersiapkan dengan matang ketika memutuskan untuk berumah tangga.

5.    Masalah Nafkah Batin
Kurangnya kepuasan salah satu pasangan dalam urusan nafkah batin dapat menimbulkan kekecewaan dalam rumah tangga. Karenanya kita harus bisa memahami apa yang diinginkan pasangan dalam urusan nafkah batin.

Untuk mengetahui lebih detail tentang faktor-faktor penyebab perceraian, kita bisa mengunjungi laman ini https://goo.gl/1xrFQA.

Kita perlu mempersiapkan pernikahan dengan matang, sebelum memutuskan untuk membina rumah tangga. Jangan terburu-buru, sebab bisa berakibat fatal, termasuk perceraian. Sabar dan terus berusaha merupakan langkah tepat yang harus kita lakukan.

Karenanya, ketika kita merasa rapuh, merasa sulit dalam mempersiapkan pernikahan atau bahkan sulit menemukan jodoh, mari kita limpahkan semuanya kepada Allah. Bukankah Allah telah berfirman,

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesunggunya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 45-46)

Dengan shalat, kita bisa merasakan ketenangan jiwa yang luar biasa. Jika kita ingin mendapatkan ketenangan, kita bisa memulainya dengan memperbaiki ibadah shalat kita dan menambahnya dengan shalat-shalat sunah.

Allah telah mengajarkan kepada hambanya shalat-shalat sunah yang bermanfaat baginya. Salah satunya Shalat Hajat. Kita bisa meminta semua keinginan kita dengan dua rakaat bersimpuh di hadapan-Nya.

Ketika kita menemukan masalah seputar pernikahan dan rumah tangga, saat itu juga kita dirikan Shalat Hajat, agar Allah memberikan yang terbaik. Jika kita belum mengetahui tatacara mengerjakan Shalat Hajat, kita tidak perlu khawatir. Tatacara mengerjakan Shalat Hajat persis seperti shalat-shalat sunah yang lain.

“Cara mengerjakan Shalat Hajat sama seperti shalat fardhu dan shalat sunah yang lain, baik bacaannya (rukun qauli) maupun gerakannya (rukun fi’li). Perbedaannya hanyalah pada  niat, amalan surat yang dibaca, dan doa setelah Shalat Hajat.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Hajat, h. 11)

Lebih lengkapnya tentang tatacara mengerjakan Shalat Hajat, kita bisa membacanya dalam buku Penuntun Mengerjakan Shalat Hajat.

Jadi, penyebab ketidakharmonisan rumah tangga seringkali terjadi karena:

1.    Masalah Ekonomi, tak terpenuhinya kebutuhan rumah tangga dapat menimbulkan perselisihan yang berujung pertengkaran.
2.    Perselingkuhan, kurangnya rasa syukur mendapatkan suami/istri yang setia mendampingi merupakan faktor terjadinya perselingkuhan.
3.    Terlalu Sibuk dengan Pekerjaan, sibuk dengan pekerjaan membuat keharmonisan rumah tangga berkurang.
4.    Pernikahan Dini, kurang matang dalam mempersiapkan pernikahan dapat melahirkan konflik dalam rumah tangga.
5.    Masalah Nafkah Batin, kurangnnya pengertian dari salah satu pihak mengenai nafkah batin dapat berujung ke perceraian.

 

Sumber image: https://goo.gl/vbbkVy

Cinta Tak Melulu Tentang Pengorbanan, Tapi…

Waaaah, bicara cinta lagi. Gak ada tema lain apa ya?

Hihi, jangan salah, sebab cinta yang ini beda…

Jadi, begini. Mungkin sebagian dari kita memahami cinta sebatas hubungan istimewa antara seseorang dengan lawan jenisnya. Padahal kalau kita amati lebih dekat, sebenarnya seseorang tidak bisa dikatakan cinta jika ia tak memiliki keikhlasan yang luar biasa.

Kok bisa?

Mmm, kita buat perumpamaan seperti ini. Ada seorang ibu yang rela menahan rasa sakit demi melihat senyum seorang anak yang akan dia lahirkan. Ada seorang ayah yang sanggup berjalan kaki puluhan kilometer untuk menghidupi keluarganya. Dan, ada seseorang yang jarang terbangun tengah malam tapi suatu malam menguatkan diri untuk wudhu dan shalat Tahajud.

Ini semua cinta, bukan? Yap, ini semua cinta. Sebab, ada keikhlasan yang membuncah-buncah dalam sikap orang-orang dalam contoh di atas.

Saat kita berani memutuskan untuk jatuh cinta, kita harus siap untuk mengikhlaskan hati untuk merasakan apa pun. Karena cinta bukan hanya tentang bahagia. Cinta yang Allah titipkan itu bercerita tentang banyak hal. Terkadang kita jatuh cinta, tapi orang yang kita sukai tidak memandang sedikit pun rasa yang kita simpan itu. Atau tidak jarang cinta kita berbalas, tapi sayang orang yang kita cintai tak kunjung memberi kepastian. Ada juga malah yang bangga dengan cintanya, lantas menjalin hubungan melewati batas. Katanya sih pengorbanan.

Teman, cinta itu bukan tentang pengorbanan tapi keikhlasan. Bagaimana bisa kita terus-terusan menunggu sesuatu yang tanpa kepastian, lalu kita katakan itu pengorbanan, padahal banyak hal yang sudah pasti yang menjadi kebahagiaan kita. Bagaimana bisa kita menyerahkan jiwa dan raga secara cuma-cuma lalu kita menyebutnya bukti cinta, sedangkan masa depan kita masih panjang, dan seseorang yang benar-benar baik telah Allah siapkan. Bagaimana bisa kekecewaan dan kesedihan yang berkepanjangan karena rasa yang tak terbalas kita anggap kekuatan, sementara di luar sana orang-orang yang tulus mencintai kita selalu mengharapkan kita bahagia.

Seseorang yang berkorban atas nama cinta belum tentu ikhlas. Bisa jadi ada satu dan lain hal yang ia inginkan, sehingga harus melakukan pengorbanan. Tapi, seseorang yang ikhlas pasti akan rela berkorban untuk apa pun yang terbaik bagi cintanya. Orang yang ikhlas pasti bersedia berkorban, sementara orang yang mau berkorban, sebesar apa pun pengorbanannya, belum tentu ikhlas.

Keikhlasan dekat dengan rahmat Sang Pencipta. Seseorang yang jatuh cinta, kemudian ia landasi cintanya itu dengan iman dan ikhlas, maka ia tidak akan takut dengan segala sesuatu yang mungkin terjadi pada cintanya. Sebab, ia tahu cintanya pada siapa pun di dunia ini tidak akan berlangsung lama.

Seseorang yang berkorban terkadang menyesali pengorbanannya, jika apa yang ia inginkan tak ia dapatkan. Tapi, seseorang yang ikhlas mencintai akan selalu ridha dengan apa pun yang terjadi pada akhirnya, entah ia mendapatkan apa yang ia cintai atau tidak. Karena ia percaya, Allah tidak akan memberikan hal buruk di setiap keikhlasan yang ia lakukan.

Maka, jika kita sedang mencintai seseorang, cintailah dirinya dengan hati yang ikhlas. Karena jika ia yang terbaik untuk kita, ia akan menjadi hadiah terindah dari keikhlasan yang kita ikhtiarkan itu. Jika ia bukan yang terbaik, ia akan menjadi pelajaran terhebat yang akan membuat kita lebih bijaksana.

Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang mengikhlaskan hati pada ketetapan-Nya. Jatuh cinta itu tidak pernah salah kok, cara kita menjaganya mungkin yang kurang tepat. Allah tidak mungkin menitipkan sesuatu yang tidak baik pada kita.

 

Salam,

Arum LS.

Said Rosyadi dan Armyta Dwi Pratiwi

Menikah Muda: Apa Salahnya?

 

Said Rosyadi dan Armyta Dwi Pratiwi adalah dua orang yang paling sibuk di balik akun Instagram @Kartun.Muslimah. Sebuah akun yang gencar men-share informasi seputar keislaman, terutama kepada anak-anak muda.

Bulan Februari ini keduanya akan me-launching sebuah buku yang berjudul Menikah Saja. Karya pertama mereka yang menceritakan susah-senang pengalaman mereka menikah di usia belia dan memberi gambaran bahwa menikah muda itu nggak seseram yang selama ini kita bayangkan.

Yuk, langsung kita simak wawancara Qultummedia.com dengan mereka!

Assalamualaikum, Mas Said. Apa kabar?

Wa’alaikumussalamAlhamdulillah, kami sekeluarga baik. Sehat walafiat.

Sepertinya selalu sibuk ya, Mas. Boleh dong diceritakan apa kesibukannya saat ini…

Kesibukan sehari-hari ngejalanin bisnis online kecil-kecilan dari rumah. Sambil main bareng anak-anak juga. Kadang keluar kota ngejar ilmu di seminar atau pelatihan, yang kemudian saya share untuk santri di Pesantren Bisnis Online Sintesa.

Mas Said dan Mbak Armyta kan menikah di usia yang relatif muda. Bisa di-share sedikit apa suka-dukanya menikah di usia muda?

Menikah, apalagi di usia muda, udah pasti perjuangan. Suka-duka udah satu paket yang nggak bisa dipisahkan. Enaknya, perjuangan itu kita tanggung bersama-sama. Pas lagi suka, ada pasangan tempat kita berbagi kebahagiaan. Pas lagi duka, ada pasangan tempat kita berbagi beban. Masalah yang paling sering kami alami sebenarnya tentang menyatukan pikiran dan hati. Butuh waktu yang nggak singkat, harus sabar dan perlahan.

Sebentar lagi buku pertamanya Mas Said dan Mbak Armyta akan terbit. Bisa diceritakan apa yang melatarbelakangi ditulisnya buku ini?

Yang pertama, karena kami ingin berbagi pengalaman. Pengalaman yang di dalamnya ada hal-hal yang bisa diambil pelajaran buat siapa saja yang mau menikah, terutama menikah muda. Yang kedua, karena menurut kami melalui buku kami akan lebih efektif dalam menyampaikan pesan. Sebelumnya kami sering diundang mengisi acara yang bertema nikah muda. Tiap acara berbeda, materi yang kami sampaikan hampir sama. Kami berpikir, kenapa nggak ditulis di buku aja? Sekali tulis kan bisa banyak orang yang baca.

Banyak anak muda saat ini yang menganggap pacaran sebagai hubungan yang wajar antara laki-laki dan perempuan. Apa yang keliru dengan anggapan ini?

Itu karena pengaruh tontonan yang luar biasa merusak anak-anak muda zaman sekarang. Pacaran, mengumbar aurat, bermesraan di depan umum dicontohkan dalam tontonan tersebut. Bahkan sebagian besar pemerannya adalah anak sekolahan. Lama-kelamaan hal ini seperti lumrah. Bahkan kalau yang nggak pacaran di-bully. Jones alias jomblo ngenes, katanya. Lebih miris lagi, kalau pacaran diangap wajar, kalau nikah malah dianggap memalukan. Banyak anggapan negatif kalau ada anak muda yang menikah.

Kebanyakan orangtua zaman sekarang lebih memilih menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Ini masalah nggak sih kalau kita kaitkan dengan menikah di usia belia?

Sebetulnya nggak ada masalah antara kuliah sama nikah. Orangtua yang punya keputusan anaknya harus selesai kuliah dulu baru menikah pun sah-sah aja. Cuma yang salah itu anggapan bahwa menikah bisa menghambat kuliah. Nggak dong. Pengalaman istri saya dulu yang menikah di semester akhir kuliahnya, ngerjain skripsinya ditemani suami. Wisuda pun udah ada yang mendampingi. Bukankah itu lebih asyik? Hehe…

Tapi bagi anak muda, menikah di usia yang masih sangat belia itu tantangan juga kan, Mas. Ada tips nggak untuk mengatasi masalah ini?

Kita semua sepakat bahwa itu tantangan. Dan nggak main-main emang. Makanya, penting banget yang namanya persiapan. Di buku yang saya tulis pun 90% isinya membahas tentang persiapan menikah muda. Kalau ada orang yang mau menikah 2-3 tahun lagi atau bahkan 5 tahun lagi, persiapaannya bisa dimulai dari sekarang lho.

Apa harapan Mas Said dengan diterbitkannya buku ini?

Harapan saya, supaya masyarakat nggak lagi memandang nikah muda itu hal yang tabu. Dan mereka yang membaca jadi punya keyakinan terhadap pernikahan. Jadi, mereka tahu proses apa yang harus dijalani secara syar’i.

6 Kunci Memupuk Kesabaran dalam Berumah Tangga

Sabar bukan hanya kata yang bisa diucapkan oleh lisan. Lebih dari itu, sabar adalah ketenangan. Bisa ketenangan dalam pikiran, hati, badan, atau jiwa. Sabar juga perbuatan nyata, yang perlu dilatih dan dipupuk, termasuk (atau terlebih) dalam hidup berumah tangga.

Tentu saja, ini bukan hal yang mudah.

Untuk menjadi suami atau istri yang penyabar, kita perlu belajar untuk rileks menghadapi pelbagai persoalan hidup. Sebab, seseorang yang bawaannya sabar saat masih single, bisa berubah ketika ia sudah berumah tangga: bertambah sabar atau sebaliknya.

Biasanya sikap sabar dilawankan dengan ketergesaan. Kondisi ini biasanya memperumit persoalan. Tak heran, jalan keluar suatu masalah yang sebenarnya ada di depan mata malah tak tampak. Kita malah mencari ke sana-kemari seolah solusi masalah kita ada di tempat yang jauh.

Menjadi pribadi yang penyabar bukanlah hal mudah. Untuk memiliki kebiasaan ini penuh rintangan. Kita perlu pemahaman dan latihan yang tak kenal waktu. Sebab, tak semua masalah yang kita hadapi dalam hidup berumah tangga selalu sama. Lalu, bagaimana langkah-langkahnya?

Pertama, mengenali makna sabar melalui ilmu agama. Kata ‘sabar’ berasal dari bahasa Arab sho-ba-ro. Artinya ‘menahan’ dan ‘mencegah’. Setidaknya ada 90 ayat yang menguraikan kesabaran di dalam Al-Qur’an. Perintah untuk bersabar digunakan sebagai jembatan menuju rahmat-Nya. Namun yang perlu digarisbawahi, sabar bukanlah kepasrahan membabi buta yang tak diiringi dengan usaha.

Mari kita simak kembali terjemah QS. Al-Baqarah: 153 ini. Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kedua, belajar kepada siapa saja yang memiliki kesabaran yang tinggi. Kisah para nabi banyak memberikan pelajaran pada kita bagaimana seharusnya bersabar. Misalnya, kisah tentang Nabi Khidir yang mengajarkan ilmu kesabaran kepada Nabi Musa as. Atau kisah Nabi Yunus yang sabar menghadapi kaumnya dan perjuangan beratnya saat berada di dalam perut ikan paus.

Contoh kesabaran yang juga sudah mendarah daging dalam diri seseorang ditunjukkan oleh Umar bin Khattab. Umar yang dikenal garang dan ditakuti orang ternyata memiliki sifat yang lembut kepada istrinya. Umar pernah dimarahi oleh sang istri, tapi beliau hanya diam dan tak membalas amarah istrinya itu sedikit pun. Ia memilih menahan diri dan bersabar.

Ketiga, belajar berpikir panjang dan tak mudah panik.

Salah satu yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal dan budinya. Lewat akal manusia bisa berpikir, sehingga bisa membuat dirinya berperilaku sabar. Sementara itu, tindakan tanpa berpikir bisa sangat membahayakan, sebab darinya bisa muncul kepanikan, kecemasan, bahkan ketakutan.

Keempat, belajar bersikap rileks dalam menghadapi aneka persoalan. Sikap tenang akan membuahkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Itu sebabnya, rumah tangga yang ideal dalam Islam adalah rumah tangga yang dikaruniai sakinah atau ketenangan. Sebab dengannya, kebahagiaan akan tercipta.

Kelima, selalu ingat bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana QS. Al-Insyirah ayat 5-6, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Tak ada masalah tanpa solusi. Dan datangnya solusi, berdasarkan ayat di atas, bersamaan dengan datangnya masalah tersebut.

Keenam, bersabar dalam membina rumah tangga.

Sabar tentu saja bisa dijadikan prinsip dasar dalam mendidik anak, membangun ekonomi keluarga, dan menghadapi berbagai perkara lain dalam rumah tangga. Dengan adanya sikap sabar, rumah tangga akan cenderung lebih tenang dan bahagia.

***

Tulisan di atas diambil dari buku Sabar itu Cinta. Buku ini sangat tepat dijadikan rujukan bagaimana kita seharusnya bersabar dalam kehidupan rumah tangga. Lebih jauh lagi, hakikat dan keutamaan bersabar dalam konteks rumah tangga juga bisa dijumpai di dalam buku ini.

 

 

 

foto credit: www.pixabay.com

 

 

 

 

 

 

 

unsplash wedding

Jangan-jangan Kita Emang Berjodoh…

Dulu informasi seputar pernikahan cenderung tertutup rapat. Di era media sosial seperti sekarang, hal tersebut berubah. Curhat pun bisa ‘bebas’ dilakukan, termasuk tentang bagaimana mencari pasangan hidup.

Nah, Sobar D. Prabowo, penggagas akun Twitter dan Instagram @nikahasik adalah satu di antara sedikit orang yang sering bersentuhan dengan urusan curhat-curhatan masalah ini. Pria yang punya pengalaman menikah di usia 21 tahun ini kebetulan baru saja merilis buku terbarunya yang berjudul Jangan-jangan Kita Berjodoh.

Yuk, kita ikuti obrolan singkat dengannya tentang @nikahasik dan aktivitasnya di media sosial!

 

Awalnya, apa yang melatarbelangi Mas Sobar membuat akun @nikahasik di Twitter dan Instagram?

Saya suka main Twitter. Tapi lama-lama, saya prihatin sama akun-akun Twitter yang sok romantis dan suka ngomporin orang untuk pacaran. Saya waktu itu mikir, “Ni orang apa nggak peduli ya dengan banyaknya perzinaan di antara orang-orang yang pacaran? Kok gencar sekali mengampanyekan pacaran…”

Nah, dari situ saya kepikiran bikin campaign tandingan. Awalnya pengin ngangkat tema bahwa menjomblo itu asik, tapi karena saya sudah nikah (dan bisa gawat kalo istri saya mengira saya pengin jomblo lagi), maka saya pakai nama akun Twitter @nikahasik.

 

Mengapa memilih tema seputar pernikahan?

Soalnya kalau temanya seputar budi daya cabai rawit saya nggak menguasai… Hehehe…

Di media sosial, tema jodoh tampaknya banyak yang meminati. Apa banyak follower @nikahasik yang curhat ke Mas Sobar seputar masalah ini? Sharing dong, barangkali ada pengalaman yang menarik…

Iya, banyak memang. Ada yang minta dicarikan jodoh, ada yang minta doa agar cepat ketemu jodoh, ada juga yang curhat seputar kisah pernikahannya. Ada yang curhat masalah keluarga, bahkan ada yang terang-terangan minta sumbangan untuk nikah.

Apa alasan Mas Sobar menyarankan anak-anak muda segera menikah?

Bukan. Saya bukan menyarankan mereka menikah. Menikah itu nggak gampang, kayak membalik telapak kaki gorila. Saya hanya menyarankan mereka untuk nggak pacaran. Simpel.

Bisa diceritakan sedikit pengalaman Mas Sobar saat memutuskan menikah muda?

Jadi, dulu saya ini ‘terjebak’ pergaulan bebas. Dalam arti, dibebaskan untuk menikah oleh ibu saya, meski masih muda. Ya sudah, restu ada, dan kebetulan saya juga sudah kerja.

Apa salahnya, kan?

Tentang buku Jangan-jangan Kita Berjodoh, apa yang ingin Mas Sobar sampaikan?

Buku ini saya susun utamanya untuk menjawab permasalahan yang sering ditanyakan oleh sahabat #NikahAsik. Selain itu, di dalamnya ada kisah-kisah inspiratif dan pelajaran yang saya dapatkan selama saya concern dengan tema ini.

Semua saya coba sajikan agar pembaca memiliki gambaran yang lebih jelas soal jodoh, cinta, dan pernikahan.

 

 

foto: unsplash.com

Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Seperti Dilakukan Oleh Para Nabi

Bahagia itu bisa dirancang dan diciptakan. Karenanya, bukan mustahil bahagia itu bisa hadir tanpa jeda. Bahkan cara mewujudkannya pun sederhana.

Jika selama ini sudut pandang kita dalam memaknai kebahagiaan mengacu pada hal-hal yang sifatnya duniawi atau materiil, ubahlah segera. Percaya atau tidak, kebahagiaan seperti itu semu. Sebab, kebahagiaan tidak melulu ada kaitannya dengan kepuasan duniawi, materiil, apalagi sebatas finansial.

Kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita dapatkan dengan meraih kepuasan batiniah, seperti memperbanyak ibadah, menghindari suuzhan, atau menahan diri saat makan agar tidak terlalu kenyang. Cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati adalah dengan membagikan ilmu yang bermanfaat dan tidak menyebarkan berita dusta (hoax) atau fitnah di media sosial.

Bahagia itu sederhana; selalu bersyukur baik melalui ucapan maupun perbuatan. Bahagia itu ketika hati kita selalu mengucapkan syukur: alhamdulillah. Tak ada yang tebersit di hati kecuali pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita dapat adalah anugerah dari Allah; bukan semata-mata karena usaha kita.

Bahagia itu mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk mengabdi kepada-Nya. Tidak ada penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Tidak kita gunakan untuk melanggar aturan-Nya. Semua digunakan untuk beribadah.

Bahagia itu, dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit, kita tetap ikhlas bersedekah. Sedikit yang kita miliki, kita sisihkan untuk kita sedekahkan. Sebagaimana sedekahnya para sahabat Nabi Muhammad, seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar bin Khaththab, dan Ustman bin Affan.

Mari kita tengok bagaimana para nabi mendapatkan kebahagiaan.

Nabi Muhammad saw

Meski dijamin masuk ke surga dan terbebas dari dosa, Nabi Muhammad tetap menghabiskan sepertiga malam yang sunyi dan dingin dengan beribadah dan bermunajat kepada-Nya dengan takbir, ruku’, dan sujud, hingga air mata pun membasahi pipi dan kedua kakinya bengkak. Inilah cara Nabi Muhammad saw bahagia dengan bersyukur (‘abdan syakuuraa).

Nabi Yusuf as

Sementara itu, bahagia bagi Nabi Yusuf as adalah menjaga nafsunya dari ajakan bermaksiat seorang istri pejabat. Ia memilih dikurung dalam penjara daripada menuruti bujuk rayunya.

Nabi Ayub as

Bahagia itu seperti Nabi Ayub yang kian dekat kepada-Nya dan tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Berkat kesaabarannya, penyakit Nabi Ayub diangkat dan bisa kembali hidup normal dan bahagia.

Uraian di atas diambil dari buku “Berupaya Tanpa Jeda, Beryukur Tanpa Kendur.” Buku yang ditulis oleh Syaiful Anshor ini memberikan banyak inspirasi dan ajakan agar kita selalu menyukuri segala keadaan yang diberikan Sang Pencipta. Sebab, saat kita bersyukur maka akan ada janji bahwa nikmat-Nya itu akan ditambah.

 

 

foto: unsplash.com

 

 

menikah mudah @negeriakhirat

Mending Nikah, Pacaran Udah Nggak Zaman

Menentukan pasangan hidup dan mengambil keputusan untuk menikah di usia yang belia tentu butuh pertimbangan yang matang. Kita perlu memikirkan bagaimana persiapannya, bagaimana prosesnya, dan bagaimana meraih cita-cita bersama. Penulis buku Jatuh Cinta Tak Pernah Salah yang juga pengelola akun Instagram @negeriakhirat, Arum Listyowati Suprobo atau yang akrab disapa Arum, berbagi pengalamannya menikah di usia muda. Mari simak wawancara kami dengannya.

READ MORE

Pin It on Pinterest

X