Beristighfar Tujuh Puluh Kali atau Seratus Kali - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
24145
post-template-default,single,single-post,postid-24145,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Beristighfar Tujuh Puluh Kali atau Seratus Kali

Di antara kekhususannya ialah bahwa beliau beristighfar sebanyak tujuh puluh kali setiap hari. Ini disebutkan Ibnu al-Qash dan diriwayatkan Ibnu Mulqin dalam Al-Khashāis dan Muslim dalam Shahihnya. Abu Daud juga meriwayatkan dari hadits al-Agharrul Muzni ra dengan lafaz:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى, وَإِنِّى لأََسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah) dan sesungguhnya  aku beristighfar kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
Lafaz ini juga yang dikemukakan oleh Muslim. Sedangkan dalam riwayat Abu Daud dengan lafaz “dalam setiap hari.”
Syeikh Waliyuddin bin Al-Iraqi mengatakan,  “Pada dzahirnya kalimat kedua merupakan akibat dari kalimat sebelumnya. Sebab istighfar adalah lupanya hati mengingat Allah, seperti yang ditunjukkan oleh sabdanya dalam riwayat Nasa’i dalam buku Amalul Yaumi Wallailati:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى حَتَّى أَسْتَغْفِرَ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya hatiku lupa ( tidak ingat kepada Allah) sehingga aku beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam setiap hari.”

Dalam riwayat lain yang juga dikemukakan oleh Nasa’i dikatakan: “Sebab itu aku beristighfar kepada Allah.” Lafaz-lafaz hadits yang berbeda-beda itu saling menguatkan dan menafsirkan satu dengan lainnya. Susunan kalimatnya memungkinkan kalimat kedua berdiri sendiri, tidak terkait dengan kalimat sebelumnya. Dengan demikian, Rasulullah saw  memberitahukan bahwa hatinya seringkali tertutupi dan bahwa dirinya beristighfar kepada Allah dalam setiap harinya sebanyak seratus kali.

Abu Ubaid mengatakan, “Yang dimaksud dengan al-ghainu dalam hadits ini ialah sesuatu yang menutupi dan menghalangi hati, berasal dari kata ghainus samâ’i yang berarti langit itu tertutup oleh awan. Ahli bahasa lain mengatakan, “al-ghainu ialah sesuatu yang menutupi hati tetapi tidak menghalangi seluruhnya, seperti awan tipis yang ada di udara sehingga tidak dapat menghalangi cahaya matahari.” Qadli Iyad setelah membeberkan itu semua mengatakan, “Maka, kata al-ghainu itu mengisyaratkan kepada kelupaan hati untuk selalu berdzikir dan menyaksikan kebenaran karena kesibukan mengurus segala urusan umat dan semua hal yang berkaitan dengan tugas-tugas kerasulannya. Sebenarnya ini semua juga merupakan ibadah kepada Tuhannya. Namun, karena Nabi saw merupakan makhluk paling mulia di sisi Allah, paling tinggi derajatnya dan paling sempurna pengetahuannya tentang Allah dan keadaannya di saat mengheningkan cipta kepada-Nya adalah paling tinggi, maka dia merasa bahwa sedikit kealpaan dan kesibukan dari berdzikir kepada-Nya merupakan kesalahan sehingga dia perlu beristighfar kepada-Nya dari semuanya itu. Mayoritas ulama cenderung untuk membenarkan tafsiran hadits seperti ini.

Pendapat lain mengatakan bahwa al-ghainu adalah bisikan jiwa yang menyelinap dalam hati. Hafidz Syeikhul Islam Ibnu Hajar mengatakan, “Pendapat ini dikemukakan oleh oleh Rafi’i dalam Al-Amâlî dan ia mengatakan bahwa bapaknya juga telah membenarkannya.”
Pendapat lain mengatakan, “Al-ghainu ialah suatu keadaan di mana Nabi saw mengetahui keadaan umatnya, lalu beliau memohonkan ampunan untuk mereka.”

Pendapat lain mengatakan, “Ia adalah rasa tenang yang menutupi hati sedangkan istighfar untuk menampakkan ubudiyah kepada Allah ta’ala dan rasa syukurnya terhadap karunia tersebut.  Syeikhul Islam Ibnu Iraqi mengatakan, “Kalimat ini adalah haliyah di mana Rasulullah saw mengabarkan bahwa hatinya tertutup padahal dia beristighfar dalam sehari seratus kali. Hati itu tidak tertutup pada saat istighfar, melainkan jika datang istighfar lenyaplah keadaan tertutup itu. Jika dipahami bahwa kedua kalimat itu saling berkait maka kalimat kedua merupakan sebab dari kalimat sebelumnya. Dengan begitu, al-ghainu merupakan keadaan tertutup dan terhalanginya hati dari segala urusan dunia, sehingga saat itulah hati benar-benar berkonsentrasi kepada Allah ta’ala dan beristighfar kepada-Nya sebagai rasa syukur dan melaksanakan ubudiyah. Pendapat ini dikemukakan oleh Qadli Iyad.”
Dalam Asy-Syif⒠dia mengatakan, “Dan juga ada kemungkinan bahwa al-ghainu merupakan kondisi takut dan tunduk yang meliputi hati sehingga dia beristighfar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat tersebut.”

Syeikh Ibnu Iraqi mengatakan, “Makna di atas menurutku adalah sangat baik. Kalimat kedua merupakan sebab dari kalimat sebelumnya. Bukan berarti dia beristighfar untuk menghilangkan al-ghainu, tetapi al-ghainu merupakan dasar yang terpuji dan merupakan penyebab istighfar. Ini adalah pendapat paling baik, karena pada saat itu al-ghainu merupakan sifat terpuji dan merupakan penyebab dari istighfar.
Syeikh Tajuddin bin Atha’ullah dalam bukunya Lathâ’iful Minan mengatakan, “Aku bermimpi melihat Nabi saw lalu aku tanyakan kepada beliau tentang makna hadits ‘Sesungguhnya hatiku tertutupi,’ maka beliau menjelaskan kepadaku, “Hai Mubarak, itu adalah tertutupi oleh cahaya dan bukan oleh kegelapan.”

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X