info Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
421
archive,category,category-info2,category-421,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Pengalaman Roadshow Pertama Aldilla Dharma: “Gila!”

Setelah sukses “melahirkan” karya pertamanya, Jangan Pernah Menyerah, Aldilla Dharma memiliki sejumlah kegiatan baru dalam karier kepenulisannya, yakni berpromosi.

“Kemarin sempat roadshow dan siaran radio di beberapa kota, seperti Jakarta, Kediri, Surabaya, Malang, Solo, Jogjakarta, Semarang, dan Banjarmasin,” kata Aldilla saat diwawancara Qultum Media via surel.READ MORE

Hidayah

Dear pembaca, salah satu anugerah terbesar yang wajib kita syukuri adalah hidayah dari Yang Mahakuasa. Semata-mata karena hidayah-Nya, hingga detik ini kita masih bernaung di bawah teduhnya ajaran agama kita, Islam.

Namun, hidayah bukan sesuatu yang mudah kita mengerti. Ada orang yang tak kunjung diberi hidayah oleh Allah meski sudah memintanya siang dan malam. Ada juga orang yang tak pernah menginginkannya tapi tanpa sengaja malah menemukannya.

Hidayah mungkin istilah yang tepat untuk menyebut rahmat Allah untuk memalingkan hati seorang hamba pada-Nya, dengan cara yang misterius. Sesuatu yang kadang tak masuk akal tapi nyata, atau sulit dimengerti tapi benar-benar terjadi.

Kita tentu pernah mendengar cerita tentang seorang bandit yang bertobat di tengah aksinya. Sebut saja Ibrahim bin Adham, salah satu tokoh sufi terkenal, dan Berandal Lokajaya atau Sunan Kalijaga, salah satu penyebar Islam di Jawa.

Cerita-cerita tersebut, terlepas dari unsur-unsur imajinatif yang mungkin menyelimutinya, adalah contoh betapa hidayah Allah bisa datang pada siapa saja, tanpa pandang bulu. Siapa pun yang dikaruniai hidayah, sehebat apa pun maksiat yang sudah dilakukannya, akan bertekuk lutut di hadapan-Nya.

Adakalanya hidayah datang bak angin semilir, menyadarkan penerimanya secara lembut dan perlahan. Mula-mula ia berbenah dari sesuatu yang sederhana, seperti mengubah caranya bertutur atau berbusana, lalu berlanjut mengubah caranya dalam mencari dan menggunakan rezekinya.

Adakalanya juga hidayah menerjang seperti badai yang ganas, menghantam kesadaran penerimanya dan membangunkannya seketika. Tanpa butuh waktu lama, ia mengoreksi semua yang ia pandang tak sesuai agama, mulai pikirannya, hatinya, hingga perbuatannya.

Mengapa hidayah datang dengan cara yang berbeda-beda mungkin selamanya tak bisa kita jawab. Yang pasti, siapa pun penerimanya, dia adalah orang yang beruntung.

Kita tak bisa memastikan menjadi orang yang beruntung itu. Tapi, bukankah Allah dan Rasul-Nya sering mengingatkan kita agar memohon apa pun yang kita butuhkan? Mari terus meningkatkan takwa kita pada-Nya. Semoga sebelum ajal menghampiri, Dia bermurah hati memberikan hidayah-Nya pada kita.

Amin…

 

Regard,

Firdaus Agung (Editor Qultummedia)

Kasih Ayah Sepanjang Masa

Saya sering iri melihat teman-teman yang selalu punya tempat curhat. Tempat yang nyaman untuk berlindung dan mengadu. Bukan berarti Ayah tak pernah punya waktu untuk saya. Saya tahu, ia juga sudah berusaha keras menjadi ‘ibu’ bagi saya. Tapi, saya kadang berkhayal betapa indah dunia seandainya saya tumbuh dewasa dengan orangtua yang lengkap.
Saat pertama kali mengalami haid, Ayahlah yang menenangkan saya yang malu sekaligus cemas. Ia memberi pengertian tentang fase bulanan saya, bahkan mengajari saya bagaimana memakai pembalut.READ MORE

Beristighfar Tujuh Puluh Kali atau Seratus Kali

Di antara kekhususannya ialah bahwa beliau beristighfar sebanyak tujuh puluh kali setiap hari. Ini disebutkan Ibnu al-Qash dan diriwayatkan Ibnu Mulqin dalam Al-Khashāis dan Muslim dalam Shahihnya. Abu Daud juga meriwayatkan dari hadits al-Agharrul Muzni ra dengan lafaz:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى, وَإِنِّى لأََسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah) dan sesungguhnya  aku beristighfar kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
Lafaz ini juga yang dikemukakan oleh Muslim. Sedangkan dalam riwayat Abu Daud dengan lafaz “dalam setiap hari.”
Syeikh Waliyuddin bin Al-Iraqi mengatakan,  “Pada dzahirnya kalimat kedua merupakan akibat dari kalimat sebelumnya. Sebab istighfar adalah lupanya hati mengingat Allah, seperti yang ditunjukkan oleh sabdanya dalam riwayat Nasa’i dalam buku Amalul Yaumi Wallailati:

READ MORE

Metode Shalat Khusyu

Syekh Ahmad Musthafa Maraghi mengemukakan dalam kitab tafsirnya tiga cara melaksanakan shalat yang khusyu’;

Pertama, memahami dan merenungkan (tadabbur) setiap bacaan shalat, tidak hanya makna luarnya saja tetapi juga setiap rahasia dan kandungan hikmahnya, sebagaimana firman Allah SWT: “Apakah mereka tidak mentadabburi kandungan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?”  

Kedua, mengingat Allah (dzikir) dan merasa takut akan balasan-Nya sehingga bersungguh-sungguh ketika menghadap-Nya. Firman Allah; “Dirikanlah oleh kamu shalat untuk mengingat-Ku.” 

Ketiga, menghindari pikiran yang macam-macam selain shalat. Karena shalat merupakan hubungan batin dengan Allah SWT. Bahkan para ulama berkata; “Shalat tanpa khusyu’ seperti jasad tanpa ruh.” 

Untuk meraih khusyu’ seharusnya kita memperhatikan beberapa hal yang harus dilakukan antara lain;

READ MORE

*) – Shalat Mengusir Kegelisahan

Diceritakan bahwa seorang laki-laki berjalan pada malam hari. Ia melihat bahwa tentara-tentara sedang memeriksa jalan-jalan. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mungkin mereka akan menganiayaku dengan menanyakan kepadaku: ‘Dari manakah kamu? Hendak ke manakah kamu?’ Karena itu, aku harus lari dari mereka dan bersembunyi di suatu tempat.” Lalu orang tersebut benar-benar lari dan bersembunyi di sebuah bangunan yang sudah roboh. Kemudian para tentara itu mendobrak tempat tersebut dan mereka menemukan seseorang yang terbunuh di situ. Lalu mereka mengajukan laki-laki tersebut ke depan hakim. Semua bukti mengisyaratkan bahwa dialah pembunuhnya. Lantas, apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut? Ia meminta kepada hakim untuk diberi kesempatan mengambil wudhu dan shalat dua rakaat kepada Allah. Hakim mengabulkan permintaannya dan menangguhkan sidang. Kemudian laki-laki tersebut bershalat dan berdoa kepada Allah dengan doa: “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu bahwa tiada saksi untukku atas ketidak-bersalahanku kecuali Engkau, dan Engkau memerintahkan kepada kami agar kami tidak merahasiakan kesaksian, maka aku memohon kepada-Mu pada Zat-Mu.”

READ MORE

*)- Nasihat Untuk Atasan dan Bawahan

Hendaklah seorang pimpinan memberikan kemudahan untuk para karyawan dalam mengerjakan kewajiban mereka kepada Allah seperti shalat dan puasa. Selain itu, janganlah membuat peraturan perusahaan yang bertentangan dengan hukum Allah seperti melarang jilbab dan lain sebagainya, atau membuat aturan yang memudahkan terjadinya perbuatan maksiat dan dosa seperti ikhtilat yang diharamkan antara laki-laki dan perempuan.
Seorang pimpinan hendaknya mengetahui bahwa seorang karyawan yang beragama lebih dekat kepada kebaikan. Sebab, dia bekerja atas dasar keikhlasan, selalu merasa diawasi oleh Allah, dan lebih amanah dalam menjalankan peraturan. Orang yang paling bisa dipercaya adalah mereka yang suka melakukan shalat.
Umar bin Khatab berkata kepada para walinya, “Ingatlah bahwa perkara yang paling penting bagiku adalah shalat. Ingatlah bahwa tidak ada yang paling berharga dan tidak ada keberuntungan dalam Islam bagi orang yang tidak shalat.” Ia menambahkan, “Siapa yang kehilangan shalatnya, maka rusak pula perbuatan yang lainnya.” Setiap pimpinan perusahaan hendaklah memilih karyawan dengan sebaik-baiknya.

READ MORE

*)- Puasa Menjauhkan Diri dari Sifat Tamak

Tamak adalah sifat dasar manusia. Ia adalah bibit egoisme yang bisa menjadi benih penyakit kronis yang mengganjal di hati. Sebagai penyakit, sifat tamak tidak boleh dibiarkan berkeliaran bebas ke seluruh tubuh sehingga bisa merusak niat, motivasi hidup, dan juga amal perbuatan. Jika tidak, akan menggerogoti fungsi hati yang lainnya. Karena, hati adalah Produsen bagi seluruh tingkah laku seseorang. Hati rusak, seluruh anggota tubuh dan amal perbuatan akan rusak. Demikian pula sebaliknya. 
Orang tamak, tersiksa bukan karena tidak memiliki harta kekayaan. Ia memiliki segalanya, namun terus tersiksa karena selalu menderetkan daftar keinginan dan menu kebutuhan lain yang harus tercapai. Seorang yang tamak akan selalu melihat apa yang belum diraih dan mengabaikan untuk menikmati apa yang sesungguhnya telah ia raih. Ia tidak akan pernah merasa cukup. Selalu tersiksa oleh haus keinginan.
Banyak orang yang diberi kekayaan berlimpah namun tetap merasa fakir dan tak pernah puas dengan apa yang diperoleh. Selalu melihat apa yang dimiliki orang lain harus menjadi miliknya dan apa yang ia miliki lupa untuk disyukuri. Ini ciri-ciri ketika sifat tamak hendak bersemai dalam hati seseorang.
Tamak disebut penyakit hati karena bisa melemahkan keinginan. Keinginan dan kehendak yang seharusnya menjadi kekuatan bagi seseorang, malah membinasakan pelakunya sendiri. Tamak bukan saja bibit penyakit, tapi juga bukti lemahnya kualitas kerja seseorang. Seorang yang buruk kerja, kebiasaannya hanya mengangankan apa-apa yang belum tercapai tanpa kemauan keras menempuhya.
Perbedaan tamak dan kerja keras maupun cita-cita dan angan-angan sangat tipis sekali. Tamak adalah kesibukan mengejar harta duniawi namun melupakan bekal hidup untuk di akhirat. Sementara kerja keras, kerja dilakukan demi mencapai dua tujuan keseimbangan hidup; dunia dan akhirat.

READ MORE

Pin It on Pinterest

X