dari redaksi Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
467
archive,category,category-dari-redaksi,category-467,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan Oleh Pria Saleh

Bagaimana caranya agar kita, para wanita, layak mendapatkan suami yang sesuai harapan?

Sebagian orang menganggap wanita hanya mampu menanti datangnya calon suami sembari memantaskan diri. Karenanya, sudah sewajarnya wanita bersabar dalam penantiannya, sebab jarang sekali ada yang berani mengungkapkan perasaannya kepada seorang pria.

Dalam pernikahan, seringnya wanita memang dipilih. Meski demikian, sebenarnya bukan berarti wanita tak berhak untuk memilih.

Bila ada seorang pria yang datang padanya, tapi sayang akhlak dan agamanya tak sesuai harapannya, boleh saja wanita itu menolak ajakan sang pria untuk berumah tangga. Kenapa? Karena siapa pun, apalagi seorang wanita, punya hak untuk mendapatkan pendamping yang terbaik.

Tak jarang kita berandai-andai. Seandainya Allah mengirimkan seorang pria yang tulus melabuhkan cintanya pada kita, seandainya Allah menganugerahkan rumah tangga yang bahagia pada kita, seandainya suami kita itu adalah orang yang bisa menjauhkan kita dari neraka dan mendekatkan kita ke surga…

Kita tak sadar, kita pun kadang masih melupakan Allah. Saat bersedih, kita terpuruk begitu dalam, seakan-akan kita tak kebagian kasih sayang-Nya. Saat bahagia, kita melayang begitu tinggi, seakan-akan keberhasilan yang kita raih semata-mata karena usaha kita. Kita juga tak sadar, bahwa ibadah kita masih berantakan dan sunah Rasul tak selalu kita jalankan. Begitu pula perbaikan diri dan proses hijrah, masih berjalan di tempat.

Kalau seperti itu kebiasaan kita, apakah calon suami yang saleh dan sesuai harapan kita akan datang begitu saja dan mengajak kita membangun rumah tangga bersama?

Nah, Teman, di bulan yang penuh keberkahan ini, mari kita belajar menjadi wanita yang tak hanya pandai menuntut tapi juga pandai berinisiatif melakukan kebaikan. Mari perbaiki ibadah kita, eratkan hubungan kita dengan Allah, tunaikan kewajiban kita dan jalankan sunah-sunah Rasul-Nya.

Sering-seringlah mengikuti kajian agama, luruskan niat hijrah kita, dan tentu yang tak kalah penting, pelajari apa yang menjadi kodrat kita sebagai wanita. Menjadi seorang ibu, misalnya.

Menikah bukan hanya tentang mendapatkan hak, tapi juga menunaikan kewajiban. Yuk, sama-sama memperbaiki diri. Semoga kita mendapatkan suami yang bisa membimbing menuju surga-Nya. Aamiin, Allahumma aamiin…

Gina Novita, tim penulis buku “Doain Aja…”

 

Foto: Pixabay.com

Cinta Tak Melulu Tentang Pengorbanan, Tapi…

Waaaah, bicara cinta lagi. Gak ada tema lain apa ya?

Hihi, jangan salah, sebab cinta yang ini beda…

Jadi, begini. Mungkin sebagian dari kita memahami cinta sebatas hubungan istimewa antara seseorang dengan lawan jenisnya. Padahal kalau kita amati lebih dekat, sebenarnya seseorang tidak bisa dikatakan cinta jika ia tak memiliki keikhlasan yang luar biasa.

Kok bisa?

Mmm, kita buat perumpamaan seperti ini. Ada seorang ibu yang rela menahan rasa sakit demi melihat senyum seorang anak yang akan dia lahirkan. Ada seorang ayah yang sanggup berjalan kaki puluhan kilometer untuk menghidupi keluarganya. Dan, ada seseorang yang jarang terbangun tengah malam tapi suatu malam menguatkan diri untuk wudhu dan shalat Tahajud.

Ini semua cinta, bukan? Yap, ini semua cinta. Sebab, ada keikhlasan yang membuncah-buncah dalam sikap orang-orang dalam contoh di atas.

Saat kita berani memutuskan untuk jatuh cinta, kita harus siap untuk mengikhlaskan hati untuk merasakan apa pun. Karena cinta bukan hanya tentang bahagia. Cinta yang Allah titipkan itu bercerita tentang banyak hal. Terkadang kita jatuh cinta, tapi orang yang kita sukai tidak memandang sedikit pun rasa yang kita simpan itu. Atau tidak jarang cinta kita berbalas, tapi sayang orang yang kita cintai tak kunjung memberi kepastian. Ada juga malah yang bangga dengan cintanya, lantas menjalin hubungan melewati batas. Katanya sih pengorbanan.

Teman, cinta itu bukan tentang pengorbanan tapi keikhlasan. Bagaimana bisa kita terus-terusan menunggu sesuatu yang tanpa kepastian, lalu kita katakan itu pengorbanan, padahal banyak hal yang sudah pasti yang menjadi kebahagiaan kita. Bagaimana bisa kita menyerahkan jiwa dan raga secara cuma-cuma lalu kita menyebutnya bukti cinta, sedangkan masa depan kita masih panjang, dan seseorang yang benar-benar baik telah Allah siapkan. Bagaimana bisa kekecewaan dan kesedihan yang berkepanjangan karena rasa yang tak terbalas kita anggap kekuatan, sementara di luar sana orang-orang yang tulus mencintai kita selalu mengharapkan kita bahagia.

Seseorang yang berkorban atas nama cinta belum tentu ikhlas. Bisa jadi ada satu dan lain hal yang ia inginkan, sehingga harus melakukan pengorbanan. Tapi, seseorang yang ikhlas pasti akan rela berkorban untuk apa pun yang terbaik bagi cintanya. Orang yang ikhlas pasti bersedia berkorban, sementara orang yang mau berkorban, sebesar apa pun pengorbanannya, belum tentu ikhlas.

Keikhlasan dekat dengan rahmat Sang Pencipta. Seseorang yang jatuh cinta, kemudian ia landasi cintanya itu dengan iman dan ikhlas, maka ia tidak akan takut dengan segala sesuatu yang mungkin terjadi pada cintanya. Sebab, ia tahu cintanya pada siapa pun di dunia ini tidak akan berlangsung lama.

Seseorang yang berkorban terkadang menyesali pengorbanannya, jika apa yang ia inginkan tak ia dapatkan. Tapi, seseorang yang ikhlas mencintai akan selalu ridha dengan apa pun yang terjadi pada akhirnya, entah ia mendapatkan apa yang ia cintai atau tidak. Karena ia percaya, Allah tidak akan memberikan hal buruk di setiap keikhlasan yang ia lakukan.

Maka, jika kita sedang mencintai seseorang, cintailah dirinya dengan hati yang ikhlas. Karena jika ia yang terbaik untuk kita, ia akan menjadi hadiah terindah dari keikhlasan yang kita ikhtiarkan itu. Jika ia bukan yang terbaik, ia akan menjadi pelajaran terhebat yang akan membuat kita lebih bijaksana.

Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang mengikhlaskan hati pada ketetapan-Nya. Jatuh cinta itu tidak pernah salah kok, cara kita menjaganya mungkin yang kurang tepat. Allah tidak mungkin menitipkan sesuatu yang tidak baik pada kita.

 

Salam,

Arum LS.

6 Kunci Memupuk Kesabaran dalam Berumah Tangga

Sabar bukan hanya kata yang bisa diucapkan oleh lisan. Lebih dari itu, sabar adalah ketenangan. Bisa ketenangan dalam pikiran, hati, badan, atau jiwa. Sabar juga perbuatan nyata, yang perlu dilatih dan dipupuk, termasuk (atau terlebih) dalam hidup berumah tangga.

Tentu saja, ini bukan hal yang mudah.

Untuk menjadi suami atau istri yang penyabar, kita perlu belajar untuk rileks menghadapi pelbagai persoalan hidup. Sebab, seseorang yang bawaannya sabar saat masih single, bisa berubah ketika ia sudah berumah tangga: bertambah sabar atau sebaliknya.

Biasanya sikap sabar dilawankan dengan ketergesaan. Kondisi ini biasanya memperumit persoalan. Tak heran, jalan keluar suatu masalah yang sebenarnya ada di depan mata malah tak tampak. Kita malah mencari ke sana-kemari seolah solusi masalah kita ada di tempat yang jauh.

Menjadi pribadi yang penyabar bukanlah hal mudah. Untuk memiliki kebiasaan ini penuh rintangan. Kita perlu pemahaman dan latihan yang tak kenal waktu. Sebab, tak semua masalah yang kita hadapi dalam hidup berumah tangga selalu sama. Lalu, bagaimana langkah-langkahnya?

Pertama, mengenali makna sabar melalui ilmu agama. Kata ‘sabar’ berasal dari bahasa Arab sho-ba-ro. Artinya ‘menahan’ dan ‘mencegah’. Setidaknya ada 90 ayat yang menguraikan kesabaran di dalam Al-Qur’an. Perintah untuk bersabar digunakan sebagai jembatan menuju rahmat-Nya. Namun yang perlu digarisbawahi, sabar bukanlah kepasrahan membabi buta yang tak diiringi dengan usaha.

Mari kita simak kembali terjemah QS. Al-Baqarah: 153 ini. Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kedua, belajar kepada siapa saja yang memiliki kesabaran yang tinggi. Kisah para nabi banyak memberikan pelajaran pada kita bagaimana seharusnya bersabar. Misalnya, kisah tentang Nabi Khidir yang mengajarkan ilmu kesabaran kepada Nabi Musa as. Atau kisah Nabi Yunus yang sabar menghadapi kaumnya dan perjuangan beratnya saat berada di dalam perut ikan paus.

Contoh kesabaran yang juga sudah mendarah daging dalam diri seseorang ditunjukkan oleh Umar bin Khattab. Umar yang dikenal garang dan ditakuti orang ternyata memiliki sifat yang lembut kepada istrinya. Umar pernah dimarahi oleh sang istri, tapi beliau hanya diam dan tak membalas amarah istrinya itu sedikit pun. Ia memilih menahan diri dan bersabar.

Ketiga, belajar berpikir panjang dan tak mudah panik.

Salah satu yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal dan budinya. Lewat akal manusia bisa berpikir, sehingga bisa membuat dirinya berperilaku sabar. Sementara itu, tindakan tanpa berpikir bisa sangat membahayakan, sebab darinya bisa muncul kepanikan, kecemasan, bahkan ketakutan.

Keempat, belajar bersikap rileks dalam menghadapi aneka persoalan. Sikap tenang akan membuahkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Itu sebabnya, rumah tangga yang ideal dalam Islam adalah rumah tangga yang dikaruniai sakinah atau ketenangan. Sebab dengannya, kebahagiaan akan tercipta.

Kelima, selalu ingat bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana QS. Al-Insyirah ayat 5-6, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Tak ada masalah tanpa solusi. Dan datangnya solusi, berdasarkan ayat di atas, bersamaan dengan datangnya masalah tersebut.

Keenam, bersabar dalam membina rumah tangga.

Sabar tentu saja bisa dijadikan prinsip dasar dalam mendidik anak, membangun ekonomi keluarga, dan menghadapi berbagai perkara lain dalam rumah tangga. Dengan adanya sikap sabar, rumah tangga akan cenderung lebih tenang dan bahagia.

***

Tulisan di atas diambil dari buku Sabar itu Cinta. Buku ini sangat tepat dijadikan rujukan bagaimana kita seharusnya bersabar dalam kehidupan rumah tangga. Lebih jauh lagi, hakikat dan keutamaan bersabar dalam konteks rumah tangga juga bisa dijumpai di dalam buku ini.

 

 

 

foto credit: www.pixabay.com

 

 

 

 

 

 

 

Pin It on Pinterest

X