kajian islam Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
516
archive,category,category-kajian-islam,category-516,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
sosial media harus menjadi ladang pahala, bukan ladang dosa

Sosial Media: Bagaimana Kita Mendapatkan Pahala darinya?

Sosial media bisa menjadi ladang pahala, bisa juga menjadi ladang dosa. Pilihannya ada pada kita: bagaimana kita memanfaatkannya.

Jika kita punya keterbatasan dalam memposting kebaikan, lebih baik tahan jari untuk memposting atau mengomentari hal-hal yang tak bermanfaat. Bukan hanya sia-sia, pahala kita pun bisa berkurang karenanya.

Di dunia maya sekali pun, kita harus menjaga perkataan yang tak selayaknya ditulis. Menjaga kesopanan di dunia maya sama dengan di dunia nyata. Mungkin malah lebih sulit di dunia maya, karena kita tak langsung bertemu dengan lawan bicara kita.

Jika teman kita memposting suatu kebaikan, tak perlu langsung menuduhnya riya. Bukankah sangat mungkin ia bertujuan untuk mendapatkan pahala dari apa yang mampu ia lakukan?

Justru ketika ada postingan kebaikan, mari kita renungkan. Jika kita tak bisa berbagi kebaikan, lakukanlah kebaikan dari apa yang teman-teman kita sudah bagikan. Tetaplah berbaik sangka, sebab Allah menyukainya.

Sebelum kita mengomentari sesuatu, seharusnya kita pahami dulu apa yang ingin kita komentari. Jika hal tersebut memang sesuatu yang harus diperbaiki, silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan tak menyakiti hati.

Kalau kita berkomentar dengan cara yang tak baik, banyak sekali kerugian yang akan kita dapatkan. Pertama, komentar yang sia-sia akan mengurangi pahala. Kedua, orang lain akan berprasangka yang tak baik pada kita.

Bukankah kita tak ingin mendapatkan keduanya?

Mari gunakan sosial media dengan bijak. Jika belum bisa menebar kebaikan, tak perlu berulah dengan keburukan. Tahan emosi dan perasaan, semoga Allah senantiasa menjaga kita dari apa yang tak diridhai-Nya.

Bukankah kita semua ingin masuk surga? Dan, bukankah surga hanya dipenuhi oleh orang-orang baik lagi bersih hatinya?

Gunakanlah sosial media dengan cara yang baik. Tak perlu ada pertikaian di dalamnya, sebab Islam memerintahkan kita untuk cinta perdamaian.

Di Dunia Maya Pun Kita Harus Santun Berkata-kata

Santun berkata-kata di dunia maya sama pentingnya dengan di dunia nyata.

Kita sering memikirkan kebaikan apa yang bisa kita bagikan di dunia maya, tapi lupa untuk menjaga sikap santun saat menyampaikannya.

Kita adalah makhluk yang dianugerahi oleh Allah perasaan yang berbeda-beda. Ada orang yang mudah marah, ada yang sangat sabar dalam menangani masalah. Ada yang mudah mengontrol emosi, ada yang sulit untuk menjaganya.

Kita tak dilarang untuk mengomentari tulisan apa pun di dunia maya. Tapi agar tak melukai hati sesama, sudah sepatutnya kita memperhatikan adab di dalamnya. Salah satunya adalah bersikap santun.

Informasi di dunia maya tak bisa dicegah. Entah fakta atau rekayasa, semuanya ada. Karena itu, kita harus pandai memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Jika ada postingan yang tak kita sukai, jangan langsung terbawa emosi. Karena kalau sedang marah, biasanya hati kita tak bisa berpikir panjang untuk melakukan apa yang seharusnya.

Kalau amarah atau emosi sudah menguasai diri kita, akibatnya tak sepele. Mungkin kita akan mengeluarkan kata yang tak seharusnya ditulis. Terlebih di dunia maya, kita tak tahu tujuan seseorang memposting hal yang tak kita sukai.

Coba teliti ulang, apakah benar informasi yang kita baca. Jika memang tak sesuai, ingatkan pengunggahnya dengan cara yang santun. Menjaga hati seseorang lebih utama daripada meluapkan perasaan yang kita punya.

Kita tak perlu melukai hati sesama. Sebagaimana kita tak ingin ada yang melukai hati kita, sudah sepatutnya kita menjaga perasaan orang lain walaupun berbeda pendapat dengan kita.

Dunia maya bisa menjadi ladang amal untuk kita. Kita bisa menambah pahala dengannya. Karena, siapa yang memberi tahu suatu kebaikan, ia akan mendapat pahala yang sama dengan pelakunya, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya.

Mari lebih bijak saat berinteraksi di dunia maya. Selagi bisa menambah pahala, kenapa harus kita gunakan untuk menguranginya?

Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Relakan. Sebab bukan dia yang sejatinya pergi, tapi Allah yang menjauhkan.

Allah tak ingin kita salah mengartikan cinta. Yang seharusnya mendekatkan pada-Nya, malah kita jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kita.

Memang berat ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Namun, itu lebih baik daripada kita mendapatkan luka-luka yang sama jika terus bersamanya. Relakan, itu lebih baik bagi kita.

Allah tak ingin perasaan kita dipermainkan, sebab itu Dia tak mengizinkan kita pacaran. Karena yang serius tak akan mengulur waktu untuk menempuh hidup baru. Dia pasti menyegerakan jalinan kasih yang sah dan diridhai oleh-Nya.

Allah tak ingin hati kita disakiti. Walau kadang kita merasa dicintai, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Sebab, tak mungkin ada manisnya cinta tanpa ridha dari Yang Mahakuasa. Tak akan ada setia bagi cinta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Relakan …

Biarkan hati tenang tanpanya.

Dulu, malammu indah dengannya. Saling bertukar pesan. Saling berkabar. Namun, Allah punya yang lebih baik dari itu. Indahnya doa tak pernah dikalahkan oleh indahnya cinta tanpa izin-Nya.

Dulu, ketika bertemu dengannya mungkin senyummu tak bisa berbohong. Itu wajar, banyak yang mengalaminya. Namun, Allah punya yang lebih indah dari itu. Menundukkan pandangan lebih baik dibanding melampiaskan pada yang belum Allah izinkan.

Kisahmu bersamanya akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Kau tak mungkin dihantui sepi. Allah selalu ada untukmu, di siang ataupun malam hari.

Allah Mahabijaksana dengan membuatmu terpisah darinya. Bukan untuk membuat salah satu di antara kalian kecewa, tapi Dia punya cara lain yang bisa membuatmu dan dia bahagia.

Kalaupun memang dia yang Allah takdirkan untukmu, akan ada waktu dia kembali padamu. Sebagai orang yang berbeda, sebagai orang yang lebih taat pada-Nya.

Tak perlu bersedih karena kepergiannya. Sebab, kepergian orang yang belum Allah izinkan bersama jauh lebih baik daripada dia tetap bersamamu tapi selalu menumbuhkan luka yang baru.

Perasaan Orang Lain Pun Perlu Kita Jaga

Perasaan orang lain juga harus kita jaga, bukan hanya perasaan kita saja.

Ketika masalah terlalu sulit untuk diselesaikan, emosi dan perasaan kita menjadi tidak stabil. Akibatnya, kita mudah melampiaskannya pada orang lain.

Kadang kita lupa bahwa yang dapat masalah dalam hidup ini bukan kita saja. Kita terlalu memikirkan ego sendiri, hingga tak ingat bahwa mungkin masalah kita tidaklah seberapa dibanding masalah orang lain.

Saat kesibukan semakin hari semakin bertambah, kita mencoba menyelesaikannya satu persatu. Awalnya memang terkesan biasa saja, namun di belakangnya diri kita tidak selalu kuat untuk menanggungnya.

Akibat tak siap menanggung beban, akhirnya kita melampiaskannya pada orang yang salah. Pada teman, kerabat, atau bahkan orangtua kita.

Melampiaskan perasaan memang boleh-boleh saja, asalkan dengan cara dan di waktu yang tepat. Perlu diingat, bukan hati kita saja yang lelah. Bukan kita saja yang punya masalah. Orang lain saja bisa menahan amarahnya, kenapa kita begitu mudah melampiaskannya?

Hati orang lain pun mesti kita jaga. Luka yang ada di hati bisa kita obati. Dengan izin Allah, insya Allah akan sembuh. Namun jika orang lain terluka karena kita, masalahnya tak lagi sederhana, sebab kita harus mendapatkan maafnya.

Mungkin tugas kuliah membuat kita penat. Pekerjaan yang ada membuat kita tak bisa beristirahat. Atau mungkin yang sudah berkeluarga, keluhan pasangan menjadikan hidup tak lagi nikmat.

Jika itu semua sedang kita rasakan, maka tenangkan diri kita sejenak. Pikirkan ulang bahwa inilah jalan hidup yang kita ambil. Seharusnya rintangan yang ada hanya kita yang merasakan, tak perlu membuat orang lain terluka karena masalah kita sendiri.

Ketika hati sudah terlalu lelah, luangkanlah waktu untuk bertemu dengan-Nya. Memang masalah tak langsung selesai, tapi setidaknya Allah akan menenangkan kita dari sulitnya masalah yang ada.

Jangan patah semangat. Sulitnya hidup hanya sebagian kecil dari manisnya hasil yang akan Allah berikan nanti.

Jagalah hati kita dan hati orang lain. Tak perlu melampiaskan perasaan kita secara berlebihan, sebab orang lain pun punya masalah yang harus diselesaikan.

syukur

Syukur dan Ketenangan Hidup yang Kita Dambakan

Syukur adalah kunci kebahagiaan hidup. Tanpanya, kita akan sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebab selalu saja ada yang kurang, tak sempurna, dan tak memuaskan hati.

Pernah tidak kita merasa sulit untuk bahagia? Padahal, semua yang kita butuhkan sudah Allah kasih. Doa yang kita panjatkan sudah Allah jawab. Serta satu persatu mimpi yang kita inginkan semakin banyak yang menjadi nyata.

Ternyata, yang kurang itu bukan karunia Allah, melainkan rasa syukur kita pada pemberian-Nya.

Baca juga:
Rezeki Kita Memang Sudah Ada yang Mengatur, Tapi …
Rezeki Kita Tak Lancar? Mari Amalkan 7 Kiat Mudah Ini

Itu sebabnya, hanya orang yang sakit yang tahu betul bahwa kesehatan mahal harganya. Hanya orang yang kehilangan yang benar-benar mengerti arti dari memiliki. Hanya orang yang kecewa yang sadar dirinya kurang bersyukur pada Allah.

Percayalah, dalam hidup ini Allah tidak mungkin mengecewakan kita. Mustahil bagi Allah ingin melihat hamba-Nya kesusahan. Dia selalu ingin kita hidup dalam ketenangan.

Namun, ketenangan itu ada di dalam hati, bukan terletak pada materi. Berapa banyak orang kaya namun ternyata tak bahagia? Berapa banyak pula orang yang sederhana tapi dalam keseharian justru sangat mensyukuri hidupnya?

fitrah cinta tumbuh berkat Allah Taala

Yang memberi ketenangan dalam hidup adalah Allah. Jadi, dekatilah Dia. Jangan menunggu waktu luang, justru luangkanlah waktu untuk berdoa dan bercerita pada-Nya.

Di balik sesuatu yang pergi, pasti ada yang lebih baik menghampiri. Setelah ada yang hilang, pasti ada yang segera datang. Hidup ini hanya tentang bersyukur saat menerima dan bersabar saat menunggu karunia-Nya.

Tak perlu melihat karunia yang Allah berikan pada orang lain. Karunia tiap orang pasti berbeda, karena ujian-Nya pun tak pernah sama. Cukup lihat yang kita punya, dan ucapkan dalam hati, “Syukurku jarang sekali, tapi Allah tetap memberiku karunia-Nya. Allah memang baik.”

Mulai saat ini, mari kita gapai ketenangan itu. Ketenangan yang sederhana. Bahwa tidak semua yang pergi harus membuat kita kecewa, karena ganti dari Allah nanti pasti lebih istimewa.

Mari bersyukur. Mari qanaah. Meski kadang hasil yang kita dapatkan tak sesuai keinginan, tetaplah percaya bahwa Allah pasti punya hikmah di balik ini semua.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

Fitrah Cinta Menumbuhkan Iman Kepada Allah SWT

Fitrah manusia selalu mengarah pada kebaikan.

Karena cinta adalah bagian dari fitrah manusia maka cinta pasti mengarah pada kebaikan. Saat kita mencintai seseorang, bayangan tentangnya muncul setiap saat. Keinginan untuk bertemu memuncak. Semakin lama tak bertemu, semakin kuat rindu yang tumbuh.

Cinta membuat kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai. Menjalani hidup berdua tanpa menghiraukan masalah yang ada. Seolah di dunia ini tak ada orang lain, kecuali hanya kita dan orang yang kita cintai. Kita hidup bahagia dengannya dan berjanji menjalani masa depan bersama.

Baca juga:
Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

fitrah kebaikan

 

Mungkin saat ini kita sedang memendam cinta pada orang lain. Entah ia mengetahuinya atau tidak, kita ingin selalu bisa berjumpa. Bersamanya menceritakan segala isi hati. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang yang dinanti.

Tapi, tunggu dulu.

Sebelum berbicara jauh tentang cinta, bukankah sebaiknya kita mengenal siapa yang telah menanamkannya di hati kita?

Cinta ada karena Allah yang menumbuhkannya. Dan tidak mungkin Allah menanamkan sesuatu, kecuali ada maksud yang baik di balik semua itu.

Sebelum mencintai yang lain, Allah ingin kita mencintai-Nya terlebih dulu. Dia tak ingin kita menduakan-Nya, karena itulah Dia ingin kita menjadikan-Nya alasan di balik cinta kita pada yang lainnya.

Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, Dia akan membantu kita untuk mendekatinya. Jika tidak, Allah akan memisahkan dengan cara-Nya yang mungkin tak terduga.

Yang tahu makna cinta akan berusaha menjaganya. Jika belum waktunya, ia tak akan mengungkapkan. Sebab ia tahu, Allah tak ingin dirinya lupa dengan hakikat cinta itu sendiri.

Ia akan terus berdoa dan memohon pada-Nya, jika memang cinta itu baik baginya maka tolong jangan hilangkan. Tapi jika ternyata tidak, ia berharap Allah menghilangkannya tanpa meninggalkan luka.

Punya cinta tak perlu diumbar. Teruslah berusaha menjaga dan merawatnya. Hingga waktunya tiba, Allah yang akan melengkapinya.

Cinta ada agar kita mendekat pada-Nya, cinta ada agar kita mensyukuri karunia-Nya, dan cinta tumbuh agar kita tak semakin menjauh dari-Nya.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

bulan suci ramadan

Bulan Suci Ramadan dan 6 Fakta Menarik Tentangnya

Bulan suci Ramadan adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Selama ini kita sudah biasa menjalankan puasa di bulan suci Ramadan. Dan sebagaimana orang lain yang menyambutnya dengan bahagia, kita juga merasakan hal yang sama saat bulan suci itu tiba. Namun begitu, ternyata ada banyak hal menarik tentang puasa dan bulan Ramadan yang mungkin belum semuanya kita ketahui. Apa saja?

1 Arti kata Ramadan

‘Ramadan’ berasal dari bahasa Arab ‘romadhoon’, yang merupakan turunan dari kata ‘romadhu’ atau ‘romdhoo`’, yang artinya “panas yang menyengat pada musim kemarau”. Ada juga yang mengartikannya sebagai “waktu ketika dosa-dosa dibakar oleh amal saleh”.

Kata ‘ramadan’ sangat populer di Indonesia, sampai-sampai tak sedikit orang yang menjadikannya sebagai nama untuk anaknya. Biasanya karena sang anak lahir bertepatan pada bulan Ramadan.

2. Rasulullah berpuasa Ramadan hanya 9 kali seumur hidup

Puasa Ramadan diwajibkan pada umat Islam di bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau tahun kedua Rasulullah berdomisili di Madinah. Setelah ada perintah berpuasa pada bulan Sya’ban itu maka pada bulan berikutnya, yakni bulan suci Ramadan, Rasulullah mengajak para sahabat untuk berpuasa.

Masa hidup Rasulullah di Madinah sekitar 10 tahun, yang artinya beliau bertemu dengan bulan suci Ramadan hanya 9 kali, karena puasa Ramadan baru diperintahkan pada tahun kedua Hijriyah. Menariknya, dari 9 kali bulan Ramadan, Rasulullah hanya satu kali menjalankan puasa secara penuh, sedang 8 bulan Ramadan yang lainnya tidak. Sepertinya beliau menghadapi kendala (uzur) yang menyebabkan beliau tidak berpuasa, mungkin sakit, melakukan perjalanan jauh, atau berperang.

3. Ramadan adalah bulan Al-Quran diturunkan untuk pertama kalinya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat pertama Al-Quran yang diturunkan pada Rasulullah. Pendapat yang paling populer ada dua. Pertama, yang menyatakan bahwa surah yang pertama turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, dan kedua, yang menyatakan bahwa surah yang dimaksud adalah Surah Al-Muddatstsir.

Betapapun demikian, saat ini umat Islam cenderung tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat itu, dan justru fokus pada momen peringatan turunnya Al-Quran tersebut, yang biasanya dikenal dengan istilah Nuzulul Quran. Di berbagai tempat di Indonesia, baik di masjid atau di rumah-rumah, umat Islam memperingati sejarah turunnya Al-Quran ini dengan menyelenggarakan tausiyah dan pengajian, yang biasanya diadakan pada malam ke-17 Ramadan.

4. Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan

Selain Nuzulul Quran, umat Islam juga mengenal yang namanya Lailatul Qadar atau secara bahasa artinya Malam yang Mulia. Disebut Malam yang Mulia, karena malam tersebut diyakini sebagai malam diturunkannya Al-Quran (QS. Al-Qadar: 1) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah, sebuah tempat yang berada di langit dunia.

Menurut Al-Quran sendiri, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. “Lailatul Qadar lebih mulia dibandingkan seribu bulan (QS. Al-Qadar: 3).” Karena kemuliaannya itu, amal baik yang kita kerjakan di dalamnya akan mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat-lipat.

5. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan

Perang Badar adalah salah satu perang paling terkenal dalam sejarah Islam, sekaligus perang yang paling menentukan bagi perkembangan dakwah Islam. Nama ‘Badar’ diambil dari nama tempat yang terletak di sebuah lembah di antara Makkah dan Madinah.

Perang Badar pecah pada tanggal 2 Ramadan tahun kedua Hijriyah. Tentara muslim terdiri dari 313 pasukan, dengan perlengkapan perang yang terbatas, melawan tentara kafir yang berjumlah 1000 pasukan.

Meski kalah dari sisi jumlah, tentara muslim akhirnya berhasil mengalahkan tentara kafir. Sebanyak 70 tentara kafir terbunuh dan 70 lainnya ditawan. Tentu saja, kemenangan ini adalah anugerah dari Allah Ta’ala.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Al-Imran: 123)

6. Fathu Makkah terjadi pada bulan Ramadan

Peristiwa bersejarah lain yang juga terjadi pada bulan suci Ramadan adalah pembebasan kota Makkah atau Fathu Makkah, yang terjadi pada tanggal 10 Ramadan tahun kedelapan Hijriyah. Dalam peristiwa ini, setelah mengungsi dari Makkah karena tekanan orang-orang kafir, umat Islam berhasil merebut kota tersebut dan kembali ke pangkuannya.

Meski terdengar seperti sebuah penyerbuan, karena melibatkan 10.000 umat Islam, dalam peristiwa ini umat Islam tidak menggunakan kekerasan sama sekali. Berhala-berhala yang berjajar di sekeliling Ka’bah memang dihancurkan tapi tak satu pun penduduknya dianiaya.

Sebuah riwayat menyatakan bahwa saat itu umat Islam sempat meneriakkan ancaman pada penduduk Makkah. “Hari ini adalah hari pembalasan (Al-yawmu yawmul malhamah)!” seru mereka. Tapi, ketika kata-kata itu didengar oleh Rasulullah, beliau memerintahkan untuk menggantinya menjadi, “Hari ini adalah hari kasih sayang (Al-yawmu yawmul marhamah)!

Itulah hal-hal menarik yang berkaitan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang selalu kita tunggu-tunggu kedatangannya dan membuat kita berdoa agar selalu diberi panjang umur oleh Allah agar bisa bertemu kembali dengannya. Nah, Pembaca yang baik, mari membuat agenda kegiatan untuk mengisi bulan Ramadan tahun ini!

Semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala dan nanti setelah Ramadan pergi kita betul-betul menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin …

 

Gambar didapat dari: http://bersamadakwah.net

hawa nafsu dan berbagai penyakit hati yang ditimbulkannya

Hawa Nafsu dan Penyakit Hati yang Ditimbulkannya

Puasa adalah ibadah yang sedikit berbeda dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya. Kalau orang yang sedang mengerjakan salat, zakat, haji, atau ibadah lain bisa mudah dikenali maka tidak demikian dengan mereka yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa hampir-hampir tak ada bedanya dengan orang yang tak berpuasa.

Perbedaan ini ternyata menempatkan puasa sebagai ibadah yang utama, sebab orang yang berpuasa lebih mudah untuk menjalankan ibadah tersebut sepenuh hati. Mengapa demikian? Karena mengerjakan ibadah yang tak diketahui oleh orang lain hanya membuka sedikit celah di hati kita untuk riya’, ‘ujub, atau sombong.

Dalam kaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan kebaikannya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya pada orang yang melakukannya,” (HR. Bukhari).

Lawan Hawa Nafsumu Sendiri!

Mengapa riya’, ‘ujub, dan sombong tampak sangat merugikan dan karenanya harus kita hindari?

Riya’ artinya hasrat untuk dilihat oleh orang lain dengan perasaan kagum. Ini adalah salah satu gelagat yang menunjukkan kotornya hati sekaligus rendahnya diri kita di sisi Allah SWT. Meski manusiawi dan biasa tebersit di hati, ternyata sikap hati ini sangat merugikan. Amal yang kita kerjakan sehari-semalam bisa rusak karenanya.

Mengapa bisa demikian? Karena riya’ akan mengacaukan niat kita yang sebelumnya hanya karena Allah Ta’ala menjadi tercampur dengan tujuan-tujuan yang lain, yang di antaranya adalah hasrat untuk dikagumi oleh orang lain tadi. Sehingga secara tak langsung, diam-diam, dan tanpa kita sadari, kita menyekutukan (asy syirk) Allah dalam ibadah kita.

‘Ujub adalah istilah untuk menyebut rasa bangga terhadap diri sendiri. Sikap ini lebih lembut dan tak terasa dibandingkan riya’. Orang yang melakukan amal baik boleh jadi niatnya tak goyah, yakni karena Allah semata, bukan mencari perhatian orang lain. Tapi boleh jadi ia mengeram rasa bangga di dalam hatinya terhadap dirinya sendiri.

Karena rajin ke masjid, ia merasa sudah bertakwa pada Allah. Karena bacaan Al-Quran-nya lancar dan merdu, ia merasa lebih baik ketimbang teman-temannya. Tentu saja pergi ke masjid dan lancar membaca Al-Quran adalah sesuatu yang positif, hanya saja menyertai amal baik itu dengan ‘ujub akan membuat pahala kita menguap sia-sia.

Yang terakhir adalah sombong. Berbeda dengan riya’ dan ‘ujub yang biasanya hanya berupa gelagat hati, sombong seringkali mewujud dalam kata-kata dan perbuatan. Sombong adalah sikap yang rendah dan sangat dibenci dalam Islam, sebab pelakunya merasa dirinya yang paling tahu, paling suci, dan singkat kata paling baik.

Padahal, Allah SWT tak menjadikan seseorang mengerti, bertakwa, dan berbagai karakter positif lainnya kecuali Dia juga menciptakan manusia-manusia lain yang lebih baik darinya. “Wa fawqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim, dan di atas setiap orang yang luas ilmunya ada orang lain yang lebih luas lagi ilmunya,” firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 76.

Hawa Nafsu: Biang Keladi Munculnya Penyakit Hati

Ketiga ‘penyakit hati’ itu, yang sayangnya tak banyak disadari oleh manusia, adalah akar dari segala kerusakan. Keutamaan orang alim menjadi sirna gara-gara ketiganya. Pahala dan keberkahan seorang abid musnah tanpa sisa karena ketiganya. Pertanyaan kita, siapa yang paling bertanggung jawab bagi munculnya tiga ‘penyakit’ itu?

Hawa nafsu.

Hawa nafsu, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, adalah musuh terbesar kita. Lebih tepatnya, ‘musuh dalam selimut’. Boleh saja kita mengira musuh kita adalah orang-orang kafir dan mereka yang zalim, tapi kekuatan terbesar kita seharusnya lebih banyak dicurahkan untuk melawan yang namanya hawa nafsu ini.

“Kita sudah selesai dengan perang kecil ini,” ujar Rasulullah setelah memenangkan Perang Badar, “dan akan segera menyongsong perang yang lebih besar.” Para sahabat terkejut, bagaimana bisa perang sehebat itu disebut perang kecil? Bagaimana pula rupa perang besar yang dimaksud oleh Rasulullah? Apa mungkin umat Islam memenangkannya?

“Perang apa maksudmu, ya Rasul?” tanya salah seorang sahabat.
“Perang terhadap hawa nafsu,” jawab beliau, singkat.

Hawa nafsu inilah yang kerap menipu kita, dengan menanamkan riya’, ‘ujub, dan sombong di dalam hati kita. Ia membuat kesan seolah amal baik yang kita kerjakan adalah wujud ketaatan pada perintah Allah dan Rasulullah, padahal sebenarnya itu tak lebih ekspresi dari hasrat tersamar kita, yakni keinginan untuk dikagumi dan dipuja-puji oleh sesama.

“Inna akhwafa maa akhaafu ‘alaa ummatii ar riyaa’u wasy syahwah al khafiyyah, sesungguhnya hal yang paling kutakutkan dilakukan oleh umatku adalah riya’ dan kepentingan yang tersamar.” Begitu kata Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majjah.

Alhasil, hidup kita sejatinya adalah pergumulan yang tak pernah selesai, melawan hawa nafsu, atau ego kita sendiri. Kapan pun kita merasa aman darinya, saat itulah sebenarnya kita sedang berada dalam cengkeramannya. Nah, di bulan Ramadan ini, mari kita mengangkat senjata dan maju ke medan perang besar sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Semoga di bulan Syawal nanti, di hari kita mengumandangkan takbir Idul Fitri, kita benar-benar menjadi pribadi yang suci. Sebab seperti sering kita dengar, Idul Fitri bukan untuk orang-orang yang hanya bisa membanggakan pakaian mewah tapi untuk mereka yang pribadinya semakin baik dan ketaatannya bertambah.

 

*Gambar diperoleh dari https://justbetweenus.org

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita akan kembali berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan. Bulan ketika Allah melimpahkan kasih sayang (rahmah) dan ampunan (maghfirah)-Nya pada kita. Sebagai muslim yang penuh rasa cinta pada Islam, kita tak bisa menutupi rasa bahagia dengan datangnya bulan suci ini, sebab ini menunjukkan dua hal.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasullah

Pertama, doa kita tahun lalu agar Allah memberi umur yang panjang dan mempertemukan kembali dengan bulan mulia ini dikabulkan. Ini tentu patut kita syukuri. Di tengah usaha kita untuk memperbaiki masa lalu dan menambah bekal hidup di akhirat, Allah memperpanjang umur kita: sebuah kesempatan emas untuk melanjutkan usaha kita itu.

Kedua, kita mendapat kesempatan lagi untuk melakukan kebaikan yang pada bulan puasa tahun lalu belum kita kerjakan. Apa yang sudah kita kerjakan pada tahun sebelumnya akan kita lanjutkan pada bulan suci tahun ini, dan akan kita tambah dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Dengan begitu, semoga Allah semakin mengasihi kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Kalau sebelumnya hanya mampu membaca Al-Quran satu rubu’ (seperempat juz) sehari, semoga pada Ramadan tahun ini bisa membaca satu juz penuh.

Kalau kemarin baru bisa bersedekah seadanya untuk para tetangga yang membutuhkan, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa menyedekahkan sesuatu yang lebih bernilai.

Kalau tahun lalu salat Tarawih kita bolong-bolong, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa memenej waktu untuk lebih istiqamah.

Ramadan dan Perlawanan Hawa Nafsu Kita

Biasanya, menjelang datangnya bulan Ramadan kita punya banyak rencana, dan semuanya sangat positif. Misalnya, untuk salat Tarawih kita memilih masjid-masjid megah yang bacaan imamnya merdu, untuk pengajian kita mendatangi majelis-majelis yang dihadiri oleh ustadz yang sedang tenar, dan untuk tilawah kita menargetkan satu bahkan dua juz Al-Quran.

Insya Allah, apa yang sudah kita niatkan itu Allah catat sebagai tambahan kebaikan untuk bekal kita di akhirat nanti, dan insya Allah semua itu semakin baik jika betul-betul kita kerjakan dan sebisa mungkin kita istiqamahkan. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, kuatnya keinginan dan tekad untuk beramal saleh di bulan Ramadan seringkali tak lebih kuat dibandingkan dengan hawa nafsu kita.

Karena hilang kendali, kita menyantap terlalu banyak makanan ketika berbuka, sehingga perut kekenyangan saat mau ikut salat Tarawih. Ujung-ujungnya kita absen ke masjid.

Karena kurang bisa mengatur jadwal tidur, kita mengantuk di tempat kerja. Jangankan membaca Al-Quran saat istirahat, mengerjakan tugas saja berantakan.

Hari demi hari berganti, sementara semangat kita yang kadung dipukul jatuh oleh hawa nafsu tak pernah bangkit lagi. Niat dan rencana yang kita susun menjelang bulan mulia itu tiba juga lamat-lamat kita lupakan. Kita lalu menghibur diri dengan program hiburan di televisi dan menyibukkan diri dengan ibadah (setidaknya begitu harapan kita) lainnya: mudik lebaran dan silaturahmi.

Ramadan: Momen untuk Semakin Mengenali Diri Sendiri

Pembaca yang baik, pada bulan Ramadan kali ini, mari kita berusaha untuk lebih mengenali diri sendiri. Mari kita jujur pada hati, apa yang kita inginkan dengan datangnya bulan suci ini, apa yang ingin kita raih di dalamnya, apa usaha kita untuk merayakannya, dan sejauh mana kita sanggup menjalankan niat atau rencana-rencana kita.

Kita boleh merencanakan ibadah ini dan itu, tentu saja itu bagus. Tapi, jika semua itu hanya hasrat setarikan nafas untuk kemudian kita lupakan begitu bulan suci betul-betul tiba, dengan atau tanpa alasan, tidakkah itu artinya kita menyia-nyiakan anugerah agung ini dan mengabaikan kesempatan untuk meraih berbagai keutamaan di dalamnya?

Jadi, mari berkomitmen lagi pada diri sendiri. Sayang, jika bulan yang penuh keberkahan ini kita lewati hanya dengan rasa lapar, dahaga, dan rencana-rencana yang tak pernah kita kerjakan. Mari kita tata terlebih dulu niat kita sebelum memasuki bulan mulia ini, mari kita atur lagi rencana-rencana kita untuk mengisinya. Tak usah muluk-muluk, tak usah mempersulit diri sendiri.

Mengikuti salat Tarawih atau mendengar pengajian di musala yang dekat dengan rumah kita, juga membaca Al-Quran meski hanya satu atau dua halaman saja, sudah baik, asal bisa kita kerjakan dengan istiqamah. Allah tak akan mempersoalkan di masjid mana kita beribadah, siapa ustadz yang kita dengar ceramahnya, dan sebanyak apa ayat suci-Nya kita baca.

Dia justru akan mempersoalkan sekuat apa kita menjaga keistiqamahan beribadah pada-Nya dan seikhlas apa kita mengerjakannya. Ingat, beramal banyak tapi tidak istiqamah dan ikhlas tak lebih baik lho dibandingkan beramal sedikit tapi istiqamah dan ikhlas. Sebab, “Allah tidak memandang rupa kalian, juga tidak harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian,” (HR. Muslim).

Ramadan adalah perayaan panjang, yang curahan pahala dan gempita keberkahan Allah turunkan pada siang dan malamnya. Tak ada siang atau malam di bulan suci ini yang tak Dia penuhi dengan kasih sayang dan ampunan-Nya. Amal baik yang kita kerjakan di dalamnya, sekecil apa pun itu, insya Allah menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh untuk kita panen kelak di akhirat.

 

*Gambar dipinjam dari: https://occupiedpalestine.wordpress.com

arti cinta dalam hidup

Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Arti cinta tak selalu dimengerti oleh pemiliknya.

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai yang kita miliki. Itu sebabnya, kita mesti merawatnya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya pula, kita tak mungkin memercayakannya pada sembarang orang.

Orang yang mau memberikan cintanya pada orang yang tak ia kenal, atau ia kenal tapi sebagai orang yang sebenarnya tak pantas mendapatkannya, mungkin tak menyadari betapa berharga arti cinta yang ia miliki itu.

Begitu pula orang yang mengharapkan cinta orang lain, lalu menukar apa yang ia miliki dengan cinta tersebut. Ia tak tahu betapa barang yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan cinta yang ia idamkan itu.

Arti Cinta Tak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

Kalau kita keliru memercayakan cinta pada seseorang, kita akan menyesal pada akhirnya. Begitu pula jika kita salah sangka dan mengira cinta seseorang bisa ditukar dengan harta benda yang kita miliki.

Orang yang mau menyerahkan cintanya pada orang yang salah, dan orang yang mendapatkan cinta kekasihnya dengan menukar harta benda dengannya, sejatinya sama-sama tak mengerti arti cinta. Karena tak paham betapa bernilai cinta yang ia miliki atau yang ia dapatkan, tak mengherankan jika suatu saat cinta tersebut bisa dengan mudah mereka campakkan.

Siapa pun bisa bosan, bukan?

Arti Cinta: Harus Kita Pahami

Ini mirip orang yang mengidamkan sebuah kamera dengan berbagai fiturnya yang canggih, tapi saat berhasil memilikinya dan kemudian bosan dengannya, ia meletakkannya di tempat yang tak semestinya.

Kenapa ia bisa ceroboh seperti itu? Mungkin ia tak bisa mengoperasikan kameranya itu, sebab skill-nya masih kurang. Mungkin uang yang ia gunakan untuk membelinya ia dapat dengan meminta orangtuanya, ia tak tahu sulitnya mencari uang. Mungkin juga ia bukan orang yang pandai bersyukur dan mau menghargai apa-apa yang ada di sekitarnya.

Orang yang tak mengerti arti cinta yang ia miliki akan dengan mudah menyerahkan cintanya atau menerima cinta dari orang lain dengan cara yang tak semestinya. Ia juga, saatnya nanti, akan menyia-nyiakan cinta yang ia berikan pada orang lain atau cinta yang ia terima dari mereka.

Semoga kita bisa belajar tentang cinta dan bisa memperlakukannya dengan cara yang tepat.

 

Sumber foto: pixabay.com

TGB

Pin It on Pinterest