kajian islam Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
516
archive,category,category-kajian-islam,category-516,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
kita semua bermahkota

Memang, Tak Semua yang Bermahkota Adalah Raja

Tapi, setiap diri kita bermahkota, dan setiap diri kita adalah raja …

Tanggung jawab kita terhadap diri sendiri adalah mahkota yang menandai kehormatan kita.

Dalam hidup, kita tak bisa lepas dari yang namanya tanggung jawab. Mulai hal-hal kecil hingga yang besar.

Saat memasuki usia remaja, tanggung jawab kita lebih besar dibanding saat anak-anak. Ada tugas untuk menyelesaikan pendidikan, mencari pengalaman, mungkin juga mulai menekuni pekerjaan.

Namun, semakin dewasa, tanggung jawab kita semakin menumpuk. Hadirnya kadang sampai membuat kita pusing tak karuan. Di satu sisi harus menyelesaikan yang ini, di sisi lain juga harus menyelesaikan yang itu.

Semua yang Bermahkota Sedikit-Banyak Menanggung Beban

Seperti raja yang bermahkota batu mulia dan menunjukkan derajat kehormatannya, setiap diri kita tak dibebani tanggung jawab melainkan yang sesuai dengan kesanggupan kita. Begitulah janji Allah, dan Dia tak pernah mengingari janji-Nya.

Jadi, jangan sampai pilihan-pilihan hidup yang kita harus bertanggung jawab terhadapnya, membuat kita mengeluh dan menyakiti diri sendiri.

Keputusan hidup yang kita pilih pasti punya risikonya sendiri-sendiri. Entah pilihan tentang jurusan kuliah atau kota tempat kita merantau meninggalkan rumah, semuanya harus dipikirkan dengan matang.

Yang harus kita ingat juga, bukan kita saja yang memiliki tanggung jawab dalam hidup. Orang lain pun sama. Malah, bisa jadi mereka punya tanggung jawab yang lebih besar daripada kita.

Maka, jangan sampai kesulitan yang kita dapati membuat orang lain terluka. Tak perlu meluapkan perasaan dengan berlebih, karena bukan kita saja yang merasakan sulitnya hidup.

Bermahkota Sama Artinya Memilih Tanggung Jawab

Pada akhirnya, kita akan memilih jalan hidup masing-masing. Memilih pekerjaan yang dikehendaki, memilih pendidikan yang diminati, serta memilih pasangan yang memang kita cintai.

Semua pilihan itu adalah tanggung jawab kita terhadap diri sendiri; dan bagaimana kita menjalankan tanggung jawab itu, seperti itu jugalah orang lain melihat mahkota kita. Bagaimana kita tetap setia pada apa yang kita pilih, walau di tengah jalan ada masalah besar yang harus kita lewati.

Teruslah melangkah! Kalau kita menyerah pada apa yang kita cintai, bagaimana kita bisa berkorban pada apa yang tak kita sukai?

Mintalah pada Allah, dan jangan bersikap lemah.

Biarlah Allah membantu kita dengan cara-Nya, dan biarlah diri kita bahagia dengan cara yang tak pernah kita kira.

Setiap diri kita ibarat raja yang bermahkota logam dan batu-batu mulia. Sebesar apa usaha kita menjalankan tanggung jawab, sebesar itulah kemuliaan mahkota yang kita kenakan.

kematian pasti akan datang

Merenungkan Kematian: Siapkah Kita Menyambutnya?

Kematian adalah peristiwa paling niscaya yang selama ini selalu kita ingkari.

Padahal, jika saatnya tiba orang-orang yang kita cintai satu persatu akan berpamitan. Keluarga kita sendiri pun saatnya nanti akan menghadap pada-Nya.

Ini bukan tentang siapa yang lebih dahulu, tapi bagaimana kita berlapang dada dengan takdir-Nya. Walau orang-orang yang kita cintai pergi, kita harus ikhlas menerimanya.

Saat seseorang kembali ke sisi-Nya, ia akan melupakan apa yang ada di dunia. Harta tak lagi penting. Keluarga tak lagi dirisaukan. Baginya, yang paling utama saat itu adalah mengucapkan “lailahaillallah” di pengujung usia.

Tinggal Kenangan

Tiap kita akan dilupakan. Baik oleh orang yang memang tak dekat dengan kita, atau oleh orang yang tak pernah melewati hari kecuali kita berada di sampingnya.

Maka, tak salah jika ada yang mengatakan kalau kita adalah kumpulan hari-hari. Ketika satu hari berlalu, itu berarti ada bagian dari diri kita yang pergi meninggalkan kita.

Saat rambut sudah memutih, saat kulit tak lagi kencang, kenangan bersama orang-orang yang kita cintai akan sirna. Yang kita ingat hanya diri kita dan mereka yang sibuk mengurusi detik-detik terakhir hidup kita.

Ketika ia Datang

Saat tamu itu tiba, tak ada lagi yang bisa mengelak. Walau kita berada di balik bangunan yang kokoh, atau berlindung di tempat yang paling tersembunyi, kalau tamu itu sudah mengetuk, kita tak akan bisa menolaknya.

Mereka yang didatanginya akan merasa khawatir. Yang kaya takut ketidakhalalan hartanya. Yang taat takut ada riya dalam ibadahnya. Bahkan yang istiqamah pun takut tobatnya tak diterima.

Jadi, mari kita berusaha memanfaatkan sisa usia. Kita harus ingat, ada dua nikmat yang paling melalaikan: Nikmat sehat dan waktu luang.

Jika keduanya digunakan untuk kebaikan maka semakin sempurnalah amal yang bisa kita kerjakan. Namun jika kita terlena maka keduanya bisa membuat kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Kematian pasti menyapa kita. Kapan pun kedatangannya, semoga kita telah menyiapkan bekal yang terbaik. Bukan lagi untuk dunia, tapi untuk kehidupan setelahnya.

senyuman menguatkanmu

Senyuman Membuat Harimu Lebih Berwarna, Benarkah?

Dengan senyuman, semua akan terasa lebih indah.

Hari-hari mungkin akan kita jalani dengan susah payah. Masalah menyapa tak kenal henti, silih berganti mengisi hidup ini. Datangnya pun tak pernah bisa kita duga. Adakalanya saat kita sedang berada di puncak bahagia, adakalanya saat kita sibuk menyelesaikan masalah yang lebih dahulu tiba.

Saat kita sibuk dengan satu urusan, kadang ada hal lain yang mendesak untuk diselesaikan. Ada saja masalah-masalah baru, yang datang tanpa pernah mengenal waktu.

Namun, saat mendapat masalah, senyuman harusnya tetap menghiasi wajah kita. Kenapa? Beratnya masalah yang kita hadapi perlahan akan menuntun kita pada indahnya hikmah ilahi. Coba bayangkan, kalau kita tak dapat masalah, bagaimana bisa kita merasakan pertolongan-Nya?

Tersenyumlah, Tak Usah Mengeluh

Banyak orang yang masalahnya lebih berat dari kita. Banyak juga orang yang lebih sibuk dari kita.

Kalau mereka bisa tersenyum saat menjalaninya, kenapa kita tidak?

Mulai hari ini, tersenyumlah. Senyum kita memang tak menyelesaikan masalah, tapi bisa menjadi isyarat bahwa setelah ini akan ada hadiah dari-Nya.

Tersenyum tak perlu menunggu punya harta melimpah. Tak perlu juga menunggu bahagia. Asal sedang berjumpa dengan orang lain, senyuman pantas menghiasi wajah kita.

Bahagia itu bisa kita sederhanakan, salah satunya adalah dengan menebar senyuman. Perlu diingat juga, kita mesti berbuat baik walau terlihat sederhana. Sebab, kita tak tahu amal mana yang memudahkan kita menuju surga-Nya.

Senyuman Pun Bisa Bernilai Ibadah

Kalau kita ikhlas melakukannya, senyum itu akan Allah lipat gandakan pahalanya.

Jadi, tak perlu ada yang dirisaukan.

Walau menjumpai masalah, kita harus tetap punya senyum yang dapat meringankannya. Bukan untuk diri kita saja, tapi orang lain pun akan ikut merasakan bahagianya.

Mari kita rawat cinta dan persaudaraan dengan orang lain. Saat berjumpa kita memberi senyum, saat sedang berjauhan kita saling mendoakan.

Semoga upaya untuk bahagia ini Allah ganjar pahala. Semoga senyum memudahkan jalan bagi kita untuk menjadi penghuni surga-Nya. Aamiin …

ayah adalah orang yang sangat berjasa

Ayah, Kita, dan Kata-kata yang Terlupakan

Terima kasih. Itu kalimat pendek tapi sering kita lupakan.

Satu hal yang kadang kita lupa tentang orangtua, yaitu perjuangan ayah yang tak kenal lelah.

Diamnya ayah bukan tanpa arti. Ayah tak perlu banyak bicara untuk menasihati anaknya, ia punya kewibawaan yang membuat kita selalu bisa menghormatinya.

Diamnya ayah bukan tanpa alasan. Jarang keluar keluh kesah dari lisannya, karena ayah tahu itu bukanlah contoh yang baik untuk anggota keluarganya.

Mungkin kita jarang mendengar nasihatnya. Tiap hari kita hanya mendengar nasihat-nasihat dari ibu. Tapi percayalah, di dalam nasihat ibu terselip pesan-pesan dari ayah yang kita tak tahu.

Saat kita tertidur pulas, ayah kadang terjaga. Kadang untuk memenuhi tanggung jawab nafkahnya pada kita, kadang untuk bercengkerama dengan ibu tentang kita.

Jarang atau bahkan tak pernah kita melihat air mata ayah menetes. Sebab, ayah ingin tak ada yang menanggung beban kecuali dirinya sendiri. Selagi bisa, ayah akan terus mengusahakannya.

Kita memang tak pernah melihat ayah menangis. Tapi, sangat mungkin ayah menangis dalam doanya. Mendoakan kita dan anggota keluarga yang lain supaya Allah menjaga mereka.

Ayah memang rendah hati.

Walau banyak tanggung jawab yang harus dituntaskan, ia selalu meminta pertolongan Allah agar bisa melakukan. Bukan tak mampu, tapi karena ia tahu bahwa dirinya bukan apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

***

Ayah, maaf…

Aku masih banyak kekurangan. Bukan hanya kurang berterima kasih, bahkan namamu pun kadang terlewat dalam doaku.

Ayah, maaf…

Aku belum bisa membahagiakanmu. Setelah banyak pengorbanan yang kau lakukan, seharusnya aku bisa membuatmu bangga. Nyatanya, tidak demikian.

Ayah, maaf untuk diriku yang kadang melawan. Andai dari dulu kutahu sebesar apa pengorbananmu, ingin sekali aku kembali ke masa lalu, hanya untuk meminta maaf dan ridamu.Ayah, terima kasih telah menjagaku hingga hari ini. Terima kasih atas jasa dan perjuanganmu yang tak kenal henti. Mulai detik ini, padamu aku berusaha untuk terus berbakti.

salat tahajud amal utama

Tahajud: Ibadah Utama dan Keajaiban Besar di Baliknya

Salat Tahajud adalah ibadah orang-orang pilihan.

Tak semua orang dapat melakukannya, karena memang butuh pengorbanan untuk menjalankannya. Selain mengorbankan waktu istirahat, salat tahajud juga harus dijalankan dengan komitmen agar bisa rutin dan istiqamah.

Salat Tahajud bukan hanya memiliki keutamaan dalam hal ibadah, tapi juga mempunyai keutamaan untuk kesehatan tubuh kita. Berikut keutamaan-keutamaan salat tahajud yang perlu kita tahu.

Baca juga:
Panduan Shalat Lengkap
Menghidupkan Malam dengan 11 Amal Pilihan

1. Ibadah pada waktu yang mustajabah untuk berdoa

Selain setelah salat, waktu ashar di hari Jumat, dan waktu mustajab lainnya, sepertiga malam yang terakhir juga menjadi waktu yang tepat untuk memanjatkan doa. Karena dalam keheningan malam, kita akan lebih mudah untuk khusyu dalam berdoa.

Imam Syafii pernah berkata, “Doa saat tahajud laksana anak panah yang selalu tepat sasaran”. Allah memang menjamin sepertiga malam yang terakhir sebagai waktu yang paling tepat untuk memunajatkan doa dan meminta apa pun yang kita impikan.

2. Allah mengangkat derajat orang yang mengerjakannya

Salat Tahajud tak mudah dilakukan, karena diri kita tak selalu mampu melawan hawa nafsu untuk bisa melakukannya. Sebab itu, Allah menjanjikan derajat yang tinggi untuk mereka yang bisa melaksanakannya, sebagaimana firman-Nya:

“Dan pada sebagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra: 79)

3. Salat paling utama setelah salat fardhu

Tahajud merupakan salat yang paling utama setelah salat fardhu yang lima. Inilah yang menjadikan salat sunah tahajud menjadi yang paling mulia di banding sunah-sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi saw:

“Sebaik-baik puasa setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram, dan sebaik-baik salat setelah salat yang fardhu adalah salat malam.” (HR. Muslim)

4. Gerakan Salat tahajud dapat memperlancar sirkulasi darah

Selain mempunyai nilai pahala yang tinggi, tahajud juga bermanfaat bagi tubuh kita. Tahajud di lakukan pada sepertiga malam yang terakhir. Pada waktu tersebut, udara di sekitar sangat segar dan bebas polusi. Pada saat itu juga, tubuh mempunyai kesempatan untuk menggerak-gerakkan seluruh otot. Tiap gerakan salat melibatkan banyak otot dan sendi yang bergerak. Banyaknya gerakan ini membuat sirkulasi darah semakin lancar.

5. Salat Tahajud Meningkatkan kekebalan tubuh

Rutin melaksanakan salat tahajud juga bermanfaat untuk sistem imun tubuh kita. Selain karena sirkulasi darah lancar, basuhan air wudhu sebelum tahajud juga memberi kesegaran tubuh yang sangat baik. Saat tahajud juga tubuh kita dibiasakan untuk menerima udara segar di sepertiga malam yang terakhir, yang akan membuat pori-pori kulit menjadi lebih terjaga dan tetap lembab.

Tahajud juga membuat kita terhindar dari infeksi pernafasan. Karena udara pada saat itu merupakan udara yang segar dan bebas dari polusi yang diakibatkan oleh kendaraan ataupun pabrik-pabrik. Membasuh hidung saat berwudhu juga membuat kesehatan aliran pernafasan menjadi lebih terawat dari bakteri yang dibawa oleh udara saat kita menghirupnya.

iri adalah perbuatan rendah

Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang?

Iri bisa menjangkiti siapa pun, terutama mereka yang merasa kebal darinya.

Sering kita hanya fokus menatap dan menakar karunia yang Allah berikan pada orang lain, namun tak punya waktu untuk mensyukuri apa yang kita miliki.

Ungkapan “rumput tetangga lebih hijau” kadang masih berlaku bagi kita. Benar, bagi hati yang jarang mensyukuri nikmat Allah, istilah itu adalah hal yang sangat wajar dan bahkan dapat diterima oleh akal.

Teman kita beli handphone baru, kita iri dan menginginkannya. Tetangga punya mobil baru, kita mengeluh karena Allah tidak memberikannya pada kita. Begitulah jika mata hanya untuk melihat bahagia orang lain, tak ada ruang di hati kita untuk bahagia.

Padahal, sebelum teman atau tetangga kita punya sesuatu yang baru, hidup kita nyaman-nyaman saja. Handphone kita yang tadinya tak ada masalah, tiba-tiba menjadi sesuatu yang paling usang ketika melihat handphone teman lebih bagus dari yang kita punya.

Di sisi lain, ada orang yang hidup seadanya. Bahkan untuk sekadar mendapatkan makanan di hari esok saja mereka tak yakin. Tapi, banyak dari mereka yang bersyukur walau hanya bisa makan untuk hari ini.

Anehnya, kita justru yang melupakan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Jangankan perihal  materi, Allah padahal sudah memberi kita nikmat sehat yang tiada henti. Nikmat yang paling jarang kita syukuri, nikmat yang paling sering kita lupakan.

Tak salah kalau iri disebut penyakit yang sulit diobati. Sebab, ia bukan hanya menutup mata dari karunia Allah tapi juga menutup hati untuk mensyukurinya.

Dalam hidup ini, sejatinya untuk memperoleh bahagia itu sederhana. Terlebih soal harta, kita dianjurkan untuk melihat yang kekurangan. Selain untuk menambah syukur, itu juga membuat hati kita tergerak membantunya.

Jadi, bahagia itu seutuhnya kita yang memutuskan. Tak perlu melihat banyaknya nikmat orang lain, jika yang ada pada kita malah sering dilupakan.

Bersyukurlah.

Bahagia bukan terletak pada banyaknya harta, tapi pada hati yang selalu siap untuk mensyukurinya.

sedekah memperlancar rezeki

Sedekah: Agar Rezeki Melimpah dan Berkah

Sedekah akan membuka pintu rahmat-Nya, dan mengalirkan keberkahan yang tak berkesudahan pada hidup kita.

Sejatinya, harta yang betul-betul milik kita adalah harta yang kita berikan pada orang lain, bukan yang sekarang ada di tangan kita. Apa yang ada di tangan kita suatu saat akan kita tinggalkan, tapi apa yang kita berikan pada orang lain akan berbuah pahala dan menolong kita di hari kiamat nanti.

Sedekah Bukan Sembarang Ibadah

Sedekah adalah ibadah mulia yang harus kita biasakan mulai detik ini. Ibadah utama ini tak selalu berhubungan dengan harta tapi juga melakukan hal-hal baik yang bisa bermanfaat dan meringankan masalah sesama.

Menyingkirkan duri di jalan juga sedekah. Senyum kita pada orang lain juga sedekah.

         Baca juga:
         Ustadz Abdul Somad
         Ulama Pemimpin

Rasulullah bersabda, “Infaqkanlah hartamu! Janganlah menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak maka Allah akan menghilangkan barakah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029)

Berbagi tak akan mengurangi harta yang kita miliki. Sebaliknya, ia akan menambah rezeki kita, menambah pahala kita, juga menambah rasa kedermawanan kita pada orang lain.

Al-Quran membuat perumpamaan bagi sedekah sebagai “sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir”. Hal ini karena begitu banyaknya pahala yang diterima oleh orang yang bersedekah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Jangan ragu berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain, sebab itu adalah benih pahala yang kita tanam di ladang surga. Biasakan berbagi dengan rutin, walau jumlahnya sedikit. Karena Allah lebih menyukai amalan ringan tapi terus dilakukan, dibanding amalan besar tapi dilakukan sesekali saja.

sosial media harus menjadi ladang pahala, bukan ladang dosa

Sosial Media: Bagaimana Kita Mendapatkan Pahala darinya?

Sosial media bisa menjadi ladang pahala, bisa juga menjadi ladang dosa. Pilihannya ada pada kita: bagaimana kita memanfaatkannya.

Jika kita punya keterbatasan dalam memposting kebaikan, lebih baik tahan jari untuk memposting atau mengomentari hal-hal yang tak bermanfaat. Bukan hanya sia-sia, pahala kita pun bisa berkurang karenanya.

Di dunia maya sekali pun, kita harus menjaga perkataan yang tak selayaknya ditulis. Menjaga kesopanan di dunia maya sama dengan di dunia nyata. Mungkin malah lebih sulit di dunia maya, karena kita tak langsung bertemu dengan lawan bicara kita.

Jika teman kita memposting suatu kebaikan, tak perlu langsung menuduhnya riya. Bukankah sangat mungkin ia bertujuan untuk mendapatkan pahala dari apa yang mampu ia lakukan?

Justru ketika ada postingan kebaikan, mari kita renungkan. Jika kita tak bisa berbagi kebaikan, lakukanlah kebaikan dari apa yang teman-teman kita sudah bagikan. Tetaplah berbaik sangka, sebab Allah menyukainya.

Sebelum kita mengomentari sesuatu, seharusnya kita pahami dulu apa yang ingin kita komentari. Jika hal tersebut memang sesuatu yang harus diperbaiki, silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan tak menyakiti hati.

Kalau kita berkomentar dengan cara yang tak baik, banyak sekali kerugian yang akan kita dapatkan. Pertama, komentar yang sia-sia akan mengurangi pahala. Kedua, orang lain akan berprasangka yang tak baik pada kita.

Bukankah kita tak ingin mendapatkan keduanya?

Mari gunakan sosial media dengan bijak. Jika belum bisa menebar kebaikan, tak perlu berulah dengan keburukan. Tahan emosi dan perasaan, semoga Allah senantiasa menjaga kita dari apa yang tak diridhai-Nya.

Bukankah kita semua ingin masuk surga? Dan, bukankah surga hanya dipenuhi oleh orang-orang baik lagi bersih hatinya?

Gunakanlah sosial media dengan cara yang baik. Tak perlu ada pertikaian di dalamnya, sebab Islam memerintahkan kita untuk cinta perdamaian.

Di Dunia Maya Pun Kita Harus Santun Berkata-kata

Santun berkata-kata di dunia maya sama pentingnya dengan di dunia nyata.

Kita sering memikirkan kebaikan apa yang bisa kita bagikan di dunia maya, tapi lupa untuk menjaga sikap santun saat menyampaikannya.

Kita adalah makhluk yang dianugerahi oleh Allah perasaan yang berbeda-beda. Ada orang yang mudah marah, ada yang sangat sabar dalam menangani masalah. Ada yang mudah mengontrol emosi, ada yang sulit untuk menjaganya.

Kita tak dilarang untuk mengomentari tulisan apa pun di dunia maya. Tapi agar tak melukai hati sesama, sudah sepatutnya kita memperhatikan adab di dalamnya. Salah satunya adalah bersikap santun.

Informasi di dunia maya tak bisa dicegah. Entah fakta atau rekayasa, semuanya ada. Karena itu, kita harus pandai memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Jika ada postingan yang tak kita sukai, jangan langsung terbawa emosi. Karena kalau sedang marah, biasanya hati kita tak bisa berpikir panjang untuk melakukan apa yang seharusnya.

Kalau amarah atau emosi sudah menguasai diri kita, akibatnya tak sepele. Mungkin kita akan mengeluarkan kata yang tak seharusnya ditulis. Terlebih di dunia maya, kita tak tahu tujuan seseorang memposting hal yang tak kita sukai.

Coba teliti ulang, apakah benar informasi yang kita baca. Jika memang tak sesuai, ingatkan pengunggahnya dengan cara yang santun. Menjaga hati seseorang lebih utama daripada meluapkan perasaan yang kita punya.

Kita tak perlu melukai hati sesama. Sebagaimana kita tak ingin ada yang melukai hati kita, sudah sepatutnya kita menjaga perasaan orang lain walaupun berbeda pendapat dengan kita.

Dunia maya bisa menjadi ladang amal untuk kita. Kita bisa menambah pahala dengannya. Karena, siapa yang memberi tahu suatu kebaikan, ia akan mendapat pahala yang sama dengan pelakunya, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya.

Mari lebih bijak saat berinteraksi di dunia maya. Selagi bisa menambah pahala, kenapa harus kita gunakan untuk menguranginya?

Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Relakan. Sebab bukan dia yang sejatinya pergi, tapi Allah yang menjauhkan.

Allah tak ingin kita salah mengartikan cinta. Yang seharusnya mendekatkan pada-Nya, malah kita jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kita.

Memang berat ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Namun, itu lebih baik daripada kita mendapatkan luka-luka yang sama jika terus bersamanya. Relakan, itu lebih baik bagi kita.

Allah tak ingin perasaan kita dipermainkan, sebab itu Dia tak mengizinkan kita pacaran. Karena yang serius tak akan mengulur waktu untuk menempuh hidup baru. Dia pasti menyegerakan jalinan kasih yang sah dan diridhai oleh-Nya.

Allah tak ingin hati kita disakiti. Walau kadang kita merasa dicintai, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Sebab, tak mungkin ada manisnya cinta tanpa ridha dari Yang Mahakuasa. Tak akan ada setia bagi cinta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Relakan …

Biarkan hati tenang tanpanya.

Dulu, malammu indah dengannya. Saling bertukar pesan. Saling berkabar. Namun, Allah punya yang lebih baik dari itu. Indahnya doa tak pernah dikalahkan oleh indahnya cinta tanpa izin-Nya.

Dulu, ketika bertemu dengannya mungkin senyummu tak bisa berbohong. Itu wajar, banyak yang mengalaminya. Namun, Allah punya yang lebih indah dari itu. Menundukkan pandangan lebih baik dibanding melampiaskan pada yang belum Allah izinkan.

Kisahmu bersamanya akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Kau tak mungkin dihantui sepi. Allah selalu ada untukmu, di siang ataupun malam hari.

Allah Mahabijaksana dengan membuatmu terpisah darinya. Bukan untuk membuat salah satu di antara kalian kecewa, tapi Dia punya cara lain yang bisa membuatmu dan dia bahagia.

Kalaupun memang dia yang Allah takdirkan untukmu, akan ada waktu dia kembali padamu. Sebagai orang yang berbeda, sebagai orang yang lebih taat pada-Nya.

Tak perlu bersedih karena kepergiannya. Sebab, kepergian orang yang belum Allah izinkan bersama jauh lebih baik daripada dia tetap bersamamu tapi selalu menumbuhkan luka yang baru.

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat