Etika Malam Pertama Secara Islami - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
25028
single,single-post,postid-25028,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
etika-malam-pertama

Etika Malam Pertama Secara Islami

etika-malam-pertamaSetiap sesuatu memiliki cara dan tatakrama yang sebaiknya dilakukan. Demikian juga dengan malam pertama pernikahan. Jika kedua mempelai telah masuk kamar pengantin, hendaknya melakukan sunah malam zafaf (malam pertama) berikut ini.

A. Mengucapkan salam kepada pengantin wanita.
Hal ini bisa mengusir grogi dan suasana beku dari dalam hati pengantin wanita. Diriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwa saat Nabi saw menikahinya, lalu ingin masuk menemuinya beliau mengucapkan salam.

B. Besikap lembut terhadap pasangan dengan cara menyuguhkan makanan atau minuman.
Asma’ binti Yazid berkisah, “Aku merias Aisyah untuk Rasulullah saw, kemudian aku hampiri beliau dan aku ajak beliau melihat dandanan Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di samping Aisyah sambil membawa cangkir besar berisi susu. Beliau minum, kemudian memberikannya kepada Aisyah. Namun, Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu. (Melihat adegan itu) aku manfaatkan kesempatan itu dan berkata kepadanya, “Ambillah dari tangan Rasulullah saw.” Aisyah pun lantas mengambil dan meminumnya sedikit.” (HR Ahmad).

C. Meletakkan tangan di atas kepala pengantin wanita dan mendoakannya.
Nabi saw bersabda, “Jika salah seorang dari kalian menikahi seorang perempuan atau membeli seorang budak, hendaklah ia meraih kepala bagian depannya sambil menyebut nama Allah Azza wa Jalla dan berdoa memohon keberkahan, kemudian hendaknya ia berdoa.

اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّمَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Kau Ciptakan padanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Kau ciptakan padanya.” (HR Abu Daud dan An-Nasa’i)

D. Mengajaknya shalat dua rakaat.
Tatakrama ini diajarkan oleh salafus shaleh. Dikisahkan oleh Abu Sa’id, budak Abu Arsyad, “Aku menikah pada saat aku bersatus budak, lalu aku undang beberapa sahabat Nabi saw yang di antaranya adalah Ibnu Mas’ud, Abu Dzarr, dan Hudzaifah. Azan shalat berkumandang dan Abu Dzar  langsung maju ke depan. Hadirin yang lain berkata, “Tunggu.” Ia menjawab, “Bukankah seharusnya begini?” Mereka menukas, “Ya.”
Abu Sa’id melanjutkan, “Aku maju bersama mereka padahal aku adalah budak belian. Mereka lantas mengajariku dan berkata, “Jika istrimu datang, shalatlah dua rakaat terlebih dahulu, kemudian mintalah kepada Allah yang terbaik dari sesuatu yang masuk kepadamu dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu dan istrimu.”

E. Bersiwak dan membersihkan gigi sebelum mencumbunya.
Pada masa sekarang bisa dengan bergosok gigi dengan sikat dan pasta gigi. Sungguh, hal ini bisa mengawetkan hubungan dan kemesraan.
Diceritakan oleh Syuraij bin Hani’, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah ra, ‘Apakah yang pertama kali dilakukan Nabi saw ketika masuk rumah.” Ia menjawab, “Bersiwak (menggosok gigi).” (HR Muslim).

F. Menyebut nama Allah dan berdoa ketika berhubungan intim.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kalau saja ketika setiap orang dari kalian mendatangi istrinya mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

(Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Kau anugerahkan kepada kami). Kemudian dari keduanya ditakdirkan mendapatkan anak maka setan tidak akan dapat membahayakannya selama-lamanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, bagaimana etika bersenggama dan perihal lainnya dalam hubungan suami-istri? Buku Pintar Keluarga Sakinah terbitan QultumMedia ini akan menjelaskannya kepada Anda secara rinci dan lugas. Tidak hanya itu, di dalam buku yang ditulis oleh Abu Zahwa & Drs. Ahmad Haikal, M.A. ini juga membahas kelengkapan lainnya guna membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmat yang didasari oleh konsep-konsep Islami.

 

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X