Kerugian bagi yang Tidak Membaca Shalawat - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
24939
single,single-post,postid-24939,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
kerugian-enggan-shalawat

Kerugian bagi yang Tidak Membaca Shalawat

kerugian-enggan-shalawatMembaca shalawat merupakan tanda kecintaan kita kepada Rasulullah saw. Rasulullah sangat berhak mendapatkan penghormatan, doa, dan rasa cinta dari umatnya, karena kemuliaannya yang telah mengantarkan beliau sebagai penghulu para nabi. Bahkan, Allah SWT dan para malaikatnya membacakan shalawat kepada beliau atas derajatnya yang begitu tinggi di antara para makhluk Allah SWT.

Membaca shalawat tentu saja memiliki banyak keutamaan, baik berupa pahala maupun perbaikan nilai hidup. Namun, bagaimana jika kita enggan membacanya? Tentu saja kita tidak akan mendapatkan manfaatnya, dan sebaliknya mendapatkan kerugian besar, yaitu sebagai berikut.

1. Dijauhkan dari Rahmat Allah SWT
    Barangsiapa meninggalkan shalawat, akan dijauhkan dari rahmat Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat  Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Bazzar.
“Ketika Rasulullah saw naik ke atas mimbar, beliau mengucapkan, ‘Amiin’. Kemudian, ia naik ke tangga mimbar berikutnya dengan mengucapkan ucapan yang sama, ‘Amin’.  Melihat hal tersebut, Mu’adz bin Jabal ra menanyakannya. Rasulullah saw menjawab, ‘Tadi Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengatakan, ‘Hai Muhammad! Barangsiapa yang namamu disebut di mukanya, sedang ia tidak mau mengucap shalawat untukmu, matinya akan masuk neraka. Ia jauh dari rahmat Allah SWT.’ Aku pun mengatakan, ‘Amin’.”

2. Salah Langkah dan Merugi
    Termasuk orang yang kikir apabila meninggalkan shalawat. Lebih dari itu, ia juga termasuk dalam golongan orang yang salah langkah dan merugi. Dalam hadits riwayat Al-Hakim, Shahih, dan Mustadir, Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang namaku disebut di hadapannya dan ia tidak mau membaca shalawat kepadaku, maka ia disalahkan langkah menuju jalan ke surga.”

3. Keras Hati
Termasuk orang yang keras hati apabila meninggalkan shalawat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Al-Baihaqi, “Termasuk beku hati seseorang jika namaku disebut di hadapannya, ia tidak mau bershalawat kepadaku.”

4. Tidak Akan Mendapatkan Syafaat pada Hari Kiamat
     Merugilah bagi orang yang meninggalkan shalawat, karena pada Hari Kiamat nanti, ia tidak akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw. Sesuai dengan janji Allah SWT, para pembaca shalawat akan diselamatkan-Nya pada Hari Kiamat nanti dari api neraka. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda,
“Jika kalian mendengar azan, jawablah seperti yang diucapkan. Lalu, bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan merahmatinya sepuluh kali. Kemudian, mohonlah wasilah (penghubung) untukku, karena merupakan kedudukan di surga yang tidak diberikan selain untuk hamba-hamba Allah SWT. Harapanku, akulah yang bakal memeroleh prioritasnya. Barangsiapa memohon wasilah kepada Allah untukku, ia akan memeroleh syafaat (bantuan)-ku.”

5. Tidak Akan Melihat Pancaran Sinar Cahaya Rasullulah saw di Akhirat
     Dalam hadits riwayat Abu Said yang diambil dari kitab Syarafil Musthafa dikisahkan.

“Ketika Siti Aisyah sedang menjahit (setelah sahur), jarumnya terjatuh bersamaan dengan gelapnya lampu pancar. Kemudian, Siti Aisyah mencari jarumnya, tapi tidak ketemu. Saat itulah Rasulullah saw masuk dan menjadikan rumahnya terang benderang hingga akhirnya jarum yang dicari ditemukannya. Kemudian, Siti Aisyah berkata, ‘Betapa terangnya kilauan wajahmu, ya Rasulullah saw!’ Rasulullah saw menjawab, ‘Celaka dan rugilah bagi orang yang tidak melihatku.’ Siti Aisyah pun bertanya, ‘Siapa yang tidak akan melihatmu?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Yaitu orang yang kikir.’ Kemudian, Siti Aisyah bertanya lagi, ‘Siapakah orang kikir itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu orang yang tidak menjawab shalawat atasku ketika mendengar namaku.’.”

* Artikel ini dikutip dari buku “Mukjizat Shalawat”. Habib Abdullah Assegaf, Lc., M.A. & Hj. Indriya R. Dani, S.E. (QultumMedia. 2009).

 

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X