Kiat agar Khusyuk dalam Shalat (2) - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
25388
single,single-post,postid-25388,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Kiat agar Khusyuk dalam Shalat (2)

5. Tumakninah (tenang) dan tidak terburu-buru.

“Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat…” (QS An-Nisa [4]:103)

Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan merupakan faktor penting dalam shalat. Sehingga, “keharusan” shalat bagi seorang mukmin di saat-saat berperang dengan orang-orang kafir, dilakukan tatkala ia sudah kembali tenang. Hal ini juga jelas dipahami dari hadits, bahwa Nabi memerintahkan orang mengulangi shalatnya dengan bersabda,

“…dan rukuklah sehingga kamu tumakninah dalam rukuk itu, lalu tegaklah berdiri sampai kamu tumakninah dalam berdiri… dan seterusnya.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

6. Semangat dalam shalat.

Semangat dalam shalat adalah keharusan bagi setiap Muslim. Karena, tatkala shalat dengan seenaknya, malas dan tidak bersemangat; jelas tidak akan mencapai khusyuk.
Anas bin Malik menyebutkan bahwa Rasulullah pernah memasuki mesjid. Tiba-tiba beliau melihat ada tali yang direntangkan antara dua tiang mesjid tersebut. Beliau bertanya, “Untuk apa tali ini?”
Para sahabat menjawab, “Itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu shalat, tali itu dijadikan tempat berpegangan.”
Maka, beliau bersabda, “Lepaskan tali itu. Setiap kamu itu hendaknya shalat dengan bersemangat. Kalau dia memang merasa capek, istirahatlah dulu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga pernah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan ia tengah melalukan shalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehingga hilang rasa kantuknya. Karena, kalau ia shalat terus, jangan-jangan ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, dan Malik)

Berkenaan dengan hal itu, Imam An-Nawawi pernah menyatakan bahwa hadits tersebut mengandung anjuran agar seorang hamba itu shalat dengan konsentrasi, khusyuk, terfokus pikirannya kepada Allah, dan dengan semangat. Hadits tersebut juga menyuruh orang yang mengantuk selagi shalat itu untuk tidur dulu, atau melakukan hal lain yang dapat menghilangkan rasa kantuknya.” (Lihat Syarhu An-Nawawi VI/74)

7. Memilih tempat shalat yang sesuai.

Memilih tempat yang memenuhi syarat sehingga membuat shalat kita menjadi khusyuk. Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut.
a) Tenang dan jauh dari keributan yang ditimbulkan (mungkin) oleh penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang mengganggu.
b) Tempat yang disenangi para malaikat. Menghindari hal-hal atau sesuatu yang menghalangi malaikat pembawa rahmat dan berkah untuk memasuki tempat kita menunaikan shalat. Misalnya, lukisan benda bernyawa atau anjing. Karena Nabi bersabda, “Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang di dalamnya ada lukisan benda bernyawa atau anjing.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

8. Menghindari sesuatu yang mengganggu shalat.

Makruh shalat pada saat makanan sudah dihidangkan; atau shalat ketika menahan buang air kecil atau besar. Nabi bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu shalat, kala makanan dihidangkan atau kala menahan buang air.” (HR Muslim: 560, Ibnu Hibban: 195 dan Al-Baghwi dalam “Syarhu As-Sunah”: 801)

Diriwayatkan dalam hadits Bukhari dan Muslim: 558, bahwasanya Ibnu Umar pernah dihidangkan makanan; saat itu adzan berkumandang, namun beliau terus saja makan sampai selesai. Padahal, beliau sudah mendengar suara bacaan imam.

Shalat di bawah terik matahari pun dianggap oleh sebagian ulama hukumnya makruh. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda, “Apabila matahari bersinar terik panas sekali, tundalah waktu shalat hingga cuaca dingin. Karena, sesungguhnya panas yang terik itu berasal dari uap neraka Jahanam.”

Selain itu, yang merusak kekhusyukan shalat adalah memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak
konsentrasi. Dari Anas diceritakan, bahwa Aisyah memiliki kain gorden berhias yang menutupi sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah bersabda, “Singkirkan gorden itu. Sesungguhnya gambar-gambarnya terus terbayang dalam diriku di waktu shalat.” (HR Bukhari: 374 dan Ahmad: III/151 –
283)

Imam Ash-Shan’ani berkomentar, “Sesungguhnya hadits itu mengandung larangan terhadap segala hal yang dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasan dan lain-lain.”

Bersambung ke Kiat agar Khusyuk dalam Shalat (3)

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X