Mendidik Anak di dalam Kandungan - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
25325
single,single-post,postid-25325,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Mendidik Anak di dalam Kandungan

Manusia terbentuk atas jasmani dan rohani, atau jasad dan ruhnya, raga dan jiwanya. Namun justru hakikat seorang manusia adalah pada jiwanya. Oleh sebab itu, sebenarnya kesehatan jiwa jauh lebih penting daripada raga, sebab ruh manusia tidak berhenti ketika ajal menjelang, melainkan terus berpulang ke alam kekal dan menemui Tuhannya; memberikan pertanggungjawaban atas amal perbuatannya.

 

Sejak usia 14 minggu, janin telah mulai peka terhadap rangsangan. la bisa melengkungkan jari tangan atau telapak kakinya jika tersentuh. Pada usia 20 minggu, sel-sel khusus otak yang menunjang berfungsinya panca indera janin mulai terbentuk. Menurut Dr Friedrich Kruse (ahli psikoterapi dari Jerman), anak-anak yang terlantar sejak kecil rata-rata jika tidur menggulung diri seperti bola dengan selimut menutupi kepala. Sikap seperti ini menggambarkan kejadian kemunduran (regresi) mutlak, yaitu keinginan untuk kembali pada ketenangan dalam rahim ibunya.

Hal ini terjadi karena adanya ingatan terhadap masa-masa indah selama dalam rahim dulu. Ketika bayi lahir, tumbuh dan berkembang, memori itu terbuka kembali. Ini membuktikan bahwa rangsangan yang diterima sejak dalam kandungan berpengaruh cukup besar dan masih terbawa hingga bayi lahir. Anak-anak berkemungkinan untuk teringat kembali apa yang pernah terjadi semasa dalam kandungan. Perlakuan ibu, sentuhan dan terapi boleh jadi akan terungkap kembali. Oleh sebab itu sebagai ikhtiar, disarankan Ibu hamil melakukan berbagai terapi untuk mendidik janinnya.

Saat janin dalam rahim, masukan informasi yang paling efektif adalah melalui pendengarannya, kemudian disimpan dalam memori otaknya.

Untuk mendidik janin, anda dapat mempraktekkan hal berikut.
1. Bercakap-cakap dengan janin
    Dapatkah Anda mendengar suara tamu yang mengucap salam di depan pintu rumah saat pintu tertutup? pasti mendengarnya meskipun tidak begitu keras. Ketika perut sang Ibu ditepuk-tepuk, bayi telah mampu juga mendengarnya. Ketika si Ibu menyetel lagu di radio, bayi telah mampu mendengarnya meskipun tidak sekeras dan semurni suara aslinya.
Ucapkan kalimat-kalimat bernada mengajak bicara ke arah janin, sambil mendekatkan pipi atau mulut Anda ke perut. Atau agar terfokus, pembicaraan dapat dilakukan juga melalui gulungan kertas atau tabung
2. Hindari berbagai jamu racikan atau obat tanpa resep dokter (salah satu penyebab bayi kuning).
3. Kurangi konsumsi kafein (meminum kopi)
4. Kurangi konsumsi makanan berkadar gula tinggi
5. Kurangi aktivitas dengan gerakan ekstrem (bela diri, mengendarai motor, mengangkat benda berat, dll).
6. Selama hamil hindari stres karena stres hanya akan berpengaruh negatif dan mengakibatkan terjadinya komplikasi kehamilan yang serius (risiko kelahiran bayi prematur bahkan keguguran, berat bayi lahir rendah dan hipertensi).
7. Hati-hati dengan doa yang tidak jelas tujuan dan sumbernya (jangan-jangan bercampur mantra). Jika doa berbahasa Arab sebaiknya yang pernah diucapkan oleh Rasulullah atau ada dalam Al-Qur`an. Jika tidak, lebih baik doa berbahasa daerah atau bahasa Indonesia yang Anda rangkai sendiri karena Anda lebih tahu maksudnya. Allah paham bahasa apapun.
8. Beberapa ritual justru akan mengundang jin (Anda tidak menyadarinya) maka untuk lebih amannya hindarkanlah segala macam ritual.
9.    Sangat dianjurkan banyak membaca shalawat.

 

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X