Menggali Ilmu Shalat - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
24431
single,single-post,postid-24431,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
pand-pint-shalat

Menggali Ilmu Shalat

Depok- Agromedia. Rasulullah saw bersabda, “Puncak segala hal ialah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya ialah jihad.” Sebagaimana yang disitir oleh Muhammad Abu Ayyash pada acara talkshow Jumat 21/11 di selasar Enginering Center, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa shalat mesti dilakukan dalam kondisi apa pun. Namun, pada kondisi-kondisi darurat, seperti sedang sakit atau di perjalanan, Allah memberikan keringanan dalam pelaksanaannya. Apabila si sakit tidak bisa melaksanakan shalat berdiri, ia bisa melakukannya sambil duduk. Apabila tidak bisa juga, ia bisa melakukannya sambil berbaring.

Tidak hanya shalat, dalam thaharah atau bersuci juga demikian. Apabila tidak ditemukan air, seseorang bisa bersuci dengan cara bertayamum, yakni dengan menggunakan debu yang baik atau suci. Caranya pun hanya mengusapkan debu ke wajah dan tangan masing-masing satu kali sebagai pengganti debu. Adapun dalam istinja, bisa digantikan dengan batu atau tisu.

Bersuci sangat vital dalam Islam dan menjadi rukun dalam shalat. Bahkan, menjadi kunci masuk surga. Sedangkan, bagi yang meninggalkan bersuci, shalatnya tidak akan sah. Bagi orang yang selalu menjaga kesucian diri dengan berwudhu, Allah memberikan keutamaan yang amat besar, sebagaimana yang diceritakan Rasulullah saw dalam satu haditsnya:

"إِِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرّاً مُحَجَّلِيْنَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوْءِ

“Sesungguhnya umatku akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan bercahaya terang benderang dari bekas wudhunya.”

Shalat merupakan tiang agama yang memiliki pembahasan cukup luas dan mesti diketahui oleh seorang muslim. Sebab, shalat yang dikerjakan apabila tidak dibekali oleh ilmunya bisa mengakibatkan batal atau tidak diterima. Misalnya, bagaimana mempersiapkan air, tata cara istinja, berwudhu, atau tayamum, berniat, tatacara shalat, dan lain sebagainya.

Kelengkapan yang dibutuhkan dalam bekal ilmu shalat dan sekitarnya ini telah dibahas oleh Muhamamd Abu Ayyash dari buku yang ditulisnya bersama DR. KH. Muslih Abdul Karim, Lc, MA.  yaitu “Panduan Pintar Shalat”.

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X