Shalat Mengandung Segala Metode Penghormatan - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
24528
single,single-post,postid-24528,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
sujud

Shalat Mengandung Segala Metode Penghormatan

Di dalam masalah ini, pandangan kita tidak dapat terlepas dari maksud yang terkandung di dalam perbuatan-perbuatan shalat dan tata cara yang ditunjukkan oleh perbuatan dan perkataan Rasulullah, yakni menunjukkan metode penghormatan yang berbeda-beda, antara sebagian terhadap sebagian lainnya. Sebagian manusia memberikan penghormatan dengan cara mengangkat tangan, berdiri, membungkukkan badan, sujud dan berdoa, atau mengulang-ulang perkataan.

Dijelaskan dalam buku “Keajaiban Shalat Rawatib” bahwa manusia melakukan perbuatan itu untuk menghormati raja, presiden, dan orang-orang yang berpengaruh di kalangan mereka. Akan tetapi, menghimpun keseluruhan bentuk penghormatan tadi, belum pernah dilakukan pada adat kebiasaan manusia dalam menghormati seseorang di antara mereka. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan shalat sebagai pengakuan atas nikmat dan kebesaran-Nya, dan dihimpunkan-Nya di dalam tata cara shalat tadi seluruh bentuk penghormatan yang berbeda-beda di kalangan manusia. Dijadikan-Nya pula pembukaan shalat itu dengan pernyataan bahwa Allah Mahabesar (Allahu Akbar) dari segala yang pantas dibesarkan, dengan iringan mengangkat kedua belah tangan secara bersamaan. Pada saat itu pula, lidah mengucapkan lafal takbir dengan diresapkan di dalam hati makna yang terkandung di dalamnya.

Kemudian, Allah menetapkan di antara rukun-rukunnya, yaitu al-qiyam (berdiri) yang disertai membaca beberapa ayat Al-Qur`an. Diwajibkan pula pada setiap shalat dan atas setiap orang yang mendirikan shalat agar membaca surat Al-Fatihah yang disebut pula sebagai Ummul Kitab (induk Al-Qur’an). Dengan demikian, Allah telah menghimpun di dalam shalat semua bentuk penghormatan yang berbeda, baik melalui lisan maupun isyarat. Kemudian, pembungkukan badan yang dikenal dengan sebutan rukuk (membungkuk) yang disertai ucapan takbir pada saat membungkuk dan tegak kembali (i’tidal).

Menyusul kemudian, sujud yang merupakan gambaran akhir dari bentuk penghormatan. Dengan demikian, seorang hamba telah berdiri di hadapan Tuhannya dalam bentuk peribadatan yang sebenarnya. Seakan-akan Allah –yang menata sedemikian rupa metode penghormatan terhadap diri-Nya– hendak mengarahkan perhatian kaum mukmin pada suatu pendapat bahwa hormat dan mengagungkan Allah –dengan landasan iman kepada ketuhanan-Nya sebagai Zat Pemelihara alam dan Zat Yang Berhak disembah– harus berada di atas segala bentuk penghormatan yang dikenal manusia. Ia dilakukan oleh sebagian yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dan tidak sah dilakukan untuk menghormati apa saja selain diri-Nya. Sebagaimana susunannya, tidak sah pula untuk dikurangi, diubah, atau ditambah sedikit pun oleh seorang mukmin. Dia-lah Allah, Tuhan Mahasuci yang patut disembah. Dia-lah Zat yang diagungkan, dan Dia pulalah yang menetapkan bagi kita jalan peribadatan dan metode penghormatan kepada-Nya. Tidak seorang makhluk pun berhak memikirkan atau mengada-adakan sesuatu di luar yang telah ditetapkan-Nya, baik dengan cara menambah maupun mengurangi metode penghormatan kepada-Nya.

Dr. Ahmad Sudirman Abbas, M.A menegaskan bahwa inilah yang mendasari larangan dilakukan bid’ah di dalam agama. Keterangan tentang hal ini banyak terdapat di dalam hadits-hadits yang memperingatkan tentang bahaya bid’ah yang dilakukan oleh manusia berdasarkan penambahan-penambahan yang mereka khayalkan di dalam pengertian peribadatan.

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X