Strategi Rasulullah dalam Perang Uhud - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
24482
single,single-post,postid-24482,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
peta-uhud

Strategi Rasulullah dalam Perang Uhud

Sebelum terjadinya perang Uhud, suku Quraisy melakukan persiapan dan mobilisasi besar-besaran untuk menyongsong peperangan pembalasan dendam setelah kekalahan mereka dalam perang Badar. Terkumpullah 1.000 unta dan 1.500 dinar. Setelah persiapan genap setahun, terkumpul 3000 unta, 200 penunggang kuda dan yang mengenakan baju besi sebanyak 700 orang. Pemimpin tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan, sedangkan pasukan berkuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal. Kemudian, mereka bergerak menuju ke Madinah.

Adapun di pihak Islam, dengan fasilitas dan pasukannya yang sangat minim. Rasulullah pun membuat strategi tersendiri guna membela kehormatan dan kemuliaan Islam dan umatnya. Di antara strategi ini, salah satunya adalah strategi yang terkait dengan persiapan sebelum perang. Yaitu sebagai berikut.

1. Menempatkan Inteligen di Sarang Musuh
         Setelah perang Badar, satu strategi Rasulullah saw yang sangat urgen adalah menempatkan para inteligennya di Mekah untuk memberikan informasi-informasi yang terkait tentang pasukan Quraisy. Salah satunya adalah Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya sendiri. Melihat pasukan Quraisy yan sudah berangkat ke Madinah untuk melakukan penyerangan, beliau mengirimkan surat melalui utusannya untuk disampaikan kepada Rasulullah. Dalam waktu tiga hari, utusan tersebut sampai di Madinah la menyerahkan surat itu kepada Rasulullah yang sedang berada di masjid Quba. Setelah menerima surat itu, Rasulullah meminta ahli bahasanya, Ubay bin Ka’ab, membacakan surat tersebut. la juga diperintahkan untuk menjaga kerahasiaan isi surat tersebut.

2. Membentuk Majelis Permusyawaratan Militer
         Rupanya, salah satu kelebihan Rasulullah sebagai seorang pemimpin adalah mendengarkan jajak pendapat dari para sahabatnya. Sekalipun posisi beliau sebagai seorang nabi, beliau mampu mengatur sendiri jalannya strategi yang akan digunakan dan tentunya mendapat arahan dan wahyu dari langit, beliau masih memusyawarahkannya dengan para sahabat. Pada saat itu, mayoritas suara sahabat jatuh pada upaya melakukan penyerangan kafir Quraisy di Bukit Uhud.
Sementara, informasi tentang pasukan Mekah terus dilaporkan oleh badan inteligen Rasulullah, termasuk kabar tentang posisi militer yang diambil pasukan Quraisy. Selesai shalat Ashar, Rasulullah masuk ke rumahnya diikuti oleh Abu Bakar dan Umar. Kedua sahabatnya ini memakaikan Rasulullah sorban dan baju besi. la juga mengenakan pedangnya. Sementara, para sahabat di luar sedang ramai bertukar pikiran. Usaid bin Hudzair dan Sa’ad bin Mu’adz, dua sahabat yang berpendapat ingin bertahan di dalam kota, berkata kepada mereka yang berpendapat ingin menyerang musuh di luar.

“Tuan-tuan mengetahui bahwa Rasulullah ingin bertahan di dalam kota. Lalu, tuan-tuan berpendapat lain dan memaksanya bertempur keluar. Dia sendiri enggan berbuat demikian. Serahkan sajalah persoalan ini kepadanya. Apa yang diperintahkan kepadamu, jalankanlah. Taatilah pendapatnya dan sesuatu yang disukainya."

Setelah mendengar keterangan itu, mereka yang berseru supaya menyerang saja menjadi lebih lunak. Mereka menganggap telah menentang Rasulullah mengenai sesuatu yang mungkin datang dari Tuhan. Setelah Rasulullah datang kembali ke tengah-tengah mereka dengan memakai baju besi dan sudah menyiapkan pedangnya, mereka yang sebelumnya menghendaki supaya mengadakan serangan berkata, "Ya Rasulullah, bukan maksud kami hendak menentang engkau. Lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Kami juga tidak bermaksud memaksa engkau, karena engkau mendapatkan berita dari langit, yang kemudian dikabarkan kepadamu."

Namun, Rasulullah menjawab, "Tidak layak bagi seorang nabi yang apabila sudah mengenakan pakaian besinya, lalu menanggalkannya kembali sebelum Tuhan memberikan putusan antara dirinya dan musuh-Nya. Perhatikanlah apa yang saya perintahkan kepada kamu sekalian dan ikutilah. Atas ketabahan hatimu, kemenangan akan berada di tanganmu."


        

3. Pembagian Komando
        
Jumlah pasukan kaum muslimin ketika itu 1000 orang. Pasukan itu terdiri atas 100 prajurit mengenakan baju besi dan 50 penunggang kuda dan sisanya pasukan berpedang. Kemudian, pasukan ini dibagi menjadi tiga batalion, yaitu:
1. Batalyon Muhajirin, benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair.
2. Batalyon Aus, benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair.
3. Batalyon Khazraj, benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh.

4. Menginspeksi Pasukan
        Setibanya Rasulullah dan pasukannya di Syaikhani, beliau selaku komandan tertinggi menginspeksi pasukan. Ternyata, di dalam pasukan terdapat anak-anak yang usianya sangat belia. Beliau menolak keikutsertaan mereka, kecuali yang mempunyai spesialisasi dalam peperangan, seperti RafiĀ’ bin Khudaij yang mahir memanah dan Samurah yang ahli beladiri. Hari itu adalah hari Jumat. Karena hari sudah petang, mereka menginap di tempat itu dan memerintahkan lima puluh orang pasukan mengadakan hirasah, yakni menjaga di sekitar pasukan.

5. Tidak Meminta Pertolonga Orang-orang Kafir
         Rasulullah melakukan hal itu ketika berangkat dari Madinah ke Uhud. Ia mendapati sekelompok Yahudi, sekutu Abdullah bin Ubay yang ingin turut serta membantu Rasulullah. Namun, Rasulullah menolaknya dengan mengatakan "Jangan minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik sebelum mereka masuk Islam."

Kemudian, orang-orang Yahudi itu pun kembali ke Madinah. Lalu mereka berkata kepada Abdullah bin Ubay, "Kau sudah menasihatinya dan sudah kauberikan pendapat berdasarkan pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya, dia sependapat denganmu. Lalu, dia menolak dan menuruti kehendak pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya."

Keesokan harinya, ia berbalik menggabungkan diri dengan pasukan teman-temannya dan kembali ke Madinah. Hampir sepertiga pasukan mundur. Mereka adalah orang-orang munafik yang bertujuan melemahkan semangat pasukan kaum muslimin. Tinggal Alabi dan orang-orang yang benar-benar beriman yang berjumlah 700 orang. Mereka akan berperang menghadapi 3000 orang yang terdiri dari orang-orang Quraisy Mekah. Semuanya sudah memikul dendam yang tak terpenuhi ketika di Badar. Mereka ingin menuntut balas.

Akhirnya, Allah SWT mengokohkan hati mereka dengan menurunkan firman-Nya.
"Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah Penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (QS Ali Imran [3]: 122)

Kemudian, turun lagi ayat yang menceritakan kondisi orang-orang munafik.
"Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian).’ Mereka berkata, ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.’ Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan." (QS Ali Imran [31:167)

Ternyata, dalam sejarah tercatat bahwa keberadaan orang-orang munafik dalam tubuh kaum muslim seperti duri dalam daging. Mereka sangat membahayakan. Sebanyak 1000 pasukan kaum muslim berkurang menjadi 700 orang setelah melawan 3000 pasukan kafir Quraisy.

6. Meredakan Konflik Internal Sebelum Peperangan
          Munir Muhammad Al-Ghadhban dalam Fiqh As-Sirah An-Nabawiyahnya mengatakan bahwa Perang Uhud ini merupakan pembeda antara orang-orang mukmin dan orang-orang munafik, seperti dalam firman Allah.

"Dan apa yang menimpa kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang yang benar-benar beriman, dan untuk menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankan dirimu.’ Mereka berkata, ‘Sekiranya kami tahu bagaimana cara berperang, tentu kami akan bersamamu.’ Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan." (QS All Imran [3]:166-167)

7. Memilih Posisi yang Strategis
         Lagi-lagi, salah satu penentu kemenangan seorang komandan adalah penentuan tempat yang strategis. Barangsiapa yang menempati posisi strategis, kemungkinan besar akan menang dalam pertempuran. Rasulullah merupakan salah satu panglima yang ahli dalam pengaturan strategi militer. Hingga ketika itu, pasukannya dibawa ke kaki Bukit Uhud. Pasukan muslim mengambil tempat dengan proses menghadap ke arah Madinah dan memunggungi Uhud. Dengan posisi ini, pasukan musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.

8. Pembagian Pos Militer
        Rasulullah membagi pos militer para prajuritnya, prajurit dakwah, serta prajurit yang siap mengorbankan harta, waktu, tenaga dan bahkan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Beliau pun menempatkan satuan pasukan khusus yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair. Anggotanya terdiri dari 50 pemanah ulung di bukit Uhud, tepatnya 150 meter dari pasukan kaum muslim. Tujuannya jelas, yakni melindungi pasukan di bawah yang sedang bertempur dari laju serangan depan yang menggelombang, juga menahan pasukan kavaleri Khalid bin Walid yang sangat membahayakan. Berikut ini instruksi-instruksi yang disampaikan Rasulullah kepada mereka, mengingat pentingnya posisi mereka.

1. “Lindungi kami dari belakang, sebab kami khawatir mereka akan mendatangi kami dari belakang. Bertahanlah dan jangan tinggalkan tempat itu. Kamu jangan meninggalkan tempatmu kalau melihat kami berhasil menghancurkan dan memasuki pertahanan mereka. Jika melihat kami diserang, jangan dibantu. Kami juga tidak mempertahankan. Tugas yang kauemban adalah menghujani kuda-kuda mereka dengan panah, karena kuda itu tak akan dapat maju dengan serangan panah."

2. "Lindungilah punggung kami jika kami sedang bertempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta ghanimah, kalian jangan ikut bergabung bersama kami." Imam Bukhari meriwayatkan, "Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, janganlah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusanku yang mendatangi kalian. Jika kalian melihat kami berhasil mengalahkan mereka, janganlah kalian meninggalkan tempat hingga ada utusan yang mendatangi kalian."

Dalam hal ini, kepiawaian Rasulullah dalam mengatur strategi perang terlihat jelas. Dengan menempatkan posisi pemanah di bukit Uhud, berarti menutup celah-celah pasukan Quraisy untuk mengadakan penyerangan, terutama dari kubu Khalid bin Walid.

Kemudian, sayap kanan dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amr. Sementara, sayap kiri dipimpin oleh Zubair bin Awam dengan dibantu satuan khususnya, Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk menghadang penyerangan pasukan Khalid bin Walid. Barisan terdepan diisi oleh para pemberani yang mencari syahid, yakni para pahlawan Islam yang langsung dipimpin oleh Rasulullah.

Sementara itu, pihak Quraisy juga sudah menyusun barisan. Barisan kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid, sedangkan sayap kiri dipimpin oleh Ikrima bin Abu Jahal. Bendera diserahkan kepada Abdul Uzza Thalhah bin Abu Thalhah. Wanita-wanita Quraisy sambil memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah barisan itu. Terkadang, mereka di depan barisan dan di belakang. Mereka dipimpin oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan, seraya berteriak, "Ayo, Banu Abdud Dar! Ayo, pengawal barisan belakang! Hantamlah dengan segala yang tajam. Kamu maju, kami peluk. Kami hamparkan kasur yang empuk. Jika kamu mundur, kita berpisah. Berpisah tanpa cinta."

Kedua belah pihak sudah siap bertempur dan mengerahkan pasukannya. Yang selalu diingat oleh Quraisy ialah peristiwa Badar dan korban-korbannya, sedangkan yang selalu diingat oleh kaum muslim ialah Allah dengan pertolongan-Nya.

9. Mengobarkan Semangat Jihad
         Begitulah yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin perang, mengobarkan semangat untuk maju pantang mundur. Hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam perang Uhud. Beliau mengobarkan semangat para kadernya untuk sabar, teguh, berani, serta patriotik dalam menyongsong syahid dan memperoleh surga Allah SWT.

Rasulullah berpidato untuk memberikan semangat dalam menghadapi pertempuran itu. Beliau menjanjikan pasukannya akan mendapat kemenangan apabila mereka tabah. Lalu, beliau mengambil sebilah pedang sambil bersabda, "Siapa yang akan memegang pedang ini untuk disesuaikan dengan tugasnya?"
Beberapa orang tampil, namun pedang itu tidak pula diberikan kepada mereka. Kemudian, Abu Dujana Simak bin Kharasya dari Bani Sa’ida tampil seraya berkata, "Apa tugasnya, ya Rasulullah?" "Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada musuh sampai ia bengkok," jawabnya.

Abu Dujana, seorang laki-laki yang sangat berani, mengenakan pita (kain) merah. Apabila ia sudah mengikatkan pita merahnya itu, orang akan mengetahui bahwa ia sudah siap bertempur. Saat itu, ia pun sudah mengeluarkan pita mautnya.

Ia mengambil pedang, mengeluarkan pita, lalu mengikatkannya di kepala. Seperti biasa, ia berlagak di tengah-tengah dua barisan itu bila sudah siap menghadapi pertempuran. "Cara berjalan seperti ini sangat dibenci Allah, kecuali dalam bidang ini," kata Rasulullah setelah melihat gaya berjalan Abu Dujana.

*Artikel ini dikutip dari buku "Strategi Perang Rasulullah" yang ditulis oleh Muhammad Abu Ayyasy

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X