cinta Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
527
archive,tag,tag-cinta,tag-527,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
tak usah larut dalam penyesalan

Tentang Dia: Untuk Apa Menyesali Kepergiannya?

Tersenyumlah. Kau tak perlu menyesali yang terjadi.

Jika dia memang baik untukmu, Allah akan membuatnya dekat denganmu.

Dia tak punya kewajiban menyatukan kalian hari ini. Sebab Dia tahu waktu yang paling baik untuk kalian. Allah hanya sedang memisahkan. Sementara.

Tak ada larangan untukmu merawat cinta. Asal cinta itu menuntunmu semakin dekat pada-Nya.

Baca juga: Tentang Kepergiannya: Mengapa Kau Harus Kecewa?

Kalaupun bukan dia yang terbaik, Allah punya cara untuk menjaga jarakmu dengannya. Dan Dia akan menggunakan cara yang paling halus. Yang bisa kau terima, tanpa perlu mengeluh pada-Nya.

Tak perlu menyesal.

Takdirmu sudah Allah gariskan. Entah kelak seperti apa. Yang pasti, itu akan menjadi jalan terbaik untukmu. Mungkin juga untuknya.

Penyesalan hanya akan menambah sedihmu. Sampai-sampai kau berpikir seandainya dan seandainya. Hingga lupa Allah penulis cerita yang paling sempurna.

Penyesalan takkan membuat lukamu pergi. Sebaliknya, ia akan membuatnya menetap lebih lama.

Semakin kau memikirkan kesalahanmu, semakin kau tak punya waktu untuk mengingat-Nya.

Berdoalah. Hadirkan Allah di hatimu. Seharusnya cinta yang Dia beri tak menjauhkanmu dari-Nya. Jadi, sekarang Dia hanya ingin mengembalikan jalanmu. Dari jalan yang menghadirkan luka menuju jalan yang dicintai-Nya.

Baca juga: Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Ikutilah jalan yang Allah hadiahkan itu. Tak semua orang mendapatkan anugerah yang Dia beri padamu. Bersyukurlah, karena Dia tak ingin kau terjerumus dalam cinta yang salah.

Ceritakan semua dalam doamu. Ungkapkan perasaan yang menyesakkan dadamu. Mempersempit kebahagiaanmu. Dan mengurangi prasangka baikmu. Ceritakan. Allah akan mendengarnya.

Hapus penyesalan yang menghambat langkahmu. Sebab satu langkah ke depan lebih baik daripada beribu-ribu penyesalan.

Pilihan ada di tanganmu. Jika kau tak bisa melupakan dia yang kau cintai, adukan pada Allah. Bertanyalah bagaimana caranya. Seperti apa baiknya.

Cintamu pada-Nya harus lebih besar daripada cintamu padanya.

Jangan sampai cinta yang seharusnya menjadi fitrah, justru membuatmu semakin jauh dari-Nya. Jangan sampai.

 

*Sumber foto: pixabay.com

tak usah kecewa terlalu lama

Tentang Kepergiannya: Mengapa Kau Harus Kecewa?

Relakanlah.

Tak perlu bersedih karena dia meninggalkanmu. Sejatinya, Allah ingin mengajarimu kesucian cinta. Dia tak rela perasaanmu dipermainkan orang yang salah.

Sadarilah, Allah sedang menyelamatkanmu. Dia tak ingin kau mengenal cinta dengan cara yang tak diridhai-Nya.

Mari renungkan pertanyaan ini: mengapa cinta yang kau punya berakhir dengan kecewa? Bukankah itu artinya ada yang perlu dibenahi? Bukankah harusnya cinta itu justru membahagiakanmu?

Baca juga:
Cinta Lebih Membutuhkan Keikhlasan Dibanding Pengorbanan
Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Supaya kau tak larut dalam kesedihan, Allah memberi jarak antara dirimu dengan orang yang kau cintai. Bukan Dia melarangmu menyimpan perasaan padanya. Allah hanya ingin menuntunmu bagaimana merawatnya.

Kepergian memang menyakitkan. Terlebih, ditinggal orang yang kita cintai. Tapi, selalu ada hikmah di balik apa yang kita alami.

Hikmah akan menghentikan langkah kita pada apa yang kita senangi. Tapi, membuat hati tak merasakan luka yang lebih dalam lagi.

Orang yang menjauh darimu tak lebih mencintaimu dibandingkan Allah. Allah akan melakukan apa pun yang terbaik untukmu. Meski mungkin saat patah, kau menganggap perlakuan-Nya sama sekali tak adil.

Hidupmu tak berhenti di hari ini. Tapi jika kau kecewa hari ini, bagaimana kau akan melangkah menuju masa depan?

Bangkitlah!

Hapus kesedihanmu. Raih tujuan yang ingin kau gapai. Jangan biarkan cinta yang salah membuatmu menghentikan langkah.

Allah selalu ada untukmu. Walau kau tak menyadarinya, tiap peristiwa yang kau alami tak terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Dia tak menghendaki sesuatu yang buruk terjadi padamu.

Tegakkan kepalamu. Masih banyak mimpi yang harus kau ubah menjadi nyata. Masih ada orang-orang yang harus kau bahagiakan.

Tumbuhkan cinta pada Yang benar-benar mencintaimu. Yang selalu ada di saat kau putus asa. Yang tak pernah pergi ketika kau punya masalah. Yang setia menemanimu di setiap langkah.

Percayalah, Allah tak mungkin mengecewakanmu. Tugasmu adalah berprasangka baik pada-Nya. Selebihnya biar Allah yang mengatur. Dan kau akan bahagia setelahnya.

 

*Sumber foto: pixabay.com

ayah adalah orang yang sangat berjasa

Ayah, Kita, dan Kata-kata yang Terlupakan

Terima kasih. Itu kalimat pendek tapi sering kita lupakan.

Satu hal yang kadang kita lupa tentang orangtua, yaitu perjuangan ayah yang tak kenal lelah.

Diamnya ayah bukan tanpa arti. Ayah tak perlu banyak bicara untuk menasihati anaknya, ia punya kewibawaan yang membuat kita selalu bisa menghormatinya.

Diamnya ayah bukan tanpa alasan. Jarang keluar keluh kesah dari lisannya, karena ayah tahu itu bukanlah contoh yang baik untuk anggota keluarganya.

Mungkin kita jarang mendengar nasihatnya. Tiap hari kita hanya mendengar nasihat-nasihat dari ibu. Tapi percayalah, di dalam nasihat ibu terselip pesan-pesan dari ayah yang kita tak tahu.

Saat kita tertidur pulas, ayah kadang terjaga. Kadang untuk memenuhi tanggung jawab nafkahnya pada kita, kadang untuk bercengkerama dengan ibu tentang kita.

Jarang atau bahkan tak pernah kita melihat air mata ayah menetes. Sebab, ayah ingin tak ada yang menanggung beban kecuali dirinya sendiri. Selagi bisa, ayah akan terus mengusahakannya.

Kita memang tak pernah melihat ayah menangis. Tapi, sangat mungkin ayah menangis dalam doanya. Mendoakan kita dan anggota keluarga yang lain supaya Allah menjaga mereka.

Ayah memang rendah hati.

Walau banyak tanggung jawab yang harus dituntaskan, ia selalu meminta pertolongan Allah agar bisa melakukan. Bukan tak mampu, tapi karena ia tahu bahwa dirinya bukan apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

***

Ayah, maaf…

Aku masih banyak kekurangan. Bukan hanya kurang berterima kasih, bahkan namamu pun kadang terlewat dalam doaku.

Ayah, maaf…

Aku belum bisa membahagiakanmu. Setelah banyak pengorbanan yang kau lakukan, seharusnya aku bisa membuatmu bangga. Nyatanya, tidak demikian.

Ayah, maaf untuk diriku yang kadang melawan. Andai dari dulu kutahu sebesar apa pengorbananmu, ingin sekali aku kembali ke masa lalu, hanya untuk meminta maaf dan ridamu.Ayah, terima kasih telah menjagaku hingga hari ini. Terima kasih atas jasa dan perjuanganmu yang tak kenal henti. Mulai detik ini, padamu aku berusaha untuk terus berbakti.

Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Relakan. Sebab bukan dia yang sejatinya pergi, tapi Allah yang menjauhkan.

Allah tak ingin kita salah mengartikan cinta. Yang seharusnya mendekatkan pada-Nya, malah kita jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kita.

Memang berat ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Namun, itu lebih baik daripada kita mendapatkan luka-luka yang sama jika terus bersamanya. Relakan, itu lebih baik bagi kita.

Allah tak ingin perasaan kita dipermainkan, sebab itu Dia tak mengizinkan kita pacaran. Karena yang serius tak akan mengulur waktu untuk menempuh hidup baru. Dia pasti menyegerakan jalinan kasih yang sah dan diridhai oleh-Nya.

Allah tak ingin hati kita disakiti. Walau kadang kita merasa dicintai, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Sebab, tak mungkin ada manisnya cinta tanpa ridha dari Yang Mahakuasa. Tak akan ada setia bagi cinta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Relakan …

Biarkan hati tenang tanpanya.

Dulu, malammu indah dengannya. Saling bertukar pesan. Saling berkabar. Namun, Allah punya yang lebih baik dari itu. Indahnya doa tak pernah dikalahkan oleh indahnya cinta tanpa izin-Nya.

Dulu, ketika bertemu dengannya mungkin senyummu tak bisa berbohong. Itu wajar, banyak yang mengalaminya. Namun, Allah punya yang lebih indah dari itu. Menundukkan pandangan lebih baik dibanding melampiaskan pada yang belum Allah izinkan.

Kisahmu bersamanya akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Kau tak mungkin dihantui sepi. Allah selalu ada untukmu, di siang ataupun malam hari.

Allah Mahabijaksana dengan membuatmu terpisah darinya. Bukan untuk membuat salah satu di antara kalian kecewa, tapi Dia punya cara lain yang bisa membuatmu dan dia bahagia.

Kalaupun memang dia yang Allah takdirkan untukmu, akan ada waktu dia kembali padamu. Sebagai orang yang berbeda, sebagai orang yang lebih taat pada-Nya.

Tak perlu bersedih karena kepergiannya. Sebab, kepergian orang yang belum Allah izinkan bersama jauh lebih baik daripada dia tetap bersamamu tapi selalu menumbuhkan luka yang baru.

Fitrah Cinta Menumbuhkan Iman Kepada Allah SWT

Fitrah manusia selalu mengarah pada kebaikan.

Karena cinta adalah bagian dari fitrah manusia maka cinta pasti mengarah pada kebaikan. Saat kita mencintai seseorang, bayangan tentangnya muncul setiap saat. Keinginan untuk bertemu memuncak. Semakin lama tak bertemu, semakin kuat rindu yang tumbuh.

Cinta membuat kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai. Menjalani hidup berdua tanpa menghiraukan masalah yang ada. Seolah di dunia ini tak ada orang lain, kecuali hanya kita dan orang yang kita cintai. Kita hidup bahagia dengannya dan berjanji menjalani masa depan bersama.

Baca juga:
Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

fitrah kebaikan

 

Mungkin saat ini kita sedang memendam cinta pada orang lain. Entah ia mengetahuinya atau tidak, kita ingin selalu bisa berjumpa. Bersamanya menceritakan segala isi hati. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang yang dinanti.

Tapi, tunggu dulu.

Sebelum berbicara jauh tentang cinta, bukankah sebaiknya kita mengenal siapa yang telah menanamkannya di hati kita?

Cinta ada karena Allah yang menumbuhkannya. Dan tidak mungkin Allah menanamkan sesuatu, kecuali ada maksud yang baik di balik semua itu.

Sebelum mencintai yang lain, Allah ingin kita mencintai-Nya terlebih dulu. Dia tak ingin kita menduakan-Nya, karena itulah Dia ingin kita menjadikan-Nya alasan di balik cinta kita pada yang lainnya.

Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, Dia akan membantu kita untuk mendekatinya. Jika tidak, Allah akan memisahkan dengan cara-Nya yang mungkin tak terduga.

Yang tahu makna cinta akan berusaha menjaganya. Jika belum waktunya, ia tak akan mengungkapkan. Sebab ia tahu, Allah tak ingin dirinya lupa dengan hakikat cinta itu sendiri.

Ia akan terus berdoa dan memohon pada-Nya, jika memang cinta itu baik baginya maka tolong jangan hilangkan. Tapi jika ternyata tidak, ia berharap Allah menghilangkannya tanpa meninggalkan luka.

Punya cinta tak perlu diumbar. Teruslah berusaha menjaga dan merawatnya. Hingga waktunya tiba, Allah yang akan melengkapinya.

Cinta ada agar kita mendekat pada-Nya, cinta ada agar kita mensyukuri karunia-Nya, dan cinta tumbuh agar kita tak semakin menjauh dari-Nya.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

arti cinta dalam hidup

Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Arti cinta tak selalu dimengerti oleh pemiliknya.

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai yang kita miliki. Itu sebabnya, kita mesti merawatnya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya pula, kita tak mungkin memercayakannya pada sembarang orang.

Orang yang mau memberikan cintanya pada orang yang tak ia kenal, atau ia kenal tapi sebagai orang yang sebenarnya tak pantas mendapatkannya, mungkin tak menyadari betapa berharga arti cinta yang ia miliki itu.

Begitu pula orang yang mengharapkan cinta orang lain, lalu menukar apa yang ia miliki dengan cinta tersebut. Ia tak tahu betapa barang yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan cinta yang ia idamkan itu.

Arti Cinta Tak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

Kalau kita keliru memercayakan cinta pada seseorang, kita akan menyesal pada akhirnya. Begitu pula jika kita salah sangka dan mengira cinta seseorang bisa ditukar dengan harta benda yang kita miliki.

Orang yang mau menyerahkan cintanya pada orang yang salah, dan orang yang mendapatkan cinta kekasihnya dengan menukar harta benda dengannya, sejatinya sama-sama tak mengerti arti cinta. Karena tak paham betapa bernilai cinta yang ia miliki atau yang ia dapatkan, tak mengherankan jika suatu saat cinta tersebut bisa dengan mudah mereka campakkan.

Siapa pun bisa bosan, bukan?

Arti Cinta: Harus Kita Pahami

Ini mirip orang yang mengidamkan sebuah kamera dengan berbagai fiturnya yang canggih, tapi saat berhasil memilikinya dan kemudian bosan dengannya, ia meletakkannya di tempat yang tak semestinya.

Kenapa ia bisa ceroboh seperti itu? Mungkin ia tak bisa mengoperasikan kameranya itu, sebab skill-nya masih kurang. Mungkin uang yang ia gunakan untuk membelinya ia dapat dengan meminta orangtuanya, ia tak tahu sulitnya mencari uang. Mungkin juga ia bukan orang yang pandai bersyukur dan mau menghargai apa-apa yang ada di sekitarnya.

Orang yang tak mengerti arti cinta yang ia miliki akan dengan mudah menyerahkan cintanya atau menerima cinta dari orang lain dengan cara yang tak semestinya. Ia juga, saatnya nanti, akan menyia-nyiakan cinta yang ia berikan pada orang lain atau cinta yang ia terima dari mereka.

Semoga kita bisa belajar tentang cinta dan bisa memperlakukannya dengan cara yang tepat.

 

Sumber foto: pixabay.com

menjaga hati

Menjaga Hati Saat Menyambut Datangnya Hari Bahagia

Menjaga hati tak selalu mudah, sebab tabiatnya memang mudah berubah-ubah. Ia membolak-balik sesuai dengan situasi dan mood yang sedang kita alami.

Keyakinan yang letaknya juga di hati tentulah pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup kita. Salah satunya saat menentukan jodoh dan bersiap menjelang pernikahan.

Baca juga:
Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen untuk istiqamah menjalaninya. Jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen dengan diri sendiri maka berbeda dengan pernikahan.

Pernikahan juga merupakan ibadah yang membutuhkan komitmen erat dari kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga bersama.

Menjaga Hati Tatkala Keraguan Itu Muncul

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa makin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, atau bisa juga munculnya dari diri kita sendiri.

Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya. Ragu karena perbedaan kesukaan, ragu karena keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Jika tidak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada persiapan hari bahagia kita. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, disebutkan beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan:

  1. Memahami bahwa taka da manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan diarahkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang nggak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan tidak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya, tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang Penggenggam hati kita.
  5. Saat fase keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.

***

Topik di atas adalah satu dari sekian banyak topik tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari awal bersama pasangan suami/istri kita. Buku ini bukan hanya menjelaskan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong hari bahagia, tapi juga realita menikah muda.

Membaca buku ini membuat kita tidak hanya berpikir pada indah-indahnya menikah muda, tapi sikap dan mental yang harus kita siapkan untuk mengelola permasalahan yang akan dihadapi.

Saatnya nanti duduk pun jomblo ada yang menemani

Jomblo dan Pertanyaan “Kamu Kapan?”

Jomblo dan pertanyaan “Kamu kapan?” adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sepintar apa pun ia menghindarinya, seseorang akan menemukannya dan menyampaikan pertanyaan itu juga.

Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) seperti kita-kita ini adalah lebaran dan kondangan. Alasannya sepele, tapi sangat mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi sanak famili kita untuk bertanya, “Kamu kapan?”

          Baca juga:
          Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat untukmu? Ikuti Petunjuk Ini
          Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan oleh Pria Saleh

Pertanyaan itu atau sejenisnya ternyata hanyalah pembuka bagi sebuah “bencana” yang lebih besar dalam kehidupan seorang jomblo di dunia fana ini. Selesai kita jawab, pertanyaan tersebut tak berhenti begitu saja, tapi segera berubah menjadi godaan, yang lama-lama terdengar seperti ledekan, sebelum kemudian fix menjadi “bully-an”.

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Tak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan,  itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Shalat sunah, misalnya, atau umrah.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda (dan sebagian besar mereka memang jomblo), dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini adalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Jomblo Harus Tahu Ini

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan lain waktu, sementara tukang parkir kita lupakan saja. Buat kamu yang masih jomblo, simak baik-baik bagian ini, ya!

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini kita tak sendiri, tapi sudah ada jodohnya. Hanya saja tak seorang pun tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun tak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai bibit-bibit ibadah. Kita memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah dari bibir jombloers yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum menemukan calon pendampingnya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah kebingungan kita, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini, ada seberkas cahaya yang bisa membimbing kita menjalani hidup, agar kita tak salah jalan. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib kita lakukan.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk Dia. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar, atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Jomblo dan Prasangka Baik

Berbaik sangka pada Allah mungkin tak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita dan sekonyong-konyong berkata “I love you, will you marry me?”. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan menyuntikkan energi positif ke tiap mikro milimeter urat sabar para jomblo.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar menyerah dan putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan tidak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu cari pasangan).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian yang tulus pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka: para penanya, penggoda, peledek, atau pem-bully itu untuk bersabar. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan? Mereka harus bisa bersabar menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs masih kemping di dataran tinggi Tibet atau asyik sunbathing di tengah-tengah gurun Sahara sana.

“Aku saja yang menjalani bisa bersabar, masak kamu nggak, sih?”

 

Gambar/Foto dari www.pixabay.com

cinta yang hakiki impian setiap manusia

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

Cinta yang hakiki akan menjadi sumber kekuatan kita, bukan malah menyeret kita pada berbagai masalah dan kesulitan.

Siapa pun yang merasakan jatuh cinta pasti juga berharap cinta tersebut adalah cinta yang hakiki, yang akan diterima dan disambut oleh orang yang dicintai. Tapi, bagaimana jika cinta itu ditolak, sehingga bertepuk sebelah tangan? Pasti ini sangat menyedihkan.

Sebagai makhluk yang diberi anugerah berupa hati dari Allah SWT, cinta memang tak pernah sepi dari kehidupan manusia. Cinta tidak mengenal tingkatan ekonomi dan sosial. Kita terlahir ke dunia ini dan bisa tumbuh berkembang juga karena cinta.

Cinta yang Hakiki: Apa Maknanya?

Namun, apakah selama ini kita sudah tahu cinta yang hakiki itu seperti apa?

Beragam orang menafsirkan cinta. Kata itu sendiri telah banyak dipakai dalam banyak konteks, sehingga banyak dan beragam pula makna yang lahir darinya. Sudut pandang yang salah terhadap cinta yang hakiki bisa mengakibatkan orang terjerumus dalam kehinaan dan kesesatan.

Dalam Islam, cinta sejati atau cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang bukan selain kepada-Nya (makhluk) adalah cinta yang bisa diakhirkan, sebab itu adalah cinta yang nisbi. Makhluk memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, sehingga tingkatannya jauh di bawah Dia Yang Mahasempurna.

Selain itu, cinta memiliki kekuatan dahsyat yang luar biasa. Beragam cara dilakukan banyak orang untuk mendapatkan cinta yang diinginkannya, syukur-syukur itu adalah cinta yang hakiki. Cinta yang hakiki mampu mendorong beban yang berat, meluluhkan hati yang keras, dan melecut semangat pemiliknya.

Kita tahu, betapa besar pengorbanan orangtua karena cinta pada anak-anaknya. Betapa dahsyatnya semangat para pejuang yang rela mengorbankan harta dan nyawa demi cinta pada tanah air dan kehormatannya.

Dalam meraih cinta sejati, Allah telah memberikan banyak media, salah satunya melalui puasa. Puasa memiliki keistimewaan daripada ibadah-ibadah lainnya. Puasa hanya dikhususkan untuk Allah dan Allah pula yang akan membalasnya. Oleh sebab itu, pantas saja puasa selalu dilakukan oleh para nabi dan umat terdahulu.

Selanjutnya, bolehkah kita berpuasa demi mendapatkan cinta seseorang? Sebuah pertanyaan yang menarik.

Di dalam buku Puasa Cinta; Meraih Jodoh & Cinta Sejati yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Hadi Yasin, kita akan menemukan penjelasan tentangnya. Jika kita telah meraih cinta yang hakiki itu, kita pun akan bisa meraih cinta yang lainnya, sebab tak ada sesuatu pun yang luput dari penguasaan Allah Yang Maha Mencintai.

Di dalam buku yang diterbitkan QultumMedia ini dijelaskan pula bagaimana hubungan puasa dan jodoh, apa saja rahasia puasa yang bisa kita peroleh guna meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, hingga titik masalah dan solusi hubungan cinta di antara manusia.

pasangan ideal harus ditemukan

Pasangan Ideal Harus Kita Cari, Tak Bisa Hanya Dinanti

Pasangan ideal tak ada yang seperti putri-putri di negeri dongeng, yang kecantikannya seakan abadi dan satu-satunya yang tak mereka miliki hanya kekurangan.

Memiliki pasangan ideal adalah salah satu di antara tiga kunci untuk meraih surga kebahagiaan. Ideal di sini terdiri dari beberapa kriteria. Terkadang, masing-masing memiliki kriteria khusus yang berbeda dengan orang lain.

Dalam Islam, kriteria yang paling utama tentu saja seiman dan saleh atau saleha. Pasalnya, jika seseorang memilih pasangan yang seagama tapi tidak baik (tidak saleh/salehah), rumah tangga yang dibina tidak akan menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bahkan itu bisa mengakibatkan jatuh ke jurang fitnah dan ketidakharmonisan.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Mengapa Agamanya Harus Baik?

Seseorang yang baik agamanya akan memuliakan pasangannya, tidak akan menzaliminya ketika sedang marah dan emosi. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. Ia berkonsultasi pada Hasan mengenai pasangan ideal untuk anak putrinya.

“Sudah banyak laki-laki yang datang meminang putriku. Menurut Anda, dengan siapa aku nikahkan putriku itu?” tanya laki-laki itu.

Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkanlah dia dengan seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Sebab, jika dia mencintai putri Anda, dia akan memuliakannya. Dan jika dia marah atau benci pada putri Anda, dia tidak akan menzaliminya.”

Setelah kriteria itu terpenuhi, kita akan beranjak pada kriteria lanjutannya. Kriteria lanjutan ini, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kriteria khusus. Kriteria suami ideal adalah lemah lembut dan penyayang, kuat dan amanah, mampu memberikan nafkah, bertanggung jawab, dan sepadan. Sedangkan pasangan istri yang ideal adalah sehat rahimnya, mencintai sang suami, masih gadis, cantik, berasal dari keturunan yang mulia, dan selalu menjaga kesuciannya (‘afifah).

Masalahnya, bagaimana cara untuk mendapatkan seluruh kriteria tersebut? Apa bukti kebahagiaan yang dijanjikan jika kriteria-kriteria itu telah terpenuhi? H. Amru Harahap, Lc., M.S.I memiliki jawabannya detail di dalam bukunya, Ikhtiar Cinta, ini. Ia memberikan berbagai kiat dan strategi untuk mendapatkan pasangan ideal yang menjadi impian setiap orang.

Tak hanya itu, buku terbitan QultumMedia ini dilengkapi pula dengan tanya-jawab seputar perjodohan, sehingga Anda bisa langsung mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Sebagai tambahan, penulis juga melengkapinya dengan doa-doa agar pasangan impian segera hadir dalam hidup kita.

 

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat