cinta Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
527
archive,tag,tag-cinta,tag-527,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
arti cinta dalam hidup

Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Arti cinta tak selalu dimengerti oleh pemiliknya.

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai yang kita miliki. Itu sebabnya, kita mesti merawatnya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya pula, kita tak mungkin memercayakannya pada sembarang orang.

Orang yang mau memberikan cintanya pada orang yang tak ia kenal, atau ia kenal tapi sebagai orang yang sebenarnya tak pantas mendapatkannya, mungkin tak menyadari betapa berharga arti cinta yang ia miliki itu.

Begitu pula orang yang mengharapkan cinta orang lain, lalu menukar apa yang ia miliki dengan cinta tersebut. Ia tak tahu betapa barang yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan cinta yang ia idamkan itu.

Arti Cinta Tak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

Kalau kita keliru memercayakan cinta pada seseorang, kita akan menyesal pada akhirnya. Begitu pula jika kita salah sangka dan mengira cinta seseorang bisa ditukar dengan harta benda yang kita miliki.

Orang yang mau menyerahkan cintanya pada orang yang salah, dan orang yang mendapatkan cinta kekasihnya dengan menukar harta benda dengannya, sejatinya sama-sama tak mengerti arti cinta. Karena tak paham betapa bernilai cinta yang ia miliki atau yang ia dapatkan, tak mengherankan jika suatu saat cinta tersebut bisa dengan mudah mereka campakkan.

Siapa pun bisa bosan, bukan?

Arti Cinta: Harus Kita Pahami

Ini mirip orang yang mengidamkan sebuah kamera dengan berbagai fiturnya yang canggih, tapi saat berhasil memilikinya dan kemudian bosan dengannya, ia meletakkannya di tempat yang tak semestinya.

Kenapa ia bisa ceroboh seperti itu? Mungkin ia tak bisa mengoperasikan kameranya itu, sebab skill-nya masih kurang. Mungkin uang yang ia gunakan untuk membelinya ia dapat dengan meminta orangtuanya, ia tak tahu sulitnya mencari uang. Mungkin juga ia bukan orang yang pandai bersyukur dan mau menghargai apa-apa yang ada di sekitarnya.

Orang yang tak mengerti arti cinta yang ia miliki akan dengan mudah menyerahkan cintanya atau menerima cinta dari orang lain dengan cara yang tak semestinya. Ia juga, saatnya nanti, akan menyia-nyiakan cinta yang ia berikan pada orang lain atau cinta yang ia terima dari mereka.

Semoga kita bisa belajar tentang cinta dan bisa memperlakukannya dengan cara yang tepat.

 

Sumber foto: pixabay.com

menjaga hati

Menjaga Hati Saat Menyambut Datangnya Hari Bahagia

Menjaga hati tak selalu mudah, sebab tabiatnya memang mudah berubah-ubah. Ia membolak-balik sesuai dengan situasi dan mood yang sedang kita alami.

Keyakinan yang letaknya juga di hati tentulah pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup kita. Salah satunya saat menentukan jodoh dan bersiap menjelang pernikahan.

Baca juga:
Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen untuk istiqamah menjalaninya. Jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen dengan diri sendiri maka berbeda dengan pernikahan.

Pernikahan juga merupakan ibadah yang membutuhkan komitmen erat dari kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga bersama.

Menjaga Hati Tatkala Keraguan Itu Muncul

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa makin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, atau bisa juga munculnya dari diri kita sendiri.

Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya. Ragu karena perbedaan kesukaan, ragu karena keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Jika tidak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada persiapan hari bahagia kita. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, disebutkan beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan:

  1. Memahami bahwa taka da manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan diarahkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang nggak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan tidak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya, tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang Penggenggam hati kita.
  5. Saat fase keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.

***

Topik di atas adalah satu dari sekian banyak topik tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari awal bersama pasangan suami/istri kita. Buku ini bukan hanya menjelaskan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong hari bahagia, tapi juga realita menikah muda.

Membaca buku ini membuat kita tidak hanya berpikir pada indah-indahnya menikah muda, tapi sikap dan mental yang harus kita siapkan untuk mengelola permasalahan yang akan dihadapi.

Saatnya nanti duduk pun jomblo ada yang menemani

Jomblo dan Pertanyaan “Kamu Kapan?”

Jomblo dan pertanyaan “Kamu kapan?” adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sepintar apa pun ia menghindarinya, seseorang akan menemukannya dan menyampaikan pertanyaan itu juga.

Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) seperti kita-kita ini adalah lebaran dan kondangan. Alasannya sepele, tapi sangat mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi sanak famili kita untuk bertanya, “Kamu kapan?”

          Baca juga:
          Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat untukmu? Ikuti Petunjuk Ini
          Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan oleh Pria Saleh

Pertanyaan itu atau sejenisnya ternyata hanyalah pembuka bagi sebuah “bencana” yang lebih besar dalam kehidupan seorang jomblo di dunia fana ini. Selesai kita jawab, pertanyaan tersebut tak berhenti begitu saja, tapi segera berubah menjadi godaan, yang lama-lama terdengar seperti ledekan, sebelum kemudian fix menjadi “bully-an”.

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Tak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan,  itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Shalat sunah, misalnya, atau umrah.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda (dan sebagian besar mereka memang jomblo), dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini adalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Jomblo Harus Tahu Ini

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan lain waktu, sementara tukang parkir kita lupakan saja. Buat kamu yang masih jomblo, simak baik-baik bagian ini, ya!

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini kita tak sendiri, tapi sudah ada jodohnya. Hanya saja tak seorang pun tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun tak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai bibit-bibit ibadah. Kita memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah dari bibir jombloers yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum menemukan calon pendampingnya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah kebingungan kita, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini, ada seberkas cahaya yang bisa membimbing kita menjalani hidup, agar kita tak salah jalan. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib kita lakukan.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk Dia. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar, atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Jomblo dan Prasangka Baik

Berbaik sangka pada Allah mungkin tak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita dan sekonyong-konyong berkata “I love you, will you marry me?”. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan menyuntikkan energi positif ke tiap mikro milimeter urat sabar para jomblo.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar menyerah dan putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan tidak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu cari pasangan).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian yang tulus pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka: para penanya, penggoda, peledek, atau pem-bully itu untuk bersabar. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan? Mereka harus bisa bersabar menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs masih kemping di dataran tinggi Tibet atau asyik sunbathing di tengah-tengah gurun Sahara sana.

“Aku saja yang menjalani bisa bersabar, masak kamu nggak, sih?”

 

Gambar/Foto dari www.pixabay.com

pasangan ideal harus ditemukan

Pasangan Ideal Harus Kita Cari, Tak Bisa Hanya Dinanti

Pasangan ideal tak ada yang seperti putri-putri di negeri dongeng, yang kecantikannya seakan abadi dan satu-satunya yang tak mereka miliki hanya kekurangan.

Memiliki pasangan ideal adalah salah satu di antara tiga kunci untuk meraih surga kebahagiaan. Ideal di sini terdiri dari beberapa kriteria. Terkadang, masing-masing memiliki kriteria khusus yang berbeda dengan orang lain.

Dalam Islam, kriteria yang paling utama tentu saja seiman dan saleh atau saleha. Pasalnya, jika seseorang memilih pasangan yang seagama tapi tidak baik (tidak saleh/salehah), rumah tangga yang dibina tidak akan menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bahkan itu bisa mengakibatkan jatuh ke jurang fitnah dan ketidakharmonisan.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Mengapa Agamanya Harus Baik?

Seseorang yang baik agamanya akan memuliakan pasangannya, tidak akan menzaliminya ketika sedang marah dan emosi. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. Ia berkonsultasi pada Hasan mengenai pasangan ideal untuk anak putrinya.

“Sudah banyak laki-laki yang datang meminang putriku. Menurut Anda, dengan siapa aku nikahkan putriku itu?” tanya laki-laki itu.

Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkanlah dia dengan seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Sebab, jika dia mencintai putri Anda, dia akan memuliakannya. Dan jika dia marah atau benci pada putri Anda, dia tidak akan menzaliminya.”

Setelah kriteria itu terpenuhi, kita akan beranjak pada kriteria lanjutannya. Kriteria lanjutan ini, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kriteria khusus. Kriteria suami ideal adalah lemah lembut dan penyayang, kuat dan amanah, mampu memberikan nafkah, bertanggung jawab, dan sepadan. Sedangkan pasangan istri yang ideal adalah sehat rahimnya, mencintai sang suami, masih gadis, cantik, berasal dari keturunan yang mulia, dan selalu menjaga kesuciannya (‘afifah).

Masalahnya, bagaimana cara untuk mendapatkan seluruh kriteria tersebut? Apa bukti kebahagiaan yang dijanjikan jika kriteria-kriteria itu telah terpenuhi? H. Amru Harahap, Lc., M.S.I memiliki jawabannya detail di dalam bukunya, Ikhtiar Cinta, ini. Ia memberikan berbagai kiat dan strategi untuk mendapatkan pasangan ideal yang menjadi impian setiap orang.

Tak hanya itu, buku terbitan QultumMedia ini dilengkapi pula dengan tanya-jawab seputar perjodohan, sehingga Anda bisa langsung mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Sebagai tambahan, penulis juga melengkapinya dengan doa-doa agar pasangan impian segera hadir dalam hidup kita.

 

cinta yang hakiki impian setiap manusia

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

Cinta yang hakiki akan menjadi sumber kekuatan kita, bukan malah menyeret kita pada berbagai masalah dan kesulitan.

Siapa pun yang merasakan jatuh cinta pasti juga berharap cinta tersebut adalah cinta yang hakiki, yang akan diterima dan disambut oleh orang yang dicintai. Tapi, bagaimana jika cinta itu ditolak, sehingga bertepuk sebelah tangan? Pasti ini sangat menyedihkan.

Sebagai makhluk yang diberi anugerah berupa hati dari Allah SWT, cinta memang tak pernah sepi dari kehidupan manusia. Cinta tidak mengenal tingkatan ekonomi dan sosial. Kita terlahir ke dunia ini dan bisa tumbuh berkembang juga karena cinta.

Cinta yang Hakiki: Apa Maknanya?

Namun, apakah selama ini kita sudah tahu cinta yang hakiki itu seperti apa?

Beragam orang menafsirkan cinta. Kata itu sendiri telah banyak dipakai dalam banyak konteks, sehingga banyak dan beragam pula makna yang lahir darinya. Sudut pandang yang salah terhadap cinta yang hakiki bisa mengakibatkan orang terjerumus dalam kehinaan dan kesesatan.

Dalam Islam, cinta sejati atau cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang bukan selain kepada-Nya (makhluk) adalah cinta yang bisa diakhirkan, sebab itu adalah cinta yang nisbi. Makhluk memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, sehingga tingkatannya jauh di bawah Dia Yang Mahasempurna.

Selain itu, cinta memiliki kekuatan dahsyat yang luar biasa. Beragam cara dilakukan banyak orang untuk mendapatkan cinta yang diinginkannya, syukur-syukur itu adalah cinta yang hakiki. Cinta yang hakiki mampu mendorong beban yang berat, meluluhkan hati yang keras, dan melecut semangat pemiliknya.

Kita tahu, betapa besar pengorbanan orangtua karena cinta pada anak-anaknya. Betapa dahsyatnya semangat para pejuang yang rela mengorbankan harta dan nyawa demi cinta pada tanah air dan kehormatannya.

Dalam meraih cinta sejati, Allah telah memberikan banyak media, salah satunya melalui puasa. Puasa memiliki keistimewaan daripada ibadah-ibadah lainnya. Puasa hanya dikhususkan untuk Allah dan Allah pula yang akan membalasnya. Oleh sebab itu, pantas saja puasa selalu dilakukan oleh para nabi dan umat terdahulu.

Selanjutnya, bolehkah kita berpuasa demi mendapatkan cinta seseorang? Sebuah pertanyaan yang menarik.

Di dalam buku Puasa Cinta; Meraih Jodoh & Cinta Sejati yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Hadi Yasin, kita akan menemukan penjelasan tentangnya. Jika kita telah meraih cinta yang hakiki itu, kita pun akan bisa meraih cinta yang lainnya, sebab tak ada sesuatu pun yang luput dari penguasaan Allah Yang Maha Mencintai.

Di dalam buku yang diterbitkan QultumMedia ini dijelaskan pula bagaimana hubungan puasa dan jodoh, apa saja rahasia puasa yang bisa kita peroleh guna meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, hingga titik masalah dan solusi hubungan cinta di antara manusia.

shalat istikharah membantu kita menemukan jodoh impian

Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Jodoh impian? Bagaimana mengenalinya? Bagaimana pula menemukannya?

Kita mungkin sering membayangkan siapa yang akan menjadi jodoh impian kita nanti. Mulai tetangga kita yang cantik, teman sekelas yang menjadi rebutan, sampai artis ternama yang sering diberitakan. Nah, buat yang ingin tahu siapa jodoh yang tepat untuknya, coba deh ikuti lima petunjuk ini.

Memiliki pasangan hidup adalah keinginan setiap orang. Ketika dewasa, laki-laki dan perempuan akan memikirkan siapa yang menjadi pasangan hidupnya nanti. Kadang, ada yang sampai menetapkan kriteria-kriteria tertentu. Apakah Pembaca juga demikian?

Tak apa, ini wajar, kok. Sebab, memilih pasangan hidup tak seperti memilih baju atau perhiasan. Ketika kita sudah tidak suka, kita bisa menjualnya kembali atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Pasangan hidup akan menemani kita sampai tua. Merawat, menyayangi, dan mengasihi kita. Karenanya, sudah seharusnya kita mencari orang yang tepat. Orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sayangnya, kita kadang masih bingung dalam memilih jodoh impian. Laki-laki seperti apa yang tepat untuk kita, atau perempuan yang bagaimana yang pantas mendampingi kita?

Baca juga:
Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan Oleh Pria Saleh:
Ingin Rumah Tangga Bahagia? Hindari Hal-hal Ini:

Tapi, tak perlu khawatir. Bukankah kita diajarkan oleh Rasulullah untuk memilih pasangan yang baik agamanya? Di samping hal-hal lain, seperti memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan memiliki harta yang melimpah, agama adalah yang utama.

“Adalah fitrah seorang Muslimah untuk menikah dengan laki-laki kaya, memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan tampan. Itu nggak salah. Tapi, jangan dilupakan, kualitas agamanya harus tetap dinomorsatukan” (Halaqah Cinta, h. 257)

Jadi, Bagaimana Mengenali Sekaligus Menemukan Jodoh Impian Itu?

Setelah kita menentukan kriteria tersebut, bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang memenuhi kriteria itu? Berikut langkah-langkah yang perlu kita lakukan.

1.    Perbaiki Niat
Niat yang sungguh-sungguh akan memudahkan kita untuk mengenali dan menemukan jodoh impian yang tepat. Harus ada keseriusan dan niat semata-mata ingin menjalankan sunah Rasulullah, yaitu untuk memiliki keturunan.

2.    Ikhtiar
Tak cukup hanya memasang niat. Kita juga harus berikhtiar mencari jodoh impian kita. Jika masih malu-malu, kita bisa minta bantuan teman untuk mengenalkan kita pada orang yang kita sukai, atau kita bisa meminta teman untuk mengenalkan kita dengan orang yang baik.

3.    Istikharah
Jika kita sudah menemukan orang yang menurut kita baik, jangan lupa beristikharah. Kita minta petunjuk pada Allah, apakah pilihan kita ini tepat untuk kita, untuk dunia dan akhirat kita? Persis seperti doa yang kita panjatkan ketika Shalat Istikharah. Lihat: Penuntun Mengerjakan Shalat Istikharah, h. 16.

4.    Utarakan Keinginan Kita
Jika Allah sudah memberikan jawaban atas Istikharah kita, utarakan kepada orang terdekat kita. Bisa ayah, ibu, atau saudara kita, agar niat baik untuk menikahi pilihan kita itu diridhai juga oleh mereka. Sampaikan bahwa kita ingin meminangnya.

5.    Nikahi Karena Allah
Nikahilah pilihan kita semata-mata karena Allah. Allah akan memberikan keberkahan pada pasangan yang menikah dengan didasari cinta kepada-Nya. Yang bertujuan untuk menjalankan sunah Rasul-Nya, agar melahirkan generasi-generasi yang saleh dan saleha.

Nah, inilah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan pasangan hidup yang tepat. Melibatkan Allah dalam semua urusan kita adalah sebuah keharusan. Dengan begitu, kita tak perlu ragu lagi untuk memilih pasangan hidup.

 

Gambar/foto dari www.pixabay.com

cinta yang hakiki impian setiap manusia

Aku Pernah Kecewa

Aku pernah kecewa…

Aku pernah jatuh cinta melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku pernah mempercayai lebih dari mempercayai diri sendiri. Aku pernah merasa memiliki pintu kebahagiaan yang selalu aku harap-harapkan.

Aku pernah melalui hari yang entah bagaimana melahirkan hubungan yang lantas menjelma komitmen satu sama lain. Padahal, agama tak mengizinkannya, negara pun tak mengesahkannya. Tak ada catatan, hanya perjanjian dua lisan tanpa ada jaminan.

Dan benar saja, kesepakatan yang terucap dari lisan manusia tak sepenuhnya dapat dijaga dengan sempurna.

Tapi, semua itu sudah berlalu. Hilang. Lenyap. Entah dengan apa dan bagaimana ceritanya, yang aku tahu hanya duka yang tertinggal, air mata yang mengering, dan kepingan hati yang terserak.

Ya, aku pernah kecewa…

Pada satu titik dalam hidupku, aku menemukan ketenangan yang berbeda dari biasanya. Sederhana, aku mendapatkannya melalui sujud yang memang tak biasa aku lakukan. Waktunya tengah malam, di tempat yang hening, dengan kesunyian yang luar biasa. Entah mengapa nuraniku menuntun untuk menyegarkan tubuh dengan air wudhu dan bersimpuh pada Dia yang selalu mendengarkan segala keluh.

Aku tenang, aku nyaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan menangisi luka yang sudah terlewat. Tapi menyesali langkah yang tak sempurna dalam mematuhi-Nya.

Aku lupa bahwa berharap selain pada-Nya hanya meninggalkan luka.

Aku lupa bahwa mencintai siapa pun atau apa pun dengan berlebihan tak pernah ada baiknya.

Aku juga lupa bahwa ada Dia yang tak pernah meninggalkanku, pintu kebahagiaanku, dan sebaik-baiknya pengharapanku.

Sekali lagi, aku pernah kecewa…

Tapi, aku bersyukur telah berhasil melaluinya. Meski dengan tertatih, meski rasa pesimis menghantui, karena tak yakin akan berhasil mengikhlaskannya. But see, Allah membantuku. Allah ingin menyelamatkanku dari dosa besar, dari kesalahan yang tak seharusnya aku lakukan lagi.

Allah ingin aku menitipkan hati pada orang yang baik, seseorang yang tak hanya menawarkan “kesepakatan lisan” tapi juga mempertanggungjawabkannya di hadapan keluarga, negara, agama, dan semesta.

Karena aku percaya, setiap rasa pasti ada batasnya, dan setiap kita pasti ada jodohnya.

Janji Allah tak mungkin diingkari, bukan?

 

Oleh: Arum Listyowati Suprobo (penulis “Setiap Kita Ada Batasnya, Setiap Kita Ada Jodohnya”)

kesetiaan adalah kunci

Jodoh Terbaik dan Janji Allah Menciptakan Pendamping untuk Kita

Jodoh terbaik tak bisa hanya ditunggu kedatangannya. Kita perlu menjemputnya. Begitu pula cinta, rasa terindah yang Allah titipkan pada hati setiap insan. Cinta ibarat pohon, jika kita sabar merawatnya, pohon itu akan tumbuh besar dan kuat.

Tak perlu terburu-buru menafsirkan cinta, tak perlu juga berkejaran dengan waktu untuk merasakannya. Sebab, cinta bukan hanya tentang bagaimana perasaan itu muncul tapi juga bagaimana perasaan itu tetap utuh.

Di balik kata ‘cinta’ yang sangat sederhana itu terkandung makna yang dalam. Banyak orang yang terlena karenanya, banyak pula yang menghalalkan segala cara untuk dapat merasakannya. Tak jarang mereka menangis karena cinta, kecewa karena cinta, dan berharap karena cinta.

Tak dapat dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan kecil mengenai cinta sering mengusik pikiran kita. Termasuk ini: ke manakah kita akan pergi selepas banyaknya rasa yang pernah singgah di hati kita? Akankah penantian panjang ini berlabuh pada seseorang yang tepat? Mungkinkah kita dipersatukan dengan seseorang yang telah lama kita rindukan kehadirannya?

Hanya Allah pemegang jawaban bagi segala gundah yang kita rasakan. Kita hanya perlu bersabar, berdoa, dan tentu saja terus berikhtiar.

Jodoh Terbaik Sudah Ada yang Menentukan

Tetaplah berbaik sangka pada Allah, serahkanlah semuanya pada Allah. Percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita di waktu yang tepat. Sebab, seindah-indahnya rencana yang telah kita rancang, rencana Allah adalah yang terbaik untuk kita jalankan.

Sebelum penantian ini berlabuh pada hati yang kita dambakan, kira-kira apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengisi kekosongan dan memantapkan pilihan? Yuk, kita ikuti tip-tip berikut.

  1. Perbaiki hati.

Pertama, yuk tanya lagi ke hati kita. Apa tujuan kita menikah? Kenapa kita ingin segera menikah? Apakah benar ingin menjaga kehormatan, atau hanya ikut-ikutan teman?

Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya. Maka, mari menata hati kita agar dapat melakukan segala sesuatu semata-mata demi beribadah kepada-Nya, termasuk menikah.

  1. Karena ia bisa berasal dari mana saja, jagalah akhlak kita di mana pun kita berada.

Kita tak pernah tahu, dari mana jodoh terbaik kita datang dan kapan Allah mempertemukan kita dengannya. Kita tentu tak mau calon pendamping berpikir ulang untuk mendekati kita, hanya karena akhlak kita yang kurang baik.

Jadi diri sendiri itu suatu keharusan, tapi bukan berarti kita boleh bersikap seenaknya dan semau sendiri. Maka dari itu, yuk perbaiki terus akhlak kita agar kelak yang menjadi pendamping kita adalah orang yang memiliki akhlak yang sama mulianya dengan kita.

  1. Teruslah memantaskan diri, karena jodoh terbaik kita juga sedang mempersiapkan dirinya.

Ingat janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

Yuk, selalu berusaha memantaskan diri, lebih sering datang ke majelis-majelis ilmu dan bergabung dengan komunitas-komunitas positif yang lainnya. Percayalah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya.

  1. Bekali diri dengan ilmu, karena kelak keluarga kita adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita.

Menikah itu ibarat membangun bahtera yang siap berlayar di tengah lautan luas. Ketika berlayar, bahtera itu akan mengarungi samudera kehidupan yang mempunyai berbagai kemungkinan. Kadang ombaknya tenang, tapi kadang membahayakan.

Pertanyaan kita, apakah bahtera kita sudah siap menghadapi itu semua? Nahkoda kapal harus siap kapan pun rintangan menghadang. Begitu pula kita yang sedang menanti pasangan yang kita idam-idamkan. Persiapkan diri dengan baik, agar kita berhasil mengarungi samudera kehidupan dalam bahtera rumah tangga.

  1. Jaga pikiran agar tetap positif.

Kita harus ingat bahwa Allah selalu mengikuti prasangka hamba-Nya. Kalau hati kita berburuk sangka pada-Nya, bisa jadi Dia mengikuti prasangka kita itu. Jadi, jika jodoh terbaik tak kunjung datang, ubah pola pikir kita dan mulailah berpikir positif tentangnya.

Menanti jodoh itu banyak sisi positifnya. Kita bisa punya lebih banyak waktu untuk menambah ilmu agama, membahagiakan kedua orangtua, dan memperbaiki diri.

Nah, itulah beberapa tip yang dapat kita lakukan saat menanti jodoh terbaik. Semoga kita semakin yakin bahwa ikhtiar dan doa-doa kita suatu saat akan berakhir pengabulan dari Allah SWT. Amin.

 

Sumber foto: https://pixabay.com/en/ring-wedding-love-bible-wed-2407552/

bahagia muncul dari diri kita, bukan dari luar diri kita

Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Seperti Dilakukan Oleh Para Nabi

Bahagia itu bisa dirancang dan diciptakan. Karenanya, bukan mustahil ia hadir tanpa jeda. Bahkan cara mewujudkannya pun sederhana.

Jika selama ini sudut pandang kita dalam memaknainya mengacu pada hal-hal yang sifatnya duniawi atau materiil, ubahlah segera. Percaya atau tidak, kebahagiaan seperti itu semu. Sebab, ia tak melulu ada kaitannya dengan kepuasan duniawi, materiil, apalagi sebatas finansial.

Baca juga:
Hujan Bahagia
Menikah Muda dan Hal-hal Tak Terduga di Dalamnya

Kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita dapatkan dengan meraih kepuasan batiniah, seperti memperbanyak ibadah, menghindari suuzhan, atau menahan diri saat makan agar tidak terlalu kenyang. Cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkannya adalah dengan membagikan ilmu yang bermanfaat dan tidak menyebarkan berita dusta (hoax) atau fitnah di media sosial.

Ucapan syukur sudah bisa menunjukkannya. Sebab itu berarti pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita dapat adalah anugerah dari Allah; bukan semata-mata karena usaha kita.

Bisa juga kita memaknainya dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk mengabdi kepada-Nya. Tidak ada penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Tidak kita gunakan untuk melanggar aturan-Nya. Semua digunakan untuk beribadah.

Bisa juga kita maknai bahwa dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit, kita tetap ikhlas bersedekah. Sedikit yang kita miliki, kita sisihkan untuk kita sedekahkan. Sebagaimana sedekahnya para sahabat Nabi Muhammad, seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar bin Khaththab, dan Ustman bin Affan.

Bahagia Ala Nabi Muhammad saw

Meski dijamin masuk ke surga dan terbebas dari dosa, Nabi Muhammad tetap menghabiskan sepertiga malam yang sunyi dan dingin dengan beribadah dan bermunajat kepada-Nya dengan takbir, ruku’, dan sujud, hingga air mata pun membasahi pipi dan kedua kakinya bengkak. Inilah cara Nabi Muhammad saw bahagia dengan bersyukur (‘abdan syakuuraa).

Bahagia Ala Nabi Yusuf as

Sementara itu, Kebahagiaan bagi Nabi Yusuf as adalah menjaga nafsunya dari ajakan bermaksiat seorang istri pejabat. Ia memilih dikurung dalam penjara daripada menuruti bujuk rayunya.

Bahagia Ala Nabi Ayub as

Kebahagiaan itu seperti Nabi Ayub yang kian dekat kepada-Nya dan tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Berkat kesaabarannya, penyakit Nabi Ayub diangkat dan bisa kembali hidup normal dan bahagia.

***

Uraian di atas diambil dari buku “Berupaya Tanpa Jeda, Beryukur Tanpa Kendur.” Buku yang ditulis oleh Syaiful Anshor ini memberikan banyak inspirasi dan ajakan agar kita selalu menyukuri segala keadaan yang diberikan Sang Pencipta. Sebab, saat kita bersyukur maka akan ada janji bahwa nikmat-Nya itu akan ditambah.

 

foto: unsplash.com

nikah mudah itu butuh persiapan

Nikah Ajalah, Hari Gini Pacaran Udah Nggak Zaman

Nikah itu saatnya kita bangun dari “tidur”, sementara pacaran adalah ketika kita masih “terlelap” dan “bermimpi”…

Baca juga:
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)
Sabar Itu Cinta yang Menghadirkan Ketenangan
Cinta Lebih Membutuhkan Keikhlasan Dibanding Pengorbanan

Menentukan pasangan hidup dan mengambil keputusan untuk menikah di usia yang belia tentu butuh pertimbangan yang matang. Kita perlu memikirkan bagaimana persiapannya, bagaimana prosesnya, dan bagaimana meraih cita-cita bersama. Penulis buku Jatuh Cinta Tak Pernah Salah yang juga pengelola akun Instagram @negeriakhirat, Arum Listyowati Suprobo atau yang akrab disapa Arum, berbagi pengalamannya menikah di usia muda. Mari simak wawancara kami dengannya.

Mbak Arum, saya lihat tulisan-tulisan di akun Instagramnya sering bicara tentang nikah di usia muda. Mengapa?

Sederhana sih, Mas, sebenarnya. Saya ingin membuka pikiran teman-teman bahwa nikah muda itu tidak berarti mencari masalah, asal niat kita lillaahi Ta’aalaa dan dijalani dengan berpegang pada syariat-Nya. Bukan ingin ngomporin sih, tapi asumsi bahwa pacaran itu bisa menjamin kehidupan rumah tangga yang baik sudah seharusnya ditinjau ulang.

Sebelum berhijrah, saya dan suami sama-sama pernah pacaran dengan orang lain, tapi akhirnya jodoh kami bukan mereka. Saya dan suami malah bertemu secara tidak terduga. Pengalaman pribadi saya itulah salah satunya yang ingin saya bagi pada teman-teman.

Kalau boleh tahu berapa usia Mbak Arum saat menikah dulu?

Saya menikah usia 20 tahun, suami saya 23 tahun. Jadi memang sama-sama baru menginjak usia 20-an tahun.

Ada tidak kendala sebelum memutuskan untuk nikah muda, misalnya dari keluarga, teman, atau lingkungan?

Kendala utama jelas dari orangtua, karena waktu itu saya masih kuliah. Kedua dari diri saya sendiri. Waktu itu saya sulit sekali membayangkan di usia yang masih sangat muda saya harus memikirkan rumah tangga, ketika teman-teman saya yang lain hanya memikirkan kuliah mereka. Sedangkan kendala dari teman dan lingkungan tidak terlalu saya rasakan. Ya paling teman-teman saya hanya terkejut dan tidak percaya, tapi setelah saya jelaskan alhamdulillaah mereka bisa mengerti pilihan saya.

Kalau menurut Mbak Arum sendiri, apakah saat itu Mbak Arum sudah merasa matang secara emosional?

Secara emosional saya sebenarnya belum bisa dibilang matang, tetapi alhamdulillaah suami sudah cukup dewasa, mungkin karena beliau punya pengalaman yang cukup banyak meski usianya baru duapuluhan. Di awal-awal menikah saya merasa kurang persiapan untuk menghadapi permasalahan rumah tangga. Tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan, sebab kami memang punya komitmen untuk terus belajar, lebih-lebih ada dukungan dari orangtua kami yang bisa menjadi tempat kami mencurahkan isi hati.

Sekarang kami menyadari betapa untuk menikah kita perlu mempertebal iman, membersihkan hati, dan memperbanyak ilmu. Sebab kehidupan rumah tangga tidak untuk satu atau dua hari saja tetapi selamanya.

Boleh diceritakan apa makna Jatuh Cinta Tak Pernah Salah?

Jatuh cinta bisa terjadi pada siapa saja, bisa datang tiba-tiba atau perlahan, di tempat yang kita duga atau tidak, dan di waktu yang memungkinkan atau menurut kita mustahil. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kalau kemudian ada yang menjadi persoalan, itu adalah bagaimana kita merespon hati yang sedang jatuh cinta. Orang yang berpikiran panjang akan sanggup mengendalikannya, sedang mereka yang mudah termakan dorongan nafsu akan mudah terjerumus.

Dalam satu kalimat saja, pesan apa yang ingin Mbak Arum sampaikan dalam buku Jatuh Cinta Tak Pernah Salah ini?

Mencintai dan dicintai adalah anugerah dari Allah SWT yang harus senantiasa disyukuri.

Menurut Mbak Arum apa yang menarik dari buku ini?

Semuanya. Hahaaa… Begini, Mas, buku ini kan isinya quote dan kisah-kisah. Saya sebagai penulis berharap buku ini bisa memberikan pencerahan atau minimal penyemangat, terutama saat pembaca sedang dalam situasi yang tidak menentu.

Saya pribadi senang jika dalam situasi seperti itu membaca kalimat-kalimat yang menguatkan dan menghibur, sebab kadang saat sedang mendapat masalah, kita tidak memerlukan saran dari orang lain tentang solusinya, sebab kita sendiri mungkin sudah tahu. Yang kita butuhkan adalah perhatian dan rasa pengertian. Quote itu kan hasil renungan yang seolah-olah adalah bentuk perhatian pada kita.

selamat hari raya idul fitri

Pin It on Pinterest