islam Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
537
archive,tag,tag-islam,tag-537,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
bulan suci ramadan

Bulan Suci Ramadan dan 6 Fakta Menarik Tentangnya

Bulan suci Ramadan adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Selama ini kita sudah biasa menjalankan puasa di bulan suci Ramadan. Dan sebagaimana orang lain yang menyambutnya dengan bahagia, kita juga merasakan hal yang sama saat bulan suci itu tiba. Namun begitu, ternyata ada banyak hal menarik tentang puasa dan bulan Ramadan yang mungkin belum semuanya kita ketahui. Apa saja?

1 Arti kata Ramadan

‘Ramadan’ berasal dari bahasa Arab ‘romadhoon’, yang merupakan turunan dari kata ‘romadhu’ atau ‘romdhoo`’, yang artinya “panas yang menyengat pada musim kemarau”. Ada juga yang mengartikannya sebagai “waktu ketika dosa-dosa dibakar oleh amal saleh”.

Kata ‘ramadan’ sangat populer di Indonesia, sampai-sampai tak sedikit orang yang menjadikannya sebagai nama untuk anaknya. Biasanya karena sang anak lahir bertepatan pada bulan Ramadan.

2. Rasulullah berpuasa Ramadan hanya 9 kali seumur hidup

Puasa Ramadan diwajibkan pada umat Islam di bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau tahun kedua Rasulullah berdomisili di Madinah. Setelah ada perintah berpuasa pada bulan Sya’ban itu maka pada bulan berikutnya, yakni bulan suci Ramadan, Rasulullah mengajak para sahabat untuk berpuasa.

Masa hidup Rasulullah di Madinah sekitar 10 tahun, yang artinya beliau bertemu dengan bulan suci Ramadan hanya 9 kali, karena puasa Ramadan baru diperintahkan pada tahun kedua Hijriyah. Menariknya, dari 9 kali bulan Ramadan, Rasulullah hanya satu kali menjalankan puasa secara penuh, sedang 8 bulan Ramadan yang lainnya tidak. Sepertinya beliau menghadapi kendala (uzur) yang menyebabkan beliau tidak berpuasa, mungkin sakit, melakukan perjalanan jauh, atau berperang.

3. Ramadan adalah bulan Al-Quran diturunkan untuk pertama kalinya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat pertama Al-Quran yang diturunkan pada Rasulullah. Pendapat yang paling populer ada dua. Pertama, yang menyatakan bahwa surah yang pertama turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, dan kedua, yang menyatakan bahwa surah yang dimaksud adalah Surah Al-Muddatstsir.

Betapapun demikian, saat ini umat Islam cenderung tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat itu, dan justru fokus pada momen peringatan turunnya Al-Quran tersebut, yang biasanya dikenal dengan istilah Nuzulul Quran. Di berbagai tempat di Indonesia, baik di masjid atau di rumah-rumah, umat Islam memperingati sejarah turunnya Al-Quran ini dengan menyelenggarakan tausiyah dan pengajian, yang biasanya diadakan pada malam ke-17 Ramadan.

4. Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan

Selain Nuzulul Quran, umat Islam juga mengenal yang namanya Lailatul Qadar atau secara bahasa artinya Malam yang Mulia. Disebut Malam yang Mulia, karena malam tersebut diyakini sebagai malam diturunkannya Al-Quran (QS. Al-Qadar: 1) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah, sebuah tempat yang berada di langit dunia.

Menurut Al-Quran sendiri, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. “Lailatul Qadar lebih mulia dibandingkan seribu bulan (QS. Al-Qadar: 3).” Karena kemuliaannya itu, amal baik yang kita kerjakan di dalamnya akan mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat-lipat.

5. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan

Perang Badar adalah salah satu perang paling terkenal dalam sejarah Islam, sekaligus perang yang paling menentukan bagi perkembangan dakwah Islam. Nama ‘Badar’ diambil dari nama tempat yang terletak di sebuah lembah di antara Makkah dan Madinah.

Perang Badar pecah pada tanggal 2 Ramadan tahun kedua Hijriyah. Tentara muslim terdiri dari 313 pasukan, dengan perlengkapan perang yang terbatas, melawan tentara kafir yang berjumlah 1000 pasukan.

Meski kalah dari sisi jumlah, tentara muslim akhirnya berhasil mengalahkan tentara kafir. Sebanyak 70 tentara kafir terbunuh dan 70 lainnya ditawan. Tentu saja, kemenangan ini adalah anugerah dari Allah Ta’ala.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Al-Imran: 123)

6. Fathu Makkah terjadi pada bulan Ramadan

Peristiwa bersejarah lain yang juga terjadi pada bulan suci Ramadan adalah pembebasan kota Makkah atau Fathu Makkah, yang terjadi pada tanggal 10 Ramadan tahun kedelapan Hijriyah. Dalam peristiwa ini, setelah mengungsi dari Makkah karena tekanan orang-orang kafir, umat Islam berhasil merebut kota tersebut dan kembali ke pangkuannya.

Meski terdengar seperti sebuah penyerbuan, karena melibatkan 10.000 umat Islam, dalam peristiwa ini umat Islam tidak menggunakan kekerasan sama sekali. Berhala-berhala yang berjajar di sekeliling Ka’bah memang dihancurkan tapi tak satu pun penduduknya dianiaya.

Sebuah riwayat menyatakan bahwa saat itu umat Islam sempat meneriakkan ancaman pada penduduk Makkah. “Hari ini adalah hari pembalasan (Al-yawmu yawmul malhamah)!” seru mereka. Tapi, ketika kata-kata itu didengar oleh Rasulullah, beliau memerintahkan untuk menggantinya menjadi, “Hari ini adalah hari kasih sayang (Al-yawmu yawmul marhamah)!

Itulah hal-hal menarik yang berkaitan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang selalu kita tunggu-tunggu kedatangannya dan membuat kita berdoa agar selalu diberi panjang umur oleh Allah agar bisa bertemu kembali dengannya. Nah, Pembaca yang baik, mari membuat agenda kegiatan untuk mengisi bulan Ramadan tahun ini!

Semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala dan nanti setelah Ramadan pergi kita betul-betul menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin …

 

Gambar didapat dari: http://bersamadakwah.net

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita akan kembali berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan. Bulan ketika Allah melimpahkan kasih sayang (rahmah) dan ampunan (maghfirah)-Nya pada kita. Sebagai muslim yang penuh rasa cinta pada Islam, kita tak bisa menutupi rasa bahagia dengan datangnya bulan suci ini, sebab ini menunjukkan dua hal.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasullah

Pertama, doa kita tahun lalu agar Allah memberi umur yang panjang dan mempertemukan kembali dengan bulan mulia ini dikabulkan. Ini tentu patut kita syukuri. Di tengah usaha kita untuk memperbaiki masa lalu dan menambah bekal hidup di akhirat, Allah memperpanjang umur kita: sebuah kesempatan emas untuk melanjutkan usaha kita itu.

Kedua, kita mendapat kesempatan lagi untuk melakukan kebaikan yang pada bulan puasa tahun lalu belum kita kerjakan. Apa yang sudah kita kerjakan pada tahun sebelumnya akan kita lanjutkan pada bulan suci tahun ini, dan akan kita tambah dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Dengan begitu, semoga Allah semakin mengasihi kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Kalau sebelumnya hanya mampu membaca Al-Quran satu rubu’ (seperempat juz) sehari, semoga pada Ramadan tahun ini bisa membaca satu juz penuh.

Kalau kemarin baru bisa bersedekah seadanya untuk para tetangga yang membutuhkan, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa menyedekahkan sesuatu yang lebih bernilai.

Kalau tahun lalu salat Tarawih kita bolong-bolong, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa memenej waktu untuk lebih istiqamah.

Ramadan dan Perlawanan Hawa Nafsu Kita

Biasanya, menjelang datangnya bulan Ramadan kita punya banyak rencana, dan semuanya sangat positif. Misalnya, untuk salat Tarawih kita memilih masjid-masjid megah yang bacaan imamnya merdu, untuk pengajian kita mendatangi majelis-majelis yang dihadiri oleh ustadz yang sedang tenar, dan untuk tilawah kita menargetkan satu bahkan dua juz Al-Quran.

Insya Allah, apa yang sudah kita niatkan itu Allah catat sebagai tambahan kebaikan untuk bekal kita di akhirat nanti, dan insya Allah semua itu semakin baik jika betul-betul kita kerjakan dan sebisa mungkin kita istiqamahkan. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, kuatnya keinginan dan tekad untuk beramal saleh di bulan Ramadan seringkali tak lebih kuat dibandingkan dengan hawa nafsu kita.

Karena hilang kendali, kita menyantap terlalu banyak makanan ketika berbuka, sehingga perut kekenyangan saat mau ikut salat Tarawih. Ujung-ujungnya kita absen ke masjid.

Karena kurang bisa mengatur jadwal tidur, kita mengantuk di tempat kerja. Jangankan membaca Al-Quran saat istirahat, mengerjakan tugas saja berantakan.

Hari demi hari berganti, sementara semangat kita yang kadung dipukul jatuh oleh hawa nafsu tak pernah bangkit lagi. Niat dan rencana yang kita susun menjelang bulan mulia itu tiba juga lamat-lamat kita lupakan. Kita lalu menghibur diri dengan program hiburan di televisi dan menyibukkan diri dengan ibadah (setidaknya begitu harapan kita) lainnya: mudik lebaran dan silaturahmi.

Ramadan: Momen untuk Semakin Mengenali Diri Sendiri

Pembaca yang baik, pada bulan Ramadan kali ini, mari kita berusaha untuk lebih mengenali diri sendiri. Mari kita jujur pada hati, apa yang kita inginkan dengan datangnya bulan suci ini, apa yang ingin kita raih di dalamnya, apa usaha kita untuk merayakannya, dan sejauh mana kita sanggup menjalankan niat atau rencana-rencana kita.

Kita boleh merencanakan ibadah ini dan itu, tentu saja itu bagus. Tapi, jika semua itu hanya hasrat setarikan nafas untuk kemudian kita lupakan begitu bulan suci betul-betul tiba, dengan atau tanpa alasan, tidakkah itu artinya kita menyia-nyiakan anugerah agung ini dan mengabaikan kesempatan untuk meraih berbagai keutamaan di dalamnya?

Jadi, mari berkomitmen lagi pada diri sendiri. Sayang, jika bulan yang penuh keberkahan ini kita lewati hanya dengan rasa lapar, dahaga, dan rencana-rencana yang tak pernah kita kerjakan. Mari kita tata terlebih dulu niat kita sebelum memasuki bulan mulia ini, mari kita atur lagi rencana-rencana kita untuk mengisinya. Tak usah muluk-muluk, tak usah mempersulit diri sendiri.

Mengikuti salat Tarawih atau mendengar pengajian di musala yang dekat dengan rumah kita, juga membaca Al-Quran meski hanya satu atau dua halaman saja, sudah baik, asal bisa kita kerjakan dengan istiqamah. Allah tak akan mempersoalkan di masjid mana kita beribadah, siapa ustadz yang kita dengar ceramahnya, dan sebanyak apa ayat suci-Nya kita baca.

Dia justru akan mempersoalkan sekuat apa kita menjaga keistiqamahan beribadah pada-Nya dan seikhlas apa kita mengerjakannya. Ingat, beramal banyak tapi tidak istiqamah dan ikhlas tak lebih baik lho dibandingkan beramal sedikit tapi istiqamah dan ikhlas. Sebab, “Allah tidak memandang rupa kalian, juga tidak harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian,” (HR. Muslim).

Ramadan adalah perayaan panjang, yang curahan pahala dan gempita keberkahan Allah turunkan pada siang dan malamnya. Tak ada siang atau malam di bulan suci ini yang tak Dia penuhi dengan kasih sayang dan ampunan-Nya. Amal baik yang kita kerjakan di dalamnya, sekecil apa pun itu, insya Allah menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh untuk kita panen kelak di akhirat.

 

*Gambar dipinjam dari: https://occupiedpalestine.wordpress.com

amanah semakin langka

Amanah Adalah Karakter Manusia yang Semakin Langka

Amanah adalah satu di antara sedikit sifat mulia yang saat ini semakin langka ditemukan.

Kepercayaan orang lain tak dapat diberikan secara cuma-cuma. Kita harus menunjukkan reputasi terlebih dulu pada mereka bahwa kita bisa dipercaya, baru mereka akan memberikan kepercayaannya pada kita. Kepercayaan yang diberikan karena permintaan, apalagi muslihat, tak akan bertahan lama.

Kalau suatu toko dikenal curang karena menggunakan timbangan yang telah direkayasa, maka selamanya toko itu akan dijauhi oleh pelanggannya. Bahkan meski pemiliknya bertobat dan tak mau mengulangi kesalahannya, ia tetap akan menemui kesulitan menghapus citranya sebagai toko yang curang.

Amanah: Belajar dari Nabi Muhammad

Bahkan sebelum diangkat menjadi seorang rasul, Nabi Muhammad saw telah mendapat kepercayaan yang besar dari masyarakat Mekah. Itu beliau dapatkan karena reputasinya sebagai pemuda yang jujur; kata-katanya bisa dipegang, perbuatannya terjaga dari maksiat dan hal yang sia-sia.

Kepercayaan masyarakat terhadap beliau juga tumbuh karena kemampuannya yang dalam banyak hal bisa diandalkan, seperti dalam bisnis, diplomasi, dan perang. Ditambah lagi, beliau lahir dari keluarga yang terhormat, cucu penjaga Ka’bah yang disegani di seantero Arab: Abdul Muthallib.

Berkat reputasinya sebagai Al-Amin (Yang Terpercaya) pula, Khadijah, seorang bangsawan sekaligus saudagar Mekah, tak merasa khawatir saat kendali bisnisnya dipegang oleh Muhammad muda. Dan belakangan, karena alasan yang sama, ia bersedia menikah dengannya, meski usia keduanya terpaut jauh.

Siapa Pun Wajib Menjaga Amanah

Meraih kepercayaan orang lain tidak mudah. “Butuh satu tahun untuk membangun kepercayaan, tapi cukup satu menit saja untuk meruntuhkannya,” begitu kata pepatah. Kepercayaan memang seperti tunas kayu yang harus dijaga dan dirawat agar tumbuh kuat, selain waktu yang tak sebentar.

Itu sebabnya, jangan bermain-main dengan kepercayaan yang orang lain titipkan di pundak kita. Sekali dipercaya, selamanya kita harus menjaga amanah itu. Dan sekali saja meruntuhkannya, selamanya kita tak akan bisa mendapatkan kembali amanah itu. No second time for trust.

Mulai saat ini, mari kita menjaga kata dan sikap pada orang lain. Mari tumbuhkan kepercayaan mereka pada kita. Sebab bagaimanapun, kita tak pernah bisa hidup sendiri di dunia ini, dan celakanya, kita tak bisa selalu baik-baik saja. Suatu saat, mau atau tidak, kita pasti membutuhkan uluran tangan mereka.

Jika orang lain sudah percaya pada kita, mereka pasti sudi membantu mengeluarkan kita dari kesulitan. Jika tidak? Di situlah masalahnya. Apakah kita akan meminta tolong pada setan, sebab orang munafik (yaitu mereka yang ketika dipercaya lantas berkhianat) adalah kawan mereka?

Na’udzu billaahi min dzaalik.

 

Sumber foto: thetravellady.wordpress.com

rezeki kita harus dijemput

Rezeki Kita Memang Sudah Ada yang Mengatur, Tapi…

Rezeki kita harus kita jemput, dengan ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Sekaligus.

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Ar-Rum [30]: 40)

Rezeki kita adalah ketetapan Allah SWT. Seperti jodoh dan kematian, rezeki setiap manusia sudah diatur oleh-Nya. Allah Mahakuasa terhadap apa yang ada di bumi dan langit beserta isinya.

Allah menciptakan semua itu semata untuk makhluk-makhluk-Nya. Air dan matahari sebagai sumber kehidupan, tumbuhan untuk dikonsumsi manusia dan hewan, langit dan bumi sebagai “rumah dan atap” sebagai tempat mereka berlindung.

Rezeki Kita: Ikhtiar Menjemputnya Adalah Keharusan

Meskipun rezeki kita sudah ditetapkan sedemikian rupa oleh Allah, bukan berarti kita tidak perlu berikhtiar dalam menjemputnya. Fasilitas dan kemudahan yang Allah ciptakan berupa alam semesta dan isinya ini hendaknya membuat kita lebih bersyukur, yakni bersemangat dalam menjemput rezeki dan tidak berpangku tangan saja.

Menjadi kaya itu tidak dilarang dalam Islam. Apalagi jika rezeki kita itu membuat kita lebih dekat dengan Allah. Membuat kita tidak hanya semangat memperkaya diri sendiri tapi juga berbagi dengan orang yang membutuhkan. Dengan begitu, rasa lelah yang kita rasakan saat bekerja akan berbuah pahala dari Allah SWT.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita ikhtiarkan dalam menjemput rezeki.

  1. Bertakwa
  2. Bertawakal
  3. Bersyukur
  4. Memperbanyak istighfar
  5. Bersedekah
  6. Shalat Khusyu’
  7. Shalat Dhuha.

Kiat-kiat di atas merupakan cara untuk memperoleh keberkahan rezeki kita, bukan sekadar menjemputnya. Memang, tanpa ikhtiar batin seperti itu, rezeki kita akan lebih sulit diperoleh. Tapi bagaimanapun, tanpa keberkahan rezeki yang kita dapatkan tidak akan banyak memberikan manfaat.

Tentang Kiat-kiat Menjemput Rezeki Kita

Selain berisi tentang bagaimana mendapatkan rezeki secara halal dan thayib, buku Amalan-amalan untuk Mempercepat Datangnya Rezeki juga dilengkapi dengan amalan-amalan penarik rezeki yang sebaiknya kita lakukan saat pagi, siang, dan malam hari. Buku ini juga dilangkapi dengan doa-doa untuk memperlancar pekerjaan dan terbebas dari utang dan kemiskinan.

Membaca buku ini seperti menemukan pelengkap yang selama ini kita cari-cari, yang dengannya kita menjadi tahu mengapa rezeki yang kita peroleh selama ini terasa kurang berkah. Selamat membaca!

 

Sumber gambar: AboutIslam.net

membayar zakat harus disegerakan

Membayar Zakat: Bukti Iman dan Cara Menjaga Kesucian Harta

Membayar zakat harus muncul dari kesadaran diri kita, bukan karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu.

Zakat bukan hanya sebuah kewajiban dalam Islam tapi juga bukti. Bukti bahwa pemeluknya benar-benar muslim yang sejati, bukan sekadar mencari keuntungan dengan mengaku muslim. Seorang muslim yang sejati pasti akan sukarela membayarkan zakatnya, betapapun nilainya sangat besar, bukan justru menunda-nunda, menahan, apalagi mengingkari kewajiban tersebut.

Pada zaman Nabi saw dulu, sebagian orang yang mengaku memeluk Islam merasa sayang dengan harta bendanya dan memilih untuk tidak membayarkan zakatnya. Mereka inilah yang disebut sebagai orang munafik. Keselamatan mereka terjamin dengan menjadi pengikut Nabi saw tapi pada saat yang sama enggan menunaikan kewajiban tersebut.

Zakat adalah salah satu pilar dalam agama kita. Kalau kita enggan membayar zakat maka itu sama artinya kita tidak menegakkan salah satu pilar di dalamnya, yang bisa juga diartikan membiarkan agama yang kita cintai ini roboh. Dan jika Islam yang sudah diperjuangkan oleh Rasulullah dan para ulama ini roboh maka itu artinya akan segera terjadi kebinasaan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, “Allah tidak akan menerima iman seseorang yang tidak menunaikan zakat, dan tidaklah seseorang itu beriman kecuali dia menunaikan zakatnya.”

Membayar Zakat dan Hubungannya dengan Iman

Iman adalah keyakinan di dalam hati, yang diutarakan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Di sinilah hubungan antara iman dan zakat bisa kita lihat. Kalau seseorang benar-benar beriman maka ia pasti membayarkan zakatnya, sebab itu adalah bukti kesungguhan imannya. Jika tidak, maka iman yang diucapkannya tidak lebih sekadar kata-kata yang tidak bermakna.

Kalau kita cermati, seseorang yang enggan membayarkan zakatnya muncul karena rasa cinta yang berlebihan terhadap harta bendanya. Kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda membutakan hatinya, dan membuatnya lalai bahwa dunia dan isinya yang kita miliki sekarang suatu saat akan kita tinggalkan.

Orang yang terjaga imannya sadar bahwa akhirat itu kekal, sementara dunia ini sementara saja. Itu sebabnya, perasaan cinta terhadap harta benda tidak menghinggapi hatinya. Jangankan untuk membayar zakatnya, uangnya hilang pun mereka tidak terlalu merasa sedih. Sebab mereka tahu, bahkan jiwanya sendiri adalah milik Allah dan suatu saat akan kembali pada-Nya.

“Hubbun dun-yaa ro`su kulli khothi`ah, cinta dunia adalah akar segala masalah”. Betapa banyak pertikaian di dunia ini terjadi akibat orang-orang dilalaikan oleh harta benda. Bahkan belakangan ini, munculnya hoax dan pecahnya perang konon terjadi juga karena hasrat sebagian orang untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya, tanpa memedulikan kebaikan dirinya dan orang lain.

Membayar Zakat Akan Menjaga Kesucian Harta Kita

Menahan zakat tidak akan membawa faedah apa-apa bagi kita. Itu bukan hanya membuktikan kepalsuan iman dan Islam kita tapi juga tidak bisa mempertahankan apalagi menambah jumlah harta benda kita. Sebaliknya, enggan membayarkan zakat justru merupakan awal bagi musnahnya limpahan rezeki yang telah Allah berikan pada kita sekaligus keberkahannya.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis, “Tidak akan binasa harta benda di daratan dan di lautan kecuali dengan menahan pembayaran zakat.”

Mungkin ada baiknya kita renungkan doa Sayyidina Ali berikut, sebuah ungkapan yang mencerminkan kearifannya dalam menempatkan harta benda duniawi di dalam hidupnya. “Alloohummaj’alhaa fii aydiinaa, walaa taj’alhaa fii quluubinaa (Ya Allah, letakkanlah harta benda itu di tanganku, janganlah Kau meletakkannya di hatiku).”

Mengapa Sayyidina Ali memohon pada Allah agar harta benda duniawi diletakkan di tangannya dan bukan di hatinya? Karena tangan adalah simbol kekuasaan dan kendali, sementara hati adalah simbol pusat kekuasaan dan kendali. Harta benda yang ada di dalam genggaman tangan kita akan mudah kita kendalikan untuk tujuan yang baik, tapi jika ada di hati kita maka akan sulit untuk kita arahkan.

Walloohu a’lam.

 

Sumber foto: https://ekonomi.kompas.com

Kabah

Rasulullah dan Keajaiban Menjelang Kelahirannya

Rasulullah dan keajaiban menjelang kelahirannya mungkin tak banyak kita tahu, padahal orang yang mencintainya pasti ingin tahu apa yang terjadi saat itu.

Diutusnya seorang rasul adalah salah satu bukti betapa sayangnya Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dia ingin hamba-hamba-Nya sadar bahwa Dia selalu membimbing mereka dengan adanya rasul di sampingnya.

Sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi), kelahiran Rasulullah sangat dinanti-nanti. Tak hanya oleh manusia, bahkan binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta juga merindukan kehadirannya. Karena itu, tak heran jika ada hal-hal aneh terjadi menjelang kelahirannya.

Baca juga:
Ingin Rumah Tangga Bahagia? Hindari Hal-hal Ini
Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat Untukmu? Ikuti Lima Petunjuk Ini

Hal-hal aneh ini ada kaitannya dengan kondisi alam yang tak wajar. Bagi masyarakat Arab pada masa itu, kejadian ini merupakan sesuatu yang mengherankan. Sebelumnya tak pernah terjadi.
Nah, inilah lima hal aneh yang terjadi menjelang lahirnya Nabi Muhammad saw.

1. Rasulullah dan Keajaiban yang Pertama: Api Majusi Padam

Orang-orang Majusi adalah penyembah api. Api yang mereka sembah selama beratus-ratus tahun itu tak pernah padam. Tapi, menjelang lahirnya Nabi Muhammad saw, api itu padam seketika. Meski mereka berupaya menyalakannya kembali, tetap tidak berhasil.

2. Rasulullah dan Keajaiban yang Kedua: Bintang Besar Bercahaya

Menjelang lahirnya Nabi Muhammad saw, orang-orang Yahudi dan Nasrani melihat bintang besar yang bercahaya sangat terang. Bintang itu tak pernah terlihat sebelumnya di langit Makkah. Karenanya, sebagian mereka berkata, “Nabi penutup zaman telah lahir.”

Mereka berkata demikian karena telah mendapat informasi dari kitab suci mereka bahwa akan lahir seorang nabi akhir zaman yang ditandai dengan munculnya bintang besar.

Ka’bul Akhbar ra berkata: “Saya telah melihat di dalam Taurat bahwa Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada Kaum Musa tentang saat keluarnya Muhammad saw, ‘Sesungguhnya bintang yang telah kamu ketahui itu, bila ia bergerak dari tempatnya, menandakan bahwa Rasulullah saw telah keluar.’

Ketika Rasulullah saw lahir, bintang itu bergerak dan pindah dari dari tempat asalnya. Maka, orang-orang Yahudi dan Nasrani semuanya mengetahui bahwa rasul yang diberitakan Allah itu telah lahir ke dunia, namun mereka merahasiakannya disebabkan kedengkian mereka.” Lihat selengkapnya.

3. Rasulullah dan Keajaiban yang Ketiga: Burung-burung Beterbangan di Langit Makkah

Sebelumnya, tak pernah terlihat burung yang begitu banyak terbang di atas kota Makkah. Tapi, pada hari kelahiran Nabi, entah dari mana burung-burung terlihat berbondong-bondong mengitari kota Makkah. Seakan menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.

4. Rasulullah dan Keajaiban yang Keempat: Pohon Kurma Kering Kembali Berbuah

Dikabarkan dalam Injil tentang tanda-tanda menjelang lahirnya nabi akhir zaman yaitu, “Bahwasanya apabila pohon kurma kering mengeluarkan daun-daunan, maka itu menandakan keluarnya Rasulullah ke dunia.”

Ketika Rasulullah saw lahir, pohon kurma yang kering dan layu menjadi segar kembali, berdaun dan berbuah. Melihat hal itu, orang-orang Nasrani pun mengetahui bahwa Rasul yang dijanjikan Allah di dalam kitab Injil itu telah lahir ke dunia. Tetapi hal itu mereka rahasiakan, disebabkan kedengkian mereka. Lihat selengkapnya.

5. Rasulullah dan Keajaiban yang Kelima: Mata Air Kering Memancar Kembali

Di dalam kitab Zabur diterangkan bahwa kelahiran nabi akhir zaman ditandai, “Ketika mata air yang sudah kalian kenal kering dan tiba-tiba memancarkan air dengan derasnya maka pada saat itulah Nabi Muhammad saw telah lahir ke dunia.”

Itulah lima kejadian aneh menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Ini menjadi bukti betapa mulianya utusan Allah, sampai-sampai alam pun ikut gembira dengan kelahirannya. Lebih lengkap mengenai hal-hal yang terjadi menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw, kita bisa mengunjungi laman berikut ini.

Kejadian-kejadian aneh menjelang lahirnya Nabi Muhammad saw antara lain:

1. Api Majusi padam, setelah beratus-ratus tahun disembah.
2. Bintang besar bercahaya, salah satu tanda kelahiran Nabi Muhammad menurut ahlul kitab.
3. Burung-burung beterbangan di langit Makkah, demi menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw.
4. Pohon kurma kering kembali berbuah, sehingga masyarakat bisa berbondong-bondong memetiknya.
5. Mata air kering memancar kembali, memberikan berkah bagi penduduk di sekitarnya.

shalat tahajud mudah

Tips Bangun Malam untuk Mengerjakan Shalat Tahajud

Tips bangun malam untuk mengerjakan Shalat Tahajud mudah kita temukan di internet. Tapi tetap saja, bangun malam bukan perkara mudah. Banyak orang yang ingin istiqomah Shalat Tahajud, tapi tak sedikit yang mengeluh karena merasa kesulitan. Mata mengantuk, udara dingin, dan tidur yang terlalu lelap menjadi masalah. Adakah tips bangun malam yang mudah kita ikuti?

Pembaca yang baik, pernah tidak kesulitan bangun malam untuk mengerjakan Shalat Tahajud? Padahal sudah bertekad bangun, memasang alarm, dan berpesan kepada teman, tapi tetap saja kita tak terbangun. Kita malas-malasan. Sudah tidur nyenyak, kenapa harus bangun? Begitu nafsu kita berbisik. Apalagi kalau kita kecapaian sepulang kerja. Bangun malam rasanya sangat susah.

Menurut Ustadz Muhammad Arifin Ilham, yang membuat kita malas bangun malam adalah iman kita yang masih lemah, belum mengetahui tatacara Shalat Tahajjud dan keutamaannya, terlalu sibuk dengan urusan duniawi, dan sering berbuat maksiat. Selengkapnya tentang penjelasan beliau seputar masalah ini, Pembaca bisa mengunjungi laman berikut https://goo.gl/dexz9h

Kita sama-sama tahu bahwa Shalat Tahajud sangat dianjurkan. Malah, kita juga pernah membaca ayat yang menjelaskan keutamaannya.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Wa minal laili fatahajjad bihi naafilatal laka ‘asaa ayyab’atsaka robbuka maqoomam mahmuudaa.

“Dan pada sebagian malam hari kerjakanlah Shalat Tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’: 79)

Lalu, bagaimana agar kita bisa dengan mudah bangun malam untuk mengerjakan Shalat Tahajud? Apa tidak ada kiat-kiat tertentu yang bisa kita ikuti?

Pembaca yang baik, jika kita ingin bisa bangun malam untuk mengerjakan Shalat Tahajud, kita bisa bertanya pada orang-orang yang istiqomah mengerjakannya. Namun, jika kita sulit menemukannya, kita bisa membaca kita-kiat mudah bangun malam dalam buku Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud.

     Baca juga:

 

Secara singkat, tips bangun malam untuk mengerjakan Shalat Tahajud menurut buku Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud di antaranya:

Tips Bangun Malam #1: Tidur lebih awal

Tips bangun malam yang pertama adalah tidur lebih awal. Jika kita tidak memiliki aktivitas setelah Shalat Isya, akan lebih baik jika kita bergegas tidur. Dengan tidur lebih awal, kita bisa mudah terbangun di malam hari.

Jika kita biasa tidur pukul 23.00 atau 24.00 WIB, cobalah membiasakan tidur pukul 21.30 atau maksimal 22.00 WIB, lalu bangun pukul 3.00 WIB. Manusia butuh 6-8 jam untuk tidur. Karena itu, sudah cukup rasanya jika waktu tidur kita dari pukul 22.00-3.00 WIB.

“Jika tidak ada aktivitas bermanfaat yang bisa kita kerjakan selepas Isya’, kita dianjurkan segera tidur. Sebab, tidur lebih nyata manfaatnya ketimbang terjaga.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 53)

Tips Bangun Malam #2: Memasang alarm

Sebelum tidur sebaiknya kita memasang alarm pada jam kita ingin bangun malam. Jika tidak cukup sekali, kita bisa memasang alarm berkali-kali, untuk memastikan kita terbangun.

“Alarm bisa membantu kita bangun tidur pada jam-jam yang kita inginkan, misalnya pada sepertiga malam yang terakhir atau pukul 1.00 hingga 4.00 WIB. Dengan memasang alarm, risiko terlambat bangun bisa kita cegah.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 54)

Tips Bangun Malam #3: Tidak makan terlalu banyak sebelum tidur

Tips bangun malam yang pertama adalah tidak makan terlalu kenyang sebelum tidur. Makan terlalu kenyang akan membuat tidur kita terlalu pulas.

Sebaiknya kita mengkonsumsi makanan yang kandungan kalorinya cukup untuk tubuh kita. Di Indonesia, ada rumus tertentu untuk menghitung berapa kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dalam sehari.

Perhitungannya disesuaikan dengan jenis kelamin, usia, berat badan, dan tinggi badan kita. Misalnya, laki-laki usia 19-29 tahun dengan berat badan 60 kg dan tinggi 168 cm membutuhkan energi sebesar 2.725 kkal (kilokalori). Wanita usia 19-29 tahun dengan berat badan 54 kg dan tinggi 159 cm membutuhkan 2.250 kkal.

Jika kalori yang kita butuhkan tiap hari sudah terpenuhi, kita tak perlu lagi mengkonsumsi makanan yang berlebihan, karena akan membuat tidur kita terlalu pulas.

“Menurut Imam Al-Ghazali, terlalu banyak makan akan memadamkan cahaya di dalam hati. Akibatnya kita akan sulit menerima kebenaran dan rasa malas selalu datang saat kita ingin beribadah.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 55)

Tips Bangun Malam #4: Berdoa sebelum tidur

Membaca doa sebelum tidur dapat memudahkan bangun malam. Apalagi jika kita tambah dengan zikir-zikir.

“Apa saja doa dan zikir yang kita bisa baca sebelum tidur? Mari kita ikuti kebiasaan Rasulallah dalam hadis berikut ini: ‘Rapatkan kedua telapak tangan , kemudian tiup dan bacakan Surat Al-Ikhlash, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas. Lalu, dengan kedua telapak tangan itu, usaplah bagian tubuh yang dapat dijangkau. Mulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan’.” (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i)” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 56)

Tips Bangun Malam #5: Segera bangun begitu mendengar bunyi alarm

Agar lebih mudah terbangun, tak ada salahnya kita letakkan alarm di tempat yang dekat dengan telinga kita. Bunyi alarm yang keras akan membuat kita tidak mengantuk lagi.

“Ini sebenarnya berhubungan dengan komitmen kita. Kalau kita memang ingin bangun malam dan mengerjakan Tahajud, kita akan bangun begitu mendengar alarm berbunyi.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 63)

Tips Bangun Malam #6: Mengatur timer AC

Suhu udara yang panas juga bisa mengganggu tidur kita. Karena itu, sebelum tidur kita bisa mengatur timer AC, agar kita terbangun kerena suhu yang panas.

“Untuk membantu kita istiqomah bangun malam, cobalah menyetel timer on/of pada remote AC. Setel waktunya sesuai jam kita ingin bangun dan mengerjakanshalat Tahajud.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 65)

Tips Bangun Malam #7: Mengajak orang-orang terdekat untuk Shalat Tahajud

Nah, kita juga bisa mengajak teman, saudara, atau orangtua kita untuk menjalankan Shalat Tahajud. Kita juga akan merasa lebih bersemangat jika melakukan ibadah bersama-sama.

“Bangun malam untuk mengerjakan shalat tentu butuh motivasi yang besar. Kalau kita merasa motivasi kita masih timbul-tenggelam, tidak ada salahnya kita mengajak teman untuk bersama-sama bangun malam.” (Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud, hal. 67)

Jadi, jika kita ingin mudah bangun malam, kita bisa mengamalkan kiat-kiat berikut.

1. Tidur lebih awal. Sesegera mungkin istirahat jika sudah tidak ada aktif
2. Memasang alarm. Setel alarm dan letakkan di samping tempat tidur kita
3. Tidak makan terlalu banyak sebelum tidur. Biasakan makan sekadarnya saja sebelum tidur
4. Berdoa sebelum tidur. Sebelum tidur sempatkan membaca doa dan zikir
5. Segera bangun begitu mendengar bunyi alarm. Menunda bangun hanya akan menutup kembali mata kita dan menghilangkan semangat kita untuk bangun
6. Mengatur timer AC. Atur timer AC terlebih dulu, baru kita rebahkan badan di tempat tidur
7. Mengajak orang-orang terdekat untuk Shalat Tahajud. Minta orang terdekat yang kita ajak bangun malam untuk membangunkan kita.

ibadah haji

Haji: Tentang Cinta dan Pengorbanan di Dalamnya

Haji merupakan ibadah yang memilik nilai spiritual yang tinggi. Rangkaian ibadah yang dilakukan di dalamnya memiliki makna ketaatan, cinta, dan pengorbanan. Persis seperti yang dilakukan oleh Hajar, ibunda Nabi Ismail, yang berlari-lari kecil dari bukit Safa ke Marwa demi mencari air minum untuk buah hatinya itu.

Dalam haji, kita harus mengindari hal-hal yang dilarang, seperti membunuh binatang, berkata-kata kotor, dan bergaul dengan pasangan. Inilah bukti ketaatan kepada Allah, karena dengan kerelaan hati kita dituntut untuk menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Haji: Ka’bah dan Sejarahnya

Ka’bah merupakan pusat ritual haji. Di sekelilingnya terdapat tempat-tempat yang mulia. Hijir Ismail misalnya. Tempat ini terletak di sebelah utara Ka’bah, bentuknya setengah lingkaran. Melakukan shalat di tempat ini akan mendapat keutamaan tersendiri.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah meminta kepada Rasulullah agar diizinkan untuk shalat di dalam Ka’bah. Nabi kemudian mengajak Aisyah ke Hijir Ismail dan menyuruhnya shalat di sana. Nabi kemudian bersabda bahwa melakukan shalat di Hijir Ismail sama utamanya dengan shalat di dalam Ka’bah.

Salah satu rukun haji yang sangat penting adalah wuquf, yaitu bermalam di Arafah. Ritual haji ini tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Ismail. Di tempat inilah Ismail dibawa oleh Nabi Ibrahim untuk kemudian disembelih, yang ternyata penyembelihan itu tak pernah terjadi, sebab Allah mengganti tubuh Ismail dengan seekor domba.

Allah menetapkan wuquf di Arafah sebagai ungkapan penghormatan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya atas ketaatan dan kesabaran yang mereka tunjukkan.

Di Ka’bah juga terdapat batu yang dinamakan Hajar Aswad. Batu ini terpasang di sudut selatan Ka’bah. Sejarah Hajar Aswad bermula ketika bangunan Ka’bah selesai dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang menurut Nabi Ibrahim ada yang belum sempurna dari bangunan suci tersebut.

Nabi Ibrahim kemudian meminta Nabi Ismail untuk mencarikan sebuah batu sebagai pelengkap bangunan suci itu. Nabi Ismail lantas menemukan Hajar Aswad dan memasangnya di dinding Ka’bah. Sampai saat ini, kita masih bisa melihat Hajar Aswad ini terpasang di dinding Ka’bah dan menjadi tempat yang maqbul untuk memanjatkan doa.

Baca juga:
Haji: Masjidil Haram dan Keutamaannya
Pada perayaan haji, selain di sekeliling Ka’bah, lingkungan Masjidil Haram juga tempat yang memiliki keutamaan yang sangat besar untuk beribadah. Di tempat inilah para peziarah dapat melakukan berbagai ibadah fardhu dan sunah.

Pada masa Nabi, Masjidil Haram merupakan lapangan yang luas, belum ada tembok yang mengelilinginya seperti sekarang. Hanya bangunan biasa tempat umat Islam melaksanakan shalat.

Selain Masjidil Haram, Masjid Nabawi di Madinah juga tempat beribadah yang memiliki keutamaan. Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad setelah beliau dan para sahabat berhijrah dari Makkah.

Berbagai ritual haji yang telah disebutkan di atas merupakan simbol ketaatan, pengorbanan dan penghormatan kepada para nabi dan pengingat terhadap peristiwa-peristiwa besar yang mereka alami. Sebagai umat Nabi Muhammad, sudah selayaknya kita mengambil pelajaran dan keteladanan dari mereka.

cinta yang hakiki impian setiap manusia

Aku Pernah Kecewa

Aku pernah kecewa…

Aku pernah jatuh cinta melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku pernah mempercayai lebih dari mempercayai diri sendiri. Aku pernah merasa memiliki pintu kebahagiaan yang selalu aku harap-harapkan.

Aku pernah melalui hari yang entah bagaimana melahirkan hubungan yang lantas menjelma komitmen satu sama lain. Padahal, agama tak mengizinkannya, negara pun tak mengesahkannya. Tak ada catatan, hanya perjanjian dua lisan tanpa ada jaminan.

Dan benar saja, kesepakatan yang terucap dari lisan manusia tak sepenuhnya dapat dijaga dengan sempurna.

Tapi, semua itu sudah berlalu. Hilang. Lenyap. Entah dengan apa dan bagaimana ceritanya, yang aku tahu hanya duka yang tertinggal, air mata yang mengering, dan kepingan hati yang terserak.

Ya, aku pernah kecewa…

Pada satu titik dalam hidupku, aku menemukan ketenangan yang berbeda dari biasanya. Sederhana, aku mendapatkannya melalui sujud yang memang tak biasa aku lakukan. Waktunya tengah malam, di tempat yang hening, dengan kesunyian yang luar biasa. Entah mengapa nuraniku menuntun untuk menyegarkan tubuh dengan air wudhu dan bersimpuh pada Dia yang selalu mendengarkan segala keluh.

Aku tenang, aku nyaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan menangisi luka yang sudah terlewat. Tapi menyesali langkah yang tak sempurna dalam mematuhi-Nya.

Aku lupa bahwa berharap selain pada-Nya hanya meninggalkan luka.

Aku lupa bahwa mencintai siapa pun atau apa pun dengan berlebihan tak pernah ada baiknya.

Aku juga lupa bahwa ada Dia yang tak pernah meninggalkanku, pintu kebahagiaanku, dan sebaik-baiknya pengharapanku.

Sekali lagi, aku pernah kecewa…

Tapi, aku bersyukur telah berhasil melaluinya. Meski dengan tertatih, meski rasa pesimis menghantui, karena tak yakin akan berhasil mengikhlaskannya. But see, Allah membantuku. Allah ingin menyelamatkanku dari dosa besar, dari kesalahan yang tak seharusnya aku lakukan lagi.

Allah ingin aku menitipkan hati pada orang yang baik, seseorang yang tak hanya menawarkan “kesepakatan lisan” tapi juga mempertanggungjawabkannya di hadapan keluarga, negara, agama, dan semesta.

Karena aku percaya, setiap rasa pasti ada batasnya, dan setiap kita pasti ada jodohnya.

Janji Allah tak mungkin diingkari, bukan?

 

Oleh: Arum Listyowati Suprobo (penulis “Setiap Kita Ada Batasnya, Setiap Kita Ada Jodohnya”)

doa adalah cara untuk mengajak allah menyelesaikan masalah kita

Doa dan Ikhtiar Adalah Kunci Terwujudnya Harapan

Doa bisa menyelesaikan hal-hal yang tak bisa selesai dengan ikhtiar.

Allah SWT menganugerahkan kepada hamba-Nya yang beriman senjata ampuh berupa doa. Dengannya seorang hamba dapat mengubah yang sukar menjadi mudah, samar menjadi terang, gundah menjadi ceria. Namun, banyak yang masih belum memahami fungsinya secara baik.

Sejatinya ketika seseorang berdoa, ia akan merasa dekat dengan Allah. Ketika kita dekat dengan Allah, menjalankan perintah-Nya, dengan sendirinya Dia akan mengabulkan apa pun yang kita minta.

Baca juga:
Doain Aja…
Lima Doa Ini Akan Membuat Kita Dikejar-kejar Rezeki

Kita bisa minta kepada Allah dimudahkan rezeki, dianugerahi anak yang saleh dan saleha, bisa juga meminta jodoh bagi muda-mudi yang lama jomblo agar mendapatkan jodoh.

Doa Kita Selalu Dikabulkan

Bukankah Allah mengabulkan permohonan setiap hamba yang dekat dengan-Nya? Jadi, mari biasakan memohon, niscaya Allah akan mengabulkannya. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis, Allah akan mengabulkan permohonan orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Itu sebabnya, kita sebagai seorang hamba yang lemah, sebaiknya tidak melulu mengandalkan akal, tidak terlalu mengandalkan kekuatan. Tidak salah memang menggunakan akal dan kekuatan, tapi apakah itu cukup? Tidak, bukan? Doalah yang melengkapi itu semua.

Dalam sebuah riwayat, diceritakan seorang sahabat turun dari masjid tanpa berdoa terlebih dahulu usai mengerjakan shalat. Rasulullah menegurnya, “Apakah kau sama sekali tidak memiliki kebutuhan kepada Allah? Sahabat itu pun terperanjat dan mulai memahami arti doa. Setelah itu, ia menjadi rajin memohon pada Allah. “Bahkan,” katanya, “garam pun aku minta kepada-Nya.”

Kita bukan siapa-siapa di mata Allah. Kita makhluk serba kekurangan dan lemah. Karena itu, sudah sepantasnya kita selalu memohon pada-Nya. Al-Qur’an juga banyak bercerita tentang orang yang dikabulkan doanya. Contoh, permohonan tiga orang yang terkurung dalam goa, ketika sedang berteduh karena hujan. Tiba-tiba mulut goa tertutup oleh batu besar. Tapi berkat doanya, Allah menyelamatkan ketiga orang itu.

Manfaat Doa

Doa memiliki banyak manfaat. Di antaranya menjadi simbol kedekatan kepada Allah. Dalam doa kita memuji, mengagungkan, bercakap-cakap dan memohon pertolongan kepada-Nya. Semakin banyak doa yang kita panjatkan, semakin dekat pula kita kepada-Nya. Bukankah jika kita dekat kepada Allah, semua yang kita minta akan dikabulkan?

Secara logika, jika kita dekat dengan seseorang, entah itu keluarga, teman, guru, tetangga atau yang lainnya, pasti kita akan diperhatikan oleh mereka. Begitu pun jika kita dekat dan selalu berdoa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah, “Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti Aku akan meperkenankan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah Aku akan masuk neraka jahanam dengan cara yang hina dan dina. (QS. Al-Mukmin: 60)

Demikian besar manfaat berdoa, sehingga mereka yang tidak berdoa Allah sebut sebagai orang-orang yang sombong. Orang seperti ini akan Allah masukkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina. Oleh karena itu, jangan lupa berdoa, apalagi doa itu tak memerlukan banyak tenaga. Cukup tengadahkan tangan dan bersihkan hati, mintalah kepada Dzat Yang Maha Pemberi.

Secara ringkas, berikut manfaat berdoa yang perlu kita ketahui.

  1. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  2. Menghadapkan wajah kepada Allah dengan penuh ketundukan.
  3. Mengajukan ‘proposal’ berisi permohonan bantuan kepada Allah Yang Maha Memiliki segalanya.
  4. Mendapat rahmat-Nya.
  5. Sebagai investasi di akhirat kelak.
  6. Menyukai apa yang disukai Allah.
  7. Meraih sesuatu yang pasti, karena pada waktu-waktu tertentu, Allah langsung mengabulkan doa sorang hamba.
  8. Pelindung dari segala bencana.
  9. Meringankan beban dampak bencana.
  10. Sebagai perisai dari bahaya.
  11. Menolak tipu daya musuh, menghilangkan kegaduhan, serta memudahkan terkabulnya sesuatu yang sukar.

 

selamat hari raya idul fitri

Pin It on Pinterest