jodoh Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
500
archive,tag,tag-jodoh,tag-500,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Relakan. Sebab bukan dia yang sejatinya pergi, tapi Allah yang menjauhkan.

Allah tak ingin kita salah mengartikan cinta. Yang seharusnya mendekatkan pada-Nya, malah kita jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kita.

Memang berat ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Namun, itu lebih baik daripada kita mendapatkan luka-luka yang sama jika terus bersamanya. Relakan, itu lebih baik bagi kita.

Allah tak ingin perasaan kita dipermainkan, sebab itu Dia tak mengizinkan kita pacaran. Karena yang serius tak akan mengulur waktu untuk menempuh hidup baru. Dia pasti menyegerakan jalinan kasih yang sah dan diridhai oleh-Nya.

Allah tak ingin hati kita disakiti. Walau kadang kita merasa dicintai, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Sebab, tak mungkin ada manisnya cinta tanpa ridha dari Yang Mahakuasa. Tak akan ada setia bagi cinta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Relakan …

Biarkan hati tenang tanpanya.

Dulu, malammu indah dengannya. Saling bertukar pesan. Saling berkabar. Namun, Allah punya yang lebih baik dari itu. Indahnya doa tak pernah dikalahkan oleh indahnya cinta tanpa izin-Nya.

Dulu, ketika bertemu dengannya mungkin senyummu tak bisa berbohong. Itu wajar, banyak yang mengalaminya. Namun, Allah punya yang lebih indah dari itu. Menundukkan pandangan lebih baik dibanding melampiaskan pada yang belum Allah izinkan.

Kisahmu bersamanya akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Kau tak mungkin dihantui sepi. Allah selalu ada untukmu, di siang ataupun malam hari.

Allah Mahabijaksana dengan membuatmu terpisah darinya. Bukan untuk membuat salah satu di antara kalian kecewa, tapi Dia punya cara lain yang bisa membuatmu dan dia bahagia.

Kalaupun memang dia yang Allah takdirkan untukmu, akan ada waktu dia kembali padamu. Sebagai orang yang berbeda, sebagai orang yang lebih taat pada-Nya.

Tak perlu bersedih karena kepergiannya. Sebab, kepergian orang yang belum Allah izinkan bersama jauh lebih baik daripada dia tetap bersamamu tapi selalu menumbuhkan luka yang baru.

Saatnya nanti duduk pun jomblo ada yang menemani

Jomblo dan Pertanyaan “Kamu Kapan?”

Jomblo dan pertanyaan “Kamu kapan?” adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sepintar apa pun ia menghindarinya, seseorang akan menemukannya dan menyampaikan pertanyaan itu juga.

Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) seperti kita-kita ini adalah lebaran dan kondangan. Alasannya sepele, tapi sangat mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi sanak famili kita untuk bertanya, “Kamu kapan?”

          Baca juga:
          Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat untukmu? Ikuti Petunjuk Ini
          Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan oleh Pria Saleh

Pertanyaan itu atau sejenisnya ternyata hanyalah pembuka bagi sebuah “bencana” yang lebih besar dalam kehidupan seorang jomblo di dunia fana ini. Selesai kita jawab, pertanyaan tersebut tak berhenti begitu saja, tapi segera berubah menjadi godaan, yang lama-lama terdengar seperti ledekan, sebelum kemudian fix menjadi “bully-an”.

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Tak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan,  itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Shalat sunah, misalnya, atau umrah.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda (dan sebagian besar mereka memang jomblo), dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini adalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Jomblo Harus Tahu Ini

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan lain waktu, sementara tukang parkir kita lupakan saja. Buat kamu yang masih jomblo, simak baik-baik bagian ini, ya!

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini kita tak sendiri, tapi sudah ada jodohnya. Hanya saja tak seorang pun tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun tak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai bibit-bibit ibadah. Kita memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah dari bibir jombloers yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum menemukan calon pendampingnya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah kebingungan kita, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini, ada seberkas cahaya yang bisa membimbing kita menjalani hidup, agar kita tak salah jalan. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib kita lakukan.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk Dia. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar, atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Jomblo dan Prasangka Baik

Berbaik sangka pada Allah mungkin tak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita dan sekonyong-konyong berkata “I love you, will you marry me?”. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan menyuntikkan energi positif ke tiap mikro milimeter urat sabar para jomblo.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar menyerah dan putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan tidak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu cari pasangan).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian yang tulus pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka: para penanya, penggoda, peledek, atau pem-bully itu untuk bersabar. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan? Mereka harus bisa bersabar menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs masih kemping di dataran tinggi Tibet atau asyik sunbathing di tengah-tengah gurun Sahara sana.

“Aku saja yang menjalani bisa bersabar, masak kamu nggak, sih?”

 

Gambar/Foto dari www.pixabay.com

Menjemput Jodoh dengan Istikharah

Menjemput jodoh yang didambakan tentu bukan perkara mudah. Dan meski berikhtiar semampunya serta mengerjakan shalat Istikharah secara istiqamah sudah dikerjakan, boleh jadi harapan untuk menemukan jodoh itu belum menjelma sebuah kenyataan. Kita masih diharuskan bersabar dan berprasangka baik pada Allah. Bagaimanapun Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita ketimbang diri kita sendiri.

Seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw, ada empat faktor yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih pasangan, yaitu (1) harta, (2) keturunan, (3) kecantikan/ketampanan, dan (4) agamanya. Kriteria ini secara keseluruhan telah mencukupi bagi seseorang untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa arrahmah.

Akan tetapi, mendapatkan keempat kriteria itu pada calon pasangan ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Sebab, bisa dikatakan orang yang memenuhi keempat kriteria itu jumlahnya sangat sedikit. Selain itu, interpretasi terhadap harta, kecantikan, keturunan, dan agama bagaimanapun berbeda-beda.

Jodohku, Agamamu Adalah yang Utama

Itu sebabnya, Rasulullah tidak hanya menentukan kriteria calon pasangan yang ideal saja tapi juga memberikan banyak pengecualian dan himbauan berdasarkan keempat kriteria tersebut. Di antaranya, agar kita mengutamakan agamanya dan jangan sampai terkecoh oleh kecantikan/ketampanan dan hartanya.

Selain itu, interpretasi terhadap harta tidak melulu soal kekayaan yang berlimpah, kecantikan tidak harus seperti model, keturunan tidak hanya karena keturunan bangsawan, dan agama tidak sebatas agama menurut definisi umum. Ada hal lain yang mesti kita pertimbangkan dan kita jadikan pertimbangan.

Islam sebagai agama yang hanif, selain menentukan kriteria sekaligus interpretasi di atas juga mengajarkan kita untuk melakukan shalat Istikharah. Shalat khusus untuk mencari jawaban dari Allah tentang jodoh yang terbaik. Shalat ini perlu kita kerjakan bersamaan dengan ikhtiar yang sedang kita jalankan.

Tujuan shalat Istikharah adalah untuk memberikan kemantapan hati, menemukan ketenangan, dan mengambil jarak dari masalah. Yakni agar Allah memberikan ketetapan kepada hati dari kebimbangan dan keraguan, memberikan ketenangan dan pencerahan, dan menjauhkan dari permasalahan, baik yang diduga maupun yang tidak terduga.

Melalui shalat Istikharah, kita akan mampu mengurai “matematika” jodoh dengan pertolongan dan kehendak Allah. Sebab, memilih jodoh ideal itu lebih rumit daripada memilih ke mana kita melanjutkan sekolah. Kerumitan ini bisa diakibatkan oleh faktor pendidikan, idealisme, keluarga, kepribadian, karakter, dan banyak hal yang lainnya.

Di dalam buku “Istikharah Cinta: Cara Cerdas Mendapatkan Jodoh Ideal” karya M. Shodiq Mustika, dkk yang diterbitkan QultumMedia ini, banyak hal tentang masalah di atas yang dibahas. Buku ini bisa dibilang rujukan yang pas dan cerdas bagaimana memilih calon pasangan hidup.

cinta yang hakiki impian setiap manusia

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

Cinta yang hakiki akan menjadi sumber kekuatan kita, bukan malah menyeret kita pada berbagai masalah dan kesulitan.

Siapa pun yang merasakan jatuh cinta pasti juga berharap cinta tersebut adalah cinta yang hakiki, yang akan diterima dan disambut oleh orang yang dicintai. Tapi, bagaimana jika cinta itu ditolak, sehingga bertepuk sebelah tangan? Pasti ini sangat menyedihkan.

Sebagai makhluk yang diberi anugerah berupa hati dari Allah SWT, cinta memang tak pernah sepi dari kehidupan manusia. Cinta tidak mengenal tingkatan ekonomi dan sosial. Kita terlahir ke dunia ini dan bisa tumbuh berkembang juga karena cinta.

Cinta yang Hakiki: Apa Maknanya?

Namun, apakah selama ini kita sudah tahu cinta yang hakiki itu seperti apa?

Beragam orang menafsirkan cinta. Kata itu sendiri telah banyak dipakai dalam banyak konteks, sehingga banyak dan beragam pula makna yang lahir darinya. Sudut pandang yang salah terhadap cinta yang hakiki bisa mengakibatkan orang terjerumus dalam kehinaan dan kesesatan.

Dalam Islam, cinta sejati atau cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang bukan selain kepada-Nya (makhluk) adalah cinta yang bisa diakhirkan, sebab itu adalah cinta yang nisbi. Makhluk memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, sehingga tingkatannya jauh di bawah Dia Yang Mahasempurna.

Selain itu, cinta memiliki kekuatan dahsyat yang luar biasa. Beragam cara dilakukan banyak orang untuk mendapatkan cinta yang diinginkannya, syukur-syukur itu adalah cinta yang hakiki. Cinta yang hakiki mampu mendorong beban yang berat, meluluhkan hati yang keras, dan melecut semangat pemiliknya.

Kita tahu, betapa besar pengorbanan orangtua karena cinta pada anak-anaknya. Betapa dahsyatnya semangat para pejuang yang rela mengorbankan harta dan nyawa demi cinta pada tanah air dan kehormatannya.

Dalam meraih cinta sejati, Allah telah memberikan banyak media, salah satunya melalui puasa. Puasa memiliki keistimewaan daripada ibadah-ibadah lainnya. Puasa hanya dikhususkan untuk Allah dan Allah pula yang akan membalasnya. Oleh sebab itu, pantas saja puasa selalu dilakukan oleh para nabi dan umat terdahulu.

Selanjutnya, bolehkah kita berpuasa demi mendapatkan cinta seseorang? Sebuah pertanyaan yang menarik.

Di dalam buku Puasa Cinta; Meraih Jodoh & Cinta Sejati yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Hadi Yasin, kita akan menemukan penjelasan tentangnya. Jika kita telah meraih cinta yang hakiki itu, kita pun akan bisa meraih cinta yang lainnya, sebab tak ada sesuatu pun yang luput dari penguasaan Allah Yang Maha Mencintai.

Di dalam buku yang diterbitkan QultumMedia ini dijelaskan pula bagaimana hubungan puasa dan jodoh, apa saja rahasia puasa yang bisa kita peroleh guna meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, hingga titik masalah dan solusi hubungan cinta di antara manusia.

pasangan ideal harus ditemukan

Pasangan Ideal Harus Kita Cari, Tak Bisa Hanya Dinanti

Pasangan ideal tak ada yang seperti putri-putri di negeri dongeng, yang kecantikannya seakan abadi dan satu-satunya yang tak mereka miliki hanya kekurangan.

Memiliki pasangan ideal adalah salah satu di antara tiga kunci untuk meraih surga kebahagiaan. Ideal di sini terdiri dari beberapa kriteria. Terkadang, masing-masing memiliki kriteria khusus yang berbeda dengan orang lain.

Dalam Islam, kriteria yang paling utama tentu saja seiman dan saleh atau saleha. Pasalnya, jika seseorang memilih pasangan yang seagama tapi tidak baik (tidak saleh/salehah), rumah tangga yang dibina tidak akan menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Bahkan itu bisa mengakibatkan jatuh ke jurang fitnah dan ketidakharmonisan.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Mengapa Agamanya Harus Baik?

Seseorang yang baik agamanya akan memuliakan pasangannya, tidak akan menzaliminya ketika sedang marah dan emosi. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. Ia berkonsultasi pada Hasan mengenai pasangan ideal untuk anak putrinya.

“Sudah banyak laki-laki yang datang meminang putriku. Menurut Anda, dengan siapa aku nikahkan putriku itu?” tanya laki-laki itu.

Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkanlah dia dengan seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Sebab, jika dia mencintai putri Anda, dia akan memuliakannya. Dan jika dia marah atau benci pada putri Anda, dia tidak akan menzaliminya.”

Setelah kriteria itu terpenuhi, kita akan beranjak pada kriteria lanjutannya. Kriteria lanjutan ini, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kriteria khusus. Kriteria suami ideal adalah lemah lembut dan penyayang, kuat dan amanah, mampu memberikan nafkah, bertanggung jawab, dan sepadan. Sedangkan pasangan istri yang ideal adalah sehat rahimnya, mencintai sang suami, masih gadis, cantik, berasal dari keturunan yang mulia, dan selalu menjaga kesuciannya (‘afifah).

Masalahnya, bagaimana cara untuk mendapatkan seluruh kriteria tersebut? Apa bukti kebahagiaan yang dijanjikan jika kriteria-kriteria itu telah terpenuhi? H. Amru Harahap, Lc., M.S.I memiliki jawabannya detail di dalam bukunya, Ikhtiar Cinta, ini. Ia memberikan berbagai kiat dan strategi untuk mendapatkan pasangan ideal yang menjadi impian setiap orang.

Tak hanya itu, buku terbitan QultumMedia ini dilengkapi pula dengan tanya-jawab seputar perjodohan, sehingga Anda bisa langsung mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Sebagai tambahan, penulis juga melengkapinya dengan doa-doa agar pasangan impian segera hadir dalam hidup kita.

 

shalat istikharah membantu kita menemukan jodoh impian

Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Jodoh impian? Bagaimana mengenalinya? Bagaimana pula menemukannya?

Kita mungkin sering membayangkan siapa yang akan menjadi jodoh impian kita nanti. Mulai tetangga kita yang cantik, teman sekelas yang menjadi rebutan, sampai artis ternama yang sering diberitakan. Nah, buat yang ingin tahu siapa jodoh yang tepat untuknya, coba deh ikuti lima petunjuk ini.

Memiliki pasangan hidup adalah keinginan setiap orang. Ketika dewasa, laki-laki dan perempuan akan memikirkan siapa yang menjadi pasangan hidupnya nanti. Kadang, ada yang sampai menetapkan kriteria-kriteria tertentu. Apakah Pembaca juga demikian?

Tak apa, ini wajar, kok. Sebab, memilih pasangan hidup tak seperti memilih baju atau perhiasan. Ketika kita sudah tidak suka, kita bisa menjualnya kembali atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan.

Pasangan hidup akan menemani kita sampai tua. Merawat, menyayangi, dan mengasihi kita. Karenanya, sudah seharusnya kita mencari orang yang tepat. Orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sayangnya, kita kadang masih bingung dalam memilih jodoh impian. Laki-laki seperti apa yang tepat untuk kita, atau perempuan yang bagaimana yang pantas mendampingi kita?

Baca juga:
Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan Oleh Pria Saleh:
Ingin Rumah Tangga Bahagia? Hindari Hal-hal Ini:

Tapi, tak perlu khawatir. Bukankah kita diajarkan oleh Rasulullah untuk memilih pasangan yang baik agamanya? Di samping hal-hal lain, seperti memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan memiliki harta yang melimpah, agama adalah yang utama.

“Adalah fitrah seorang Muslimah untuk menikah dengan laki-laki kaya, memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan tampan. Itu nggak salah. Tapi, jangan dilupakan, kualitas agamanya harus tetap dinomorsatukan” (Halaqah Cinta, h. 257)

Jadi, Bagaimana Mengenali Sekaligus Menemukan Jodoh Impian Itu?

Setelah kita menentukan kriteria tersebut, bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang memenuhi kriteria itu? Berikut langkah-langkah yang perlu kita lakukan.

1.    Perbaiki Niat
Niat yang sungguh-sungguh akan memudahkan kita untuk mengenali dan menemukan jodoh impian yang tepat. Harus ada keseriusan dan niat semata-mata ingin menjalankan sunah Rasulullah, yaitu untuk memiliki keturunan.

2.    Ikhtiar
Tak cukup hanya memasang niat. Kita juga harus berikhtiar mencari jodoh impian kita. Jika masih malu-malu, kita bisa minta bantuan teman untuk mengenalkan kita pada orang yang kita sukai, atau kita bisa meminta teman untuk mengenalkan kita dengan orang yang baik.

3.    Istikharah
Jika kita sudah menemukan orang yang menurut kita baik, jangan lupa beristikharah. Kita minta petunjuk pada Allah, apakah pilihan kita ini tepat untuk kita, untuk dunia dan akhirat kita? Persis seperti doa yang kita panjatkan ketika Shalat Istikharah. Lihat: Penuntun Mengerjakan Shalat Istikharah, h. 16.

4.    Utarakan Keinginan Kita
Jika Allah sudah memberikan jawaban atas Istikharah kita, utarakan kepada orang terdekat kita. Bisa ayah, ibu, atau saudara kita, agar niat baik untuk menikahi pilihan kita itu diridhai juga oleh mereka. Sampaikan bahwa kita ingin meminangnya.

5.    Nikahi Karena Allah
Nikahilah pilihan kita semata-mata karena Allah. Allah akan memberikan keberkahan pada pasangan yang menikah dengan didasari cinta kepada-Nya. Yang bertujuan untuk menjalankan sunah Rasul-Nya, agar melahirkan generasi-generasi yang saleh dan saleha.

Nah, inilah yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan pasangan hidup yang tepat. Melibatkan Allah dalam semua urusan kita adalah sebuah keharusan. Dengan begitu, kita tak perlu ragu lagi untuk memilih pasangan hidup.

 

Gambar/foto dari www.pixabay.com

cinta yang hakiki impian setiap manusia

Aku Pernah Kecewa

Aku pernah kecewa…

Aku pernah jatuh cinta melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku pernah mempercayai lebih dari mempercayai diri sendiri. Aku pernah merasa memiliki pintu kebahagiaan yang selalu aku harap-harapkan.

Aku pernah melalui hari yang entah bagaimana melahirkan hubungan yang lantas menjelma komitmen satu sama lain. Padahal, agama tak mengizinkannya, negara pun tak mengesahkannya. Tak ada catatan, hanya perjanjian dua lisan tanpa ada jaminan.

Dan benar saja, kesepakatan yang terucap dari lisan manusia tak sepenuhnya dapat dijaga dengan sempurna.

Tapi, semua itu sudah berlalu. Hilang. Lenyap. Entah dengan apa dan bagaimana ceritanya, yang aku tahu hanya duka yang tertinggal, air mata yang mengering, dan kepingan hati yang terserak.

Ya, aku pernah kecewa…

Pada satu titik dalam hidupku, aku menemukan ketenangan yang berbeda dari biasanya. Sederhana, aku mendapatkannya melalui sujud yang memang tak biasa aku lakukan. Waktunya tengah malam, di tempat yang hening, dengan kesunyian yang luar biasa. Entah mengapa nuraniku menuntun untuk menyegarkan tubuh dengan air wudhu dan bersimpuh pada Dia yang selalu mendengarkan segala keluh.

Aku tenang, aku nyaman, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan menangisi luka yang sudah terlewat. Tapi menyesali langkah yang tak sempurna dalam mematuhi-Nya.

Aku lupa bahwa berharap selain pada-Nya hanya meninggalkan luka.

Aku lupa bahwa mencintai siapa pun atau apa pun dengan berlebihan tak pernah ada baiknya.

Aku juga lupa bahwa ada Dia yang tak pernah meninggalkanku, pintu kebahagiaanku, dan sebaik-baiknya pengharapanku.

Sekali lagi, aku pernah kecewa…

Tapi, aku bersyukur telah berhasil melaluinya. Meski dengan tertatih, meski rasa pesimis menghantui, karena tak yakin akan berhasil mengikhlaskannya. But see, Allah membantuku. Allah ingin menyelamatkanku dari dosa besar, dari kesalahan yang tak seharusnya aku lakukan lagi.

Allah ingin aku menitipkan hati pada orang yang baik, seseorang yang tak hanya menawarkan “kesepakatan lisan” tapi juga mempertanggungjawabkannya di hadapan keluarga, negara, agama, dan semesta.

Karena aku percaya, setiap rasa pasti ada batasnya, dan setiap kita pasti ada jodohnya.

Janji Allah tak mungkin diingkari, bukan?

 

Oleh: Arum Listyowati Suprobo (penulis “Setiap Kita Ada Batasnya, Setiap Kita Ada Jodohnya”)

kesetiaan adalah kunci

Jodoh Terbaik dan Janji Allah Menciptakan Pendamping untuk Kita

Jodoh terbaik tak bisa hanya ditunggu kedatangannya. Kita perlu menjemputnya. Begitu pula cinta, rasa terindah yang Allah titipkan pada hati setiap insan. Cinta ibarat pohon, jika kita sabar merawatnya, pohon itu akan tumbuh besar dan kuat.

Tak perlu terburu-buru menafsirkan cinta, tak perlu juga berkejaran dengan waktu untuk merasakannya. Sebab, cinta bukan hanya tentang bagaimana perasaan itu muncul tapi juga bagaimana perasaan itu tetap utuh.

Di balik kata ‘cinta’ yang sangat sederhana itu terkandung makna yang dalam. Banyak orang yang terlena karenanya, banyak pula yang menghalalkan segala cara untuk dapat merasakannya. Tak jarang mereka menangis karena cinta, kecewa karena cinta, dan berharap karena cinta.

Tak dapat dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan kecil mengenai cinta sering mengusik pikiran kita. Termasuk ini: ke manakah kita akan pergi selepas banyaknya rasa yang pernah singgah di hati kita? Akankah penantian panjang ini berlabuh pada seseorang yang tepat? Mungkinkah kita dipersatukan dengan seseorang yang telah lama kita rindukan kehadirannya?

Hanya Allah pemegang jawaban bagi segala gundah yang kita rasakan. Kita hanya perlu bersabar, berdoa, dan tentu saja terus berikhtiar.

Jodoh Terbaik Sudah Ada yang Menentukan

Tetaplah berbaik sangka pada Allah, serahkanlah semuanya pada Allah. Percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita di waktu yang tepat. Sebab, seindah-indahnya rencana yang telah kita rancang, rencana Allah adalah yang terbaik untuk kita jalankan.

Sebelum penantian ini berlabuh pada hati yang kita dambakan, kira-kira apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengisi kekosongan dan memantapkan pilihan? Yuk, kita ikuti tip-tip berikut.

  1. Perbaiki hati.

Pertama, yuk tanya lagi ke hati kita. Apa tujuan kita menikah? Kenapa kita ingin segera menikah? Apakah benar ingin menjaga kehormatan, atau hanya ikut-ikutan teman?

Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya. Maka, mari menata hati kita agar dapat melakukan segala sesuatu semata-mata demi beribadah kepada-Nya, termasuk menikah.

  1. Karena ia bisa berasal dari mana saja, jagalah akhlak kita di mana pun kita berada.

Kita tak pernah tahu, dari mana jodoh terbaik kita datang dan kapan Allah mempertemukan kita dengannya. Kita tentu tak mau calon pendamping berpikir ulang untuk mendekati kita, hanya karena akhlak kita yang kurang baik.

Jadi diri sendiri itu suatu keharusan, tapi bukan berarti kita boleh bersikap seenaknya dan semau sendiri. Maka dari itu, yuk perbaiki terus akhlak kita agar kelak yang menjadi pendamping kita adalah orang yang memiliki akhlak yang sama mulianya dengan kita.

  1. Teruslah memantaskan diri, karena jodoh terbaik kita juga sedang mempersiapkan dirinya.

Ingat janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

Yuk, selalu berusaha memantaskan diri, lebih sering datang ke majelis-majelis ilmu dan bergabung dengan komunitas-komunitas positif yang lainnya. Percayalah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya.

  1. Bekali diri dengan ilmu, karena kelak keluarga kita adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita.

Menikah itu ibarat membangun bahtera yang siap berlayar di tengah lautan luas. Ketika berlayar, bahtera itu akan mengarungi samudera kehidupan yang mempunyai berbagai kemungkinan. Kadang ombaknya tenang, tapi kadang membahayakan.

Pertanyaan kita, apakah bahtera kita sudah siap menghadapi itu semua? Nahkoda kapal harus siap kapan pun rintangan menghadang. Begitu pula kita yang sedang menanti pasangan yang kita idam-idamkan. Persiapkan diri dengan baik, agar kita berhasil mengarungi samudera kehidupan dalam bahtera rumah tangga.

  1. Jaga pikiran agar tetap positif.

Kita harus ingat bahwa Allah selalu mengikuti prasangka hamba-Nya. Kalau hati kita berburuk sangka pada-Nya, bisa jadi Dia mengikuti prasangka kita itu. Jadi, jika jodoh terbaik tak kunjung datang, ubah pola pikir kita dan mulailah berpikir positif tentangnya.

Menanti jodoh itu banyak sisi positifnya. Kita bisa punya lebih banyak waktu untuk menambah ilmu agama, membahagiakan kedua orangtua, dan memperbaiki diri.

Nah, itulah beberapa tip yang dapat kita lakukan saat menanti jodoh terbaik. Semoga kita semakin yakin bahwa ikhtiar dan doa-doa kita suatu saat akan berakhir pengabulan dari Allah SWT. Amin.

 

Sumber foto: https://pixabay.com/en/ring-wedding-love-bible-wed-2407552/

jodoh impian

Jodoh Impian: Adakah Doa Khusus untuk Mendekatkannya?

Jodoh impian konon salah satu dari beberapa masalah yang menjadi misteri Ilahi. Mungkin ada benarnya, tapi bukan berarti kita hanya bisa pasrah begitu saja jika ia tak segera datang.

Sudah bertahun-tahun memanjatkan doa agar diberi pasangan hidup tetapi belum juga terjawab? Nah, jangan-jangan ada yang keliru dengan cara berdoa kita. Mari belajar kembali cara berdoa yang sesuai adab menurut Islam. Ingat, Allah selalu menjawab permohonan umat-Nya.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Berdoa itu bagian dari ibadah. Seperti kita ketahui, manusia di muka bumi memiliki kewajiban beribadah kepada Allah. Tengoklah bacaan-bacaan di dalam shalat, semua adalah pujian kepada Allah dan mengandung banyak permohonan pada-Nya.

Yang terpenting, semua berangkat dari iman kepada Sang Pencipta. Memang, berdoa saja tidak cukup, perlu diiringi ikhtiar. Untuk itu, jangan lelah berusaha dan berdoa.

Jodoh Impian Datang, Tak Lama Lagi!

Setidaknya ada dua hal yang wajib kita lakukan sebelum berdoa. Pertama, menjauhi makanan haram. Hati yang kotor karena berbagai maksiat atau jiwa yang tak bersih dari perkara haram akan menjadi penghalang terkabulnya doa.

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang selama 40 hari hanya memakan makanan yang halal, Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya.” Dalam hadist yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa ingin doanya dikabulkan oleh Allah maka makanan dan pekerjaannya harus halal.”

Kedua, berbaik sangka kepada Allah. Berbaik sangka atau berpikiran positif kepada Sang Pencipta wajib hukumnya. Pikiran positif adalah awal yang baik untuk memanjatkan doa. Diriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman, “Aku sebagaimana hamba-Ku menyangka diri-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”

Selain kedua hal di atas, memperhatikan kekhusyukan saat berdoa juga penting. Sebab berdoa memerlukan ketenangan, kerendahhatian, dan fokus. Saat seseorang merapalkan doa dengan tergesa-gesa dan menyepelekannya, jangan berharap doa tersebut akan sampai ke ‘langit.’

Jika Anda sedang mendambakan seorang pasangan hidup, ikuti syarat-syarat di atas. Dan berdoalah dengan khusuk. Berikut contoh doanya.

Robbi laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waaritsiin.

(Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.)

Robbi hablii milladunka zaujatan thoyyibah akhtubuhaa wa atazawwaju bihaa wa takuunnu shoohibatan lii fid diini wad du-nyaa wal aakhiroh.

(Ya Rabb, berikanlah kepadaku istri/suami (disesuaikan dengan permintaan) yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi, dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat.)

***

Selengkapnya, pengetahuan seputar doa, seperti alasan-alasan harus berdoa, tatacara berdoa, waktu yang tepat untuk berdoa, dan apa saja doa-doa yang tidak dikabulkan bisa simak lebih lanjut di dalam buku Jangan Lelah Berdoa! karya Nasrudin Abd. Rohim. Buku terbitan Qultummedia ini berusaha memaparkan alasan-alasan dan tatacara agar pembaca tidak putus asa dalam berdoa.

jodoh dari allah itu yang terbaik

Jodoh dari Allah, Maka Kepada-Nya Kita Memohon

Jodoh dari Allah, bukan dari selain-Nya.

Menentukan pilihan nggak boleh asal-asalan. Dan, untuk mengenali apakah seseorang merupakan jodoh dari Allah atau bukan caranya sederhana, yaitu dengan melihat sejauh mana komitmennya terhadap ajaran Islam.

 

Jodoh dari Allah: Tips Memilih Calon Suami

“Bila seorang laki-laki yang kau ridai agama dan akhlaknya meminang anak perempuanmu, nikahkanlah dia. Apabila engkau tidak menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi)

Adalah fitrah seorang muslimah untuk menikah dengan laki-laki yang kaya, memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan tampan. Itu nggak salah. Tapi, jangan dilupakan, kualitas agamanya harus tetap dinomorsatukan.

Nah, sekarang muncul pertanyaan. Bagaimana sih cara melihat komitmen seorang laki-laki terhadap agamanya? Ada beberapa hal yang harus ada pada laki-laki itu.

  1. Laki-laki itu harus beragama Islam;
  2. Lelaki itu melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agamanya, yaitu salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, haji bila mampu;
  3. Berakhlak baik;
  4. Memiliki usaha untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik;
  5. Memiliki semangat untuk mengajak orang lain menuju kebaikan dan mencegah keburukan.

Urusan tampan, status sosial, dan kaya itu nggak harus 100%. Boleh kok diturunkan menjadi 80% atau 70%. Tapi, kalau untuk agama nggak bisa ditawar-tawar. Dia harus Muslim, akhlaknya baik, dan dia melaksanakan ajaran agamanya dengan baik.

 

Jodoh dari Allah: Tips Memilih Calon Istri

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, atau agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Betapa bahagia jika kelak kita memiliki istri saleha yang taat dan selalu mendukung kebaikan suaminya, yang apabila dipandang menyejukkan, bisa menjaga dirinya, dan bisa menjaga keutuhan rumah tangganya.

Biar bisa melihat perempuan yang memiliki potensi agama yang baik, kita bisa memperhatikan dari hal-hal ini dalam dirinya.

  1. Dia harus beragama Islam;
  2. Dia melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agama: salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan haji bila mampu;
  3. Dia berakhlak baik;
  4. Dia memiliki kesiapan untuk berubah menjadi lebih baik;
  5. Dia memiliki semangat untuk mengajak orang lain menuju kebaikan dan mencegah keburukan.

Jadi, Teman, pilihlah wanita yang baik agama dan mulia akhlaknya. Bukan hanya demi keberuntungan kita, tapi juga bagi kebaikan anak-anak kita kelak. Abul Aswad Ad-Du’ali berkata kepada putra-putranya, “Anak-anakku, aku telah berbuat baik kepada kalian sejak kalian masih kecil hingga dewasa, bahkan sejak kalian belum lahir.”

“Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?”

“Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang wanita terbaik di antara sekian banyak wanita, seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik untuk anak-anaknya.”

Nah, ngomong-ngomong, orang yang sedang kamu ikhtiarkan itu udah memenuhi syarat-syarat di atas belum?

 

*Diambil dari buku Halaqah Cinta: Follow Your Prophet, Find Your True Love karya Arif Rahman Lubis (penggagas @teladanrasul)

**Sumber foto: http://www.pertheventphotography.com.au

TGB

Pin It on Pinterest