motivasi Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
579
archive,tag,tag-motivasi,tag-579,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
arti cinta dalam hidup

Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Arti cinta tak selalu dimengerti oleh pemiliknya.

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai yang kita miliki. Itu sebabnya, kita mesti merawatnya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya pula, kita tak mungkin memercayakannya pada sembarang orang.

Orang yang mau memberikan cintanya pada orang yang tak ia kenal, atau ia kenal tapi sebagai orang yang sebenarnya tak pantas mendapatkannya, mungkin tak menyadari betapa berharga arti cinta yang ia miliki itu.

Begitu pula orang yang mengharapkan cinta orang lain, lalu menukar apa yang ia miliki dengan cinta tersebut. Ia tak tahu betapa barang yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan cinta yang ia idamkan itu.

Arti Cinta Tak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

Kalau kita keliru memercayakan cinta pada seseorang, kita akan menyesal pada akhirnya. Begitu pula jika kita salah sangka dan mengira cinta seseorang bisa ditukar dengan harta benda yang kita miliki.

Orang yang mau menyerahkan cintanya pada orang yang salah, dan orang yang mendapatkan cinta kekasihnya dengan menukar harta benda dengannya, sejatinya sama-sama tak mengerti arti cinta. Karena tak paham betapa bernilai cinta yang ia miliki atau yang ia dapatkan, tak mengherankan jika suatu saat cinta tersebut bisa dengan mudah mereka campakkan.

Siapa pun bisa bosan, bukan?

Arti Cinta: Harus Kita Pahami

Ini mirip orang yang mengidamkan sebuah kamera dengan berbagai fiturnya yang canggih, tapi saat berhasil memilikinya dan kemudian bosan dengannya, ia meletakkannya di tempat yang tak semestinya.

Kenapa ia bisa ceroboh seperti itu? Mungkin ia tak bisa mengoperasikan kameranya itu, sebab skill-nya masih kurang. Mungkin uang yang ia gunakan untuk membelinya ia dapat dengan meminta orangtuanya, ia tak tahu sulitnya mencari uang. Mungkin juga ia bukan orang yang pandai bersyukur dan mau menghargai apa-apa yang ada di sekitarnya.

Orang yang tak mengerti arti cinta yang ia miliki akan dengan mudah menyerahkan cintanya atau menerima cinta dari orang lain dengan cara yang tak semestinya. Ia juga, saatnya nanti, akan menyia-nyiakan cinta yang ia berikan pada orang lain atau cinta yang ia terima dari mereka.

Semoga kita bisa belajar tentang cinta dan bisa memperlakukannya dengan cara yang tepat.

 

Sumber foto: pixabay.com

amanah semakin langka

Amanah Adalah Karakter Manusia yang Semakin Langka

Amanah adalah satu di antara sedikit sifat mulia yang saat ini semakin langka ditemukan.

Kepercayaan orang lain tak dapat diberikan secara cuma-cuma. Kita harus menunjukkan reputasi terlebih dulu pada mereka bahwa kita bisa dipercaya, baru mereka akan memberikan kepercayaannya pada kita. Kepercayaan yang diberikan karena permintaan, apalagi muslihat, tak akan bertahan lama.

Kalau suatu toko dikenal curang karena menggunakan timbangan yang telah direkayasa, maka selamanya toko itu akan dijauhi oleh pelanggannya. Bahkan meski pemiliknya bertobat dan tak mau mengulangi kesalahannya, ia tetap akan menemui kesulitan menghapus citranya sebagai toko yang curang.

Amanah: Belajar dari Nabi Muhammad

Bahkan sebelum diangkat menjadi seorang rasul, Nabi Muhammad saw telah mendapat kepercayaan yang besar dari masyarakat Mekah. Itu beliau dapatkan karena reputasinya sebagai pemuda yang jujur; kata-katanya bisa dipegang, perbuatannya terjaga dari maksiat dan hal yang sia-sia.

Kepercayaan masyarakat terhadap beliau juga tumbuh karena kemampuannya yang dalam banyak hal bisa diandalkan, seperti dalam bisnis, diplomasi, dan perang. Ditambah lagi, beliau lahir dari keluarga yang terhormat, cucu penjaga Ka’bah yang disegani di seantero Arab: Abdul Muthallib.

Berkat reputasinya sebagai Al-Amin (Yang Terpercaya) pula, Khadijah, seorang bangsawan sekaligus saudagar Mekah, tak merasa khawatir saat kendali bisnisnya dipegang oleh Muhammad muda. Dan belakangan, karena alasan yang sama, ia bersedia menikah dengannya, meski usia keduanya terpaut jauh.

Siapa Pun Wajib Menjaga Amanah

Meraih kepercayaan orang lain tidak mudah. “Butuh satu tahun untuk membangun kepercayaan, tapi cukup satu menit saja untuk meruntuhkannya,” begitu kata pepatah. Kepercayaan memang seperti tunas kayu yang harus dijaga dan dirawat agar tumbuh kuat, selain waktu yang tak sebentar.

Itu sebabnya, jangan bermain-main dengan kepercayaan yang orang lain titipkan di pundak kita. Sekali dipercaya, selamanya kita harus menjaga amanah itu. Dan sekali saja meruntuhkannya, selamanya kita tak akan bisa mendapatkan kembali amanah itu. No second time for trust.

Mulai saat ini, mari kita menjaga kata dan sikap pada orang lain. Mari tumbuhkan kepercayaan mereka pada kita. Sebab bagaimanapun, kita tak pernah bisa hidup sendiri di dunia ini, dan celakanya, kita tak bisa selalu baik-baik saja. Suatu saat, mau atau tidak, kita pasti membutuhkan uluran tangan mereka.

Jika orang lain sudah percaya pada kita, mereka pasti sudi membantu mengeluarkan kita dari kesulitan. Jika tidak? Di situlah masalahnya. Apakah kita akan meminta tolong pada setan, sebab orang munafik (yaitu mereka yang ketika dipercaya lantas berkhianat) adalah kawan mereka?

Na’udzu billaahi min dzaalik.

 

Sumber foto: thetravellady.wordpress.com

bahagia muncul dari diri kita, bukan dari luar diri kita

Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Seperti Dilakukan Oleh Para Nabi

Bahagia itu bisa dirancang dan diciptakan. Karenanya, bukan mustahil ia hadir tanpa jeda. Bahkan cara mewujudkannya pun sederhana.

Jika selama ini sudut pandang kita dalam memaknainya mengacu pada hal-hal yang sifatnya duniawi atau materiil, ubahlah segera. Percaya atau tidak, kebahagiaan seperti itu semu. Sebab, ia tak melulu ada kaitannya dengan kepuasan duniawi, materiil, apalagi sebatas finansial.

Baca juga:
Hujan Bahagia
Menikah Muda dan Hal-hal Tak Terduga di Dalamnya

Kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita dapatkan dengan meraih kepuasan batiniah, seperti memperbanyak ibadah, menghindari suuzhan, atau menahan diri saat makan agar tidak terlalu kenyang. Cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkannya adalah dengan membagikan ilmu yang bermanfaat dan tidak menyebarkan berita dusta (hoax) atau fitnah di media sosial.

Ucapan syukur sudah bisa menunjukkannya. Sebab itu berarti pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita dapat adalah anugerah dari Allah; bukan semata-mata karena usaha kita.

Bisa juga kita memaknainya dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk mengabdi kepada-Nya. Tidak ada penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Tidak kita gunakan untuk melanggar aturan-Nya. Semua digunakan untuk beribadah.

Bisa juga kita maknai bahwa dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit, kita tetap ikhlas bersedekah. Sedikit yang kita miliki, kita sisihkan untuk kita sedekahkan. Sebagaimana sedekahnya para sahabat Nabi Muhammad, seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar bin Khaththab, dan Ustman bin Affan.

Bahagia Ala Nabi Muhammad saw

Meski dijamin masuk ke surga dan terbebas dari dosa, Nabi Muhammad tetap menghabiskan sepertiga malam yang sunyi dan dingin dengan beribadah dan bermunajat kepada-Nya dengan takbir, ruku’, dan sujud, hingga air mata pun membasahi pipi dan kedua kakinya bengkak. Inilah cara Nabi Muhammad saw bahagia dengan bersyukur (‘abdan syakuuraa).

Bahagia Ala Nabi Yusuf as

Sementara itu, Kebahagiaan bagi Nabi Yusuf as adalah menjaga nafsunya dari ajakan bermaksiat seorang istri pejabat. Ia memilih dikurung dalam penjara daripada menuruti bujuk rayunya.

Bahagia Ala Nabi Ayub as

Kebahagiaan itu seperti Nabi Ayub yang kian dekat kepada-Nya dan tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Berkat kesaabarannya, penyakit Nabi Ayub diangkat dan bisa kembali hidup normal dan bahagia.

***

Uraian di atas diambil dari buku “Berupaya Tanpa Jeda, Beryukur Tanpa Kendur.” Buku yang ditulis oleh Syaiful Anshor ini memberikan banyak inspirasi dan ajakan agar kita selalu menyukuri segala keadaan yang diberikan Sang Pencipta. Sebab, saat kita bersyukur maka akan ada janji bahwa nikmat-Nya itu akan ditambah.

 

foto: unsplash.com

merantaulah

Merantaulah, Semua Orang Besar Pernah Menjalaninya

Merantaulah…

Akan kau dapatkan pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Baca juga:
Jangan Takut Gagal! (Special Edition)
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)

Demikian penggalan syair Imam Syafi’i, ulama besar yang karya-karyanya masih terus dikaji dan dinikmati sampai saat ini, tentang pentingnya merantau. Merantau bukan sesuatu yang asing di tengah masyarakat kita. Masyarakat Minangkabau terutama, sejak berabad-abad yang lalu sudah memiliki tradisi merantau.

Apa pun alasan seseorang untuk merantau, ia harus memiliki keberanian. Sebab, merantau sedikit banyak memaksa kita keluar dari suatu zona aman. Kita akan dihadapkan pada hal-hal baru, yang mungkin memberikan banyak tantangan.

Merantaulah!

Kita yang terbiasa dekat dengan keluarga dan teman, serta nyaman dengan lingkungan tempat tinggal, harus siap dengan apa pun yang akan kita temui di perantauan. Ini tentu sebuah tantangan. Sebab jika tidak, kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda atau berkenalan dengan orang-orang baru akan hilang begitu saja. Padahal, merantau menuntut kita pandai bergaul. Harapannya, akan banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan.

Untuk mengejar cita-cita misalnya, kuliah di kota lain memaksa kita untuk berani hidup sendiri. Tinggal di kos-kosan, dengan orang-orang yang mungkin sepenuhnya berbeda dengan lingkungan asal kita. Mau atau tidak, kita harus belajar menyelesaikan kesulitan sendiri. Ini termasuk mencari solusi seandainya uang bulanan tak kunjung datang.

Merantaulah!

Jauh dari rumah tak selamanya mendatangkan kesusahan. Seperti yang dikatakan Imam Syafi’i, merantau akan menghadirkan orang-orang baru di sekeliling kita, menggantikan mereka yang kita tinggalkan. Merantau juga menempa mental kita agar menjadi lebih baik, tidak mudah takut, dan kaya pengalaman.

Hanya air menggenang yang bisa keruh dan mendatangkan jentik penyakit. Dan, hanya orang yang berdiam diri atau takut jauh dari rumah yang kelak berhadapan dengan kesulitan mengubah nasib. Bergerak, berpindah, dan berubah adalah realita kehidupan yang pasti kita alami. Hanya dengan keberanian semuanya bisa kita hadapi.

 

Regards,

Tri Prihantini
(Editor Qultummedia)

 

image dari https://www.pexels.com/photo/guy-city-looking-person-34051/

kegagalan adalah awal bagi sebuah kesuksesan

Kegagalan Hari Ini Adalah Pelajaran untuk Kesuksesan Esok Hari

Kegagalan tak pernah hadir selamanya; ia sesaat datang untuk kemudian berlalu.

Saat berikhtiar mewujudkan sesuatu, kita tak pernah mengharapkan kegagalan. Setiap usaha yang kita lakukan selalu berawal dari niat kuat untuk menggapainya dan keinginan yang besar untuk mewujudkannya. Meski kadang ujung ikhtiar tak sesuai harapan, kita akan merasa puas karena kita sudah berani mencoba.

Baca juga:
Jangan Takut Gagal! (Special Edition)
Merayakan Kegagalan

Suatu ketika, saya mendapat tawaran dari seorang teman untuk menjadi pengajar di sebuah sekolah, sebuah profesi yang pernah saya impikan tapi sama sekali belum pernah saya jalani. Tawaran itu membuat saya berpikir panjang, dan sempat bimbang. Tapi setelah beberapa hari melawan keraguan, saya memutuskan datang ke sekolah yang dimaksud untuk menerimanya.

Sepanjang perjalanan, pikiran saya diliputi kecemasan. Saya tertarik dengan tawaran itu, tapi pada saat yang sama grogi. Rasanya saya tak siap menjalaninya. Berdiri di depan murid-murid dan menjadi pusat perhatian mereka? Deuh, saya akan menyesal seumur hidup jika sampai terlihat gugup.

Angkot yang saya tumpangi terasa sangat lambat. Sepanjang perjalanan, apa yang saya cemaskan pelan-pelan surut, tapi sesekali tergantikan dengan kecemasan lain yang lebih besar. Saya menyesal membiarkan perasaan dan khayalan saya sedemikian liar, sebab yang kemudian saya dapatkan ternyata di luar dugaan.

Ketika saya tiba di sekolah, ibu kepala sekolah yang ramah menyambut saya, dan dengan gaya bicaranya yang lembut memberitahu bahwa posisi yang sempat ia tawarkan itu telah terisi. Ya, baru saja terisi.

Saya tercenung sepersekian detik saat mendengar pemberitahuan itu.

Selalu Ada Pelajaran dari Sebuah Kegagalan

Apakah saya kecewa? Tak perlu ditanya. Selama perjalanan pulang, tak henti-hentinya saya merutuki diri sendiri. Andai saya tak galau sampai berhari-hari, mungkin saya sudah resmi menjadi pengajar di sana. Andai saya tak mengulur waktu dan membuat pihak sekolah menunggu sekian lama, mungkin besok saya sudah berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran.

Banyaknya kata ‘andai’ yang berkelebat di benak saya menyadarkan saya tentang sebuah pelajaran. Menjadi pengajar memang tak bisa saya wujudkan hari itu, tapi saya menyadari satu hal: bahwa keraguan untuk menentukan langkah bisa membawa penyesalan berkepanjangan.

Beberapa minggu kemudian dan setelah saya ‘move on’ dari rasa kecewa akibat kegagalan itu, teman saya bertanya bagaimana saya bisa terlihat baik-baik saja dengan kenyataan tersebut.

“Kalau gue jadi lo, gue pasti udah down. Bukan cuma karena gue gak diterima, tapi karena posisi itu terisi satu jam sebelum gue datang. Nyesek!”

Saya bergeming. Siapa bilang saya tak kecewa, bukan hanya dengan keputusan pihak sekolah yang memberikan kesempatan tersebut kepada orang lain (meski ini bisa dimaklumi sih sebenarnya), tapi juga dengan diri saya sendiri. Untuk apa saya bimbang terlalu lama saat seseorang berharap saya segera memberikan jawaban?

Namun setelah saya renungkan, kegagalan dan kekecewaan yang harus saya telan itu mungkin cara Allah agar saya punya waktu lebih lama untuk mematangkan diri sebelum menjadi pengajar yang lebih baik lagi. Saya percaya, rencana Allah selalu lebih indah dari rencana kita.

Semoga kita tak menjadi peragu untuk menggapai impian, dan semoga kita tak mudah putus asa. Beranilah mencoba, dan beranilah menghadapi kemungkinan terburuk sebagai akibat dari pilihan kita. Kalaupun akhirnya kegagalan jua yang kita dapatkan, berjanjilah pada diri sendiri bahwa itu tak akan membuat kita menyerah.

 

Fitria Sambuari (Kontributor Qultummedia.com)

 

image: : best-wallpaper.net.

jodoh impian

Jodoh Impian: Adakah Doa Khusus untuk Mendekatkannya?

Jodoh impian konon salah satu dari beberapa masalah yang menjadi misteri Ilahi. Mungkin ada benarnya, tapi bukan berarti kita hanya bisa pasrah begitu saja jika ia tak segera datang.

Sudah bertahun-tahun memanjatkan doa agar diberi pasangan hidup tetapi belum juga terjawab? Nah, jangan-jangan ada yang keliru dengan cara berdoa kita. Mari belajar kembali cara berdoa yang sesuai adab menurut Islam. Ingat, Allah selalu menjawab permohonan umat-Nya.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Berdoa itu bagian dari ibadah. Seperti kita ketahui, manusia di muka bumi memiliki kewajiban beribadah kepada Allah. Tengoklah bacaan-bacaan di dalam shalat, semua adalah pujian kepada Allah dan mengandung banyak permohonan pada-Nya.

Yang terpenting, semua berangkat dari iman kepada Sang Pencipta. Memang, berdoa saja tidak cukup, perlu diiringi ikhtiar. Untuk itu, jangan lelah berusaha dan berdoa.

Jodoh Impian Datang, Tak Lama Lagi!

Setidaknya ada dua hal yang wajib kita lakukan sebelum berdoa. Pertama, menjauhi makanan haram. Hati yang kotor karena berbagai maksiat atau jiwa yang tak bersih dari perkara haram akan menjadi penghalang terkabulnya doa.

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang selama 40 hari hanya memakan makanan yang halal, Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya.” Dalam hadist yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa ingin doanya dikabulkan oleh Allah maka makanan dan pekerjaannya harus halal.”

Kedua, berbaik sangka kepada Allah. Berbaik sangka atau berpikiran positif kepada Sang Pencipta wajib hukumnya. Pikiran positif adalah awal yang baik untuk memanjatkan doa. Diriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman, “Aku sebagaimana hamba-Ku menyangka diri-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”

Selain kedua hal di atas, memperhatikan kekhusyukan saat berdoa juga penting. Sebab berdoa memerlukan ketenangan, kerendahhatian, dan fokus. Saat seseorang merapalkan doa dengan tergesa-gesa dan menyepelekannya, jangan berharap doa tersebut akan sampai ke ‘langit.’

Jika Anda sedang mendambakan seorang pasangan hidup, ikuti syarat-syarat di atas. Dan berdoalah dengan khusuk. Berikut contoh doanya.

Robbi laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waaritsiin.

(Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.)

Robbi hablii milladunka zaujatan thoyyibah akhtubuhaa wa atazawwaju bihaa wa takuunnu shoohibatan lii fid diini wad du-nyaa wal aakhiroh.

(Ya Rabb, berikanlah kepadaku istri/suami (disesuaikan dengan permintaan) yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi, dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat.)

***

Selengkapnya, pengetahuan seputar doa, seperti alasan-alasan harus berdoa, tatacara berdoa, waktu yang tepat untuk berdoa, dan apa saja doa-doa yang tidak dikabulkan bisa simak lebih lanjut di dalam buku Jangan Lelah Berdoa! karya Nasrudin Abd. Rohim. Buku terbitan Qultummedia ini berusaha memaparkan alasan-alasan dan tatacara agar pembaca tidak putus asa dalam berdoa.

roadshow buku

Roadshow Pertama Aldilla Dharma: “Benar-benar Luar Biasa!”

Roadshow ke beberapa kota dilakukan oleh Aldilla Dharma dan Penerbit Qultummedia. Banyak kesan positif yang didapatkan.

Setelah sukses “melahirkan” karya pertamanya, Jangan Pernah Menyerah, Aldilla Dharma memiliki sejumlah kegiatan baru dalam karier kepenulisannya, yakni berpromosi.

Baca juga:
Jangan Takut Gagal! (Special Edition)
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)

“Kemarin sempat roadshow dan siaran radio di beberapa kota, seperti Jakarta, Kediri, Surabaya, Malang, Solo, Jogjakarta, Semarang, dan Banjarmasin,” kata Aldilla saat diwawancara Qultum Media via surel.

Ya, roadshow dan siaran radio adalah beberapa jenis promosi yang dijalankan Aldilla terkait karyanya. Berbagai pengalaman menarik dan seru pun dirasakan pria yang sedang berjuang untuk menyelesaikan tesisnya di Jurusan Magister Kenotariatan, Universitas Brawijaya ini.

“Seru sih, bertemu teman-teman baru. Jadi banyak belajar hal-hal baru juga di tiap daerah,” kata Aldilla.

Roadshow yang Luar Biasa

Selama roadshow, Aldilla menemukan banyak hal baru yang dapat membuatnya ‘geleng-geleng kepala’. Salah satunya adalah respons pembaca yang datang ke acara roadshow buku Jangan Pernah Menyerah.

“Luar biasa. Respon mereka sangat luar biasa,” ungkap Aldilla. “Aku bilang luar biasa, ya, soalnya aku juga bahkan bisa “gila-gilaan” bareng mereka,” tambah pria yang bercita-cita menjadi notaris syariah ini.

Menurut Aldilla, meski di beberapa kota para pembaca yang datang awalnya bersikap malu-malu, setelah dipancing mereka ternyata tak ragu untuk bersuara.

Selain respons yang luar biasa, kejutan lain yang dirasakan Aldilla saat berada di tengah-tengah para pembacanya adalah aksi curhat-curhatan.

“Awalnya aku harus memotivasi mereka. Belakangan malah mereka yang memotivasi aku buat berhijrah dari keterpurukan cinta,” ungkap Aldilla.

Alhasil, ajang tersebut menjadi ajang curhatan antara penulis dan pembacanya. Meski baper, alhamdulillah roadshow dan siaran radio tetap berjalan dengan lancar.

Roadshow dan Hadirnya Buku Kedua

Nah, bagi kamu yang sudah membaca buku pertama Aldilla, kini sudah bisa menikmati buku keduanya, lho. Dalam buku berjudul Jangan Takut Gagal! ini, Aldilla memaparkan jawaban atas beberapa pertanyaan.

“Kalau di buku pertama aku lebih menebar kegelisahan yang membuat orang bertanya-tanya, di buku kedua ini justru memaparkan jawaban atas segala pertanyaan itu,” kata Aldilla.

Penasaran, kan, dengan buku keduanya? Jangan khawatir, kamu sudah bisa mendapatkannya di toko buku terdekat atau membeli ebook-nya melalui PlayStore.

baper dan rasional

Baper atau Rasional: Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Baper atau “bawa perasaan” tak melulu karena perkataan orang lain yang tak sopan tapi juga telinga dan hati kita yang terlalu sensitif.

Suatu waktu, dua orang sahabat saling bertanya tentang diri mereka. Salah seorang dari keduanya mengatakan bahwa temannya itu adalah orang yang rasional.

“Maksudnya?” tanya sang teman.

“Maksudnya, meski kau tak selalu ada di sampingku, aku selalu bisa mendapatkan saran yang logis setiap kali kita membincangkan sesuatu.”

Baca juga:
Jangan Lelah Berdoa!
Mudik dan Perjuangan untuk Mengalahkan Ego Kita

Cuplikan dialog dua sahabat tersebut, kalau kita perhatikan, memberikan informasi yang menarik bagi kita. Selama ini tanpa kita sadari, kita kerap baper atau “bawa perasaan” saat menjalin pertemanan.

“Kalau nggak baper berarti nggak solid pertemanannya.”
“Kalau nggak pakai hati berarti palsu persahabatannya.”

Begitu alasan yang disampaikan oleh beberapa teman yang merasa tertuding.

Namun, benarkah demikian? Bukankah baper juga bisa tidak baik untuk sebuah hubungan? Terlalu jauh melibatkan perasaan dalam banyak kesempatan hanya akan membuat kita terlalu cepat menilai, mudah tersinggung, atau gampang terbawa emosi.

Baper Terus, Mau Sampai Kapan?

Dalam menjalin hubungan, apa pun bentuknya, kita perlu mengedepankan rasionalitas. Tak apa jika jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Tak masalah kalau kita kerap berbeda pendapat. Dan, tak usah marah apabila teman kita menertawakan satu-dua keapesan yang kita alami.

Sepanjang semua masih dalam taraf wajar, menggunakan akal sehat kita dalam berteman pasti lebih menenangkan ketimbang baper sepanjang waktu.

Berinteraksi dengan orang lain tak melulu mendengar kalimat-kalimat pujian dari mereka. Sesekali kita akan mendengar berita yang tak baik, opini mereka tentang kita, mungkin juga kritikan terhadap kita. Semua itu wajar, sebab kita sadari atau tidak, kita pun melakukan hal-hal itu pada orang lain.

Ada saatnya kita berlapang dada dengan kata-kata yang tak menyenangkan hati kita; bagaimanapun dunia dan segala isinya tak selalu menyenangkan hati kita. Tak selalu sesuai dengan harapan kita. Kalau kita mengharapkan sebuah dunia yang selalu sesuai dengan keinginan kita maka kita sebenarnya sedang memimpikan sebuah kehidupan yang tak pernah ada.

Dan, tentu saja, itu tidak baik.

Mengapa? Sebab itu artinya kita tak siap menghadapi kenyataan hidup. Kita tak siap menaklukkan dunia, sebab munculnya harapan seperti itu adalah indikasi kita enggan berjuang. Mungkin juga pertanda kita tak punya semangat hidup bahkan tidak adanya kedewasaan dalam diri kita.

So, mari mengubah cara pandang kita bahwa nggak baper bukan berarti nggak saling terkoneksi, nggak saling care. Menjalin persahabatan yang rasional tentu lebih menyehatkan emosi kita.

 

Regard,

Tri Prihantini (Editor Qultummedia)

berani berhijrah harus diiringi dengan proses belajar yang tak pernah berhenti

Berani Berhijrah: Demi Masyarakat Indonesia yang Lebih Baik

Berani berhijrah adalah pilihan besar dalam hidup. Di dalamnya tersimpan sebuah kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik, juga semangat untuk menyongsong hari esok yang lebih menjanjikan.

Tak ada yang baik-baik saja jika kita sering meluangkan waktu untuk memikirkan hidup kita; pendidikan kita, rencana ke depan, kebiasaan, pola pikir, prestasi, sampai derajat kita di sisi Allah Taala. Akan selalu ada yang perlu kita tilik dan koreksi, akan selalu ada yang perlu kita benahi.

Baca juga:
Berani Jujur Itu Baik!
Berani Berhijrah

Pengalaman adalah guru terbaik yang pernah ada. Ya, dari pengalaman kita bisa belajar banyak hal, termasuk menetapkan hati untuk berhijrah. Berubah menjadi pribadi yang lebih taat pada-Nya, dan semakin sadar bahwa kita ada dalam pengawasannya sehari-semalam penuh. Hal itulah yang dituliskan Aldilla Dharma dalam buku Jangan Pernah Menyerah!

Sesuai dengan judulnya, menurut Aldilla buku ini berisi tentang semangat untuk berhijrah. Sejarah penyebaran Islam di dunia menjadi dasar Aldilla menulis buku pertamanya ini, yang memang dikenal dunia dengan prosesnya yang cepat, damai, dan berpijak pada dua hal, yaitu akidah yang lurus (al-‘aqidah as-salimah) dan ilmu pengetahuan.

Sebagai sebuah buku ber-genre pengembangan diri islami, Aldilla melalui buku ini mengajak pembaca untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, dengan koridor yang telah ditetapkan oleh Allah melalui agama Islam. Bukan perkara mudah memang, tapi bersama-sama memulai, tak ada yang tak mungkin.

 

Berani Berhijrah: Dimulai dari Sebuah Akun Instagram

Niatan Aldilla dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam melalui media sosial tak hanya terbatas pada pembuatan buku. Jauh sebelum hal itu ia sudah membangun komunitas berbasis sosial media—tepatnya Instagram—dengan nama Berani Berhijrah.

Apa sih, yang menjadi alasan Aldilla membangun komunitas yang telah memiliki follower lebih dari 500.000 orang ini?

“Setelah berhijrah, saya melihat ada batas dan jarak antara anak muda dan agama,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, “muncul stigma bahwa mereka yang doyan bahas agama adalah mereka yang sudah berumur. Dari sana saya melihat ada kekosongan yang harus diisi, yaitu jembatan antara anak muda dan agama. Untuk itulah atas dasar petunjuk Ilahi, Berani Berhijrah terlahir”.

Tak disangka, gerakan yang awalnya hanya mengajak orang untuk berhijrah, makin hari makin banyak pengikutnya. Oleh karenanya, tercetuslah ide untuk menjadikan gerakan ini sebuah komunitas. Bahkan kini, menurut Aldilla, Berani Berhijrah sedang dalam proses pelegalan untuk menjadi sebuah yayasan.

Tak muluk-muluk, melalui komunitas Berani Berhijrah dan buku Jangan Pernah Menyerah!, ia berharap Indonesia berani berhijrah menjadi lebih baik.

fakta unik di pesantren

Fakta Unik di Pesantren yang Bisa Membuat Tertawa Sekaligus Prihatin

Fakta unik tentang anak-anak pesantren mungkin baru sedikit diulas di media massa. Padahal sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren punya segudang cerita yang bisa mengundang tawa sekaligus air mata.

Baca juga:
Agar Setiap Usaha Bernilai Ibadah
Agar Hati Selalu Ikhlas, Sabar, dan Syukur

Seperti halnya siswa di sekolah umum, para santri di pesantren juga memiliki banyak cerita unik yang bisa dibahas. Ada saja kejadian-kejadian tak terduga yang bisa bikin kita bengong, tidak percaya, bahkan tertawa. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya.

 

Fakta Unik #1: Terlihat Tegar, Padahal Melow

Sebagian besar para santri biasanya akan menginap di pesantren. Momen ini biasanya jadi ajang yang paling seru untuk dibahas. Yup, selama di pesantren para santri terlihat tegar dan mandiri saat berjauhan dengan orangtuanya. Padahal, awal-awal mereka berpisah ada saja yang melow dan sedih terutama saat malam menjelang. Hayo, siapa di antara kamu yang seperti itu? Wajar, kok. Asal jangan keterusan ya.

 

Fakta Unik #2: Bebas Nongkrong, Padahal Pukul 10 Malam Lampu Sudah Harus Padam

Jauh dari orangtua itu artinya bebas nongkrong hingga jam barapa saja. Salah! Meski kamu jauh dari orangtua, tapi peraturan tetaplah peraturan. Hampir setiap pesantren mewajibkan santrinya untuk tidur tepat waktu. Bahkan, ada yang menerapkan pukul 10 malam semua lampu di pesantren sudah harus mati. Masih mau bilang bebas nongkrong semalaman?

 

Fakta Unik #3: Makan Sepuasnya, Padahal Makan Seadanya dan Harus Berbagi

Kalau kamu pikir makan di pesantren itu mewah, lupain deh! Kamu bisa dapat makanan “mewah” kalau orangtuamu datang berkunjung. Yang ada, di pesantren kamu akan makan seadanya. Cukup nasi, cukup lauk, dan cukup sayur. Nggak hanya itu, kamu pun diharapkan untuk bisa menakar porsi makanmu sendiri. Ya, kamu harus berbagi dengan santri-santri lainnya. Tidak boleh dihabiskan sendirian. Tapi, di situlah letak kenikmatannya. Kamu akan merasakan kebersamaan yang sangat mendalam.

 

Fakta Unik #4: Peraturan dan Disiplin yang Ketat

Kalau di rumah atau sekolah umum kamu bisa merasa sedikit “bebas” lain halnya dengan pesantren. Peraturan di pesantren sangat ketat dan disiplinnya sangat tinggi. Lagi asyik-asyiknya mimpi, pukul 3 atau 4 pagi kamu sudah dibangunkan untuk mulai menjalankan ibadah dan aktivitas. Hal ini yang menjadikan kamu—para santri—terbiasa bangun sebelum ayam jantan berkokok. Tidak hanya badan yang segar, tetapi juga pikiranmu.

Nah, itulah beberapa fakta unik yang bisa kita temui di pesantren. Bukan bermaksud menakut-nakuti buat Pembaca yang mau masuk pesantren atau mau mengirim anaknya ke pesantren, ya. Yang jelas, apa pun yang terjadi di pesantren, tidak akan membuat kita rugi kok. Justru itu bisa menambah pengalaman dan kedewasaan.

TGB

Pin It on Pinterest