sabar Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
526
archive,tag,tag-sabar,tag-526,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
Saatnya nanti duduk pun jomblo ada yang menemani

Jomblo dan Pertanyaan “Kamu Kapan?”

Jomblo dan pertanyaan “Kamu kapan?” adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Sepintar apa pun ia menghindarinya, seseorang akan menemukannya dan menyampaikan pertanyaan itu juga.

Dua di antara momen yang sering membuat KZL kaum marjinal (baca: jomblo) seperti kita-kita ini adalah lebaran dan kondangan. Alasannya sepele, tapi sangat mudah dipahami: Dua momen itu selalu menjadi saat yang tepat bagi sanak famili kita untuk bertanya, “Kamu kapan?”

          Baca juga:
          Kamu Ingin Tahu Siapa Jodoh yang Tepat untukmu? Ikuti Petunjuk Ini
          Ternyata Seperti Inilah Wanita yang Diidamkan oleh Pria Saleh

Pertanyaan itu atau sejenisnya ternyata hanyalah pembuka bagi sebuah “bencana” yang lebih besar dalam kehidupan seorang jomblo di dunia fana ini. Selesai kita jawab, pertanyaan tersebut tak berhenti begitu saja, tapi segera berubah menjadi godaan, yang lama-lama terdengar seperti ledekan, sebelum kemudian fix menjadi “bully-an”.

Nah, kalau sudah sampai pada level terakhir ini, siapa pun “korbannya” harus bisa mengontrol diri. Tak ada gunanya mengeluh, “Hayati lelah, Bang,” atau mengiba belas kasihan bahkan meronta-ronta. Dan meski pura-pura ikut tertawa tampak sekali kita paksakan,  itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Kita boleh heran dengan membludaknya perbincangan seputar cinta dan jodoh di socmed, apalagi jika dikaitkan dengan ibadah. Padahal selain menikah, banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan dan bisa juga dibincangkan, dikampanyekan, atau dibuatkan meme-meme positifnya. Shalat sunah, misalnya, atau umrah.

Namun, melihat pengguna socmed yang kebanyakan anak-anak muda (dan sebagian besar mereka memang jomblo), dan tema abadi yang paling menarik perhatian mereka kapan pun dan di mana pun adalah soal cinta, maka perbincangan tentang kata ini adalah kewajaran belaka. Apalagi kalau tema tersebut secara personal juga mereka rasakan.

Jomblo Harus Tahu Ini

Ada yang bilang kalau misteri di dunia ini ada tiga, yaitu jodoh, kematian, dan tukang parkir (yang entah nongkrong di mana tahu-tahu terdengar peluitnya saat kita memarkir kendaraan). Kali ini, mari kita membahas tentang jodoh. Kematian akan kita bincangkan lain waktu, sementara tukang parkir kita lupakan saja. Buat kamu yang masih jomblo, simak baik-baik bagian ini, ya!

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan. Artinya, saat terlahir ke dunia ini kita tak sendiri, tapi sudah ada jodohnya. Hanya saja tak seorang pun tahu identitas, domisili, apalagi bentuk pasangannya itu: tinggi, lebar, atau bulat telur. Semuanya misterius, dan hanya Allah yang mengetahuinya.

Namun tak adanya kepastian siapa, di mana, dan kapan kita akan bertemu dengan jodoh kita hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menyemai bibit-bibit ibadah. Kita memang diciptakan untuk beribadah pada Sang Pencipta. Dan dengan mencari pasangan tersebut, sejatinya kita sedang menjalankan tugas mulia itu.

“Tapi, sampai kapan?” Ini mungkin sesekali terlintas di benak kita, pertanyaan lumrah dari bibir jombloers yang merasa sudah berikhtiar maksimal tapi belum menemukan calon pendampingnya. Sekali lagi, hanya Allah yang tahu. Yang perlu kita ingat, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Artinya, di tengah kebingungan kita, di tengah rasa-hampir-putus-asa ini, ada seberkas cahaya yang bisa membimbing kita menjalani hidup, agar kita tak salah jalan. Apa itu? Memperbaiki prasangka pada Yang Mahakuasa. Tentu saja ini selain ikhtiar maksimal dan memohon pada-Nya, dua hal yang wajib kita lakukan.

Allah memerintahkan kita untuk berbaik sangka pada siapa pun, termasuk Dia. Entah prasangka baik itu kemudian terbukti benar, atau tidak. Yang jelas, kita dilarang berburuk sangka, meski kemudian prasangka buruk itu terbukti benar. Sebab, yang namanya buruk sangka pasti dimulai dari sikap merendahkan orang lain.

Dan kalau kita berburuk sangka pada Allah, itu sama saja dengan merendahkan-Nya, bukan?

Jomblo dan Prasangka Baik

Berbaik sangka pada Allah mungkin tak secara instan menyelesaikan masalah, atau dalam konteks ini “menyeret” jodoh yang entah-siapa-dan-di-mana itu ke hadapan kita dan sekonyong-konyong berkata “I love you, will you marry me?”. Tapi setidaknya, sikap tersebut akan menyuntikkan energi positif ke tiap mikro milimeter urat sabar para jomblo.

Kita jadi punya kesabaran yang cukup untuk menunggu saat-saat bahagia itu tiba, sehingga syaithon yang terkutuk, yang terus menggoda kita agar menyerah dan putus asa, capek dengan sendirinya. Selain itu, bukan tidak mungkin energi positif itu mendekatkan kita dengan orang-orang yang juga punya kepribadian positif (baca: mau membantu cari pasangan).

Bagaimanapun law of attraction masih berlaku kok untuk urusan perjodohan meski dua tahun ke depan sepertinya bakal ada ribut-ribut lagi soal pulitik. Hihi, lupakan!

Dengan bekal kesabaran itu pula, pertanyaan “Kamu kapan?”, godaan, ledekan, bahkan bully-an orang lain akan terdengar sebagai doa dan harapan, atau setidaknya perhatian yang tulus pada kita –meski diungkapkan dengan cara yang ah-sudahlah. Kita hanya perlu meminta mereka bersabar, sebab good things take time.

Nah, ini poinnya. Ajak mereka: para penanya, penggoda, peledek, atau pem-bully itu untuk bersabar. Bukankah orang yang sabar itu disayang Tuhan? Mereka harus bisa bersabar menunggu calon kita datang, sebab boleh jadi ybs masih kemping di dataran tinggi Tibet atau asyik sunbathing di tengah-tengah gurun Sahara sana.

“Aku saja yang menjalani bisa bersabar, masak kamu nggak, sih?”

 

Gambar/Foto dari www.pixabay.com

bahagia muncul dari diri kita, bukan dari luar diri kita

Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Seperti Dilakukan Oleh Para Nabi

Bahagia itu bisa dirancang dan diciptakan. Karenanya, bukan mustahil ia hadir tanpa jeda. Bahkan cara mewujudkannya pun sederhana.

Jika selama ini sudut pandang kita dalam memaknainya mengacu pada hal-hal yang sifatnya duniawi atau materiil, ubahlah segera. Percaya atau tidak, kebahagiaan seperti itu semu. Sebab, ia tak melulu ada kaitannya dengan kepuasan duniawi, materiil, apalagi sebatas finansial.

Baca juga:
Hujan Bahagia
Menikah Muda dan Hal-hal Tak Terduga di Dalamnya

Kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita dapatkan dengan meraih kepuasan batiniah, seperti memperbanyak ibadah, menghindari suuzhan, atau menahan diri saat makan agar tidak terlalu kenyang. Cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkannya adalah dengan membagikan ilmu yang bermanfaat dan tidak menyebarkan berita dusta (hoax) atau fitnah di media sosial.

Ucapan syukur sudah bisa menunjukkannya. Sebab itu berarti pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita dapat adalah anugerah dari Allah; bukan semata-mata karena usaha kita.

Bisa juga kita memaknainya dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk mengabdi kepada-Nya. Tidak ada penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Tidak kita gunakan untuk melanggar aturan-Nya. Semua digunakan untuk beribadah.

Bisa juga kita maknai bahwa dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit, kita tetap ikhlas bersedekah. Sedikit yang kita miliki, kita sisihkan untuk kita sedekahkan. Sebagaimana sedekahnya para sahabat Nabi Muhammad, seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar bin Khaththab, dan Ustman bin Affan.

Bahagia Ala Nabi Muhammad saw

Meski dijamin masuk ke surga dan terbebas dari dosa, Nabi Muhammad tetap menghabiskan sepertiga malam yang sunyi dan dingin dengan beribadah dan bermunajat kepada-Nya dengan takbir, ruku’, dan sujud, hingga air mata pun membasahi pipi dan kedua kakinya bengkak. Inilah cara Nabi Muhammad saw bahagia dengan bersyukur (‘abdan syakuuraa).

Bahagia Ala Nabi Yusuf as

Sementara itu, Kebahagiaan bagi Nabi Yusuf as adalah menjaga nafsunya dari ajakan bermaksiat seorang istri pejabat. Ia memilih dikurung dalam penjara daripada menuruti bujuk rayunya.

Bahagia Ala Nabi Ayub as

Kebahagiaan itu seperti Nabi Ayub yang kian dekat kepada-Nya dan tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Berkat kesaabarannya, penyakit Nabi Ayub diangkat dan bisa kembali hidup normal dan bahagia.

***

Uraian di atas diambil dari buku “Berupaya Tanpa Jeda, Beryukur Tanpa Kendur.” Buku yang ditulis oleh Syaiful Anshor ini memberikan banyak inspirasi dan ajakan agar kita selalu menyukuri segala keadaan yang diberikan Sang Pencipta. Sebab, saat kita bersyukur maka akan ada janji bahwa nikmat-Nya itu akan ditambah.

 

foto: unsplash.com

shalat istikharah cara terbaik untuk memohon pada Allah

Shalat Istikharah: Cara Terbaik untuk Mempercepat Terkabulnya Doa

Shalat Istikharah bisa menjadi cara terbaik untuk memohon pada Allah Taala agar mengabulkan harapan dan cita-cita kita.

Sudah bukan rahasia kalau anak muda kadang ‘terserang’ galau. Galau yang dimaksud bisa apa saja, seperti galau menentukan pilihan sekolah, galau menentukan pilihan pekerjaan, hingga galau menentukan jodoh atau pasangan hidup. Hidup berlarut-larut di antara dua pilihan atau lebih tentu bisa membuat hati kita resah. Kita perlu keluar dari situasi ini.

Baca juga:
Penuntun Mengerjakan Shalat Istikharah
Free E-Book: Panduan Lengkap Shalat Istikharah

Apa solusinya jika kita belum juga menemukan jawabannya? Berdoa saja mungkin belum cukup, perlu ditambah dengan shalat. Ingat ‘kan dengan firman Allah yang ini, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

Tapi, shalat yang seperti apa? Pernah dengar yang namanya Shalat Istikharah? Shalat ini ditujukan untuk meminta petunjuk dari Allah di antara banyaknya pilihan untuk menghindari keraguan.

Shalat Istikharah dilakukan minimal dua rakaat, dan maksimal dua belas rakaat. Usai shalat, bacalah doa dengan penuh kerendahan hati dan kekhusyukan apa yang kita inginkan.

Fadilah Shalat Istikharah

  1. Jika seseorang telah mantap dengan suatu urusan lalu ia memohon kepada Allah agar urusan tersebut menjadi baik dan diridai Allah, Allah bisa mempermudah jalannya untuk urusan tersebut;
  1. Namun, jika perkara tersebut ternyata tidak baik baginya maka Allah akan datangkan penghalang baginya sehingga ia tidak bisa melaksanakan urusan tersebut. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
  1. Sebagai bukti bergantungnya seorang hamba kepada Allah SWT dan kepasrahan dirinya pada segala urusannya. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Taubah: 51. “Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung Kami, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Kutipan fadilah shalat Istikharah di atas diambil dari buku Fadilah dan Tatacara Shalat Sunah + Shalat Wajib yang disusun oleh Ustadz Mawi Khusni Albar. Buku ini mengajak pembaca dalam menyempurnakan ibadah shalat wajib dan melengkapinya dengan shalat-shalat sunah.

Beberapa shalat sunah yang dibahas di antaranya Shalat Istikharah, Dhuha, Tahajud, Hajat, Tobat, dan lain sebagainya. Semua dilengkapi dengan alasan manfaat serta keutamaan atau fadilahnya.

Semoga informasi ini bermanfaat dan galau tidak lagi menjadi ‘penyakit’ para jomblo.

 

foto: www.idmuslim.com

cobaan hidup

Cobaan Hidup dan Perintah Allah Agar Kita Bersabar

Cobaan hidup tak akan meruntuhkan hidup kita, sekeras apa pun ia menghantam, selama kita masih ingat pada Allah Taala dan mau bersabar.

Coba tebak, kata apa yang paling mudah diucapkan tapi sulit dilakukan? Yup, sabar. Kata “sabar” sering diucapkan kepada orang lain yang terkena cobaan hidup, terlibat masalah, atau sedang dikuasai amarah. Namun ketika sabar itu dipraktikkan, sulit sekali dan butuh hati yang ikhlas untuk menerimanya.

Ada tiga macam sabar di dunia. Pertama, sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Karena cobaan dari Allah pasti ada untuk menguji keimanan dan kesabaran kita. Kedua, sabar dalam menjalankan perintah Allah. Jika kita mampu menjalaninya dengan sepenuh hati, niscaya akan mendapat hikmah dan manfaatnya. Ketiga, sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Woles Aja…: Bagaimana Sabar Bisa Mengatasi Cobaan Hidup

Nah, hal ini yang dibahas oleh Alisnaik dalam komik terbarunya yang berjudul Woles Aja… Ia ingin menunjukkan bagaimana kesabaran dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hmm, pernah nggak ketika naik angkot, tetapi supirnya memilih untuk ngetem? Pasti bete kan, karena jadi nunggu lama. Belum kalau ada janji dengan orang lain, pasti jadi telat deh.

Dalam komik ini, diceritakan Pipit dan Merak sedang naik angkot. Tiba-tiba supir angkot memutuskan untuk ngetem karena menunggu penumpang. Sambil menunggu, ia pun menggunakan waktunya untuk membaca Al-Qur`an. Tentu saja Pipit dan Merak terkesima, karena biasanya supir angkot identik dengan karakter yang kurang baik. Namun ternyata ada juga lho, supir angkot yang berakhlak baik seperti ini.

Ide membuat cerita ini ini didapatkan oleh penulis ketika ia melihat langsung seorang supir angkot yang menyempatkan untuk membaca Al-Quran ketika menunggu penumpang. Hal itu rupanya menginspirasi penulis dan dibuatlah komik ini. Masih banyak lagi ide lainnya yang penulis dapatkan dari hal yang ada di sekitarnya.

Secara keseluruhan, komik ini menceritakan tentang bagaimana melatih dan menerapkan kesabaran. Karena sabar itu bukanlah pasrah, pasif, dan nurut saja apa kata orang. Tetapi justru berusaha untuk nggak terpengaruh oleh omongan orang. Jika kita terbiasa sabar, masalah-masalah yang menghantui pasti akan mudah diatasi. Selamat belajar sabar, ya!

Sabar memang susah dilakukan, tapi jika kita terbiasa sabar, pasti akan mudah melakukannya. Simak beberapa cerita menarik tentang sabar dalam komik Woles Aja… karya Alisnaik ini. Ringan, segar, namun juga penuh makna.

 

Sumber foto: https://yeaharip.com

TGB

Pin It on Pinterest