agung, Author at Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
7
archive,author,author-agung,author-7,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
hafidz al-quran

Biografi Singkat 5 Hafidz Al-Quran Paling Inspiratif

Selain lantunan bacaan yang merdu, qari juga mempunyai hal lain yang bisa kita kagumi. Di antaranya kisah tentang keakraban mereka dengan Al-Quran.

Bagi seseorang yang dekat dengan Al-Quran, rasanya tiada hari yang indah untuk dilewati tanpa membacanya. Sebab, Al-Quran punya tempat tersendiri yang mengisi ruang hati mereka. Dan itu tidak bisa digantikan.

Baca juga: 5 Keberkahan Berkat Belajar & Mengajarkan Al-Quran

Sebagaimana kita tahu, orang yang dekat dengan Al-Quran punya banyak kemuliaan. Al-Quran telah membuat hidup mereka terjaga. Jiwa mereka sempurna ketenangannya. Dan yang pasti, Al-Quran melembutkan hati mereka.

Kalau kita perhatikan, kehidupan mereka juga begitu istimewa. Tiap orang beramai-ramai ingin mendapat berkah darinya. Doa mereka menjadi sesuatu yang kita dambakan. Bahkan tak jarang, lantunan tilawah mereka menggetarkan hati kita.

***

Pembaca yang dirahmati Allah, kita tahu di antara orang-orang yang dekat dengan Al-Quran, qari adalah salah satunya. Tulisan ini mengajak pembaca untuk mengenal beberapa qari melalui biografi singkat mereka. Semoga kisah mereka menjadi teladan untuk kita.

1. Syaikh Abdurrahman as-Sudais

Syaikh Abdurrahman as-Sudais merupakan qari ternama dan diakui keilmuannya. Sebagian kita mungkin pernah mendengar lantunan Al-Quran yang ia bacakan. Atau bahkan menjadikannya sebagai qari favorit yang nada bacaannya kita tiru.

Ulama yang memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Abdul Aziz bin Muhammad as-Sudais ini lahir di al-Bukairiyah. Sebuah kota yang terletak di provinsi al-Qasim, sebelah timur laut dari provinsi Mekkah.

Syaikh as-Sudais pertama kali diangkat menjadi imam di Masjidil Haram pada usia yang masih muda, yakni 22 tahun. Selain aktif menjadi imam di Masjidil Haram, ia turut serta dalam membina ummat di Saudi Arabia.

Jasanya yang tak terhitung membuat Syaikh as-Sudais dianugerahi beberapa penghargaan. Di antaranya pada tahun 2005, ia mendapatkan penghargaan sebagai “Islamic Personality Of the Year” (Toko Muslim Berpengaruh) dari Dubai International Holy Quran Award (DIHQA) Organising Committee.

2. Syaikh Asy-Syuraim

Selain Syaikh as-Sudais, Syaikh Asy-Syuraim juga merupakan salah satu qari di Masjidil Haram yang populer. Ia dilahirkan di kota Riyadh dengan nama lengkap Su’ud bin Ibrahim bin Muhammad Alu Syuraim.

Mengenai pendidikannya, Syaikh Asy-Syuraim menempuh kuliah di Universitas Muhammad Ibnu Su’ud Al-Islamiyah di Riyadh jurusan Aqidah dan al-Madzhab al-Mu’shirah. Kemudian melanjutkan ke tingkat Magister di Ma’had al-Ali lil Qadha’.

Baca juga: 7 Fenomena Sains Modern Ini Ada di Dalam Al-Qur’an

Pada tahun 1416 H, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Ummul Qura untuk jenjang doktoral, dan lulus dengan mendapatkan nilai summa cum laude.

Sebagai imam Masjidil Haram, ia disebut sebagai qari yang kuat hafalannya. Ia juga dikenal sebagai orang yang menuangkan seluruh masa mudanya untuk menghafal dan menjaga Al-Quran.

3. Muhammad Thaha al-Junayd

Nama Muhammad Thaha sudah tak asing di telinga umat Muslim dunia, termasuk kita. Lantunan bacaan Al-Qurannya saat masih belia sering menemani keseharian kita. Tak jarang masjid di dekat rumah melantunkan rekaman tilawah darinya.

Muhammad Thaha sudah menghafal Al-Quran sejak usia 8 tahun. Dengan dibantu oleh orangtuanya, ia berhasil menyelesaikan hafalan pada usia 13 tahun. Ia mengaku banyak termotivasi oleh sang ayah yang akhirnya mendorong dirinya terjun untuk menghafal Al-Quran.

Supaya hafalannya terjaga, Muhammad Thaha membuat jadwal khusus untuk muraja’ah (mengulang hafalan) beberapa juz dalam sehari. Baginya, menjaga hafalan jauh lebih sulit dibandingkan menghafal itu sendiri.

Muhammad Thaha mengungkapkan bahwa kunci pertama yang harus dimiliki para penghafal Al-Quran adalah niat. Dengan niat yang kuat, Allah akan memudahkan seseorang meraih cita-citanya menghafalkan Al-Quran.

4. Syaikh Misyari Rasyid Al-‘Afasi

Kemerduan suara Syaikh Misyari Rasyid sudah terdengar ke berbagai penjuru dunia. Mungkin sebagian kita akrab dengan nada dan lantunan Al-Qurannya. Ada banyak video tilawahnya yang beredar di internet, dan tentu saja digemari banyak orang.

Syaikh Misyari Rasyid lahir pada tahun 1976 M di Kuwait. Ia merupakan qari internasional yang mengisi banyak masjid besar di negara kelahirannya. Ia merupakan spesialis ilmu Al-Quran, terutama dalam masalah bacaan.

Baca juga: 5 Perempuan Hebat di Dalam Al-Quran (1)

Sepanjang hidupnya, Syaikh Misyari Rasyid beberapa kali menerima penghargaan. Pada tanggal 25 Oktober 2008, ia dianugerahi Oscar Kreativitas Arab pertama oleh Uni Kreativitas Arab di Mesir.

Penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadapnya. Lantaran berperan dalam mempromosikan prinsip-prinsip dan ajaran Islam. Serta memanfaatkan teknologi modern untuk menyampaikan pesan damai.

5. Syaikh Usamah bin ‘Abdillah Khayyath

Syaikh Usamah lahir pada tahun 1375 H di Mekkah. Ia belajar di kota kelahirannya itu dan lulus dari Fakultas Kitab dan Sunnah pada tahun 1396 dengan predikat cumlaude.

Syaikh Usamah ditetapkan sebagai imam Masjidil Haram pada tahun 1997 menggantikan ayahnya, Abdullah bin Abdul Ghani Khayyath. Sebagai imam, ia dikenal dengan gaya bahasa yang kuat dan mampu menggetarkan hati.

Ia berprofesi sebagai pengajar di Masjidil Haram, mantan Anggota Majelis Syura, Dosen di Fakultas Syari’ah Jami’ah Ummul Qura’. Salah satu keistimewaan Syaikh Usamah ialah mendapatkan ijazah sanad dalam meriwayatkan kutubus sunnah dan seluruh kitab induk hadits yang lain.

***

Al-Quran adalah mukjizat Rasulullah untuk umat manusia akhir zaman. Di dalamnya terkandung berbagai informasi penting, bukan hanya tentang masalah ketuhanan tapi juga kemanusiaan, bukan hanya bagaimana mempersiapkan hari akhir tapi juga bagaimana menghadapi hari ini.

Bulan Agustus 2019 ini, Qultummedia mempersembahkan sebuah buku yang akan membantu pembaca untuk membaca, memahami, dan menghafalkan bagian terakhir Al-Quran, yakni Juz 30 atau Juz ‘Amma. Di dalam buku ini, Juz ‘Amma kami hadirkan dengan latin dan terjemahnya, sirah atau sejarah ayat-ayat, hikmah atau pelajaran dari ayat-ayat tersebut, juga asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat.

Selain itu, buku ini juga kami lengkapi dengan panduan shalat wajib dan sunah, zikir bakda shalat, dan tak lupa doa-doa yang berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw.

 

Sumber foto: freepik.com

5 Keberkahan Berkat Belajar & Mengajarkan Al-Quran

Sebagai pedoman hidup manusia, Allah menjamin keabsahan Al-Quran hingga hari akhir. Dan di antara bentuk penjagaan-Nya ialah melalui mereka yang membaca Al-Quran, mempelajari, mengajarkan, juga mengamalkannya.

***

Teman-teman, masih ingat pengalaman saat belajar membaca Al-Quran?

Saat anak-anak, ada banyak cerita bagaimana sulitnya kita mempelajarinya. Kita mengeluh tentang rumitnya pelafalan huruf-huruf. Kita tak tahan dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Dan tak jarang, orangtua menegur lantaran kita tidak mau diatur.

Namun, semakin dewasa kita justru semakin sadar. Orangtua mengajari kita Al-Quran justru karena sayang pada kita. Lihat betapa sabarnya mereka saat mengenalkan pada kita huruf-huruf hijaiyah. Betapa lapangnya dada mereka saat mencontohkan tajwid pada kita. Semua itu mereka lakukan agar kita menjadi orang yang baik, seperti apa yang mereka selalu doakan.

Baca juga: 7 Fenomena Sains Modern Ini Ada di Dalam Al-Qur’an

Teman-teman tentu tahu, yang melalui proses perjuangan dan bersabar dalam belajar Al-Quran bukan hanya kita. Para sahabat dan ulama terdahulu pun melewatinya. Bahkan boleh dibilang, usaha kita tidak sebanding dengan mereka.

Sahabat Utsman bin Affan misalnya. Ia pernah bercerita bahwa mula-mula dirinya belajar dari Rasulullah hanya dengan 10 ayat. Ia tidak pindah atau melanjutkan untuk mempelajari ayat yang lain, kecuali telah berhasil memaknai dan mengamalkan ayat-ayat tersebut.

Ada juga kisah Abdullah bin Masud, yang juga tidak pernah putus belajar Al-Quran dari Rasulullah. Sampai-sampai setiap ayat Al-Quran yang dibacakan padanya, ia tahu latar belakang dan tempat di mana ayat tersebut turun.

Ulama-ulama dahulu menjadikan Al-Quran sebagai karibnya. Pelita yang menerangi hati dan pedoman dalam mengarungi hidup. Kedekatan mereka dengan Al-Quran bukan hal yang perlu lagi dipertanyakan. Tak mengherankan, Imam Syafii bahkan sudah mampu menghafal Al-Quran saat berusia tujuh tahun.

***

Teman-teman yang baik, ada banyak keutamaan yang bisa kita dapatkan jika istikamah belajar dan mengajarkan Al-Quran. Di antara semua keutamaan itu, kami meringkasnya menjadi beberapa poin agar Teman-teman lebih mudah memahaminya. Semoga bermanfaat, ya!

  1. Memperoleh Derajat yang Tinggi

Siapa saja yang dekat dengan Al-Quran, bersabar dalam mempelajarinya, ikhlas dalam mengamalkannya, dan tawadhu dengan ilmu yang ia miliki, Allah akan memposisikannya pada derajat yang lebih tinggi.

Imam Bukhari meriwayatkan, orang yang ahli dalam membaca Al-Quran bersama para malaikat pencatat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang terbata-bata ketika membaca Al-Quran dan bersusah payah mempelajarinya, baginya dua pahala.

  1. Mendatangkan Syafaat

Dalam sebuah riwayat, Abu Umamah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para sahabatnya.”

Saat tak ada pertolongan di hari akhir nanti, Al-Quran akan memberi syafaat bagi siapa saja di dunia yang gemar membacanya. Ia akan menjadi saksi bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

  1. Mendapatkan Pahala yang Agung

Allah menjanjikan pahala berlipat ganda untuk mereka yang membaca Al-Quran. Tiap huruf darinya bernilai 10 kebaikan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

  1. Mendapat Naungan dari Malaikat

Jika ada orang-orang yang membaca Al-Quran dalam suatu majelis, maka ketenteraman akan turun pada mereka. Rahmat akan senantiasa dicurahkan pada mereka sepanjang majelis berlangsung. Dan malaikat akan menaungi dan menyebut-nyebut kebaikan mereka di hadapan-Nya.

  1. Menghilangkan Penyakit Hati

Seringkali kita lupa menjaga diri dari penyakit yang tak terlihat. Yaitu penyakit yang ada di dalam hati dan sulit untuk disembuhkan. Seperti riya’, ujub, iri, sombong, dan sebagainya. Untuk menghilangkan itu semua, Rasulullah menasihati kita agar memperbanyak zikir dan baca Al-Quran.

***

Al-Quran adalah mukjizat Rasulullah untuk umat manusia akhir zaman. Di dalamnya terkandung berbagai informasi penting, bukan hanya tentang masalah ketuhanan tapi juga kemanusiaan, bukan hanya bagaimana mempersiapkan hari akhir tapi juga bagaimana menghadapi hari ini.

Bulan Agustus 2019 ini, Qultummedia mempersembahkan sebuah buku yang akan membantu pembaca untuk membaca, memahami, dan menghafalkan bagian terakhir Al-Quran, yakni Juz 30 atau Juz ‘Amma. Di dalam buku ini, Juz ‘Amma kami hadirkan dengan latin dan terjemahnya, sirah atau sejarah ayat-ayat, hikmah atau pelajaran dari ayat-ayat tersebut, juga asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat.

Selain itu, buku ini juga kami lengkapi dengan panduan shalat wajib dan sunah, zikir bakda shalat, dan tak lupa doa-doa yang berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw.

 

Sumber gambar: pixabay.com

Allah Selalu Menemani Kita, Di Mana Pun, Kapan Pun

Berbagai cara kau tempuh untuk menghindar dari rasa sepi. Namun pada akhirnya, waktulah yang menjawab. Bahwa kesepian tidak tercipta kecuali hatimu sedang jauh dari-Nya. Padahal, kau tahu, Dia selalu berada di sisi kita, menemani kita.

***

Mungkin di usiamu yang sekarang, kau sedang dalam fase mempertanyakan jalan hidupmu. Ketika sahabatmu mulai menata masa depannya, dan banyak pencapaian yang bisa mereka raih dan banggakan. Lalu, kau menganggap hidup ini enggan memihakmu.

Kau mulai mencari jawaban dari semuanya. Hatimu bertanya-tanya ke mana orang yang dulu selalu ada. Semakin kau mencari, keadaanmu semakin terpuruk. Lewat media sosial mereka, kau menemukan apa yang tidak ada dalam hidupmu. Dan sekali lagi, kau menyalahkan takdir.

Hari-hari kau lewati dengan perasaan yang  sama. Perasaan yang mengira bahwa kau tidak dibutuhkan.

Baca juga: Setelah Dia Pergi: Sebuah Percakapan dengan Hati

Di dalam kamar, kau mengurung diri. Meratapi kenyataan yang begitu menyakitkan. Kau mulai membenarkan hal yang dulu tidak kau percaya. Tentang kehidupan orang dewasa. Kehidupan yang penuh perih dan luka.

Tiap orang pernah berada di titik terendah. Mereka mencari pelarian dari masalah yang tak kunjung usai. Sebagian dari mereka berhasil, sebagian yang lain memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Ketika kau anggap dirimu tak berguna, lihatlah kembali masa lalumu. Kau dilahirkan di dunia ini bukan tanpa alasan. Bahkan ketika masih berada di dalam kandungan, banyak orang yang menantikan hadirmu. Mereka tahu kau adalah hadiah bagi semesta.

Sesakit apa pun perasaanmu, seperih apa pun luka yang tak bisa kau jelaskan, jangan pernah ambil jalan pintas untuk keluar dari masalah ini.

Baca juga: Muhasabah: Jangan Menyerah dengan Masalah!

Kau tak perlu mengakhiri hidup hanya karena ujian yang tiap orang pernah mengalaminya. Kau tak perlu “kehidupan malam” yang hanya membuatmu tidak sadarkan diri. Sejatinya, kau hanya butuh didengarkan. Dan Allah senang jika kau ingin bercerita.

Doa yang kau panjatkan mungkin tak langsung menuntaskan semua. Air matamu yang jujur pun tak lantas membuat masalah seketika berakhir. Kau tetap harus berjuang. Bedanya, kini kau menyadari bahwa Allah selalu menemanimu.

Setelah banyak waktu kau habiskan, akhirnya kau menemukan jawaban dari masalahmu selama ini.

Kini kau kembali menata hidupmu. Hatimu tak bosan-bosannya memanjatkan syukur. Dan di akhir cerita ketika semuanya usai, kau tersenyum.

Mungkin karena kau tahu dirimu tidak lagi sendiri.

***

Perjalanan yang melelahkan kadang bisa membuat kita lupa dengan beberapa hal. Celakanya, usaha kita saat bergelut dengan peristiwa-peristiwa sepanjang perjalanan itu bisa membuat kita lupa dengan hal terpenting dari perjalanan tersebut: tujuan.

Ya, awalnya kita memaksa diri untuk kuat, lalu perlahan terbiasa, dan berikutnya menikmati setiap langkah yang kita ambil. Kita pun terlena, dan selanjutnya lupa dengan diri, juga melupakan Tuhan kita: satu-satunya alasan mengapa kita memulai perjalanan itu.

Innallaha Ma’ana; Allah Selalu Menemani Kita adalah sebuah karya tentang ajakan. Ajakan untuk kembali mengingat-Nya. Merasakan-Nya. Mendekat pada-Nya. Bahwa Dia ada, hadir, bahkan menemani kita, kapan pun dan di mana pun diri kita berada.

Dalam suka dan duka, dalam derai tawa atau linangan air mata.

Teman-teman bisa mendapatkan buku karya para penulis @tausiyahku_ ini di toko buku Gramedia, TM Bookstore, Gunung Agung, dan yang lainnya. Juga bisa didapatkan di berbagai toko online. Setelah membacanya, jangan lupa beri review tentangnya di media sosial dan mention kami @qultummedia (Twitter & Instagram) atau Fanpage Qultummedia di Facebook.

 

*Sumber gambar: pixabay.com

Setelah Kau Pergi: Sepucuk Surat Tentang Resah Hati

Orang yang kehilangan akan menempuh jalan baru dalam hidupnya. Menata semuanya dari awal: menyembuhkan luka, berdamai dengan diri, mungkin mengutarakan isi hati yang belum tersampaikan.

***

Hai, apa kabar?

Semoga saat ini kau baik-baik saja, sebagaimana aku yang bisa tersenyum menuliskan surat ini untukmu.

Sudah lama semenjak kita berpisah, kuharap tak ada yang berubah darimu. Kau tetap menjadi wanita yang penuh kasih. Perhatian pada lelaki yang berhasil menyita hatimu.

Sayangnya, lelaki itu bukan diriku.

Masih terbayang olehku raut wajahmu. Hari ketika kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita.

Saat itu aku paham alasanmu pergi. Kau ingin meniadakan siapa saja yang mengalihkan fokusmu untuk mengejar mimpi. Tak ada pilihan lain untukku kecuali mengiyakan. Bodohnya aku, sedikit pun aku tak merasa kau sedang berdusta.

          Baca juga: Setelah Dia Pergi: Sebuah Percakapan dengan Hati

Beberapa hari berlalu. Aku tak bisa membohongi diri sendiri. Kehilanganmu telah membuat hidupku berhenti sesaat. Meratapi kegagalan terbesar yang pernah kualami: menjaga wanita yang kucintai.

Namun, kesedihan itu menjadi tak berarti setelah aku tahu semuanya. Ketika aku mulai menangkap maksudmu menjauh. Ya, ada lelaki lain yang kau dambakan. Aku telat menyadari itu.

Kini, aku ingin memberitahumu beberapa hal. Mungkin kau merasa bersalah atas hal ini. Mungkin kau akan meminta maaf sebanyak-banyaknya jika kita tak sengaja bertemu. Jangan khawatir, semua luka yang kau beri sudah kutangani.

Justru aku berterima kasih padamu dan keputusan yang kau ambil. Jika saja aku tak mengalaminya, hatiku takkan sekuat hari ini. Aku percaya, hidup punya banyak cara untuk mendewasakan seseorang. Dan, aku mendapat kesempatan itu melalui kepergianmu.

Kalau boleh mengutarakan rasa kesal, aku tak akan mengarahkannya padamu. Melainkan pada diriku yang dulu: lelaki lemah yang mudah dipermainkan cinta.

Sekali lagi, kepergianmu membawaku ke jalan yang belum pernah kutempuh. Jalan yang hanya bisa dilewati oleh mereka yang berhasil merelakan.

          Baca juga: Berdamai dengan Patah Hati

Sebelum menutup surat ini, izinkan aku menyampaikan pesan terakhir. Untukmu atau siapa pun yang membacanya.

“Lihat, aku adalah bukti bahwa seseorang pasti dapat bangkit dari keterpurukan. Aku adalah kenyataan yang memberi tahu bahwa kehilangan bukan masalah terbesar dalam hidup. Jika orang yang patah hati saja bisa kembali tersenyum, bagaimana denganmu yang hatinya baik-baik saja?”

***

Separah apa pun hati kita tersakiti, waktu menjadi penawar yang paling bisa diandalkan, paling tidak membantu kita sedikit mengabaikan sakitnya. Di sini, berlalunya waktu adalah anugerah yang jarang kita sadari, apalagi kita syukuri.

Kita tak pernah berharap kehilangan apa pun. Tapi, hidup selalu punya jalan ceritanya sendiri. Sekuat apa pun kita mengendalikannya, ada saatnya kita harus tunduk dan berlutut: pada tikungan jalan hidup yang tak pernah kita perkirakan.

Ya, di situlah harapan kadang memudar, seiring kenyataan yang bertolak belakang. Sebagian orang kemudian menghabiskan waktunya dengan meratapi takdir, sebagian melakukan perjalanan yang tak benar-benar memiliki tujuan, sebagian lagi mencari pelampiasan dengan mencari pengganti.

Buku Setelah Dia Pergi telah rilis bulan ini. Akhir Mei 2019 ini, buku pertama Dedy Chandra H. ini sudah bisa Pembaca dapatkan di toko-toko buku se-Indonesia. Saat ini, penulis tengah membuka Pre-Order melalui akun @tersenyumlah.semesta, berikut link-nya
bit.ly/pesanbukusdp

 

Sumber gambar: pixabay.com

Muhasabah: Sekali Terjatuh, Selamanya Mencintai

Saat jatuh cinta, kita akan menciptakan sebuah dunia yang baru. Dunia yang hanya kita isi dengan sosok pujaan hati. Di dalamnya, mimpi-mimpi bersemi dan hidup seakan berseri-seri.

Tulisan ini ditujukan untukmu. Orang yang sedang jatuh cinta, namun tak berani mengungkapkannya. Orang yang memendam rindunya sendiri. Yang hanya tahu kabar si dia dari instastory.

Kau tak sendirian. Semua tahu gelagat orang yang sedang punya rasa. Ia akan mencari apa pun informasi tentang orang yang dicintai: hobinya, tempat tinggalnya, dan tak terkecuali orang yang sedang dekat dengannya.

Indahnya jatuh cinta memang tak bisa dijelaskan. Tapi, beberapa orang berusaha untuk menuliskan rasa itu. Berikut 15 quotes yang bisa membantumu merawat cinta.

“Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.” – Jalaluddin Rumi

 

“Jika sudah menemukan orang yang pas untukmu, istirahatkan akalmu untuk berpikir. Sebab akalmu akan terus mencari perbandingan antara ia dengan yang lain. Tapi, bangunkan hatimu. Sebab ia akan mencari pembenaran untuk terus mencintainya.” – Prof. Quraish Shihab.

 

“Biarkan cintamu membawaku ke atas langit, yang bahkan burung pun iri karena tak bisa terbang begitu tinggi.” –  Akanksha Gulia

 

“Setiap saat aku bisa belajar untuk mencintai ia yang sungguh-sungguh mencintaiku lewat kebaikannya, lewat keindahan yang disampaikan banyak orang tentangnya dan ketaksempurnaan yang menjadikannya manusia.” – Helvy Tiana Rosa

 

“Selagi mencintaimu bukan larangan Tuhan, aku akan tetap melakukannya.” – Ilham Gunawan

 

“Cinta itu seperti layangan. Kita seakan punya kuasa untuk mengarahkannya ke penjuru langit tertentu, namun pada akhirnya tak akan bisa melawan kehendak angin.” – Sam Haidy

 

“Berhentilah bertanya bagaimana menemukan pasangan yang baik. Mulailah menjadi orang yang baik dan terus lebih baik, maka akan terjawab sendiri pertanyaan ini.” – Tere Liye

 

“Kau menanyakanku, Kekasih, “Apa bedaku dengan langit?” Bedanya, saat kau tertawa, aku lupa tentang langit.” – Nizar Qabbani

 

“Yang terindah dalam cinta kita: ia enggan selesai.” – Ghada Al-Samman

 

“Hati wanita akan terbuka untuk ia yang mengetuknya berkali-kali.” – Anis Mansour

 

“Tak kuinginkan dari cinta kecuali permulaannya.” – Mahmud Darwish

 

“Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya.” – Dewi Lestari

 

“Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan. Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang untuk memberikannya kepada orang lain. Kamu selalu memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepada orang lain.” – Habiburrahman El Shirazy

 

“Masih bertahan dengan kelemahanmu. Masih betah dengan kelebihanmu.” – Boy Chandra

 

“Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?” – Asma Nadia

 

*Sumber foto: pixabay.com

Bincang-bincang Bareng Penulis “Melangkah Searah”

Buku Melangkah Searah sudah memasuki cetakan kedua sejak diterbitkan bulan lalu. Aji Nur Afifah, sang penulis buku, berbagi pengalaman tentang proses penulisan buku ini dan sekelumit tentang isinya. Mari ikuti perbincangan kami dengan penulis kelahiran Malang yang kini menetap di Yogyakarta ini.

***

 

Assalamualaikum, Mbak Apik, apa kabar?

Wa’alaikumussalam, kabar alhamdulillah baik. Ini lagi pulang kampung, jadi semakin merasa baik, karena bahagia bisa kangen-kangenan sama keluarga. Hehehe.

Sebelumnya, kami sampaikan selamat atas terbitnya buku terbaru Mbak. Boleh dong, Mbak, diceritakan sepintas saja tentang ide awal menulis buku ini …

Ide awalnya, sebenarnya tulisan-tulisan semacam ini sudah lama tercecer di blog. Saya dan suami membuat sebuah rubrik di Tumblr yang berjudul “Rumah Tangga Muda” atau biasa disebut RTM. Lalu kami merasa, sepertinya akan lebih bermanfaat jika mengumpulkannya menjadi sebuah buku yang runut dan bisa dijangkau oleh lebih banyak pembaca. Karena, kan, kalau di Tumblr kebanyakan yang baca, ya, orang-orang Tumblr. Kalau sudah dalam bentuk buku, akan lebih banyak lagi yang bisa membacanya.

Ada yang bilang kalau sepasang kekasih itu sebenarnya tidak cukup mengenal satu sama lain sampai keduanya menikah. Menurut Mbak bagaimana?

Saya sepakat dengan statemen tersebut. Menurut saya pribadi, menikah itu memang ajang mengenal yang paling komprehensif. Semuanya bisa terbuka, itulah mengapa kita dan pasangan adalah ‘pakaian’ satu sama lain. Ya karena aib-aib kita, kebiasaan kecil, sifat asli, karakter, semuanya akan terbuka setelah menikah. ‘Pakaian’ itu sejatinya menutupi dan melindungi. Nah, itulah mengapa dalam Islam sebenarnya nggak ada istilah kekasih sebelum menikah, adanya kenalan saja, untuk menyamakan visi-misi pernikahan. Pacaran bertahun-tahun juga nggak menjamin bisa mengenal pasangan dengan sebenarnya, Makanya, dalam Islam nggak boleh (pacaran, red.). Karena bukannya saling mengenal, nanti malah kebablasan setan yang mengenalkan kita ke yang nggak-nggak. Hehehe.

Ada nggak sih sesuatu yang mengejutkan, lucu, atau mengharukan setelah Mbak dan suami hidup bersama?

Banyak sih, saya dan suami ini tipe orangnya yang bercanda terus kayaknya tiap hari. Adaa aja yang dibuat bahan. Mulai dari berondongan pertanyaan, “Itu handuk basah yang naruh situ siapa?” sampai “Kamu masak apa, Dek, ini kok baunya gosong?” Hahaha. Tapi, kesalahan-kesalahan kecil nggak pernah jadi masalah buat kami. Jadi, diketawain aja. Dibuat lucu. Upaya saling mengenal tiap hari itu udah butuh tenaga, ya, jangan dihabisin buat meributkan hal-hal kecil. Yang mengejutkan, lucu, dan haru sudah banyak saya bahas di buku. Makanya, ayo baca bukunya! Hihi …

Ide untuk tidak marah sampai usia pernikahan mencapai 40 hari itu menarik. Apa latar belakang membuat kesepakatan tersebut? Dan kenapa 40 hari?

Itu saya sendiri dikasih tahu seorang kerabat. Jadi, dulu beliau juga diberi nasihat seperti itu, lalu berhasil mempraktikkan dan menularkannya kepada saya. Kenapa 40 hari? Karena katanya sebuah kebiasaan kalau sudah dilakukan selama 40 hari, ibarat otot, udah lemes. Udah jadi biasa. Hehehe. Jadi, kita coba 40 hari itu. 40 hari pertama mulai terbuka tuh (karakter pasangan, red.) sedikit-sedikit.

Di buku itu Mbak Apik juga bercerita bahwa Mbak dan suami punya kesepakatan untuk tidak tidur sebelum masalah yang tengah dihadapi saat itu selesai dibicarakan. Ini praktiknya ‘kan susah, Mbak? Ada tip-tip nggak biar kita bisa konsisten mengikuti ide itu?

Apa ya, nggak ada tips macem-macem, sih. Cuma saya dan suami sepakat, apa pun masalahnya, yang pertama kali jadi orientasi kita adalah sabar dan fokus ke solusi. Sabar, karena menghadapinya kalau bisa nggak perlu marah-marah, karena kita yakin yang dinilai sama Allah itu juga prosesnya. Jangan sampai kita diuji malah nggak lolos ujian ini, karena kita menjalani prosesnya dengan kondisi emosi yang buruk. Kedua, fokus di solusi untuk meminimalisir drama. Ya, pasangan mana sih yang mau berantem? Marahan sama pasangan setelah nikah itu nggak ada seru-serunya, nggak ada benefitnya. Jadi, kita fokus ke solusi, biarpun pahit prosesnya, tapi ini untuk kebaikan bersama. Saya jadi belajar buat nggak kelamaan ngambek, suami juga belajar buat lebih memahami kalau saya ngambek karena, ya, itu tadi … fokus ke solusi. Hehehe.

Pasangan suami-istri itu ‘kan perlu saling mengerti, terutama setelah punya anak. Ada pengalaman menarik tentang hal ini?

Setelah kelahiran anak pertama, saya jadi banyak belajar. Begitupun suami. Waktu itu saya merasa bahwa sayalah yang harus dipahami, apalagi sebagai ibu baru. Tapi, ternyata setelah berbulan-bulan berselang, suami saya bercerita bagaimana bingungnya dia, bagaimana rasanya dia saat menjadi ayah yang baru. Di situ saya sadar, bahwa yang beradaptasi dengan kondisi ini nggak cuma saya, tapi suami juga. Yang syok nggak cuma saya, suami juga. Yang berkorban nggak cuma saya, tapi suami juga. Saya dan suami suka sekali bercerita dan sharing di sela-sela mengasuh anak atau menjelang tidur, tentu saja dengan rules: gadget ditaruh dulu, hehehe. Dan waktu-waktu itu menjadi waktu yang berharga buat kami untuk saling bertukar pikiran atas apa yang dirasakan satu sama lain.

Pertanyaan terakhir dan mungkin banyak menjadi uneg-uneg di benak pasangan muda nih, Mbak: Ada nggak tip-tip biar disayang mertua? Apa saja?

Ini ada di buku Melangkah Searah! Hihi. Tapi, menurut saya, sebenarnya beda mertua, ya beda rumusnya. Kalau saya sih, ketika ingin disayang, kita juga harus mulai untuk menyayangi. Berkirim hadiah juga bisa menjadi salah satu upaya. Sering-sering telepon kalau jauh dari mertua. Kalau seatap, posisi pasangan juga harus tegas untuk lebih adil menempatkan kita dan pasangan. Tunjukkan bakti kita kepada mertua, sebagaimana kepada orangtua sendiri. Dan yang paling krusial adalah minta sama Allah agar hati kita dan mertua dilembutkan. Karena memang adaptasi mertua-menantu ini tantangan.

***

 

Menapaki kehidupan rumah tangga ibarat menempuh sebuah perjalanan. Kadang kita menemui jalan yang lurus, berliku, menanjak, atau menurun. Kadang bergelombang dan terjal, tapi kadang sangat mulus dan mudah dilalui.

Selama beberapa tahun Aji Nur Afifah menuliskan pengalaman rumah tangganya di www.ajinurafifah.tumblr.com dan awal tahun ini, alhamdulillah, ia telah merampungkan naskahnya yang berjudul Melangkah Searah dan diterbitkan oleh Qultummedia.

Buku ini bisa Pembaca dapatkan secara online di republikfiksi.comGramedia.com dan toko buku online yang lain, atau secara offline di GramediaGunung AgungTM Bookstore, dan toko buku offline yang lainnya. 

*Sumber foto: freepik.com

7 Fenomena Sains Modern Ini Ada di Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an bukan hanya kitab yang berisi tatacara ibadah. Di dalamnya terkandung banyak ilmu dan hikmah yang sampai hari ini belum seluruhnya terungkap. Bagi siapa pun yang tekun mempelajarinya, ia akan menemukan mukjizat-mukjizat yang menakjubkan.

Empat belas abad silam, bulan Ramadan menjadi momentum yang sepenuhnya baru bagi manusia. Kala itu, teka-teki tentang tujuan penciptaan manusia sekaligus keprihatinan terhadap kondisi masyarakat menyita perhatian seorang lelaki dari Bani Hasyim.

Muhammad, nama laki-laki itu. Demi mencari jawaban bagi pertanyaan tersebut, Muhammad kerap menyendiri dan menenangkan pikiran di Gua Hira. Berharap menemukan jawaban dari kegelisahannya itu.

Saat itulah, sebuah anugerah yang besar Allah berikan padanya. Dengan membawa wahyu, Jibril datang padanya. “Iqra’!” ujar Jibril. Tubuh Muhammad bergetar. Ia menjawab apa adanya, “Aku tidak bisa membaca.”

Percakapan tersebut terulang sampai tiga kali. Dan dari buku-buku tafsir, kita mengetahui bahwa selanjutnya Jibril membacakan Surah Al-Alaq ayat satu sampai lima kepada Muhammad. Dan sejak malam yang penuh keberkahan itu, suami Khadijah yang dikenal jujur itu diangkat sebagai utusan Allah (rasulullah).

***

Sampai detik ini, Al-Qur’an terus menjadi perbincangan di kalangan ilmuwan. Selalu ada pengetahuan baru yang dapat diambil darinya. Bahkan beberapa dari mereka sampai memeluk Islam, karena takjub dengan mukjizatnya.

Seiring perkembangan waktu dan teknologi, kini semakin banyak fakta sains di dalam Al-Qur’an yang telah terbukti. Hal tersebut menunjukkan Al-Qur’an bukan karangan manusia, melainkan firman Allah yang kebenarannya tak perlu diragukan.

Nah, Pembaca yang dirahmati Allah, berikut kami paparkan 7 fenomena sains yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang telah terbukti kebenarannya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita. Amin.

1. Bertemunya Dua Lautan

Pertemuan antara dua arus laut ini terjadi di Selat Gibraltar, tepatnya di antara Spanyol dan Maroko. Menurut para ilmuwan, fenomena tersebut terjadi karena air laut dari Samudera Atlantik dan dari Laut Mediterania memiliki karateristik yang berbeda, dilihat dari suhu air, kadar garam, dan kerapatannya.

Mengenai fenomena bertemunya dua lautan ini, Al-Qur’an telah menjelaskannya 14 abad silam. Allah berfirman,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ. بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampui masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20)

2. Garis Edar Tatasurya

Menurut ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan 720.000 km/jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang dinamakan Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh 17.280.000 kilometer dalam sehari.

Selain matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan dalam jarak ini. Semua bintang yang ada di alam semesta pun sama.

Fenomena tatasurya dan garis edar ini sudah tertulis di dalam Al-Quran, antara lain di dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 33.

       وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُوْنَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”

3. Ledakan Raksasa atau Big Bang

Big Bang diyakini sebagai peristiwa yang menyebabkan terbentuknya alam semesta. Teori ini didasarkan pada kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta.

Berdasarkan teori ini, dikatakan bahwa alam semesta awalnya dalam keadaan sangat panas dan padat, lalu mengembang secara terus-menerus hingga hari ini. 

Hal tersebut ternyata sudah disampaikan di dalam Al-Quran tepatnya Surah Al-Anbiya ayat 30.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَا هُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”

4. Api di Dasar Laut

Fenomena ini ditemukan oleh seorang ahli geologi asal Rusia, Anatol Sbagovich dan Yuri Bagdanov, dan seorang ilmuwan asal Amerika Serikat.

Mereka meneliti kerak bumi dan patahannya di dasar laut lepas pantai Miami. Mereka kemudian menemukan lava cair yang mengalir disertai abu vulkanik yang suhunya mencapai 231 derajat celcius.

Al-Quran, lagi-lagi, sudah menyinggung tentang api di dasar lautan ini.

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِ

“Dan laut yang di dalam tanahnya ada api.” (QS. At-Tur: 6)

5. Sungai di Dasar Laut

Fenomena sungai di dasar laut ditemukan oleh ilmuwan asal Prancis bernama Jaques Yves Cousteau.

Para ahli menyebut fenomena ini sebagai lapisan hidrogen sulfida, karena air yang mengalir di sungai dasar laut ini memiliki rasa air tawar. Selain itu sungai dasar laut ini ditumbuhi daun-daun dan pohon.

Fenomena ini disebutkan di dalam Al-Quran tepatnya di dalam Surah Al-Furqan ayat 53.

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُوْرًا

“Dan Dialah (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang satu tawar dan segar dan yang lainnya asin. Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.”

6. Dasar Lautan yang Gelap

Manusia tak mampu menyelam 40 meter di bawah laut tanpa peralatan khusus. Dalam sebuah buku berjudul “Oceans” dijelaskan, pada kedalaman 200 meter hampir tak dijumpai cahaya, sedangkan pada kedalaman 1.000 meter tak terdapat cahaya sama sekali.

Kondisi dasar laut yang gelap baru bisa diketahui setelah penemuan teknologi canggih. Namun, Al-Qur’an telah menjelaskan keadaan dasar lautan tersebut sejak ribuan tahun yang lalu.

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah maka tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.

7. Sidik Jari Manusia

Sidik jari ditemukan pada akhir abad ke-19. Sebelumnya, mayoritas orang menganggap jika sidik jari adalah lengkukan-lengkukan biasa tanpa makna khusus.

Setiap manusia, termasuk mereka yang terlahir kembar identic, memiliki pola sidik jari yang berbeda. Dengan kata lain, salah satu tanda pengenal manusia terdapat pada ujung jari mereka.

Al-Quran telah menjelaskan tentang kesempurnaan jari manusia ini.

بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.”

***


Sab’ul Munjiyat, bermakna tujuh surat yang dengan izin Allah bisa memberikan pertolongan.

Sebagai muslim yang baik, sudah selayaknya kita menyambut datangnya bulan Ramadan dengan suka cita. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan bahwa siapa pun yang bahagia dengan datangnya bulan suci itu, ia akan masuk surga.

Kebahagiaan yang dimaksud tentu disebabkan oleh balasan kebaikan yang Allah lipatgandakan pahala dan keberkahannya. Sebuah anugerah yang tidak akan kita terima di luar bulan mulia itu.

Untuk menemani puasa dan detik-detik menjelang berbuka, Qultummedia menerbitkan buku Sab’ul Munjiyat: 7 Surat Pembuka Jalan Keluar ini. Sebuah buku yang menghimpun surat-surat di dalam Al-Qur’an yang mengandung hikmah dan banfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Buku ini sudah tersedia di toko buku online dan offline.

*Sumber foto:
https://www.ancient-origins.net/history-ancient-traditions/dome-rock-0010986

Setelah Dia Pergi: Sebuah Percakapan dengan Hati

Meski tak diinginkan, kehilangan pernah dirasakan oleh semua orang; mengubah pandangannya tentang cinta, masa depan, mungkin juga kehidupan. Membuatnya sadar bahwa sehebat apa pun ia mencintai kekasihnya, tak ada ikatan yang cukup kuat untuk terus menyatukan keduanya.

***

Untuk diriku yang pernah terluka,

Lihatlah dirimu, kau jauh dari apa yang dulu pernah kau takutkan. Kau sepenuhnya baik-baik saja. Kau bertemu orang-orang yang menyenangkan, kau pergi ke tempat-tempat yang penuh keindahan. Kau sangat menikmati hidupmu.

Bayanganmu tentang keterpurukan, penyesalan panjang, masa depan yang kelam, dan luka yang mustahil terobati nyatanya tak pernah kau alami. Kau menjalani hari-hari dengan senyuman. Sesuatu yang tak terpikirkan olehmu saat itu; saat orang yang kau cintai memilih pergi.

Dulu kau berkata hidupmu telah usai. Harapan yang terus kau pupuk tak pernah berbunga dan cinta yang selalu kau siram justru mengering. Kau bilang, “Untuk apa meraih impian, jika di sampingku tak ada orang yang kusayang?”

Aku tak pernah lupa hari-hari itu. Hari-hari kau menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Tak ada nyanyian yang cukup merdu untuk menghibur hatimu. Tak ada canda yang cukup lucu untuk membuatmu tertawa. Orang-orang berkata bahwa kau berubah, tapi kau bersikukuh menjawab baik-baik saja.

Bagimu, orang yang kau cinta adalah segalanya. Pusat hidup dan matimu. Surga dunia dan akhiratmu. Selalu ada waktu kau berkabar padanya, meski sering kau tak mendapat balasannya.

Masa mudamu tak terasa terus merayap. Usia membawamu mendaki tangga pengalaman. Hidup menempamu dengan berbagai kesulitan. Semua yang ada di luar dirimu tampak berubah, tapi kau sadar, ada yang tak berubah di dalam dirimu. Ingatanmu. Ya, ingatanmu masih sering mengajakmu kembali.

Ketika malam mulai menguasai alam, ketika sepi menyelimuti bumi, ingatan diam-diam membujukmu untuk bercengkerama. Melihat lagi jalan-jalan yang telah kau tempuh, persinggahan-persinggahan kau melepaskan penat, rumah-rumah yang pernah kau kunjungi. Kau berbagi asa dengannya, bertukar cerita dan rasa.

Sampai satu titik ketika kau tak sanggup menguasai dirimu, sudut matamu menggenangkan air kesedihan. Dan selama sekian detik, kenangan tentangnya: lembut sapanya, wangi parfumnya, dan sungging senyumnya, membanjiri duniamu. Membuatmu tenggelam dan tak ingin kembali ke permukaan.

Malam semakin larut, dan harapan akan datangnya pagi tak pernah lagi melintas di kepalamu. Kau pun meluapkan perasaan. Kau menangis sejadinya.

Tak pernah kau sadari, malam itu adalah malam yang paling berharga dalam hidupmu. Meski kau menghabiskannya dengan deraian air mata, malam itu menjadi awal bahagiamu hari ini. Kenangan yang berabad-abad kau dekap akhirnya kau lepaskan. Impian masa lalu yang selalu kau simpan akhirnya kau relakan.

Pagi harinya saat terbangun, kau terkejut dengan apa yang terjadi padamu. Tidur panjangmu serupa adegan film yang tak sepenuhnya kau ingat. Tapi, kau tak terlalu mempersoalkan. Sebab kau sudah menemukan jawaban teka-teki hidupmu dan mulai bisa melupakan patah hatimu.

***

Setelah Dia Pergi, sebuah catatan tentang isi hati.

Separah apa pun hati kita tersakiti, waktu menjadi penawar yang paling bisa diandalkan, paling tidak membantu kita sedikit mengabaikan sakitnya. Di sini, berlalunya waktu adalah anugerah yang jarang kita sadari, apalagi kita syukuri.

Kita tak pernah berharap kehilangan apa pun. Tapi, hidup selalu punya jalan ceritanya sendiri. Sekuat apa pun kita mengendalikannya, ada saatnya kita harus tunduk dan berlutut: pada tikungan jalan hidup yang tak pernah kita perkirakan.

Ya, di situlah harapan kadang memudar, seiring kenyataan yang bertolak belakang. Sebagian orang kemudian menghabiskan waktunya dengan meratapi takdir, sebagian melakukan perjalanan yang tak benar-benar memiliki tujuan, sebagian lagi mencari pelampiasan dengan mencari pengganti.

Buku Setelah Dia Pergi telah rilis bulan ini. Akhir Mei 2019 ini, buku pertama Dedy Chandra H. ini sudah bisa Pembaca dapatkan di toko-toko buku se-Indonesia. Saat ini, penulis tengah membuka Pre-Order melalui akun @tersenyumlah.semesta, berikut link-nya
bit.ly/pesanbukusdp

*Sumber foto: freepik.com

9 Peristiwa Besar Ini Terjadi di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan menjadi saksi perjalanan sejarah umat Islam. Kenangan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya membuat kita takjub sekaligus haru dengan agama ini. Mulai perjuangan Rasulullah, sahabat, ulama, hingga pahlawan negara kita, Ramadan terlibat sebagai latar waktu.

***

Kemuliaan Ramadan bukan hanya terletak pada banyaknya pahala yang bisa kita raih dengan melakukan amal saleh di dalamnya, tapi juga kisah perjuangan yang menyentuh hati yang terjadi pada momentum mulia ini. Pembaca yang dirahmati Allah, berikut kami rangkumkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi atau dialami oleh umat Islam di bulan Ramadan. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan dan meningkatkan iman kita sebagai muslim.

1. Al-Quran Diturunkan

Mendekati masa-masa Al-Quran diturunkan, Rasulullah sering berkhalwat di Gua Hira. Mengasingkan diri dari manusia dan beribadah dengan tenang di sana. Kadang puluhan hari, kadang bisa sampai satu bulan.

Pada tanggal 17 Ramadan tahun 13 Sebelum Hijriah, Rasulullah menerima wahyu pertama di gua tersebut, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa itu merupakan momentum terbitnya cahaya Islam yang kemudian menyinari segenap penjuru dunia, berabad-abad sesudahnya.

2. Perang Badar

Perang Badar adalah perang yang sangat penting dan menentukan dalam sejarah umat Islam. Perang ini merupakan perang pertama dan awal bagi kemenangan kaum muslimin dalam peperangan-peperangan berikutnya.

Perang Badar terjadi pada Jumat, 17 Ramadan tahun 2 Hijriah. Berkat pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut, meski kalah jauh dari segi jumlah pasukan.

3. Pembebasan Kota Mekkah

Pada tanggal 20 Ramadan tahun 8 Hijriah, kaum muslimin mendapat anugerah yang sangat mereka syukuri. Pada tanggal tersebut, doa Rasulullah dan para sahabat agar Allah memenangkan perjuangan mereka merebut Mekah dan memberikan hidayah bagi penduduknya dikabulkan.

Orang-orang Mekah berbondong-bondong masuk Islam. Pada hari itu juga, Rasulullah juga memaafkan orang-orang yang dulu menyakiti dan mengusir beliau.

4. Syiar Islam Sampai ke Yaman

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Tidaklah sebuah negeri dinaunginya, kecuali banyak keberkahan ditemukan di sana.

Pada bulan Ramadan tahun 10 Hijriah, Islam telah sampai di Yaman. Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib membawa surat beliau untuk penduduk Yaman, khususnya Suku Hamdan, dan menyiarkan Islam kepada mereka. Tak sia-sia, hanya dalam satu hari, mereka semua memeluk Islam.

5. Pembebasan Andalusia

Pada tanggal 28 Ramadan tahun 92 Hijrah, Bani Umayyah mengirim panglima Islam Tariq bin Ziyad untuk membebaskan Andalus, atau saat ini kita kenal dengan Spanyol. Tariq dan pasukan muslim menggunakan armada yang tangguh untuk menyeberangi laut yang memisahkan benua Afrika dan Eropa.

Setelah sampai, Tariq berinisiatif untuk membakar kapal-kapal kaum muslimin, agar tak ada yang berpikir untuk mundur dari pertempuran. Atas rahmat Allah, Andalusia akhirnya jatuh ke tangan mereka.

6. Kekalahan Tentara Mongol

Pada tahun 1260 hingga 1405 Masehi, tentara Mongol melakukan penaklukan hingga hampir seluruh benua Asia. Pada tahun 1258, tentara pimpinan Hulagu Khan menyerang Baghdad. Dalam serangan itu, banyak umat Islam yang terbunuh.

Pada tanggal 15 Ramadan tahun 658 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1260 Masehi, tentara Islam bangkit dan melakukan serangan balasan dibawah pimpinan Sultan Qutuz. Dalam pertempuran itu, pasukan muslim meraih kemenangan.

7. Kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil meraih kemenangan dalam Perang Salib pada bulan Ramadan tahun 584 Hijriah.

Pada hari penaklukannya, Shalahuddin Al Ayyubi berkata, “Demi Allah, sesungguhnya penghancuran benteng di Asqalan (masuk wilayah Palestina saat ini) lebih kusukai walaupun aku harus kehilangan seluruh anakku, karena penguasaan Asqalan demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin.”

8. Penaklukan Konstantinopel

Peristiwa besar terjadi pada bulan Ramadan tahun 874 Hijriah. Usai shalat subuh, pasukan kapal perang kaum muslimin menggempur benteng Konstantinopel dari arah belakang.

Dengan izin Allah, pada hari pengepungan ke-53, takluklah benteng Konstantinopel. Perlawanan tentara Romawi Timur sangat sengit, tapi perjuangan pasukan muslim tak mampu mereka atasi.

9. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Bertepatan dengan 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadaan 1364 Hijriah, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno dan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat.

Ramadan adalah bulan yang punya banyak keistimewaan. Termasuk pengalaman umat muslim dalam perjuangan-perjuangan yang kami paparkan di atas. Semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali dengan bulan yang mulia tersebut.

***

Sab’ul Munjiyat, bermakna tujuh surat yang dengan izin Allah bisa memberikan pertolongan.

Sebagai muslim yang baik, sudah selayaknya kita menyambut datangnya bulan Ramadan dengan suka cita. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan bahwa siapa pun yang bahagia dengan datangnya bulan suci itu, ia akan masuk surga.

Kebahagiaan yang dimaksud tentu disebabkan oleh balasan kebaikan yang Allah lipatgandakan pahala dan keberkahannya. Sebuah anugerah yang tidak akan kita terima di luar bulan mulia itu.

Untuk menemani puasa dan detik-detik menjelang berbuka, Qultummedia menerbitkan buku Sab’ul Munjiyat: 7 Surat Pembuka Jalan Keluar ini. Sebuah buku yang menghimpun surat-surat di dalam Al-Qur’an yang mengandung hikmah dan banfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Buku ini sudah tersedia di toko buku online dan offline.

*Sumber gambar: freepik.com

Melangkah Searah: Catatan 40 Hari Tanpa Bertengkar

Menikah tak menjamin hidup kita lepas dari masalah. Bagi sebagian orang, menikah justru mengundang masalah yang tak pernah datang dalam hidup orang yang melajang. Perbedaan dengan pasangan sering menjadi penyebab. Terlebih jika kita kurang dewasa menyikapinya.

***

Ada yang berkata bahwa 40 hari pertama pernikahan adalah masa-masa yang sulit. Sebab, saat itu kita tengah berproses untuk lebih mengenal pasangan. Bukan mustahil pasangan kita ternyata pribadi yang sama sekali berbeda dari yang kita kenal sebelumnya. Atau setidaknya, tidak persis seperti yang kita kenal.

Mungkin karena alasan itu, beberapa pasangan muda mencoba untuk menahan emosi pada 40 hari pertama pernikahan mereka. Tujuannya agar masing-masing belajar menguasai hati dan menjaga perasaan pasangannya.

          Baca juga: Aji Nur Afifah: Cerita-cerita Perjalanan

Anjuran sebagian orang itu tentu bukan main-main. Dan dari hal tersebut, tersirat pesan bahwa menikah harus dipersiapkan dengan matang. Seandainya masalah rumah tangga itu sederhana, tak mungkin ada anjuran seperti itu.

Aji Nur Afifah, penulis Melangkah Searah, berbagi kisah pribadinya saat mengikuti tantangan tersebut. Berikut kami sadurkan ceritanya dari buku bestseller itu.

***

“Beberapa bulan kemudian, aku mengajukan tantangan itu pada suamiku. Kupikir yang harus berjuang bukan hanya aku sendiri, melainkan harus ada kerja sama di antara kami berdua.

“Benar seperti kata orang, hari-hari awal pernikahan tidaklah mudah. Perlahan, aku mengenal Mas lebih dekat. Saat itu, perbedaan-perbedaan kecil hampir mematahkan komitmen kami.

“Mas pun lebih tahu tentangku. Aku yang notabene anak rumahan, cukup terkejut saat harus banyak melakukan hal secara mandiri. Terlebih aku merasa minder saat Mas mengetahui aku tak pandai masak.

“Tapi, alhamdulillah, Allah menganugerahiku suami yang pengertian. Mas tak pernah protes akan hal itu. Bahkan Mas sering mengantarkanku ke pasar untuk menuntunku belajar menu masakan baru.

“Kepribadian Mas yang peka terhadap sekitar membuat aku belajar. Di awal pernikahan, Mas sering mendahuluiku berbenah dan merapikan rumah. Sebagai seorang istri, aku merasa malu. Namun, secara perlahan aku bisa mencontoh kebaikan darinya.

“Tantangan 40 hari tanpa bertengkar berhasil kami lewati. Kami belajar untuk tidak mengungkit kesalahan satu sama lain. Kami tak pernah merahasiakan masalah. Semuanya harus diceritakan.

“Seusai menikah, tak perlu ada yang kita tutupi. Justru saat ada luka yang terpendam, itu akan menambah masalah yang lebih besar.

“Ajak pasangan untuk bercerita. Luangkan waktu sejenak untuk berdua. Menikah bukan lagi soal aku dan kamu, karena takdir telah mengubahnya menjadi kita.”

***

Rumah tangga ibarat samudera yang luas. Kita membutuhkan bahtera yang kuat untuk mengarunginya, bukan sampan kecil yang rapuh, agar ombak yang datang atau badai yang menghadang tak sampai membuatnya karam.

          Baca juga: Bincang-bincang Bareng Penulis Melangkah Searah

Pasangan yang baru menjalani kehidupan rumah tangga kadang kurang sabar dalam mengelola perbedaan; ombak atau badai yang sebenarnya wajar bagi siapa pun yang berumah tangga. Padahal, boleh jadi itu baru perbedaan kecil di antara mereka. Sementara perbedaan besar akan datang beberapa tahun setelah mereka menjalani hidup bersama.

Jika perbedaan kecil membuat mereka bingung dan kehilangan arah, bagaimana dengan perbedaan besar yang kelak datang?

Nah, Teman-teman, mumpung masih ada kesempatan, mari terus belajar dan persiapkan segalanya dengan lebih baik. Tidak ada dua orang yang hidup bersama yang identik kepribadian, kebiasaan, kecenderungan, cara berpikir, bahkan hobinya. Artinya, perbedaan adalah sesuatu yang biasa.

Tak perlu kita mengkambinghitamkannya sebagai penyebab rusaknya bahtera kita.

***

Melangkah Searah, karya Aji Nur Afifah

Menapaki kehidupan rumah tangga ibarat menempuh sebuah perjalanan. Kadang kita menemui jalan yang lurus, berliku, menanjak, atau menurun. Kadang bergelombang dan terjal, tapi kadang sangat mulus dan mudah dilalui.

Selama beberapa tahun Aji Nur Afifah menuliskan pengalaman rumah tangganya di www.ajinurafifah.tumblr.com dan awal tahun ini, alhamdulillah, ia telah merampungkan naskahnya yang berjudul Melangkah Searah dan diterbitkan oleh Qultummedia.Meski baru sebulan terbit, buku ini sudah memasuki cetakan kedua.

Buku ini bisa Pembaca dapatkan secara online di republikfiksi.comGramedia.com dan toko buku online yang lain, atau secara offline di GramediaGunung AgungTM Bookstore, dan toko buku offline yang lainnya. 

WhatsApp chat