agung, Author at Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
7
archive,author,author-agung,author-7,theme-stockholm,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,no_animation_on_touch,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Sepucuk Surat Tentang Cinta dan Kenangan

Semua orang tahu, hati itu banyak maunya. Kalian juga mengerti, bukan? Bukan cuma banyak mau, tapi juga suka berubah-ubah. Saat hujan maunya panas, katanya ada janji mau bertemu seseorang. Lain waktu saat panas maunya hujan, gak tahan kalau gerah kelamaan.

Mungkin karena suka berubah-ubah itu, hati disebut hati. Atau kalbu, istilah Arabnya “qolbu”, yang seakar dengan kata “qollaba”, artinya berbolak-balik, berganti-ganti, berubah-ubah. Itu sebabnya, di antara banyak karunia Tuhan di muka bumi ini, hati yang tenang adalah salah satu yang paling berharga.

 

Obyektif Saat Mengenang

Jika kita paham karakter hati yang seperti itu, kita akan segera menginsyafi diri sendiri, kapan pun ada keinginan menggebu-gebu di dalamnya. Ya kalau keinginan itu sepele dan kita ada keleluasaan untuk mewujudkannya mungkin gak masalah. Kalau gak?

Mau memaksakan diri, kita sendiri nanti yang kerepotan. Apalagi kalau keinginan itu berhubungan dengan seseorang di masa lalu. Orang yang pernah dekat dengan kita, yang kita kira teman perjalanan di masa depan, alias jodoh kita –tapi ternyata bukan.

Mengenang gak akan jadi masalah besar kalau saat melakukannya pikiran kita sadar bahwa saat itu kita cuma ingin mengingat yang indah-indah saja tentangnya, meski hati turut meromantisasinya. Nyatanya, kita sering kewalahan dengan hal ini. Sebab, yang terjadi adalah manis dan pahit yang kita telan sekaligus: terkenang hari-hari indah bersamanya sekaligus teringat malam-malam penuh airmata karenanya. Entah kita sengaja atau gak.

Mungkin memang gak semudah itu bersikap obyektif saat mengenang. Hmm, ini frasa yang gak biasa. Obyektif saat mengenang? Bukankah setiap mengenang kita cenderung subyektif? Apa pun itu, kenangan sendiri memang ibarat pisau bermata ganda. Bisa menyenangkan, bisa pula menyakitkan, meski keduanya sama-sama sementara.

Jadi, jauhkan keinginan untuk kembali ke masa lalu setiap kita teringat seseorang yang dulu pernah menemani hari-hari bahagia kita, jika itu lahir dari buah kerinduan padanya. Kita sama-sama tahu, masa lalu gak cuma sekeranjang kenangan indah bersamanya, tapi juga hari-hari yang pahit nan getir karenanya.

 

Too Good To Be True

Seorang teman pernah bercerita tentang salah seorang mantannya, yang menurutnya “mantan terindah”. Berbagai pujian keluar dari mulutnya, di samping cerita tentang momen-momen bahagia sewaktu masih bersamanya. Ketika aku tanya, apa dia mau nyambung lagi dengan mantannya itu, dia menggeleng, meski keduanya masih sama-sama sendiri.

Temanku itu, betapapun kulihat wajahnya cerah dan mulutnya berbuih-buih menceritakan kenangan indah tentang sang mantan, ia menyadari satu hal: apa yang ia ceritakan hanyalah kenangan. Dan yang namanya kenangan itu gak lebih dari kenyataan di masa lalu, bukan masa sekarang.

Temanku tersenyum geli sewaktu kutanyakan hal yang sama, lalu berkata bahwa itu ‘kan dulu. Ada senyum getir terlihat di wajahnya. Dan aku, sebagai kawan baiknya, tahu itu pasti karena ingatannya tentang sesuatu yang lain. Aku gak perlu bertanya apa itu: tentu saja luka yang ditinggalkan oleh sang mantan.

Terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Begitu aku mencoba menyimpulkan isi hatinya. Sang mantan adalah laki-laki idaman, pangeran di hatinya, tapi dalam dua masa saja. Pertama, saat watak asli dan kebrengsekannya belum terkuak, dan kedua, saat semua telah usai dan ia gak lebih dari sebuah kenangan.

Banyak yang bilang kalau luka, juga tawa, akan terhapus oleh waktu. Pelan-pelan, bertahap. Mungkin maksudnya terhapus jika ada pengalaman baru yang bertolak belakang dengannya. Kalau setelah terluka kita gak juga menemukan kebahagiaan, apalagi jika luka itu menjadi sebab munculnya luka-luka yang lain, ya mana mungkin kita bisa lupa dengannya.

Karena setiap luka itu mendewasakan, maka belajar terhadapnya adalah keharusan. Tujuannya tentu agar kita gak kembali terluka, apalagi karena “mata pisau” yang sama. Tapi, karena waktu bisa membuat kita lupa terhadap luka itu, maka kita perlu mengabadikan kesadaran tentang rasa sakit akibat luka itu. Bukan agar kita selamanya menderita, tapi agar kita gak berhenti belajar.

sebatas pernah sekadar singgah

Surat Cinta Untukku

Buku “Sebatas Pernah Sekadar Singgah” ini adalah sebuah catatan tentang luka itu. Tentang hari-hari penuh senyum, tawa, keyakinan, dan optimisme, yang kemudian ambyar gara-gara kenyataan yang gak mau berkompromi dengan harapan, dan tentu saja tentang nama (atau nama-nama?) yang sebatas pernah membersamaiku dan sekadar singgah di hati.

Ada banyak potongan cerita yang kutulis di buku ini. Semuanya kumaksudkan sebagai pengingat tentang apa yang pernah kurasakan di masa lalu. Agar di masa mendatang, luka yang sama gak perlu lagi kurasakan. Tapi, alih-alih menuliskannya sebagai catatan pendek laiknya resep masakan, aku menuangkannya bak surat-surat kepada seseorang di masa depan –aku sendiri.

Meski terdengar sangat personal, aku ingin surat-surat ini bisa dibaca oleh Teman-temanku. Sebab aku yakin, di dunia yang katanya selebar daun kelor ini, banyak di antara mereka yang pernah ada di masa-masa sulit yang sama dan harus berjibaku dengan perasaan yang sama, entah rasa sayang, cinta, cemburu, atau marah.

Aku juga ingin mengajak Teman-teman “menumpang” mesin waktu, sekadar untuk bolak-balik mengunjungi masa lalu. Bukan untuk menetap, tentunya, tapi sekadar menengok. Mengingat tawa yang pernah ada, mengenang kebahagiaan yang pernah kami bagi berdua, dan mengambil pelajaran dari luka yang meneteskan airmata.

 

Salam,

@Intanorii

***

Buku Sebatas Pernah Sekadar Singgah akan segera terbit bulan Juli besok. Teman-teman yang ingin memilikinya bisa mengikuti Pre Order (PO) di tanggal yang akan disampaikan dalam minggu-minggu ini. Teknis pemesanan, periode PO, bonus dan benefit, serta harga buku akan diinformasikan melalui akun media sosial penulis.

shalat saat macet

Terjebak Macet dan Belum Shalat? Ikuti Tip-tip Berikut!

Masyarakat di kota-kota besar yang berkegiatan secara mobile (berpindah-pindah tempat) sering menemukan masalah saat ingin mengerjakan shalat. Salah satunya adalah bagaimana mengerjakan shalat saat berada di dalam kendaraan dan kondisi lalu lintas sedang macet.

Tentu itu bukan masalah serius jika mereka berkendara sendiri atau menumpang angkutan umum di tengah suasana lalu lintas yang normal. Tapi, bagaimana jika mereka terjebak macet yang luar biasa atau berada di jalan tol yang tidak menyediakan rest-area?

Apa yang Perlu Kita Ketahui?

Shalat adalah ibadah yang tidak bisa disepelakan. Selain wajib, shalat juga amaliah yang bersifat pokok (ushul). Itu sebabnya, kita sering mendengar bahwa shalat adalah tiang agama. Jika tiang itu tidak kita tegakkan maka bangunan besar yang bernama Islam akan roboh.

Namun, dalam situasi tertentu Islam memberi kita dispensasi (rukhshoh) berkenaan dengan shalat. Ini seturut ada-tidaknya kendala (masyaqqoh) yang kita hadapi. Dalam kondisi di atas, berkendara di jalan tol atau terjebak macet yang parah adalah contohnya.

Adanya dispensasi ini selaras dengan karakter Islam yang merupakan agama yang manusiawi. Dalam istilah Syekh Yusuf Al-Qordhowi, Islam memang agama yang bersumber dari Allah SWT, tapi diperuntukkan bagi manusia (ilaahiyyatul mashdar, insaaniyyatul mawdhu’).

Karena diperuntukkan bagi manusia dan manusia itu memiliki kemampuan yang terbatas, maka Islam memberikan dispensasi yang dimaksud. Itu sebabnya, Allah berfirman dalam Surat At-Taghoobun ayat 16, “Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian (Fattaqullooha mastatho’tum).”

Solusi Shalat Saat Macet

Nah, Pembaca yang dirahmati Allah, apa saja tip-tip yang bisa kita ikuti saat waktu shalat sudah mau habis, sementara kita tengah berkendara di jalan tol yang tidak memiliki rest-area atau sedang terjebak kemacetan yang parah? Berikut penjelasan Ustadz Muhammad Syafril dalam buku terbaru beliau, Tuntunan Shalat Lengkap.

1. Bila kondisi lalu lintas benar-benar lumpuh, dalam arti kendaraan kita tidak bergerak sama sekali akibat kemacetan parah, maka kita bisa turun dari mobil dan mengerjakan shalat di pinggir jalan. Jika saat itu kita memiliki wudhu, maka kita bisa langsung mengerjakan shalat.

2. Jika saat itu kita tidak memiliki wudhu dan tidak ada air yang bisa digunakan untuk wudhu, maka kita boleh bertayamum.

3. Jika saat itu terjadi kemacetan tapi kendaraan masih bisa berjalan, maka sebisa mungkin kita menepi. Jika kita punya wudhu, kita bisa langsung melakukan shalat lihurmatil waqt dengan tetap duduk di dalam kendaraan. Dan jika kita sudah sampai di tempat yang memungkinkan untuk mengerjakan shalat, kita wajib mengulang shalat kita.

4. Jika saat itu kita tidak memiliki wudhu dan tidak ada air yang bisa digunakan untuk wudhu, maka kita boleh bertayamum.

Bagi masyarakat perkotaan yang banyak menghabiskan waktunya di jalan, tip-tip ini tentu memberi banyak manfaat. Apalagi bagi penduduk Jakarta, yang pada 2019 lalu ditetapkan oleh Tom Tom Index (lembaga pemantau kemacetan lalu lintas yang berpusat di Inggris) sebagai kota termacet ke-10 di dunia dari 416 negara, dengan tingkat kemacetan sebesar 53%.*

***

shalat saat macetSering saat berkendara kita terjebak dalam situasi yang tak biasa, yang menghambat kita melakukan suatu aktivitas. Salah satunya adalah kemacetan parah yang membuat kita tidak bisa mengerjakan shalat seperti dalam situasi normal. Padahal, saat itu waktu shalat akan sebentar berakhir.

Para ulama sebenarnya sudah mencari solusi untuk persoalan ini, dan melalui buku yang berjudul Tuntunan Shalat Lengkap ini, kita bisa membaca penjelasan mereka tentangnya. Disusun dengan merujuk pada kitab-kitab karangan ulama terkenal dan memberikan panduan yang mudah dimengerti oleh pembaca, buku ini menjawab berbagai pertanyaan seputar shalat dalam situasi yang tidak biasa.

 

*https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/31/052816565/survei-2019-jakarta-masuk-peringkat-10-kota-termacet-di-dunia?page=all

**Sumber gambar: pexel.com

shalat 5 waktu

Panduan Praktis Shalat 5 Waktu untuk Pemula

Sedari kecil kita sudah mendengar ungkapan bahwa shalat 5 waktu adalah tiang agama. Tapi, sudahkah kita berusaha untuk menguatkannya?

Sebagai umat muslim, sudah tentu kita melaksanakan shalat setiap hari. Shalat 5 waktu merupakan amal terpenting dalam hidup kita. Karenanya, kita perlu memerhatikan apakah shalat yang kita lakukan sudah sesuai dengan syariat atau masih ada yang keliru.

Baca juga:
Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir, & Shalawat
Tuntunan Shalat Lengkap

Sebelum kita belajar tatacara shalat, ada baiknya kita perlu memahami istilah syarat dan rukun shalat. Syarat shalat adalah segala sesuatu yang harus terpenuhi sebelum melaksanakan shalat. Sedangkan rukun shalat adalah segala sesuatu yang harus terpenuhi saat kita menunaikannya.




Pembaca yang baik, berikut kami tuliskan syarat dan rukun dalam shalat. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua.

Seseorang wajib mengerjakan shalat jika:

1. Beragama Islam. Shalat tidak diwajibkan kepada nonmuslim. Orang yang baru masuk Islam (mualaf) tidak diwajibkan meng-qodho/mengganti shalat sebelum dirinya masuk Islam.
2. Sudah balig. Anak kecil tidak diwajibkan shalat, namun sudah harus dididik dan diperintahkan shalat sejak usianya tujuh tahun.
3. Sehat akal/tidak mengalami keterbelakangan mental. Shalat tidak diwajibkan bagi orang gila.

Shalat kita sah jika:

1. Suci dari hadas dan najis. Shalat tidak sah dilakukan jika kita berhadas, maksudnya belum melakukan wudhu setelah keluar gas, buang air kecil dan besar, habis datang bulang, dan habis melakukan percampuran dengan pasangan. Shalat juga tidak sah jika tubuh, pakaian, dan tempat shalat kita terkena najis. Kecuali najis itu kering dan bisa segera dibersihkan.
2. Menutup aurat. Ini hukumnya wajib, sekalipun dalam keadaan gelap gulita.
3. Mengetahui waktu shalat secara langsung (seperti mendengar azan) atau muncul dugaan kuat (dengan berusaha mencari tahu) bahwa waktu shalat sudah tiba.
4. Menghadap kiblat

Bagaimanakah cara melakukan shalat?

Cara mengerjakan shalat adalah sebagai berikut. Kali ini kita akan mempraktikkan shalat Subuh. Shalat yang lain memiliki gerakan dan bacaan yang sama, hanya perlu menambah 1 rakaat (shalat Maghrib) dan 2 rakaat (shalat Zhuhur, Asar, dan Isya).

Rakaat pertama:

1. Niat
2. Berdiri bila mampu
3. Membaca takbiratul ihram (Alloohu akbar)
4. Membaca Surat Al-Fatihah
5. Rukuk
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk iftirasy/duduk di antara 2 sujud
9. Sujud kedua

Rakaat kedua:

1. Berdiri
2. Membaca Surat Al-Fatihah
3. Rukuk
4. I’tidal
5. Sujud
6. Duduk iftirasy/duduk di antara 2 sujud
7. Sujud kedua
8. Duduk tawarruk/duduk sebelum salam
9. Membaca syahadat
10. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
11. Mengucapkan salam




doa para nabi

Doa-doa Para Nabi di Dalam Al-Quran

Sebagaimana manusia pada umumnya, para nabi juga memiliki harapan dalam hidup mereka. Tak sedikit dari harapan itu masih dapat kita rasakan, karena tertuang dalam bentuk doa di dalam Al-Quran agar kita juga dapat melantunkannya.

Saat membaca kisah para nabi, kita selalu disuguhi potret hidup yang menakjubkan. Cara orang-orang mulia ini menjalani hidup, mencari jalan keluar dari masalah, hingga menunjukkan rasa kasih mereka, selalu saja bisa membuat kita berdecak kagum.

Baca juga:

Doa-doa Pelunas Utang & Pembuka Pintu Rezeki
7 Doa Mustajab untuk Menarik Rezeki

 

Walau begitu, dengan segala kehebatan mereka dalam mengarungi kehidupan ini, para nabi pun punya kegelisahan yang terpendam di lubuk hati mereka. Namun, kegelisahan itu mereka ubah menjadi harapan. Lalu mereka sampaikan dalam doa kepada Rabb-nya.




Teman-teman, sejatinya ada sesuatu yang perlu kita tiru dari kehidupan mereka. Selain akhlak dan budi pekerti yang luhur, para nabi juga mewariskan doa-doa yang tertera dalam Al-Quran. Tentu saja, kita dianjurkan untuk melantunkannya seusai shalat kita. Meski terlihat sederhana, amalan ini insyaallah dapat menuntun hidup kita ke arah yang lebih baik.

Berikut kami tuliskan beberapa doa para nabi yang terkandung di dalam Al-Quran. Semoga kita diberi kemudahan untuk menghafal dan memaknainya.

***

  1. Doa Nabi Adam as

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Araf: 23)

  1. Doa Nabi Nuh as

رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (QS. Hud: 47)

  1. Doa Nabi Ibrahim as

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

  1. Doa Nabi Yusuf as

فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

“(Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)

  1. Doa Nabi Musa as

رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Qashash: 16)

  1. Doa Nabi Sulaiman as

رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (Q.S. An-Naml: 19)

  1. Doa Nabi Zakariya as

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Q.S. Ali Imran: 38)

***

mukjizat al-quranAl-Quran adalah mukjizat Rasulullah untuk umat manusia akhir zaman. Di dalamnya terkandung berbagai informasi penting, bukan hanya tentang masalah ketuhanan tapi juga kemanusiaan, bukan hanya bagaimana mempersiapkan hari akhir tapi juga bagaimana menghadapi hari ini.

Bulan Agustus 2019 ini, Qultummedia mempersembahkan sebuah buku yang akan membantu pembaca untuk membaca, memahami, dan menghafalkan bagian terakhir Al-Quran, yakni Juz 30 atau Juz ‘Amma. Di dalam buku ini, Juz ‘Amma kami hadirkan dengan latin dan terjemahnya, sirah atau sejarah ayat-ayat, hikmah atau pelajaran dari ayat-ayat tersebut, juga asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat.

Selain itu, buku ini juga kami lengkapi dengan panduan shalat wajib dan sunah, zikir bakda shalat, dan tak lupa doa-doa yang berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw.




al-quran

Kemurnian Al-Quran & Cara Allah Menjaganya

Untuk menjaga kemurnian Al-Quran, berbagai cara dilakukan oleh para sahabat Nabi. Ada yang menuliskannya di pelepah kurma, tulang-belulang, dan batang pohon. Hingga pada akhirnya muncul sebuah gagasan, yaitu rencana untuk membukukan Al-Quran.

Seperti yang kita tahu, Al-Quran turun secara berangsur-angsur. Di zaman kenabian, Al-Quran belum terkumpul menjadi satu seperti yang ada pada saat ini. Untuk menjaga kemurniannya, para sahabat Nabi menuliskannya di tempat yang terpencar, dan beberapa dari mereka menghafalkannya.

Inisiatif Umar bin Khattab

Namun, saat pecah Perang Yamamah di zaman khalifah Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab memiliki kegelisahan terhadap pudarnya penjagaan terhadap Al-Quran. Umar menyadari banyak dari para penghafal Al-Quran syahid di dalam pertempuran.

Tebersit dalam hati Umar ide untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran menjadi satu. Sebab jika tidak dilakukan, upaya untuk menjaga kemurnian dan kesuciannya akan semakin sulit.

Baca juga:

7 Fenomena Sains Modern Ini Ada di Dalam Al-Qur’an
Biografi Singkat 5 Hafidz Al-Quran Paling Inspiratif

 

Akhirnya Umar pun menyampaikan sarannya kepada khalifah Abu Bakar As-Siddiq, dengan harapan agar beliau dapat mewujudkannya. Mulanya, Abu Bakar menolak karena perintah pengumpulan ayat-ayat Al-Quran ini tak ada di zaman Rasulullah.



Namun, dengan pertimbangan yang lebih jauh, akhirnya khalifah menyetujui gagasan Umar  tersebut. Sebab beliau memahami bahwa pengumpulan ayat Al-Quran adalah suatu perkara yang penting, dan tentu saja akan banyak memberi manfaat bagi kemashlahatan umat.

Peran Penting Zaid

Abu Bakar menugaskan Zaid bin Tsabit sebagai pemimpin pengumpulan itu, dengan berpegang pada tulisan yang tersimpan di rumah Rasul, hafalan-hafalan para sahabat dan naskah-naskah yang ditulis oleh para sahabat yang selama ini masih terpencar.

Zaid berhasil menuliskan satu naskah Al-Quran lengkap di atas adim (kulit yang disamak). Setelah selesai, mushaf tersebut diserahkan kepada Abu Bakar dan disimpannya hingga ia wafat.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit kembali ditugaskan untuk menjaga kemurnian Al-Quran. Zaid diminta untuk membuat salinan dari mushaf Al-Quran yang tersimpan di rumah Hafsah (Putri Umar bin Khattab).

Setelah membuat 6 salinan, Zaid mengirimkannya ke beberapa wilayah kaum muslimin untuk memudahkan masyarakat mempelajari dan menghafal kitab suci tersebut. Beberapa negeri yang dikirimi salinan mushaf Al-Quran ialah Mekkah, Madinah, Basrah, Kufah, dan Syam.

***

mukjizat al-quranAl-Quran adalah mukjizat Rasulullah untuk umat manusia akhir zaman. Di dalamnya terkandung berbagai informasi penting, bukan hanya tentang masalah ketuhanan tapi juga kemanusiaan, bukan hanya bagaimana mempersiapkan hari akhir tapi juga bagaimana menghadapi hari ini.

Bulan Agustus 2019 lalu, Qultummedia mempersembahkan sebuah buku yang akan membantu pembaca untuk membaca, memahami, dan menghafalkan bagian terakhir Al-Quran, yakni Juz 30 atau Juz ‘Amma. Di dalam buku ini, Juz ‘Amma kami hadirkan dengan latin dan terjemahnya, sirah atau sejarah ayat-ayat, hikmah atau pelajaran dari ayat-ayat tersebut, juga asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat.

Selain itu, buku ini juga kami lengkapi dengan panduan shalat wajib dan sunah, zikir bakda shalat, dan tak lupa doa-doa yang berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw.



mukjizat al-quran

Mukjizat Al-Quran Tak Lekang Oleh Waktu

Tak hanya sebagai panduan hidup, Al-Quran juga memiliki mukjizat yang tersimpan di dalamnya. Semakin kita berusaha mencari, menemukan, dan memaknai apa yang Al-Quran sampaikan, hati kita akan kagum terhadap segala hal tentangnya.

Ada yang bilang, untuk mencintai sesuatu kita harus mengenal dan  memahami betul tentangnya. Jika hanya sekadar tahu, kita takkan merasakan kedekatan emosional yang mendalam. Seperti saat kita tak bersama dengannya, hati kita tak mendapat masalah. Atau mungkin tak merasa kehilangan sedikit pun.

Bisa jadi, hal itu yang menggambarkan hubungan kita dengan Al-Quran. Selama ini, kita mungkin hanya membacanya tanpa memahami makna yang ingin disampaikannya. Kecintaan kita padanya belum sampai tahap yang lebih dalam: mempelajari arti, memahami makna, atau mencari tahu mukjizat yang terkandung di dalamnya.



Teman-teman tahu tidak, ternyata Al-Quran memiliki banyak mukjizat yang mungkin belum kita ketahui. Untuk itu, mari kita mengenal lebih dekat tentang kitab suci yang mulia ini. Berikut kami paparkan beberapa mukjizat Al-Quran yang dengannya semoga bisa menambah keimanan kita.

***

  1. Pembuktian Sains

Al-Quran membuktikan banyak fakta sains, atau bahkan mendorong manusia untuk mempelajari alam. Salah satu contoh nyata adalah teori Big Bang. Di mana Al-Quran sudah memaparkannya lebih dari 14 abad lalu dalam surat Al-Anbiya` ayat 30.

Selain itu, ada beberapa fakta sains lain yang telah terbukti menjadi kemukjizatan Al-Quran. Seperti proses penciptaan manusia, garis edar tata surya, pergerakan gunung, dan lain-lain.

 

  1. Terjamin Kemurniaannya

Sampai detik ini, Al-Quran yang kita baca tidak berubah sedikit pun dari zaman Rasulullah. Allah menjaga dan menjamin kemurnian Al-Quran hingga hari akhir nanti.

Di antara bentuk penjagaan-Nya ialah melalui pengajaran para ulama serta para penghafal Al-Quran. Di mana pembelajaraan mereka benar-benar melalui sanad guru yang jelas. Dan ditambah dengan hafalan yang kuat, semakin menegaskan kemurnian Al-Quran hingga zaman sekarang.

 

  1. Kesempurnaan Isi

Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Quran mempunyai kandungan isi yang lengkap dan sarat akan makna. Semua aspek kehidupan seperti ibadah, muamalah, hukum, sejarah, dan semua hal terkandung di dalamnya.

Tak hanya itu, sebagaimana yang kita ketahui, kandungan Al-Quran juga menerangkan tentang hal-hal ghaib. Keberadaan surga dan neraka, jin, alam kubur, serta ramalan tentang suatu kejadian pun tak terlewatkan. Seperti ramalan Al-Quran tentang kemenangan yang akan diperoleh tentara Romawi saat menghadapi bangsa Persia dalam surat Ar-Rum ayat 6.

 

  1. Keindahan Bahasa

Aspek bahasa merupakan bukti kemukjizatan Al-Quran, sekaligus menegaskan bahwa kitab suci kita bukanlah buatan manusia. Keindahan bahasa Al-Quran dapat dilihat dari pilihan dan susunan kata, gaya tutur penyampaian, sajak yang beraturan, serta hubungan antara ayat yang satu dengan yang lain.



Sebagai contoh, dilansir dari Republika, komposisi keseimbangan kata dalam Al-Quran begitu seimbang. Prof. Quraish Shihah mengungkapkan hal ini dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al-Quran.

Misalnya, penggunaan kata-kata yang berlawanan (antonim) diungkapkan secara seimbang. Kata al-kufr (kekafiran) dan al-iman (keimanan) masing-masing 17 kali. Serta al-hayat (kehidupan) dan al-maut (kematian) masing-masing 145 kali.

hafidz al-quran

Biografi Singkat 5 Hafidz Al-Quran Paling Inspiratif

Selain lantunan bacaan yang merdu, qari juga mempunyai hal lain yang bisa kita kagumi. Di antaranya kisah tentang keakraban mereka dengan Al-Quran.

Bagi seseorang yang dekat dengan Al-Quran, rasanya tiada hari yang indah untuk dilewati tanpa membacanya. Sebab, Al-Quran punya tempat tersendiri yang mengisi ruang hati mereka. Dan itu tidak bisa digantikan.

Baca juga: 5 Keberkahan Berkat Belajar & Mengajarkan Al-Quran

Sebagaimana kita tahu, orang yang dekat dengan Al-Quran punya banyak kemuliaan. Al-Quran telah membuat hidup mereka terjaga. Jiwa mereka sempurna ketenangannya. Dan yang pasti, Al-Quran melembutkan hati mereka.

Kalau kita perhatikan, kehidupan mereka juga begitu istimewa. Tiap orang beramai-ramai ingin mendapat berkah darinya. Doa mereka menjadi sesuatu yang kita dambakan. Bahkan tak jarang, lantunan tilawah mereka menggetarkan hati kita.

***

Pembaca yang dirahmati Allah, kita tahu di antara orang-orang yang dekat dengan Al-Quran, qari adalah salah satunya. Tulisan ini mengajak pembaca untuk mengenal beberapa qari melalui biografi singkat mereka. Semoga kisah mereka menjadi teladan untuk kita.

1. Syaikh Abdurrahman as-Sudais

Syaikh Abdurrahman as-Sudais merupakan qari ternama dan diakui keilmuannya. Sebagian kita mungkin pernah mendengar lantunan Al-Quran yang ia bacakan. Atau bahkan menjadikannya sebagai qari favorit yang nada bacaannya kita tiru.




Ulama yang memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Abdul Aziz bin Muhammad as-Sudais ini lahir di al-Bukairiyah. Sebuah kota yang terletak di provinsi al-Qasim, sebelah timur laut dari provinsi Mekkah.

Syaikh as-Sudais pertama kali diangkat menjadi imam di Masjidil Haram pada usia yang masih muda, yakni 22 tahun. Selain aktif menjadi imam di Masjidil Haram, ia turut serta dalam membina ummat di Saudi Arabia.

Jasanya yang tak terhitung membuat Syaikh as-Sudais dianugerahi beberapa penghargaan. Di antaranya pada tahun 2005, ia mendapatkan penghargaan sebagai “Islamic Personality Of the Year” (Toko Muslim Berpengaruh) dari Dubai International Holy Quran Award (DIHQA) Organising Committee.

2. Syaikh Asy-Syuraim

Selain Syaikh as-Sudais, Syaikh Asy-Syuraim juga merupakan salah satu qari di Masjidil Haram yang populer. Ia dilahirkan di kota Riyadh dengan nama lengkap Su’ud bin Ibrahim bin Muhammad Alu Syuraim.

Mengenai pendidikannya, Syaikh Asy-Syuraim menempuh kuliah di Universitas Muhammad Ibnu Su’ud Al-Islamiyah di Riyadh jurusan Aqidah dan al-Madzhab al-Mu’shirah. Kemudian melanjutkan ke tingkat Magister di Ma’had al-Ali lil Qadha’.

Baca juga: 7 Fenomena Sains Modern Ini Ada di Dalam Al-Qur’an

Pada tahun 1416 H, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Ummul Qura untuk jenjang doktoral, dan lulus dengan mendapatkan nilai summa cum laude.

Sebagai imam Masjidil Haram, ia disebut sebagai qari yang kuat hafalannya. Ia juga dikenal sebagai orang yang menuangkan seluruh masa mudanya untuk menghafal dan menjaga Al-Quran.

3. Muhammad Thaha al-Junayd

Nama Muhammad Thaha sudah tak asing di telinga umat Muslim dunia, termasuk kita. Lantunan bacaan Al-Qurannya saat masih belia sering menemani keseharian kita. Tak jarang masjid di dekat rumah melantunkan rekaman tilawah darinya.

Muhammad Thaha sudah menghafal Al-Quran sejak usia 8 tahun. Dengan dibantu oleh orangtuanya, ia berhasil menyelesaikan hafalan pada usia 13 tahun. Ia mengaku banyak termotivasi oleh sang ayah yang akhirnya mendorong dirinya terjun untuk menghafal Al-Quran.

Supaya hafalannya terjaga, Muhammad Thaha membuat jadwal khusus untuk muraja’ah (mengulang hafalan) beberapa juz dalam sehari. Baginya, menjaga hafalan jauh lebih sulit dibandingkan menghafal itu sendiri.

Muhammad Thaha mengungkapkan bahwa kunci pertama yang harus dimiliki para penghafal Al-Quran adalah niat. Dengan niat yang kuat, Allah akan memudahkan seseorang meraih cita-citanya menghafalkan Al-Quran.

4. Syaikh Misyari Rasyid Al-‘Afasi

Kemerduan suara Syaikh Misyari Rasyid sudah terdengar ke berbagai penjuru dunia. Mungkin sebagian kita akrab dengan nada dan lantunan Al-Qurannya. Ada banyak video tilawahnya yang beredar di internet, dan tentu saja digemari banyak orang.




Syaikh Misyari Rasyid lahir pada tahun 1976 M di Kuwait. Ia merupakan qari internasional yang mengisi banyak masjid besar di negara kelahirannya. Ia merupakan spesialis ilmu Al-Quran, terutama dalam masalah bacaan.

Baca juga: 5 Perempuan Hebat di Dalam Al-Quran (1)

Sepanjang hidupnya, Syaikh Misyari Rasyid beberapa kali menerima penghargaan. Pada tanggal 25 Oktober 2008, ia dianugerahi Oscar Kreativitas Arab pertama oleh Uni Kreativitas Arab di Mesir.

Penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadapnya. Lantaran berperan dalam mempromosikan prinsip-prinsip dan ajaran Islam. Serta memanfaatkan teknologi modern untuk menyampaikan pesan damai.

5. Syaikh Usamah bin ‘Abdillah Khayyath

Syaikh Usamah lahir pada tahun 1375 H di Mekkah. Ia belajar di kota kelahirannya itu dan lulus dari Fakultas Kitab dan Sunnah pada tahun 1396 dengan predikat cumlaude.

Syaikh Usamah ditetapkan sebagai imam Masjidil Haram pada tahun 1997 menggantikan ayahnya, Abdullah bin Abdul Ghani Khayyath. Sebagai imam, ia dikenal dengan gaya bahasa yang kuat dan mampu menggetarkan hati.

Ia berprofesi sebagai pengajar di Masjidil Haram, mantan Anggota Majelis Syura, Dosen di Fakultas Syari’ah Jami’ah Ummul Qura’. Salah satu keistimewaan Syaikh Usamah ialah mendapatkan ijazah sanad dalam meriwayatkan kutubus sunnah dan seluruh kitab induk hadits yang lain.

***

Al-Quran adalah mukjizat Rasulullah untuk umat manusia akhir zaman. Di dalamnya terkandung berbagai informasi penting, bukan hanya tentang masalah ketuhanan tapi juga kemanusiaan, bukan hanya bagaimana mempersiapkan hari akhir tapi juga bagaimana menghadapi hari ini.

Bulan Agustus 2019 ini, Qultummedia mempersembahkan sebuah buku yang akan membantu pembaca untuk membaca, memahami, dan menghafalkan bagian terakhir Al-Quran, yakni Juz 30 atau Juz ‘Amma. Di dalam buku ini, Juz ‘Amma kami hadirkan dengan latin dan terjemahnya, sirah atau sejarah ayat-ayat, hikmah atau pelajaran dari ayat-ayat tersebut, juga asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat.

Selain itu, buku ini juga kami lengkapi dengan panduan shalat wajib dan sunah, zikir bakda shalat, dan tak lupa doa-doa yang berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw.

 

Sumber foto: freepik.com

5 Keberkahan Berkat Belajar & Mengajarkan Al-Quran

Sebagai pedoman hidup manusia, Allah menjamin keabsahan Al-Quran hingga hari akhir. Dan di antara bentuk penjagaan-Nya ialah melalui mereka yang membaca Al-Quran, mempelajari, mengajarkan, juga mengamalkannya.

***

Teman-teman, masih ingat pengalaman saat belajar membaca Al-Quran?

Saat anak-anak, ada banyak cerita bagaimana sulitnya kita mempelajarinya. Kita mengeluh tentang rumitnya pelafalan huruf-huruf. Kita tak tahan dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Dan tak jarang, orangtua menegur lantaran kita tidak mau diatur.

Namun, semakin dewasa kita justru semakin sadar. Orangtua mengajari kita Al-Quran justru karena sayang pada kita. Lihat betapa sabarnya mereka saat mengenalkan pada kita huruf-huruf hijaiyah. Betapa lapangnya dada mereka saat mencontohkan tajwid pada kita. Semua itu mereka lakukan agar kita menjadi orang yang baik, seperti apa yang mereka selalu doakan.

Baca juga: 7 Fenomena Sains Modern Ini Ada di Dalam Al-Qur’an

Teman-teman tentu tahu, yang melalui proses perjuangan dan bersabar dalam belajar Al-Quran bukan hanya kita. Para sahabat dan ulama terdahulu pun melewatinya. Bahkan boleh dibilang, usaha kita tidak sebanding dengan mereka.




Sahabat Utsman bin Affan misalnya. Ia pernah bercerita bahwa mula-mula dirinya belajar dari Rasulullah hanya dengan 10 ayat. Ia tidak pindah atau melanjutkan untuk mempelajari ayat yang lain, kecuali telah berhasil memaknai dan mengamalkan ayat-ayat tersebut.

Ada juga kisah Abdullah bin Masud, yang juga tidak pernah putus belajar Al-Quran dari Rasulullah. Sampai-sampai setiap ayat Al-Quran yang dibacakan padanya, ia tahu latar belakang dan tempat di mana ayat tersebut turun.

Ulama-ulama dahulu menjadikan Al-Quran sebagai karibnya. Pelita yang menerangi hati dan pedoman dalam mengarungi hidup. Kedekatan mereka dengan Al-Quran bukan hal yang perlu lagi dipertanyakan. Tak mengherankan, Imam Syafii bahkan sudah mampu menghafal Al-Quran saat berusia tujuh tahun.

***

Teman-teman yang baik, ada banyak keutamaan yang bisa kita dapatkan jika istikamah belajar dan mengajarkan Al-Quran. Di antara semua keutamaan itu, kami meringkasnya menjadi beberapa poin agar Teman-teman lebih mudah memahaminya. Semoga bermanfaat, ya!

  1. Memperoleh Derajat yang Tinggi

Siapa saja yang dekat dengan Al-Quran, bersabar dalam mempelajarinya, ikhlas dalam mengamalkannya, dan tawadhu dengan ilmu yang ia miliki, Allah akan memposisikannya pada derajat yang lebih tinggi.

Imam Bukhari meriwayatkan, orang yang ahli dalam membaca Al-Quran bersama para malaikat pencatat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang terbata-bata ketika membaca Al-Quran dan bersusah payah mempelajarinya, baginya dua pahala.

  1. Mendatangkan Syafaat

Dalam sebuah riwayat, Abu Umamah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para sahabatnya.”

Saat tak ada pertolongan di hari akhir nanti, Al-Quran akan memberi syafaat bagi siapa saja di dunia yang gemar membacanya. Ia akan menjadi saksi bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

  1. Mendapatkan Pahala yang Agung

Allah menjanjikan pahala berlipat ganda untuk mereka yang membaca Al-Quran. Tiap huruf darinya bernilai 10 kebaikan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

  1. Mendapat Naungan dari Malaikat

Jika ada orang-orang yang membaca Al-Quran dalam suatu majelis, maka ketenteraman akan turun pada mereka. Rahmat akan senantiasa dicurahkan pada mereka sepanjang majelis berlangsung. Dan malaikat akan menaungi dan menyebut-nyebut kebaikan mereka di hadapan-Nya.

  1. Menghilangkan Penyakit Hati

Seringkali kita lupa menjaga diri dari penyakit yang tak terlihat. Yaitu penyakit yang ada di dalam hati dan sulit untuk disembuhkan. Seperti riya’, ujub, iri, sombong, dan sebagainya. Untuk menghilangkan itu semua, Rasulullah menasihati kita agar memperbanyak zikir dan baca Al-Quran.

***




Al-Quran adalah mukjizat Rasulullah untuk umat manusia akhir zaman. Di dalamnya terkandung berbagai informasi penting, bukan hanya tentang masalah ketuhanan tapi juga kemanusiaan, bukan hanya bagaimana mempersiapkan hari akhir tapi juga bagaimana menghadapi hari ini.

Bulan Agustus 2019 ini, Qultummedia mempersembahkan sebuah buku yang akan membantu pembaca untuk membaca, memahami, dan menghafalkan bagian terakhir Al-Quran, yakni Juz 30 atau Juz ‘Amma. Di dalam buku ini, Juz ‘Amma kami hadirkan dengan latin dan terjemahnya, sirah atau sejarah ayat-ayat, hikmah atau pelajaran dari ayat-ayat tersebut, juga asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat.

Selain itu, buku ini juga kami lengkapi dengan panduan shalat wajib dan sunah, zikir bakda shalat, dan tak lupa doa-doa yang berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw.

 

Sumber gambar: pixabay.com

Allah Selalu Menemani Kita, Di Mana Pun, Kapan Pun

Berbagai cara kau tempuh untuk menghindar dari rasa sepi. Namun pada akhirnya, waktulah yang menjawab. Bahwa kesepian tidak tercipta kecuali hatimu sedang jauh dari-Nya. Padahal, kau tahu, Dia selalu berada di sisi kita, menemani kita.

***

Mungkin di usiamu yang sekarang, kau sedang dalam fase mempertanyakan jalan hidupmu. Ketika sahabatmu mulai menata masa depannya, dan banyak pencapaian yang bisa mereka raih dan banggakan. Lalu, kau menganggap hidup ini enggan memihakmu.

Kau mulai mencari jawaban dari semuanya. Hatimu bertanya-tanya ke mana orang yang dulu selalu ada. Semakin kau mencari, keadaanmu semakin terpuruk. Lewat media sosial mereka, kau menemukan apa yang tidak ada dalam hidupmu. Dan sekali lagi, kau menyalahkan takdir.

Hari-hari kau lewati dengan perasaan yang  sama. Perasaan yang mengira bahwa kau tidak dibutuhkan.

Baca juga: Setelah Dia Pergi: Sebuah Percakapan dengan Hati

Di dalam kamar, kau mengurung diri. Meratapi kenyataan yang begitu menyakitkan. Kau mulai membenarkan hal yang dulu tidak kau percaya. Tentang kehidupan orang dewasa. Kehidupan yang penuh perih dan luka.



Tiap orang pernah berada di titik terendah. Mereka mencari pelarian dari masalah yang tak kunjung usai. Sebagian dari mereka berhasil, sebagian yang lain memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Ketika kau anggap dirimu tak berguna, lihatlah kembali masa lalumu. Kau dilahirkan di dunia ini bukan tanpa alasan. Bahkan ketika masih berada di dalam kandungan, banyak orang yang menantikan hadirmu. Mereka tahu kau adalah hadiah bagi semesta.

Sesakit apa pun perasaanmu, seperih apa pun luka yang tak bisa kau jelaskan, jangan pernah ambil jalan pintas untuk keluar dari masalah ini.

Baca juga: Muhasabah: Jangan Menyerah dengan Masalah!

Kau tak perlu mengakhiri hidup hanya karena ujian yang tiap orang pernah mengalaminya. Kau tak perlu “kehidupan malam” yang hanya membuatmu tidak sadarkan diri. Sejatinya, kau hanya butuh didengarkan. Dan Allah senang jika kau ingin bercerita.

Doa yang kau panjatkan mungkin tak langsung menuntaskan semua. Air matamu yang jujur pun tak lantas membuat masalah seketika berakhir. Kau tetap harus berjuang. Bedanya, kini kau menyadari bahwa Allah selalu menemanimu.

Setelah banyak waktu kau habiskan, akhirnya kau menemukan jawaban dari masalahmu selama ini.

Kini kau kembali menata hidupmu. Hatimu tak bosan-bosannya memanjatkan syukur. Dan di akhir cerita ketika semuanya usai, kau tersenyum.

Mungkin karena kau tahu dirimu tidak lagi sendiri.

***

Perjalanan yang melelahkan kadang bisa membuat kita lupa dengan beberapa hal. Celakanya, usaha kita saat bergelut dengan peristiwa-peristiwa sepanjang perjalanan itu bisa membuat kita lupa dengan hal terpenting dari perjalanan tersebut: tujuan.

Ya, awalnya kita memaksa diri untuk kuat, lalu perlahan terbiasa, dan berikutnya menikmati setiap langkah yang kita ambil. Kita pun terlena, dan selanjutnya lupa dengan diri, juga melupakan Tuhan kita: satu-satunya alasan mengapa kita memulai perjalanan itu.

Innallaha Ma’ana; Allah Selalu Menemani Kita adalah sebuah karya tentang ajakan. Ajakan untuk kembali mengingat-Nya. Merasakan-Nya. Mendekat pada-Nya. Bahwa Dia ada, hadir, bahkan menemani kita, kapan pun dan di mana pun diri kita berada.

Dalam suka dan duka, dalam derai tawa atau linangan air mata.

Teman-teman bisa mendapatkan buku karya para penulis @tausiyahku_ ini di toko buku Gramedia, TM Bookstore, Gunung Agung, dan yang lainnya. Juga bisa didapatkan di berbagai toko online. Setelah membacanya, jangan lupa beri review tentangnya di media sosial dan mention kami @qultummedia (Twitter & Instagram) atau Fanpage Qultummedia di Facebook.

 

*Sumber gambar: pixabay.com



Setelah Kau Pergi: Sepucuk Surat Tentang Resah Hati

Orang yang kehilangan akan menempuh jalan baru dalam hidupnya. Menata semuanya dari awal: menyembuhkan luka, berdamai dengan diri, mungkin mengutarakan isi hati yang belum tersampaikan.

***

Hai, apa kabar?

Semoga saat ini kau baik-baik saja, sebagaimana aku yang bisa tersenyum menuliskan surat ini untukmu.

Sudah lama semenjak kita berpisah, kuharap tak ada yang berubah darimu. Kau tetap menjadi wanita yang penuh kasih. Perhatian pada lelaki yang berhasil menyita hatimu.

Sayangnya, lelaki itu bukan diriku.

Masih terbayang olehku raut wajahmu. Hari ketika kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita.

Saat itu aku paham alasanmu pergi. Kau ingin meniadakan siapa saja yang mengalihkan fokusmu untuk mengejar mimpi. Tak ada pilihan lain untukku kecuali mengiyakan. Bodohnya aku, sedikit pun aku tak merasa kau sedang berdusta.

          Baca juga: Setelah Dia Pergi: Sebuah Percakapan dengan Hati

Beberapa hari berlalu. Aku tak bisa membohongi diri sendiri. Kehilanganmu telah membuat hidupku berhenti sesaat. Meratapi kegagalan terbesar yang pernah kualami: menjaga wanita yang kucintai.

Namun, kesedihan itu menjadi tak berarti setelah aku tahu semuanya. Ketika aku mulai menangkap maksudmu menjauh. Ya, ada lelaki lain yang kau dambakan. Aku telat menyadari itu.

Kini, aku ingin memberitahumu beberapa hal. Mungkin kau merasa bersalah atas hal ini. Mungkin kau akan meminta maaf sebanyak-banyaknya jika kita tak sengaja bertemu. Jangan khawatir, semua luka yang kau beri sudah kutangani.

Justru aku berterima kasih padamu dan keputusan yang kau ambil. Jika saja aku tak mengalaminya, hatiku takkan sekuat hari ini. Aku percaya, hidup punya banyak cara untuk mendewasakan seseorang. Dan, aku mendapat kesempatan itu melalui kepergianmu.

Kalau boleh mengutarakan rasa kesal, aku tak akan mengarahkannya padamu. Melainkan pada diriku yang dulu: lelaki lemah yang mudah dipermainkan cinta.

Sekali lagi, kepergianmu membawaku ke jalan yang belum pernah kutempuh. Jalan yang hanya bisa dilewati oleh mereka yang berhasil merelakan.

          Baca juga: Berdamai dengan Patah Hati

Sebelum menutup surat ini, izinkan aku menyampaikan pesan terakhir. Untukmu atau siapa pun yang membacanya.

“Lihat, aku adalah bukti bahwa seseorang pasti dapat bangkit dari keterpurukan. Aku adalah kenyataan yang memberi tahu bahwa kehilangan bukan masalah terbesar dalam hidup. Jika orang yang patah hati saja bisa kembali tersenyum, bagaimana denganmu yang hatinya baik-baik saja?”

***

Separah apa pun hati kita tersakiti, waktu menjadi penawar yang paling bisa diandalkan, paling tidak membantu kita sedikit mengabaikan sakitnya. Di sini, berlalunya waktu adalah anugerah yang jarang kita sadari, apalagi kita syukuri.

Kita tak pernah berharap kehilangan apa pun. Tapi, hidup selalu punya jalan ceritanya sendiri. Sekuat apa pun kita mengendalikannya, ada saatnya kita harus tunduk dan berlutut: pada tikungan jalan hidup yang tak pernah kita perkirakan.

Ya, di situlah harapan kadang memudar, seiring kenyataan yang bertolak belakang. Sebagian orang kemudian menghabiskan waktunya dengan meratapi takdir, sebagian melakukan perjalanan yang tak benar-benar memiliki tujuan, sebagian lagi mencari pelampiasan dengan mencari pengganti.

Buku Setelah Dia Pergi telah rilis bulan ini. Akhir Mei 2019 ini, buku pertama Dedy Chandra H. ini sudah bisa Pembaca dapatkan di toko-toko buku se-Indonesia. Saat ini, penulis tengah membuka Pre-Order melalui akun @tersenyumlah.semesta, berikut link-nya
bit.ly/pesanbukusdp

 

Sumber gambar: pixabay.com