Rasul & Sebuah Bingkisan Cinta untuk Umatnya
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
28173
post-template-default,single,single-post,postid-28173,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
perempuan di dalam al-quran

Rasul & Sebuah Bingkisan Cinta untuk Umatnya

Pertemuan bisa mengubah sudut pandang kita. Dari pertemuan pula bisa tumbuh rasa suka di hati kita. Tak jarang cinta lahir karena sebuah pertemuan. Meski sekejap mata. Namun …

***

Banyak pasangan yang memutuskan menjalani hidup bersama karena cinta. Mereka bilang, cinta adalah segalanya. Cinta dapat membangkitkan semangat hidup, bahkan mempermudah mereka meraih mimpi.

Orang-orang itu rela berkorban. Mereka terlihat bak superhero yang tangguh. Berjuang mati-matian demi membahagiakan sang kekasih.

Tapi, coba lihat lebih dekat, ada sesuatu yang kemudian terjadi. Cinta itu lambat laun memudar. Pelan tapi pasti, tak ada lagi kata-kata manis di antara mereka. Lebih tak terduga lagi, ada saat-saat mereka lupa pernah saling mencintai.

Pengorbanan yang pernah mereka lakukan menjadi sia-sia. Sebagian orang berpaling pada sosok yang baru. Sebagian yang lain menghabiskan waktunya untuk kebahagiaan dirinya sendiri.

Apakah Itu Cinta?

Pernahkah kita bertanya, apa alasan cinta tumbuh dan bersemi?

Sementara orang berkata kalau paras adalah jawabannya. Pandangan membuka hati untuk menumbuhkan rasa. Nyatanya, kecantikan atau ketampanan tidak bertahan selamanya.

Sebagian yang lain bilang itu disebabkan oleh sifat yang baik. Benarkah? Seperti hal lain yang sifatnya sementara, bukankah sifat juga bisa berubah? Semakin kita mengenal seseorang, kita akan tahu baik dan buruk di balik perangainya.

Sering kita melihat cinta tak dapat disatukan, bukan karena sifat pasangan yang buruk tapi kebutuhan ekonomi yang tak memadai. Jadi, apakah harta memang sebuah jawaban? Lagi-lagi, kekayaan pun dapat habis, bukan? Lagipula, kalau cinta hanya muncul karena harta, bagaimana nasib orang yang papa?

Saya rasa, cinta lebih dari itu semua. Ada sesuatu yang lebih masuk akal dan pantas menjadi sebab berseminya cinta.

Baca juga: Halaqah Cinta: Teladani Nabimu, Temukan Jodohmu

 Pernah dicintai seseorang? Bagaimana rasanya? Sama seperti orang lain pada umumnya, kita akan mencari tahu siapa dan bagaimana orang yang mencintai kita itu. Kita mungkin juga akan bertanya alasan orang tersebut mencintai kita.

Bagi kita, tak ada cinta tanpa ada pertemuan.

Meski begitu, cinta yang tanpa pertemuan itu, yang seakan “tak beralasan” itu, pernah ada. Tumbuh di hati seseorang yang bukan hanya jauh tempatnya tapi juga jauh masa hidupnya dengan kita.

Ia sangat mencintai kita. Dan seperti lazimnya seorang pencinta, sepanjang hidupnya ia selalu mengkhawatirkan kita.

Baginya, cinta tak mengenal batas; tak ada tempat yang cukup jauh dan masa yang terlalu lama untuk memisahkan. Baginya, mengasihi tak harus bertemu. Itu sebabnya, di penghujung usianya pun ia memohonkan ampunan untuk kita.

Ia adalah Muhammad. Seseorang yang terhimpun di dalam dirinya segala kebaikan. Sosok yang tak pantas diragukan lagi kemuliaan akhlaknya. Sosok yang cintanya pada kita sangat sempurna.

Cinta yang tumbuh di hatinya begitu mendalam, sehingga tak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi cintanya. Termasuk jarak dan waktu.

Ia adalah sebaik-baik teladan. Bukan akhlaknya saja yang mulia, cintanya pun menjadi pelajaran bagi kita, dalam mengasihi seseorang melebihi dirinya sendiri.

Semua pengorbanan telah ia lakukan. Yang dengan itu ia membuktikan pada kita, siapa sosok yang sempurna dalam menebarkan cinta.

BACA ARTIKEL TERKAIT

No Comments

Post a Comment

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat