cinta Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
527
archive,tag,tag-cinta,tag-527,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Muhasabah: Benarkah Cinta Adalah Jawabannya?

Cinta punya makna yang berbeda-beda menurut orang yang merasakannya. Tapi, setelah rasa itu lama bersemayam, kita akan sepakat tentang satu hal: Cinta membuat sepasang kekasih saling memahami.

***

Masalah bukan barang asing bagi orang yang sedang menjalin hubungan. Seorang teman pernah bercerita bahwa dirinya baru berselisih dengan sang kekasih, lalu curhat pada kita dan mengatakan bahwa kekasihnya itu egois.

Dalam kehidupan rumah tangga tak jauh berbeda, bahkan skalanya lebih serius, yakni sampai berujung perceraian. Kita pun tercenung. Menikah ternyata tak menghalangi masalah untuk datang.

Dari semua itu, kita perlu mencermati satu hal. Bahwa hubungan antara dua orang tak bisa hanya didasarkan pada cinta. Perlu kedewasaan dari masing-masing pihak untuk saling mengerti dan mau memahami.

Kita bisa belajar dari orang-orang hebat tentang persoalan itu. Memikirkan dalam-dalam kalam bijak mereka dan, dengan niat untuk terus memperbaiki diri, mengamalkannya dalam hidup sehari-hari.

Nah, Pembaca yang baik, berikut kami tuliskan kalimat-kalimat para tokoh Islam tentang cinta dan bagaimana cara kita menyikapinya. Semoga bermanfaat!

***

 

“Never explain yourself to anyone, because the one who likes you would not need it, and the one dislikes you wouldn’t believe it.” – Ali bin Abi Thalib

Jangan pernah menjelaskan dirimu kepada siapa pun, karena orang yang menyukaimu tidak akan membutuhkannya, dan orang yang tak menyukaimu tidak akan mempercayainya.

***

“The minute I heard my first love story, I started looking for you, not knowing how blind that was. Lovers don’t finally meet somewhere. They’re in each other all along.” –Jalaluddin Rumi

Begitu aku mendengar kisah cinta pertamaku, aku mulai mencarimu, tidak tahu seberapa buta itu. Orang yang punya cinta akhirnya tidak bertemu di suatu tempat. Mereka satu sama lain selama ini.

***

“Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation.” –Jalaluddin Rumi

Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa tak ada yang namanya perpisahan.

***

“The man dreams of a perfect woman and the woman dreams of a perfect man and they don’t know that Allah created them to perfect one another.” –Ahmad Al-Shugairi

Para lelaki memimpikan perempuan yang sempurna. Perempuan pun memimpikan lelaki yang sempurna. Mereka tak tahu bahwa Allah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan.

***

“Behind every great man is not a woman. She is beside him, she is with him, not behind him.” –Tariq Ramadan

Di belakang setiap lelaki hebat bukanlah seorang perempuan. Dia ada di sampingnya, bersamanya, bukan di belakangnya.

***

“One of the most sincere forms of love and care is when someone prays for you without you ever knowing. Be that beautiful someone.” –Mufti Ismail Menk

Salah satu bentuk cinta dan perhatian yang paling tulus adalah ketika seseorang berdoa untukmu tanpa kau sadari. Jadilah seseorang yang indah itu.

***

“When you feel lonely, remember that Allah is the companion of those who remember Him.” –Dr. Bilal Phillips

Ketika kamu merasa kesepian, ingatlah bahwa Allah adalah sahabat mereka yang mengingat-Nya.

***

“When God loves you, He places the love of you in the hearts of the people whose love is worth having.” –Omar Suleiman

Ketika Tuhan mencintaimu, Dia menaruh cinta padamu di hati orang-orang yang cintanya layak dimiliki.

***

“Love the people you think you’d want to be with in the Hereafter.” –Omar  Suleiman

Cintai orang-orang yang kamu pikir ingin bersamamu di Akhirat.

***

“Oh my heart, there is another way to love. Do not love the gift for what the gift is. Love the gift for who it came from.” –Yasmin Mogahed

Hatiku, ada cara lain untuk mencintai. Jangan mencintai pemberian berdasarkan untuk apa pemberian tersebut. Tapi cintalah berdasarkan dari siapa pemberian itu berasal.

***

Laiknya sebuah masalah yang pasti datang, tiap diri kita pasti akan merasakan cinta. Tak ada yang menjamin kita bisa merawat hubungan yang kita miliki. Sebab boleh jadi hidup mengarahkan kita pada ujian yang luar biasa.

Namun, justru di situlah cinta tumbuh dan membantu kita menangkal hal itu. Kita belajar untuk mendewasakan diri sebelum bertanggung jawab menjaga orang lain.

***

Persoalan dalam hidup bisa datang kapan saja. Kita sering tidak bisa mengatur apalagi menghindarinya. Dan, satu di antara persoalan-persoalan itu adalah soal … kehilangan orang terkasih.

Klise, mungkin. Tapi masalah tetap masalah, dan karena itu tetap harus kita selesaikan.

Siapa pun ingin kekasihnya tetap berada di sisinya. Tapi, kenyataan sering tak bisa diajak kerjasama. Sebesar apa pun cinta kita, seluas apa pun perhatian kita, ketika sesuatu itu harus terlepas, tak ada yang bisa kita lakukan.

Kita tentu tak sedang baik-baik saja. Tapi bagaimanapun, kita tetap harus melanjutkan hidup. Seperti dikatakan penulis buku I’m Not Fine ini.

Buku yang baru kami rilis pada bulan Maret ini sudah tersedia di toko buku; menunggu dihampiri dan dibaca. Direnungkan dan dijadikan teman setia, saat seseorang beranjak dari sisimu.

Selamat membaca!

*Sumber foto: pixabay.com

Muhasabah: Jangan Menyerah dengan Masalah!

Setiap orang berjuang demi hidupnya. Setiap hari. Ada yang harus bertahan di bawah terik matahari, ada juga yang harus berdiri tegak di tengah amarah seorang klien.

Meski kondisi yang mereka hadapi mungkin berbeda, mereka dituntut untuk sama, yaitu kuat. Kuat menghadapi tantangan apa pun yang mungkin menghampiri mereka. Sebab, tak ada sikap mental yang bisa menjaga langkah mereka menuju pintu keberhasilan selain kuat.

Sikap mental inilah yang kemudian membuahkan sikap-sikap lain yang menjadi turunannya, seperti pantang menyerah, tak mudah putus asa, sabar, ulet, cerdik melihat peluang, dan lain-lain.

Orang-orang besar yang namanya mendunia banyak yang mengawali hidupnya dari bawah –melebihi kondisi hidup kita saat berada di titik terendah. Meski begitu, mereka terus berjuang: bersahabat dengan nasib yang tak berpihak dan bergumul dengan masalah yang silih berganti.

Pembaca yang baik, berikut kami tuliskan ulang kalimat-kalimat para pesohor tentang bagaimana mereka menyikapi kesulitan dalam hidup. Semua orang, termasuk mereka, pasti ingin hidupnya serba mudah. Tapi, siapa yang bisa menjamin hidupnya tak bisa jatuh?

***

 

“The pessimist sees difficulty in every opportunity. The optimist sees opportunity in every difficulty.” –Sir Winston Churchill

(Orang yang pesimis melihat kesulitan dalam tiap kesempatan, sedang orang yang optimis menatap kesempatan pada tiap kesulitan.)

***

“The only limit to our realization of tomorrow will be our doubts of today.” –Franklin D. Roosevelt

(Satu-satunya yang membatasi kesuksesan kita hari esok adalah keraguan kita hari ini.)

***

“For every reason it’s not possible, there are hundreds of people who have faced the same circumstances and succeeded.” –Jack Canfield

(Untuk setiap alasan bahwa sesuatu itu mustahil, ada ratusan orang yang menghadapi keadaan yang sama dan (ternyata) berhasil.)

***

“You don’t have to be great to start, but you have to start to be great.” –Zig Ziglar

(Kau tak harus hebat untuk memulai, tapi kau harus memulai untuk menjadi hebat.)

***

“It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.” –Confucius

(Tak masalah seberapa lambat langkahmu, asalkan kau tak pernah berhenti.)

***

“Believe in yourself. You are braver than you think, more talented than you know, and capable of more than you imagine.” –Roy T. Bennett

(Percayalah pada dirimu. Kau lebih berani dari yang kau kira, lebih berbakat dari yang kau tahu, dan lebih mampu dari yang kau bayangkan.)

***

“The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and we miss it, but that it is too low and we reach it.” –Michaelangelo

(Bahaya terbesar bagi kebanyakan kita bukanlah tujuan yang terlalu tinggi yang kita tak sanggup meraihnya, tapi tujuan yang terlalu rendah yang kita berhasil mencapainya.)

***

“Success is not accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all: love of what you are doing or learning to do.” –Pele

(Sukses bukan kebetulan. Ia adalah kerja keras, ketekunan, kesediaan untuk belajar, pengorbanan, dan di atas semua itu: mencintai apa yang kau lakukan dan pelajari.)

***

“We don’t develop courage by being happy every day. We develop it by surviving difficult times and challenging adversity.” –Barbara De Angelis

(Kita tak bisa mengembangkan keberanian dengan menjadi bahagia setiap hari. Kita mengembangkannya dengan berjuang agar selamat di masa-masa sulit dan menantang kesulitan.)

***

“Staying positive does not mean that things will turn out okay. Rather it is knowing that you will be okay no matter how things turn out.” –Unknown

(Tetap berpikir positif tak membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Tapi menyadari bahwa kau akan baik-baik saja, bagaimana pun keadaannya.)

***

 

Persoalan dalam hidup bisa datang kapan saja. Kita sering tidak bisa mengatur apalagi menghindarinya. Dan, satu di antara persoalan-persoalan itu adalah soal … kehilangan orang terkasih.

Klise, mungkin. Tapi masalah tetap masalah, dan karena itu tetap harus kita selesaikan.

Siapa pun ingin kekasihnya tetap berada di sisinya. Tapi, kenyataan sering tak bisa diajak kerjasama. Sebesar apa pun cinta kita, seluas apa pun perhatian kita, ketika sesuatu itu harus terlepas, tak ada yang bisa kita lakukan.

Kita tentu tak sedang baik-baik saja. Tapi bagaimanapun, kita tetap harus melanjutkan hidup. Seperti dikatakan penulis buku I’m Not Fine ini.

Buku yang baru kami rilis pada bulan Maret ini sudah tersedia di toko buku; menunggu dihampiri dan dibaca. Direnungkan dan dijadikan teman setia, saat seseorang beranjak dari sisimu.

Selamat membaca!

 

*Sumber foto: freepik.com

Aji Nur Afifah: Cerita-cerita Perjalanan

Cerita #1

 

Hidup memang nggak selamanya seperti yang kita mau. Kadang ada masanya kita kecewa sekali. Sampai nggak tahu lagi mau marah ke siapa. Marah ke Tuhan? Kok, kurang ajar. Akhirnya kita cuma ngadu dan ngadu.

Nangis sejadinya. Nggak berkata-kata, cuma nangis aja.

Tapi, diam-diam kita berdoa. Memohon agar semuanya lekas usai. Memohon agar kuat menghadapi ini semua. Memohon banyakkkk sekali, tapi intinya agar rasa kecewa ini diangkat, dicabut seakar-akarnya.

Permohonan-permohonan itu kita teriakkan lantang saat senyap. Yang mengerti hanya kita dan Tuhan. Nggak perlu orang lain. Rasanya cukup Tuhan saja. Karena … kita tidak mau lagi kecewa dengan respon orang lain atas kita. Cukup …

Saat itu, sebenarnya yang kita perlu cuma didengarkan. Dan kembali, di saat semuanya tampak tak mau mendengar, lagi-lagi ada Tuhan yang tanpa diminta pun sudah mau mendengar.

Tuhan mungkin sedang ingin menunjukkan, kalau kita ini makhluk yang lemah. Yang tidak ada apa-apanya, apalagi diberi masalah berat sedikit. Tuhan mungkin sedang rindu dijadikan nomer satu, dijadikan segala-galanya.

Tuhan mungkin benar-benar rindu. Selama ini kita terlalu jauh. Selama ini kita tak benar-benar bicara dengan hati. Selama ini kita terlampau asyik dengan urusan-urusan kita, bahkan kadang mengatasnamakan-Nya, tapi nyatanya tak setulus karena-Nya …

Di balik kekecewaan kita ini, Tuhan ingin kita mendekat … Tuhan sedang bilang pelan-pelan pada kita:

“Ada Aku … Ingat, ada Aku.”

***

 

Cerita #2

 

Menurut saya, kemantapan hati itu perjalanan spiritual tersendiri bagi masing-masing individu. Susah ditakar. Susah pula dideskripsikan.

Kalau mantap, ya, insyaAllah mau bagaimana sikonnya mantap melangkah. Begitupun kalau ragu … adaa saja yang buat enggan.

Masalah kemantapan hati sebelum menikah akhir-akhir ini, masyaAllah, lumayan banyak yang mengirim ask dan DM ke saya dengan berbagai macam kasus yang berbeda.

Tapi …

Jawaban saya sama, general, masing-masing hati nampaknya lebih tahu. Saya nggak bisa kasih saran macam-macam, selain istikharah.

Perbanyak dialog dengan Yang Maha Memiliki Kuasa Atas Hati. InsyaAllah masing-masing orang akan menemukan jawaban masing-masing.

Toh, kadang sebenarnya kita sudah punya jawabannya … dan hanya butuh dikuatkan.

Maka, jika kebutuhan itu adalah dikuatkan, atau butuh masukan, dengarkanlah saran dari yang begitu menyayangimu. Yang ridhanya masih kamu cari: orangtuamu.

Karena jawaban istikharah tidak melulu dari mimpi. Bisa juga restu kedua orangtua.

***

 

Cerita #3

 

Aku selalu suka mendengarkan dia bercerita, tentang petualangannya mendaki gunung, mulai dari berjuang menabung untuk beli sepatu, sampai ia yang sempat terperosok saat turun.

Seakan-akan aku ikut di belakangnya, dia menggandengku sampai ke puncak.

Ceritanya yang detail membuatku ingin bersorak setiap ada kejadian seru, seperti saat makan bersama dengan perbekalan yang tersisa, bagaimana membangun tenda, sampai segala upaya yang dia lakukan saat kedinginan.

“Kalau sudah mendaki, nggak boleh sok-sok nggak enakan sama rombongan. Kalau sakit ya bilang, kalau ada yang capek juga nggak boleh egois –kita berhenti dulu, istirahat.”

Bagi aku yang terhalang sakit ini, menjadi pendengar setia ceritanya saja sudah suatu kebahagiaan.

Aku bisa menikmati gunung demi gunung lewat langkahnya, lewat sudut pandangnya, lewat semua keindahan yang terekam di memorinya.

Aku tidak jadi marah, karena Tuhan tidak izinkan aku mendaki ke atas.

Setelah waktu mempertemukanku dengan mas-mas pendaki ini, aku jadi paham,

kisahnya adalah penawar sakitku –atas harap menghirup aroma khas pepohonan, ranu yang terngiang dalam bayangan, dan puncak yang selalu ingin kuraih.

Aku sudah mendapatkannya sepaket.

Ada padanya.

 

–Aji Nur Afifah, penulis “Melangkah Searah”

 

***

 

Menapaki kehidupan rumah tangga ibarat menempuh sebuah perjalanan. Kadang kita menemui jalan yang lurus, berliku, menanjak, atau menurun. Kadang bergelombang dan terjal, tapi kadang sangat mulus dan mudah dilalui.

Selama beberapa tahun Aji Nur Afifah menuliskan pengalaman rumah tangganya di www.ajinurafifah.tumblr.com dan awal tahun ini, alhamdulillah, ia telah merampungkan naskahnya yang berjudul Melangkah Searah dan diterbitkan oleh Qultummedia.

Buku ini bisa Pembaca dapatkan secara online di republikfiksi.com, Gramedia.com dan toko buku online yang lain, atau secara offline di Gramedia, Gunung Agung, TM Bookstore, dan toko buku offline yang lainnya. 

 

*Sumber foto: freepik.com

fitrah kebaikan

Mengapa Perlu Berdamai dengan Diri Sendiri?

Tak ada orang yang ingin hatinya patah. Tapi, tak ada yang bisa memastikan hal tersebut tak menghampiri hidupnya. Sebagai manusia yang bisa terpuruk oleh kesedihan, kita berusaha untuk menghindar darinya.

Dalam hidup ini, kita tak bisa lepas dari cinta. Pada saat yang sama, kita juga tak ingin ditinggal oleh orang yang kita cintai.

Kenyataan kadang berpihak pada kita, tapi kadang tidak. Meski kita ingin terus bersama orang yang kita cintai, kita tak bisa memaksanya menetap di sisi kita. Sebab, tiap orang berhak memilih tinggal bersama siapa.

Saat kita mulai mencintai seseorang, kita cenderung mengorbankan apa yang kita miliki. Tak terkecuali waktu dan tenaga.

Entah berapa banyak surat ditulis, novel diterbitkan, dan film-film digarap untuk menceritakan pengorbanan manusia atas nama cinta. Ini termasuk cerita-cerita dramatis dan mengaduk-aduk perasaan, seperti pengorbanan yang ternyata dikhianati.

Bayangkan tokoh utama dalam cerita-cerita itu adalah kita. Kita pasti merasakan sedih yang mendalam. Mungkin air mata akan menjadi teman paling setia yang menemani hari-hari kita.

Kita akan terbayang semua kenangan tentang orang yang kita cintai itu. Tempat-tempat yang pernah kita kunjungi atau waktu-waktu yang pernah kita lewati.

Apa pun yang berkaitan dengan orang tersebut akan menjelma bayang-bayang di benak kita.

Pada saat seperti itu, kita akan mencari orang terdekat untuk berbagi. Sayangnya, tak semua orang punya waktu untuk mendengarkan kita.

Kita mengerti. Orang lain ‘kan punya urusan yang juga harus diselesaikan. Dan, bukan mustahil mereka pun merasakan hal yang sama dengan kita.

Namun setelah semuanya berakhir, setelah tak seorang pun mau mendengar isi hati kita, kita akan ingat satu hal: Allah. Tuhan yang selalu bersama kita, walau kadang kita melupakan-Nya.

Akhirnya, kita sadar pada apa yang kita lakukan. Kekecewaan lahir bukan karena ulah orang lain, tapi karena kita yang terlalu berharap pada mereka.

Pada malam-malam yang panjang kita merenung. Menceritakan apa yang kita alami dalam doa.

Perlahan, luka yang menggores hati kita Allah sembuhkan. Kekecewaan yang kita terima memudar. Dan patah hati yang kita alami bukan lagi masalah hidup dan mati –itu hanya soal ego kita yang tak terima dengan fakta terbesar dalam hidup, yakni siapa pun yang tercipta bernyawa suatu saat akan pergi.

Kita telah menemukan jawaban dari apa yang kita cari. Dan seusai lelah dengan perasaan sendiri, kita akan sadar bahwa saat cinta membuat kita lupa pada-Nya maka tinggal menunggu hari kekecewaan akan menyapa kita.

***

Seperti benda lain yang bisa rusak, hati yang patah juga tak mudah dipulihkan. Tapi ajaibnya, meski berkali-kali mengalami kejadian yang membuatnya terluka, hati bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagian orang berkata itu sebab kerelaan pemiliknya, sebagian yang lain mengatakan itu hanya soal waktu.

Patah mungkin bisa dihindari. Tapi tak seorang pun bisa menjamin hatinya selalu aman darinya. Itu sebabnya, tak perlu menunggu hati patah untuk tahu cara berdamai dengannya. Persis seperti yang dikatakan penulis buku ini, Desiani Yudha, berdamai adalah satu-satunya cara bagi hati yang patah untuk melanjutkan hidup.

Buku Berdamai dengan Patah Hati terbit pada Desember 2018. Saat ini Pembaca sudah bisa mendapatkannya di Gramedia, Gunung Agung, dan toko offline atau online yang lain. Secara berkala, penulis buku ini menyapa pembacanya di akun Instagram pribadinya, @desianiyudha.

*Sumber foto: freepik.com

tak usah larut dalam penyesalan

Tentang Dia: Untuk Apa Menyesali Kepergiannya?

Tersenyumlah. Kau tak perlu menyesali yang terjadi.

Jika dia memang baik untukmu, Allah akan membuatnya dekat denganmu.

Dia tak punya kewajiban menyatukan kalian hari ini. Sebab Dia tahu waktu yang paling baik untuk kalian. Allah hanya sedang memisahkan. Sementara.

Tak ada larangan untukmu merawat cinta. Asal cinta itu menuntunmu semakin dekat pada-Nya.

Baca juga: Tentang Kepergiannya: Mengapa Kau Harus Kecewa?

Kalaupun bukan dia yang terbaik, Allah punya cara untuk menjaga jarakmu dengannya. Dan Dia akan menggunakan cara yang paling halus. Yang bisa kau terima, tanpa perlu mengeluh pada-Nya.

Tak perlu menyesal.

Takdirmu sudah Allah gariskan. Entah kelak seperti apa. Yang pasti, itu akan menjadi jalan terbaik untukmu. Mungkin juga untuknya.

Penyesalan hanya akan menambah sedihmu. Sampai-sampai kau berpikir seandainya dan seandainya. Hingga lupa Allah penulis cerita yang paling sempurna.

Penyesalan takkan membuat lukamu pergi. Sebaliknya, ia akan membuatnya menetap lebih lama.

Semakin kau memikirkan kesalahanmu, semakin kau tak punya waktu untuk mengingat-Nya.

Berdoalah. Hadirkan Allah di hatimu. Seharusnya cinta yang Dia beri tak menjauhkanmu dari-Nya. Jadi, sekarang Dia hanya ingin mengembalikan jalanmu. Dari jalan yang menghadirkan luka menuju jalan yang dicintai-Nya.

Baca juga: Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Ikutilah jalan yang Allah hadiahkan itu. Tak semua orang mendapatkan anugerah yang Dia beri padamu. Bersyukurlah, karena Dia tak ingin kau terjerumus dalam cinta yang salah.

Ceritakan semua dalam doamu. Ungkapkan perasaan yang menyesakkan dadamu. Mempersempit kebahagiaanmu. Dan mengurangi prasangka baikmu. Ceritakan. Allah akan mendengarnya.

Hapus penyesalan yang menghambat langkahmu. Sebab satu langkah ke depan lebih baik daripada beribu-ribu penyesalan.

Pilihan ada di tanganmu. Jika kau tak bisa melupakan dia yang kau cintai, adukan pada Allah. Bertanyalah bagaimana caranya. Seperti apa baiknya.

Cintamu pada-Nya harus lebih besar daripada cintamu padanya.

Jangan sampai cinta yang seharusnya menjadi fitrah, justru membuatmu semakin jauh dari-Nya. Jangan sampai.

 

*Sumber foto: pixabay.com

tak usah kecewa terlalu lama

Tentang Kepergiannya: Mengapa Kau Harus Kecewa?

Relakanlah.

Tak perlu bersedih karena dia meninggalkanmu. Sejatinya, Allah ingin mengajarimu kesucian cinta. Dia tak rela perasaanmu dipermainkan orang yang salah.

Sadarilah, Allah sedang menyelamatkanmu. Dia tak ingin kau mengenal cinta dengan cara yang tak diridhai-Nya.

Mari renungkan pertanyaan ini: mengapa cinta yang kau punya berakhir dengan kecewa? Bukankah itu artinya ada yang perlu dibenahi? Bukankah harusnya cinta itu justru membahagiakanmu?

Baca juga:
Cinta Lebih Membutuhkan Keikhlasan Dibanding Pengorbanan
Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Supaya kau tak larut dalam kesedihan, Allah memberi jarak antara dirimu dengan orang yang kau cintai. Bukan Dia melarangmu menyimpan perasaan padanya. Allah hanya ingin menuntunmu bagaimana merawatnya.

Kepergian memang menyakitkan. Terlebih, ditinggal orang yang kita cintai. Tapi, selalu ada hikmah di balik apa yang kita alami.

Hikmah akan menghentikan langkah kita pada apa yang kita senangi. Tapi, membuat hati tak merasakan luka yang lebih dalam lagi.

Orang yang menjauh darimu tak lebih mencintaimu dibandingkan Allah. Allah akan melakukan apa pun yang terbaik untukmu. Meski mungkin saat patah, kau menganggap perlakuan-Nya sama sekali tak adil.

Hidupmu tak berhenti di hari ini. Tapi jika kau kecewa hari ini, bagaimana kau akan melangkah menuju masa depan?

Bangkitlah!

Hapus kesedihanmu. Raih tujuan yang ingin kau gapai. Jangan biarkan cinta yang salah membuatmu menghentikan langkah.

Allah selalu ada untukmu. Walau kau tak menyadarinya, tiap peristiwa yang kau alami tak terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Dia tak menghendaki sesuatu yang buruk terjadi padamu.

Tegakkan kepalamu. Masih banyak mimpi yang harus kau ubah menjadi nyata. Masih ada orang-orang yang harus kau bahagiakan.

Tumbuhkan cinta pada Yang benar-benar mencintaimu. Yang selalu ada di saat kau putus asa. Yang tak pernah pergi ketika kau punya masalah. Yang setia menemanimu di setiap langkah.

Percayalah, Allah tak mungkin mengecewakanmu. Tugasmu adalah berprasangka baik pada-Nya. Selebihnya biar Allah yang mengatur. Dan kau akan bahagia setelahnya.

 

*Sumber foto: pixabay.com

ayah adalah orang yang sangat berjasa

Ayah, Kita, dan Kata-kata yang Terlupakan

Terima kasih. Itu kalimat pendek tapi sering kita lupakan.

Satu hal yang kadang kita lupa tentang orangtua, yaitu perjuangan ayah yang tak kenal lelah.

Diamnya ayah bukan tanpa arti. Ayah tak perlu banyak bicara untuk menasihati anaknya, ia punya kewibawaan yang membuat kita selalu bisa menghormatinya.

Diamnya ayah bukan tanpa alasan. Jarang keluar keluh kesah dari lisannya, karena ayah tahu itu bukanlah contoh yang baik untuk anggota keluarganya.

Mungkin kita jarang mendengar nasihatnya. Tiap hari kita hanya mendengar nasihat-nasihat dari ibu. Tapi percayalah, di dalam nasihat ibu terselip pesan-pesan dari ayah yang kita tak tahu.

Saat kita tertidur pulas, ayah kadang terjaga. Kadang untuk memenuhi tanggung jawab nafkahnya pada kita, kadang untuk bercengkerama dengan ibu tentang kita.

Jarang atau bahkan tak pernah kita melihat air mata ayah menetes. Sebab, ayah ingin tak ada yang menanggung beban kecuali dirinya sendiri. Selagi bisa, ayah akan terus mengusahakannya.

Kita memang tak pernah melihat ayah menangis. Tapi, sangat mungkin ayah menangis dalam doanya. Mendoakan kita dan anggota keluarga yang lain supaya Allah menjaga mereka.

Ayah memang rendah hati.

Walau banyak tanggung jawab yang harus dituntaskan, ia selalu meminta pertolongan Allah agar bisa melakukan. Bukan tak mampu, tapi karena ia tahu bahwa dirinya bukan apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

***

Ayah, maaf…

Aku masih banyak kekurangan. Bukan hanya kurang berterima kasih, bahkan namamu pun kadang terlewat dalam doaku.

Ayah, maaf…

Aku belum bisa membahagiakanmu. Setelah banyak pengorbanan yang kau lakukan, seharusnya aku bisa membuatmu bangga. Nyatanya, tidak demikian.

Ayah, maaf untuk diriku yang kadang melawan. Andai dari dulu kutahu sebesar apa pengorbananmu, ingin sekali aku kembali ke masa lalu, hanya untuk meminta maaf dan ridamu.Ayah, terima kasih telah menjagaku hingga hari ini. Terima kasih atas jasa dan perjuanganmu yang tak kenal henti. Mulai detik ini, padamu aku berusaha untuk terus berbakti.

Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Relakan. Sebab bukan dia yang sejatinya pergi, tapi Allah yang menjauhkan.

Allah tak ingin kita salah mengartikan cinta. Yang seharusnya mendekatkan pada-Nya, malah kita jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kita.

Memang berat ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Namun, itu lebih baik daripada kita mendapatkan luka-luka yang sama jika terus bersamanya. Relakan, itu lebih baik bagi kita.

Allah tak ingin perasaan kita dipermainkan, sebab itu Dia tak mengizinkan kita pacaran. Karena yang serius tak akan mengulur waktu untuk menempuh hidup baru. Dia pasti menyegerakan jalinan kasih yang sah dan diridhai oleh-Nya.

Allah tak ingin hati kita disakiti. Walau kadang kita merasa dicintai, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Sebab, tak mungkin ada manisnya cinta tanpa ridha dari Yang Mahakuasa. Tak akan ada setia bagi cinta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Relakan …

Biarkan hati tenang tanpanya.

Dulu, malammu indah dengannya. Saling bertukar pesan. Saling berkabar. Namun, Allah punya yang lebih baik dari itu. Indahnya doa tak pernah dikalahkan oleh indahnya cinta tanpa izin-Nya.

Dulu, ketika bertemu dengannya mungkin senyummu tak bisa berbohong. Itu wajar, banyak yang mengalaminya. Namun, Allah punya yang lebih indah dari itu. Menundukkan pandangan lebih baik dibanding melampiaskan pada yang belum Allah izinkan.

Kisahmu bersamanya akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Kau tak mungkin dihantui sepi. Allah selalu ada untukmu, di siang ataupun malam hari.

Allah Mahabijaksana dengan membuatmu terpisah darinya. Bukan untuk membuat salah satu di antara kalian kecewa, tapi Dia punya cara lain yang bisa membuatmu dan dia bahagia.

Kalaupun memang dia yang Allah takdirkan untukmu, akan ada waktu dia kembali padamu. Sebagai orang yang berbeda, sebagai orang yang lebih taat pada-Nya.

Tak perlu bersedih karena kepergiannya. Sebab, kepergian orang yang belum Allah izinkan bersama jauh lebih baik daripada dia tetap bersamamu tapi selalu menumbuhkan luka yang baru.

Fitrah Cinta Menumbuhkan Iman Kepada Allah SWT

Fitrah manusia selalu mengarah pada kebaikan.

Karena cinta adalah bagian dari fitrah manusia maka cinta pasti mengarah pada kebaikan. Saat kita mencintai seseorang, bayangan tentangnya muncul setiap saat. Keinginan untuk bertemu memuncak. Semakin lama tak bertemu, semakin kuat rindu yang tumbuh.

Cinta membuat kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai. Menjalani hidup berdua tanpa menghiraukan masalah yang ada. Seolah di dunia ini tak ada orang lain, kecuali hanya kita dan orang yang kita cintai. Kita hidup bahagia dengannya dan berjanji menjalani masa depan bersama.

Baca juga:
Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

fitrah kebaikan

 

Mungkin saat ini kita sedang memendam cinta pada orang lain. Entah ia mengetahuinya atau tidak, kita ingin selalu bisa berjumpa. Bersamanya menceritakan segala isi hati. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang yang dinanti.

Tapi, tunggu dulu.

Sebelum berbicara jauh tentang cinta, bukankah sebaiknya kita mengenal siapa yang telah menanamkannya di hati kita?

Cinta ada karena Allah yang menumbuhkannya. Dan tidak mungkin Allah menanamkan sesuatu, kecuali ada maksud yang baik di balik semua itu.

Sebelum mencintai yang lain, Allah ingin kita mencintai-Nya terlebih dulu. Dia tak ingin kita menduakan-Nya, karena itulah Dia ingin kita menjadikan-Nya alasan di balik cinta kita pada yang lainnya.

Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, Dia akan membantu kita untuk mendekatinya. Jika tidak, Allah akan memisahkan dengan cara-Nya yang mungkin tak terduga.

Yang tahu makna cinta akan berusaha menjaganya. Jika belum waktunya, ia tak akan mengungkapkan. Sebab ia tahu, Allah tak ingin dirinya lupa dengan hakikat cinta itu sendiri.

Ia akan terus berdoa dan memohon pada-Nya, jika memang cinta itu baik baginya maka tolong jangan hilangkan. Tapi jika ternyata tidak, ia berharap Allah menghilangkannya tanpa meninggalkan luka.

Punya cinta tak perlu diumbar. Teruslah berusaha menjaga dan merawatnya. Hingga waktunya tiba, Allah yang akan melengkapinya.

Cinta ada agar kita mendekat pada-Nya, cinta ada agar kita mensyukuri karunia-Nya, dan cinta tumbuh agar kita tak semakin menjauh dari-Nya.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

arti cinta dalam hidup

Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Arti cinta tak selalu dimengerti oleh pemiliknya.

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai yang kita miliki. Itu sebabnya, kita mesti merawatnya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya pula, kita tak mungkin memercayakannya pada sembarang orang.

Orang yang mau memberikan cintanya pada orang yang tak ia kenal, atau ia kenal tapi sebagai orang yang sebenarnya tak pantas mendapatkannya, mungkin tak menyadari betapa berharga arti cinta yang ia miliki itu.

Begitu pula orang yang mengharapkan cinta orang lain, lalu menukar apa yang ia miliki dengan cinta tersebut. Ia tak tahu betapa barang yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan cinta yang ia idamkan itu.

Arti Cinta Tak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

Kalau kita keliru memercayakan cinta pada seseorang, kita akan menyesal pada akhirnya. Begitu pula jika kita salah sangka dan mengira cinta seseorang bisa ditukar dengan harta benda yang kita miliki.

Orang yang mau menyerahkan cintanya pada orang yang salah, dan orang yang mendapatkan cinta kekasihnya dengan menukar harta benda dengannya, sejatinya sama-sama tak mengerti arti cinta. Karena tak paham betapa bernilai cinta yang ia miliki atau yang ia dapatkan, tak mengherankan jika suatu saat cinta tersebut bisa dengan mudah mereka campakkan.

Siapa pun bisa bosan, bukan?

Arti Cinta: Harus Kita Pahami

Ini mirip orang yang mengidamkan sebuah kamera dengan berbagai fiturnya yang canggih, tapi saat berhasil memilikinya dan kemudian bosan dengannya, ia meletakkannya di tempat yang tak semestinya.

Kenapa ia bisa ceroboh seperti itu? Mungkin ia tak bisa mengoperasikan kameranya itu, sebab skill-nya masih kurang. Mungkin uang yang ia gunakan untuk membelinya ia dapat dengan meminta orangtuanya, ia tak tahu sulitnya mencari uang. Mungkin juga ia bukan orang yang pandai bersyukur dan mau menghargai apa-apa yang ada di sekitarnya.

Orang yang tak mengerti arti cinta yang ia miliki akan dengan mudah menyerahkan cintanya atau menerima cinta dari orang lain dengan cara yang tak semestinya. Ia juga, saatnya nanti, akan menyia-nyiakan cinta yang ia berikan pada orang lain atau cinta yang ia terima dari mereka.

Semoga kita bisa belajar tentang cinta dan bisa memperlakukannya dengan cara yang tepat.

 

Sumber foto: pixabay.com

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat