hati Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
634
archive,tag,tag-hati,tag-634,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
iri adalah perbuatan rendah

Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang?

Iri bisa menjangkiti siapa pun, terutama mereka yang merasa kebal darinya.

Sering kita hanya fokus menatap dan menakar karunia yang Allah berikan pada orang lain, namun tak punya waktu untuk mensyukuri apa yang kita miliki.

Ungkapan “rumput tetangga lebih hijau” kadang masih berlaku bagi kita. Benar, bagi hati yang jarang mensyukuri nikmat Allah, istilah itu adalah hal yang sangat wajar dan bahkan dapat diterima oleh akal.

Teman kita beli handphone baru, kita iri dan menginginkannya. Tetangga punya mobil baru, kita mengeluh karena Allah tidak memberikannya pada kita. Begitulah jika mata hanya untuk melihat bahagia orang lain, tak ada ruang di hati kita untuk bahagia.

Padahal, sebelum teman atau tetangga kita punya sesuatu yang baru, hidup kita nyaman-nyaman saja. Handphone kita yang tadinya tak ada masalah, tiba-tiba menjadi sesuatu yang paling usang ketika melihat handphone teman lebih bagus dari yang kita punya.

Di sisi lain, ada orang yang hidup seadanya. Bahkan untuk sekadar mendapatkan makanan di hari esok saja mereka tak yakin. Tapi, banyak dari mereka yang bersyukur walau hanya bisa makan untuk hari ini.

Anehnya, kita justru yang melupakan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Jangankan perihal  materi, Allah padahal sudah memberi kita nikmat sehat yang tiada henti. Nikmat yang paling jarang kita syukuri, nikmat yang paling sering kita lupakan.

Tak salah kalau iri disebut penyakit yang sulit diobati. Sebab, ia bukan hanya menutup mata dari karunia Allah tapi juga menutup hati untuk mensyukurinya.

Dalam hidup ini, sejatinya untuk memperoleh bahagia itu sederhana. Terlebih soal harta, kita dianjurkan untuk melihat yang kekurangan. Selain untuk menambah syukur, itu juga membuat hati kita tergerak membantunya.

Jadi, bahagia itu seutuhnya kita yang memutuskan. Tak perlu melihat banyaknya nikmat orang lain, jika yang ada pada kita malah sering dilupakan.

Bersyukurlah.

Bahagia bukan terletak pada banyaknya harta, tapi pada hati yang selalu siap untuk mensyukurinya.

Perasaan Orang Lain Pun Perlu Kita Jaga

Perasaan orang lain juga harus kita jaga, bukan hanya perasaan kita saja.

Ketika masalah terlalu sulit untuk diselesaikan, emosi dan perasaan kita menjadi tidak stabil. Akibatnya, kita mudah melampiaskannya pada orang lain.

Kadang, kita lupa bahwa yang dapat masalah dalam hidup ini bukan kita saja. Kita terlalu memikirkan ego sendiri, hingga tak ingat bahwa mungkin masalah kita tidaklah seberapa dibanding masalah orang lain.

Bermula dari Perasaan yang Tertekan

Saat kesibukan semakin hari semakin bertambah, kita mencoba menyelesaikannya satu persatu. Awalnya memang terkesan biasa saja, namun di belakangnya diri kita tidak selalu kuat untuk menanggungnya.

Akibat tak siap menanggung beban, akhirnya kita melampiaskannya pada orang yang salah. Pada teman, kerabat, atau bahkan orangtua kita.

Melampiaskan perasaan memang boleh-boleh saja, asalkan dengan cara dan di waktu yang tepat. Perlu diingat, bukan hati kita saja yang lelah. Bukan kita saja yang punya masalah. Orang lain saja bisa menahan amarahnya, kenapa kita begitu mudah melampiaskannya?

Hati orang lain pun mesti kita jaga. Luka yang ada di hati bisa kita obati. Dengan izin Allah, insya Allah akan sembuh. Namun jika orang lain terluka karena kita, masalahnya tak lagi sederhana, sebab kita harus mendapatkan maafnya.

Mungkin tugas kuliah membuat kita penat. Pekerjaan yang ada membuat kita tak bisa beristirahat. Atau mungkin yang sudah berkeluarga, keluhan pasangan menjadikan hidup tak lagi nikmat.

Mengadukan Perasaan kepada Yang Maha Menggenggam

Jika itu semua sedang kita rasakan, maka tenangkan diri kita sejenak. Pikirkan ulang bahwa inilah jalan hidup yang kita ambil. Seharusnya rintangan yang ada hanya kita yang merasakan, tak perlu membuat orang lain terluka karena masalah kita sendiri.

Ketika hati sudah terlalu lelah, luangkanlah waktu untuk bertemu dengan-Nya. Memang masalah tak langsung selesai, tapi setidaknya Allah akan menenangkan kita dari sulitnya masalah yang ada.

Jangan patah semangat. Sulitnya hidup hanya sebagian kecil dari manisnya hasil yang akan Allah berikan nanti.

Jagalah hati kita dan hati orang lain. Tak perlu melampiaskan perasaan kita secara berlebihan, sebab orang lain pun punya masalah yang harus diselesaikan.

hawa nafsu dan berbagai penyakit hati yang ditimbulkannya

Hawa Nafsu dan Penyakit Hati yang Ditimbulkannya

Puasa adalah ibadah yang sedikit berbeda dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya. Kalau orang yang sedang mengerjakan salat, zakat, haji, atau ibadah lain bisa mudah dikenali maka tidak demikian dengan mereka yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa hampir-hampir tak ada bedanya dengan orang yang tak berpuasa.

Perbedaan ini ternyata menempatkan puasa sebagai ibadah yang utama, sebab orang yang berpuasa lebih mudah untuk menjalankan ibadah tersebut sepenuh hati. Mengapa demikian? Karena mengerjakan ibadah yang tak diketahui oleh orang lain hanya membuka sedikit celah di hati kita untuk riya’, ‘ujub, atau sombong.

Dalam kaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan kebaikannya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya pada orang yang melakukannya,” (HR. Bukhari).

Lawan Hawa Nafsumu Sendiri!

Mengapa riya’, ‘ujub, dan sombong tampak sangat merugikan dan karenanya harus kita hindari?

Riya’ artinya hasrat untuk dilihat oleh orang lain dengan perasaan kagum. Ini adalah salah satu gelagat yang menunjukkan kotornya hati sekaligus rendahnya diri kita di sisi Allah SWT. Meski manusiawi dan biasa tebersit di hati, ternyata sikap hati ini sangat merugikan. Amal yang kita kerjakan sehari-semalam bisa rusak karenanya.

Mengapa bisa demikian? Karena riya’ akan mengacaukan niat kita yang sebelumnya hanya karena Allah Ta’ala menjadi tercampur dengan tujuan-tujuan yang lain, yang di antaranya adalah hasrat untuk dikagumi oleh orang lain tadi. Sehingga secara tak langsung, diam-diam, dan tanpa kita sadari, kita menyekutukan (asy syirk) Allah dalam ibadah kita.

‘Ujub adalah istilah untuk menyebut rasa bangga terhadap diri sendiri. Sikap ini lebih lembut dan tak terasa dibandingkan riya’. Orang yang melakukan amal baik boleh jadi niatnya tak goyah, yakni karena Allah semata, bukan mencari perhatian orang lain. Tapi boleh jadi ia mengeram rasa bangga di dalam hatinya terhadap dirinya sendiri.

Karena rajin ke masjid, ia merasa sudah bertakwa pada Allah. Karena bacaan Al-Quran-nya lancar dan merdu, ia merasa lebih baik ketimbang teman-temannya. Tentu saja pergi ke masjid dan lancar membaca Al-Quran adalah sesuatu yang positif, hanya saja menyertai amal baik itu dengan ‘ujub akan membuat pahala kita menguap sia-sia.

Yang terakhir adalah sombong. Berbeda dengan riya’ dan ‘ujub yang biasanya hanya berupa gelagat hati, sombong seringkali mewujud dalam kata-kata dan perbuatan. Sombong adalah sikap yang rendah dan sangat dibenci dalam Islam, sebab pelakunya merasa dirinya yang paling tahu, paling suci, dan singkat kata paling baik.

Padahal, Allah SWT tak menjadikan seseorang mengerti, bertakwa, dan berbagai karakter positif lainnya kecuali Dia juga menciptakan manusia-manusia lain yang lebih baik darinya. “Wa fawqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim, dan di atas setiap orang yang luas ilmunya ada orang lain yang lebih luas lagi ilmunya,” firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 76.

Hawa Nafsu: Biang Keladi Munculnya Penyakit Hati

Ketiga ‘penyakit hati’ itu, yang sayangnya tak banyak disadari oleh manusia, adalah akar dari segala kerusakan. Keutamaan orang alim menjadi sirna gara-gara ketiganya. Pahala dan keberkahan seorang abid musnah tanpa sisa karena ketiganya. Pertanyaan kita, siapa yang paling bertanggung jawab bagi munculnya tiga ‘penyakit’ itu?

Hawa nafsu.

Hawa nafsu, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, adalah musuh terbesar kita. Lebih tepatnya, ‘musuh dalam selimut’. Boleh saja kita mengira musuh kita adalah orang-orang kafir dan mereka yang zalim, tapi kekuatan terbesar kita seharusnya lebih banyak dicurahkan untuk melawan yang namanya hawa nafsu ini.

“Kita sudah selesai dengan perang kecil ini,” ujar Rasulullah setelah memenangkan Perang Badar, “dan akan segera menyongsong perang yang lebih besar.” Para sahabat terkejut, bagaimana bisa perang sehebat itu disebut perang kecil? Bagaimana pula rupa perang besar yang dimaksud oleh Rasulullah? Apa mungkin umat Islam memenangkannya?

“Perang apa maksudmu, ya Rasul?” tanya salah seorang sahabat.
“Perang terhadap hawa nafsu,” jawab beliau, singkat.

Hawa nafsu inilah yang kerap menipu kita, dengan menanamkan riya’, ‘ujub, dan sombong di dalam hati kita. Ia membuat kesan seolah amal baik yang kita kerjakan adalah wujud ketaatan pada perintah Allah dan Rasulullah, padahal sebenarnya itu tak lebih ekspresi dari hasrat tersamar kita, yakni keinginan untuk dikagumi dan dipuja-puji oleh sesama.

“Inna akhwafa maa akhaafu ‘alaa ummatii ar riyaa’u wasy syahwah al khafiyyah, sesungguhnya hal yang paling kutakutkan dilakukan oleh umatku adalah riya’ dan kepentingan yang tersamar.” Begitu kata Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majjah.

Alhasil, hidup kita sejatinya adalah pergumulan yang tak pernah selesai, melawan hawa nafsu, atau ego kita sendiri. Kapan pun kita merasa aman darinya, saat itulah sebenarnya kita sedang berada dalam cengkeramannya. Nah, di bulan Ramadan ini, mari kita mengangkat senjata dan maju ke medan perang besar sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Semoga di bulan Syawal nanti, di hari kita mengumandangkan takbir Idul Fitri, kita benar-benar menjadi pribadi yang suci. Sebab seperti sering kita dengar, Idul Fitri bukan untuk orang-orang yang hanya bisa membanggakan pakaian mewah tapi untuk mereka yang pribadinya semakin baik dan ketaatannya bertambah.

 

*Gambar diperoleh dari https://justbetweenus.org

hati kita perlu dijaga

Hati Kita Bisa Ragu Tiba-tiba, Karenanya Jagalah Senantiasa

Hati kita memang sifatnya berubah-ubah.

Mudah terbolak-balik sesuai dengan situasi yang kita hadapi. Karena itu, keyakinan yang letaknya juga di dalam hati kita tentu ikut pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup. Salah satunya saat menentukan jodoh dan melakukan persiapan menjelang pernikahan.

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen dari pelakunya untuk istiqamah menjalaninya. Hanya saja, jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen diri sendiri, maka berbeda dengan pernikahan. Pernikahan adalah satu-satunya ibadah yang membutuhkan komitmen dari diri kita dan pasangan.

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa semakin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, bisa juga muncul dari diri kita sendiri. Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya.

Ragu karena perbedaan cara berpikir, ragu karena latar belakang keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Hati Kita Harus Selalu Dijaga

Jika tak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada hari-hari kita melakukan persiapan hari bahagia. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, kita bisa membaca beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia ini.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan.

  1. Memahami bahwa tak ada manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan dimaksudkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang tak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan kita tak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang penggenggam hati kita.
  5. Saat keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.
Hati Kita Rawan Terpengaruh

Ada saudara jauh yang mengendarai kendaraan baru, hati kita bergumam, “Kapan memiliki kendaraan seperti itu?” Ada tetangga membeli furnitur mewah, hati kita bertanya, “Kenapa aku bisanya hanya mendapatkan furnitur seperti ini?” Dan tatkala seorang teman menggandeng pasangannya yang lebih tampan atau cantik di sebuah pesta, hati kita kembali berbisik, “Calon kita kok jauh banget, ya?”

Dear Pembaca, kiat-kiat di atas adalah satu dari sekian banyak kiat tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari bersama pasangan kita. Buku Jungkir Balik Nikah Muda ini bukan hanya menjelaskan apa saja yang perlu kita persiapkan dalam menyambut hari bahagia tapi juga realita kehidupan rumah tangga pasangan muda.

Membaca buku ini membuat kita tak hanya membayangkan indahnya menikah muda tapi juga mempersiapkan mental dalam mengelola permasalahan yang akan kita hadapi.

 

Sumber foto: studiosomething.com

menjaga hati

Menjaga Hati Saat Menyambut Datangnya Hari Bahagia

Menjaga hati tak selalu mudah, sebab tabiatnya memang mudah berubah-ubah. Ia membolak-balik sesuai dengan situasi dan mood yang sedang kita alami.

Keyakinan yang letaknya juga di hati tentulah pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup kita. Salah satunya saat menentukan jodoh dan bersiap menjelang pernikahan.

Baca juga:
Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen untuk istiqamah menjalaninya. Jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen dengan diri sendiri maka berbeda dengan pernikahan.

Pernikahan juga merupakan ibadah yang membutuhkan komitmen erat dari kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga bersama.

Menjaga Hati Tatkala Keraguan Itu Muncul

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa makin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, atau bisa juga munculnya dari diri kita sendiri.

Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya. Ragu karena perbedaan kesukaan, ragu karena keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Jika tidak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada persiapan hari bahagia kita. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, disebutkan beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan:

  1. Memahami bahwa taka da manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan diarahkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang nggak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan tidak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya, tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang Penggenggam hati kita.
  5. Saat fase keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.

***

Topik di atas adalah satu dari sekian banyak topik tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari awal bersama pasangan suami/istri kita. Buku ini bukan hanya menjelaskan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong hari bahagia, tapi juga realita menikah muda.

Membaca buku ini membuat kita tidak hanya berpikir pada indah-indahnya menikah muda, tapi sikap dan mental yang harus kita siapkan untuk mengelola permasalahan yang akan dihadapi.

penyakit hati sering tak disadari

Penyakit Hati dan 5 Amalan untuk Membuatnya Suci Kembali

Penyakit hati seringkali tak terdeteksi. Penderitanya kadang sadar ketika dampak buruknya sudah besar dan sulit diobati.

Obat hati ada lima perkaranya. Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya. Yang kedua, shalat malam dirikanlah. Yang ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.” –Opick, Obat Hati

Kita tentu tak asing ‘kan dengan lirik lagu yang dipopulerkan oleh Opick ini? Sayangnya, tidak semua dari kita sudah terbiasa mengamalkan lima perkara tersebut secara utuh. Padahal, lima perkara ini merupakan jalan bagi kita untuk melepaskan diri dari penyakit hati, lho.

Nah, ternyata hal ini juga yang menarik perhatian Ustadz Ali Akbar bin Aqil. Bersama Ustadz M. Abdullah Charis, pria yang biasa dipanggil Ali ini menulis buku 5 Amalan Penyuci Hati yang berisi perwujudan dari Tombo Ati yang sangat populer itu.

“Buku ini hadir untuk memberitahu kepada khalayak, ini lho penjabaran dari Tombo Ati itu, yang terdiri dari baca Al-Qur`an, shalat malam, berkumpul dengan orang saleh, puasa sunah, dan zikir,” kata Ustadz Ali.

Tidak hanya itu, menurut Ustadz Ali, alasan lain yang melatarbelakangi hadirnya buku ini adalah untuk bercermin diri, melihat perilaku kita selama ini. Dari situ akan tampak, di sisi mana harus kita perbaiki, dan di sisi mana harus kita tinggalkan.

 

Penyakit Hati: Apa Saja Macamnya?

Jangankan tubuh manusia, hati pun bisa terkena penyakit. Buruk sangka, cinta dunia, dendam, dengki, ghibah, riya’, sombong, marah, iri, dan sebagainya merupakan beberapa contoh penyakit hati yang—tanpa sadar—sering kita alami.

Banyak faktor yang menyebabkannya. Menurut Ustadz Ali, salah satu faktor penyebab kotornya hati adalah keengganan untuk berhenti sejenak, instropeksi, melakukan evaluasi, merenungi keadaan diri.

“Hal inilah yang dapat menyebabkan kebinasaan di dunia dan akhirat. Karenanya, kita harus berusaha mengobati hati kita dan berusaha memperoleh keselamatannya. Sebab, tiada yang selamat kecuali orang yang datang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih,” katanya pria kelahiran Malang, 10 Agustus 1984 ini.

 

Bagaimana Menyembuhkan Penyakit Hati?

Anda tentu percaya kan, bahwa setiap permasalahan akan ada penyelesaiannya? Nah, cara yang paling ampuh untuk mengatasi penyakit hati ini adalah dengan mengamalkan lima perkara yang dipopulerkan oleh Opick tadi.

Selain itu, menurut Ustadz Ali, jangan ragu untuk bertanya kepada para ulama yang mengenal Allah SWT dan agamaNya, terdiri dari kalangan ahli yaqin dan takut kepada-Nya juga hidup zuhud di dunia.

“Jika kita tidak menemukan salah seorang dari mereka, hendaknya kita membaca buku-buku yang mereka tulis mengenai ilmu tauhid dan keyakinan. Buku 5 Amalan Penyuci Hati bisa jadi salah satunya, hehehe,” begitu ungkap pria lulusan UIN Malang ini.

Lantas, apa harapan Ustadz Ali dengan hadirnya buku ini?

“Pertama, mengharap ridha Allah SWT. Kedua, Allah SWT berkenan menjadikan buku 5 Amalan Penyuci Hati bermanfaat bagi diri penulis dan umat Islam. Ketiga, dapat menjadi sarana dalam melatih diri untuk istikamah menyucikan hati dari hari ke pekan, pekan ke bulan, bulan ke tahun, selama-lamanya,” katanya menutup bincang-bincang ini.

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat