hijrah Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
644
archive,tag,tag-hijrah,tag-644,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Muhasabah: Benarkah Cinta Adalah Jawabannya?

Cinta punya makna yang berbeda-beda menurut orang yang merasakannya. Tapi, setelah rasa itu lama bersemayam, kita akan sepakat tentang satu hal: Cinta membuat sepasang kekasih saling memahami.

***

Masalah bukan barang asing bagi orang yang sedang menjalin hubungan. Seorang teman pernah bercerita bahwa dirinya baru berselisih dengan sang kekasih, lalu curhat pada kita dan mengatakan bahwa kekasihnya itu egois.

Dalam kehidupan rumah tangga tak jauh berbeda, bahkan skalanya lebih serius, yakni sampai berujung perceraian. Kita pun tercenung. Menikah ternyata tak menghalangi masalah untuk datang.

Dari semua itu, kita perlu mencermati satu hal. Bahwa hubungan antara dua orang tak bisa hanya didasarkan pada cinta. Perlu kedewasaan dari masing-masing pihak untuk saling mengerti dan mau memahami.

Kita bisa belajar dari orang-orang hebat tentang persoalan itu. Memikirkan dalam-dalam kalam bijak mereka dan, dengan niat untuk terus memperbaiki diri, mengamalkannya dalam hidup sehari-hari.

Nah, Pembaca yang baik, berikut kami tuliskan kalimat-kalimat para tokoh Islam tentang cinta dan bagaimana cara kita menyikapinya. Semoga bermanfaat!

***

 

“Never explain yourself to anyone, because the one who likes you would not need it, and the one dislikes you wouldn’t believe it.” – Ali bin Abi Thalib

Jangan pernah menjelaskan dirimu kepada siapa pun, karena orang yang menyukaimu tidak akan membutuhkannya, dan orang yang tak menyukaimu tidak akan mempercayainya.

***

“The minute I heard my first love story, I started looking for you, not knowing how blind that was. Lovers don’t finally meet somewhere. They’re in each other all along.” –Jalaluddin Rumi

Begitu aku mendengar kisah cinta pertamaku, aku mulai mencarimu, tidak tahu seberapa buta itu. Orang yang punya cinta akhirnya tidak bertemu di suatu tempat. Mereka satu sama lain selama ini.

***

“Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation.” –Jalaluddin Rumi

Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa tak ada yang namanya perpisahan.

***

“The man dreams of a perfect woman and the woman dreams of a perfect man and they don’t know that Allah created them to perfect one another.” –Ahmad Al-Shugairi

Para lelaki memimpikan perempuan yang sempurna. Perempuan pun memimpikan lelaki yang sempurna. Mereka tak tahu bahwa Allah menciptakan mereka untuk saling menyempurnakan.

***

“Behind every great man is not a woman. She is beside him, she is with him, not behind him.” –Tariq Ramadan

Di belakang setiap lelaki hebat bukanlah seorang perempuan. Dia ada di sampingnya, bersamanya, bukan di belakangnya.

***

“One of the most sincere forms of love and care is when someone prays for you without you ever knowing. Be that beautiful someone.” –Mufti Ismail Menk

Salah satu bentuk cinta dan perhatian yang paling tulus adalah ketika seseorang berdoa untukmu tanpa kau sadari. Jadilah seseorang yang indah itu.

***

“When you feel lonely, remember that Allah is the companion of those who remember Him.” –Dr. Bilal Phillips

Ketika kamu merasa kesepian, ingatlah bahwa Allah adalah sahabat mereka yang mengingat-Nya.

***

“When God loves you, He places the love of you in the hearts of the people whose love is worth having.” –Omar Suleiman

Ketika Tuhan mencintaimu, Dia menaruh cinta padamu di hati orang-orang yang cintanya layak dimiliki.

***

“Love the people you think you’d want to be with in the Hereafter.” –Omar  Suleiman

Cintai orang-orang yang kamu pikir ingin bersamamu di Akhirat.

***

“Oh my heart, there is another way to love. Do not love the gift for what the gift is. Love the gift for who it came from.” –Yasmin Mogahed

Hatiku, ada cara lain untuk mencintai. Jangan mencintai pemberian berdasarkan untuk apa pemberian tersebut. Tapi cintalah berdasarkan dari siapa pemberian itu berasal.

***

Laiknya sebuah masalah yang pasti datang, tiap diri kita pasti akan merasakan cinta. Tak ada yang menjamin kita bisa merawat hubungan yang kita miliki. Sebab boleh jadi hidup mengarahkan kita pada ujian yang luar biasa.

Namun, justru di situlah cinta tumbuh dan membantu kita menangkal hal itu. Kita belajar untuk mendewasakan diri sebelum bertanggung jawab menjaga orang lain.

***

Persoalan dalam hidup bisa datang kapan saja. Kita sering tidak bisa mengatur apalagi menghindarinya. Dan, satu di antara persoalan-persoalan itu adalah soal … kehilangan orang terkasih.

Klise, mungkin. Tapi masalah tetap masalah, dan karena itu tetap harus kita selesaikan.

Siapa pun ingin kekasihnya tetap berada di sisinya. Tapi, kenyataan sering tak bisa diajak kerjasama. Sebesar apa pun cinta kita, seluas apa pun perhatian kita, ketika sesuatu itu harus terlepas, tak ada yang bisa kita lakukan.

Kita tentu tak sedang baik-baik saja. Tapi bagaimanapun, kita tetap harus melanjutkan hidup. Seperti dikatakan penulis buku I’m Not Fine ini.

Buku yang baru kami rilis pada bulan Maret ini sudah tersedia di toko buku; menunggu dihampiri dan dibaca. Direnungkan dan dijadikan teman setia, saat seseorang beranjak dari sisimu.

Selamat membaca!

*Sumber foto: pixabay.com

7 Peristiwa Penting & Luar Biasa di Bulan Rajab

Rajab merupakan bulan istimewa. Di dalamnya terdapat amalan-amalan yang khusus dianjurkan pada bulan ini saja. Juga peristiwa bersejarah yang mengunggah iman dan kekaguman kita.

***

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan, sama dengan kalender Masehi. Di seluruh bulan ini, atau selama satu tahun penuh, kita diajak untuk tidak bosan beramal baik.

Meski begitu, setiap bulan mempunyai keistimewaan masing-masing, terutama dalam kaitan dengan peristiwa bersejarah di masa lalu. Dan, Rajab termasuk bulan ketika peristiwa penting dalam perjalanan sejarah umat Islam banyak terjadi.

Pembaca yang dirahmati Allah, berikut kami rangkumkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi pada umat Islam di bulan Rajab. Semoga tulisan singkat ini bisa membantu kita untuk semakin mengenal agama kita dan membuat kita semakin termotivasi beramal baik.

1. Isra Mi’raj

Isra Mi’raj terjadi pada bulan Rajab tahun 10 kenabian (620 M). Peristiwa Isra Mi’raj sangat penting bagi umat Islam dikarenakan saat itu, untuk pertama kalinya, Rasul mendapat perintah shalat lima waktu.

Karena peristiwa ini, setiap tahun umat Islam memperingati Isra Mi’raj. Selain sebagai bentuk syiar, memperingati peristiwa tersebut juga merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah.

2. Disyariatkannya Shalat 5 Waktu

Seiring terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, Allah memerintahkan Rasulullah, untuk pertama kalinya, mengerjakan shalat 5 waktu. Awalnya jumlah shalat yang Allah wajibkan lebih dari itu, tapi oleh para nabi yang lain, Rasulullah dianjurkan untuk meminta keringanan kepada Allah.

Allah kemudian mengabulkan permintaan Rasulullah dan mewajibkan beliau hanya 5 shalat saja, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya.

3. Kemenangan Umat Islam dalam Perang Tabuk

Dalam Perang Tabuk, kaum muslimin menempuh perjalanan yang jauh dari Madinah menuju Syam. Perang ini berlangsung singkat, lantaran Bangsa Romawi gentar dengan pasukan Islam yang berjumlah 30.000 orang.

Dengan izin Allah, pada bulan Rajab Rasulullah saw memenangkan Perang Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H.

4. Pembebasan Baitul Maqdis

Pada 27 Rajab 583 H, Shalahuddin al-Ayyubi bersama pasukan muslimin mengepung Yerussalem untuk membebaskan Baitul Maqdis yang sudah 88 tahun dikuasai oleh tentara salib.

Peristiwa ini adalah tonggak bersejarah bagi umat Islam, sebab akhirnya mereka bisa menjalankan Islam tanpa rasa khawatir.

5. Perubahan Kiblat

Umat Yahudi pernah mengejek umat Islam dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kiblat sendiri. Pasalnya, ketika shalat umat Islam menghadap ke arah Masjidil Aqsha, kiblat umat Yahudi.

Tatkala Rasulullah saw hijrah ke Madinah, beliau diperintah oleh Allah untuk mengubah kiblat atau arah shalat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Rajab, saat Rasulullah saw tengah mengerjakan shalat jamaah.

Masjid tempat Rasulullah dan umat Islam shalat itu kemudian dikenal dengan Masjid Dzul Qiblatain, atau Masjid dengan Dua Kiblat.

6. Hijrah ke Ethiopia

Pada bulan Rajab tahun kelima Hijriyah, Rasulullah memerintahkan pengikutnya untuk berhijrah ke Habasyah, atau Ethiopia saat ini.

Kala itu, Habasyah diperintah oleh seorang raja yang bijaksana bernama Najasyi. Hijrah tersebut dilakukan untuk menyelamatkan umat Islam dari gangguan kaum kafir Mekah yang sangat memusuhi mereka.

Seperti kita tahu, pada masa-masa awal dakwah Rasulullah di Mekah, banyak orang kafir yang menolak risalah Islam. Tak hanya menolak, mereka juga memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang beriman kepada beliau.

7. Pembebasan Damaskus

Pada bulan Rajab tahun 14 H, tentara muslim dibawah komando Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid bin Walid menaklukan kota Damaskus dan menguasainya. Sebelumnya, kota tua nan bersejarah itu dikuasai oleh balatentara Romawi.

Tepat satu tahun setelah penaklukan itu, Khalid bin al-Walid kembali memimpin pasukan muslim dalam Perang Yarmuk, yang terjadi pada Senin, bulan Rajab juga, tahun 15 H.

***

Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum). Larangan untuk melakukan maksiat lebih ditekankan pada bulan ini dibanding pada bulan-bulan yang lain, sebab kemuliaan bulan tersebut.

Rasulullah pun begitu memuliakan bulan Rajab. Setiap memasuki bulan ini beliau berdoa kepada Allah, “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan panjangkanlah usia kami hingga bulan Ramadan.”

Keteladanan Rasulullah menjadi topik pembicaraan yang melintasi masa. Puluhan –kalau bukan ratusan– buku ditulis tentangnya.

Buku ini adalah salah satu karya terbaru Arif Rahman Lubis yang juga merekam keteladanan Rasulullah itu. Di dalamnya kita akan menemukan mutiara tak ternilai tentang keindahan akhlaknya –yang dikagumi bukan hanya oleh pengikutnya yang setia tapi juga musuh-musuhnya yang kejam, dan bagaimana kita, sebagai generasi muda, mencontoh tindak-langkah Sang Utusan.

Buku Teladan Rasul sudah dirilis Maret ini. Pembaca sudah bisa mendapatkannya di toko buku, online dan offline, di seluruh Indonesia. Komunikasi seputar buku ini juga bisa dilakukan dengan penulisnya melalui Instagram @arifrahman.lubis atau Twitter @arifrahmanlubis.

*Baca selengkapnya https://muslim.or.id/853-amalan-di-bulan-rajab.html

*Sumber foto: freepik.com

fitrah kebaikan

Mengapa Perlu Berdamai dengan Diri Sendiri?

Tak ada orang yang ingin hatinya patah. Tapi, tak ada yang bisa memastikan hal tersebut tak menghampiri hidupnya. Sebagai manusia yang bisa terpuruk oleh kesedihan, kita berusaha untuk menghindar darinya.

Dalam hidup ini, kita tak bisa lepas dari cinta. Pada saat yang sama, kita juga tak ingin ditinggal oleh orang yang kita cintai.

Kenyataan kadang berpihak pada kita, tapi kadang tidak. Meski kita ingin terus bersama orang yang kita cintai, kita tak bisa memaksanya menetap di sisi kita. Sebab, tiap orang berhak memilih tinggal bersama siapa.

Saat kita mulai mencintai seseorang, kita cenderung mengorbankan apa yang kita miliki. Tak terkecuali waktu dan tenaga.

Entah berapa banyak surat ditulis, novel diterbitkan, dan film-film digarap untuk menceritakan pengorbanan manusia atas nama cinta. Ini termasuk cerita-cerita dramatis dan mengaduk-aduk perasaan, seperti pengorbanan yang ternyata dikhianati.

Bayangkan tokoh utama dalam cerita-cerita itu adalah kita. Kita pasti merasakan sedih yang mendalam. Mungkin air mata akan menjadi teman paling setia yang menemani hari-hari kita.

Kita akan terbayang semua kenangan tentang orang yang kita cintai itu. Tempat-tempat yang pernah kita kunjungi atau waktu-waktu yang pernah kita lewati.

Apa pun yang berkaitan dengan orang tersebut akan menjelma bayang-bayang di benak kita.

Pada saat seperti itu, kita akan mencari orang terdekat untuk berbagi. Sayangnya, tak semua orang punya waktu untuk mendengarkan kita.

Kita mengerti. Orang lain ‘kan punya urusan yang juga harus diselesaikan. Dan, bukan mustahil mereka pun merasakan hal yang sama dengan kita.

Namun setelah semuanya berakhir, setelah tak seorang pun mau mendengar isi hati kita, kita akan ingat satu hal: Allah. Tuhan yang selalu bersama kita, walau kadang kita melupakan-Nya.

Akhirnya, kita sadar pada apa yang kita lakukan. Kekecewaan lahir bukan karena ulah orang lain, tapi karena kita yang terlalu berharap pada mereka.

Pada malam-malam yang panjang kita merenung. Menceritakan apa yang kita alami dalam doa.

Perlahan, luka yang menggores hati kita Allah sembuhkan. Kekecewaan yang kita terima memudar. Dan patah hati yang kita alami bukan lagi masalah hidup dan mati –itu hanya soal ego kita yang tak terima dengan fakta terbesar dalam hidup, yakni siapa pun yang tercipta bernyawa suatu saat akan pergi.

Kita telah menemukan jawaban dari apa yang kita cari. Dan seusai lelah dengan perasaan sendiri, kita akan sadar bahwa saat cinta membuat kita lupa pada-Nya maka tinggal menunggu hari kekecewaan akan menyapa kita.

***

Seperti benda lain yang bisa rusak, hati yang patah juga tak mudah dipulihkan. Tapi ajaibnya, meski berkali-kali mengalami kejadian yang membuatnya terluka, hati bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagian orang berkata itu sebab kerelaan pemiliknya, sebagian yang lain mengatakan itu hanya soal waktu.

Patah mungkin bisa dihindari. Tapi tak seorang pun bisa menjamin hatinya selalu aman darinya. Itu sebabnya, tak perlu menunggu hati patah untuk tahu cara berdamai dengannya. Persis seperti yang dikatakan penulis buku ini, Desiani Yudha, berdamai adalah satu-satunya cara bagi hati yang patah untuk melanjutkan hidup.

Buku Berdamai dengan Patah Hati terbit pada Desember 2018. Saat ini Pembaca sudah bisa mendapatkannya di Gramedia, Gunung Agung, dan toko offline atau online yang lain. Secara berkala, penulis buku ini menyapa pembacanya di akun Instagram pribadinya, @desianiyudha.

*Sumber foto: freepik.com

perempuan di dalam al-quran

Bingkisan Kasih Rasulullah untuk Para Pencintanya

Pertemuan bisa mengubah sudut pandang kita. Dari pertemuan pula bisa tumbuh rasa suka. Tak jarang cinta bersemi karena sebuah pertemuan, meski hanya sesaat.

***

 

Sering kita mendengar orang-orang yang memutuskan hidup bersama pasangannya karena cinta. Mereka bilang, cinta adalah segalanya. Cinta dapat membangkitkan semangat hidup, juga mempermudah mereka meraih mimpi.

Tapi, seperti banyak hal lain dalam hidup, rasa yang mereka agung-agungkan itu lambat laun memudar.

Pelan tapi pasti, kata-kata manis yang mengiringi keseharian mereka memudar. Bahkan lebih tak terduga lagi, ada saat-saat mereka lupa pernah saling mencintai.

Pengorbanan yang pernah mereka lakukan tinggal kenangan. Sebab sebagian orang berpaling pada sosok yang baru. Sebagian yang lain menghabiskan waktunya untuk kebahagiaan dirinya sendiri.

 

Mengapa Cinta Bisa Tumbuh?

 

Pernahkah kita bertanya, apa alasan cinta tumbuh dan bersemi?

Sementara orang berkata kalau paras adalah jawabannya. Pandangan membuka hati untuk menumbuhkan rasa. Nyatanya, kecantikan atau ketampanan tidak bertahan selamanya. Artinya, apakah cinta itu harus layu dan mengering tatkala kecantikan atau ketampanan memudar?

Mereka yang tak sependapat berkata bahwa itu disebabkan oleh sifat baik. Benarkah? Seperti banyak hal lain yang sifatnya sementara, bukankah sifat juga bisa berubah? Karena trauma, misalnya, atau lingkungan yang baru. Lagipula, semakin kita mengenal seseorang, kita akan tahu baik dan buruk di balik perangainya.

Sering kita melihat cinta tak dapat disatukan, bukan karena sifat pasangan yang buruk tapi kebutuhan ekonomi yang tak memadai. Apa artinya harta memang jawaban teka-teki ini? Lagi dan lagi, kekayaan pun dapat habis, bukan? Lagipula, kalau cinta hanya muncul karena harta, bagaimana nasib orang yang papa?

Cinta lebih dari itu semua. Ada sesuatu yang lebih masuk akal sebagai alasan berseminya cinta.

 

Cinta Meniscayakan Pertemuan?

 

Teman-teman, pernah disukai atau dicintai seseorang? Bagaimana rasanya?

Seperti orang lain pada umumnya, ketika dicintai seseorang, kita akan mencari tahu segala hal tentang orang tersebut. Kita mungkin juga akan bertanya-tanya alasan orang tersebut mencintai kita.

Bagi kita, tak ada cinta tanpa ada pertemuan.

Meski begitu, cinta yang tanpa pertemuan itu, yang seakan “tak beralasan” itu, pernah ada. Bersemi di hati seseorang yang bukan hanya jauh tempatnya tapi juga jauh masa hidupnya dengan kita.

Ia sangat mencintai kita. Dan seperti lazimnya seorang pencinta, sepanjang hidupnya ia selalu memikirkan kita.

Baginya, cinta tak mengenal batas: Tak ada tempat yang cukup jauh dan masa yang terlalu lama untuk memisahkan. Baginya, mengasihi tak harus bertemu. Itu sebabnya, di pengujung usianya pun ia memohonkan ampunan untuk kita.

Ia adalah Muhammad. Seseorang yang terhimpun di dalam dirinya segala kebaikan. Sosok yang tak pantas diragukan lagi kemuliaan akhlaknya. Sosok yang cintanya pada kita sangat sempurna.

Kasih sayang yang tumbuh di hatinya begitu mendalam, sehingga tak ada satu pun yang bisa menghalangi cintanya. Termasuk jarak dan waktu.

Ia adalah sebaik-baik teladan. Bukan akhlaknya saja yang mulia, cintanya pun menjadi pelajaran bagi kita. Dalam mengasihi seseorang melebihi dirinya sendiri.

Semua pengorbanan telah ia lakukan. Dengan itu ia membuktikan pada kita, siapa sosok yang sempurna dalam menebarkan cinta.

 

***

 

Keteladanan Rasulullah menjadi topik pembicaraan yang melintasi masa. Puluhan –kalau bukan ratusan– buku ditulis tentangnya. Namanya abadi dalam benak pengikutnya, yang dibisikkan, didendangkan, dan disanjung-puji melalui kata-kata yang indah.

Buku ini adalah salah satu karya terbaru Arif Rahman Lubis yang juga merekam keteladanan Rasulullah itu. Di dalamnya kita akan menemukan mutiara tak ternilai tentang keindahan akhlaknya –yang dikagumi bukan hanya oleh pengikutnya yang setia tapi juga musuh-musuhnya yang kejam, dan bagaimana kita, sebagai generasi muda, mencontoh tindak-langkah Sang Utusan.

Buku Teladan Rasul sudah dirilis Maret ini. Pembaca sudah bisa mendapatkannya di toko buku, online dan offline, di seluruh Indonesia. Komunikasi seputar buku ini juga bisa dilakukan dengan penulisnya melalui Instagram @arifrahman.lubis atau Twitter @arifrahmanlubis.

 

*Sumber foto: pixabay.com

Kepastian yang Diharapkan, Janji-janji yang Diberikan

Perempuan teduh adalah anugerah bagi semesta, tapi perihal cinta mereka enggan bercanda.

Perempuan mana pun sulit melupakan orang yang ia cintai. Dan meski cintanya tak berbalas, ia akan memendam rasa yang dimilikinya itu. Pada beberapa perempuan, memendam cinta bisa berlangsung hingga waktu yang tak sebentar. Dan entah bagaimana, ia sanggup melakukannya.

Mungkin karena itu juga, hati perempuan mudah luluh. Jika diberi perhatian lebih, perasaannya mudah goyah. Sebagian perempuan mungkin akan menyangkal. Tapi, bukan rahasia jika perempuan mudah memikirkan orang yang memberinya perhatian.

Segalanya mungkin bermula dari titik ini. Termasuk di antaranya cinta yang tumbuh di hatinya.

          Baca juga: Perempuan Teduh: Sebab Hati Mereka Adalah Rumah

Setiap perempuan ingin dijaga. Tak heran, ia butuh sandaran dalam hidupnya. Tapi, tepat pada bagian inilah perempuan dituntut untuk peka. Sebab, melabuhkan cinta pada orang yang salah akan bisa membuatnya kecewa.

Terkadang, cinta memang menjadi ujian. Cinta dapat membawa pada hal-hal yang tak Allah inginkan. Itulah mengapa perempuan mesti pandai menjaga diri.

Bagaimanapun keindahannya bukan untuk sembarang lelaki.

Di antara banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang perempuan, kepastian adalah salah satu hal terpenting baginya. Ya, perempuan tak ingin menunggu. Ia butuh kepastian. Hanya, kadang perempuan merasa butuh kepastian di waktu yang kurang tepat. Sebab, ketika kepastian itu diberikan saat mereka belum siap merawat cinta, yang terjadi adalah sebuah musibah.

Kekecewaan. Berapa sering kita mendengarnya?

Perempuan, sebagaimana halnya laki-laki, harus berpikir matang. Bagaimana kondisi hari ini dan yang akan datang. Ia, sekali lagi seperti halnya laki-laki, mesti berpikir dewasa.

Bahwa di kepalanya terdapat mahkota tak terlihat yang melambangkan kehormatannya.

Allah menitipkan padanya hal-hal yang berharga. Termasuk cinta. Kita tahu, sesuatu yang Allah titipkan mesti dijaga dengan baik. Bila ada yang lepas dari perempuan, akan ada kemuliaan darinya yang memudar.

Sumber kecewa adalah berharap pada manusia. Setiap perempuan harus mengerti bahwa ia kuat berjalan sendiri. Ia bisa. Memang, ada masa ia harus kuat menghadapi cobaan. Tanpa lelaki di sampingnya. Tanpa pasangan dalam hidupnya.

          Baca juga: Perempuan Teduh: Tentang Kehormatan Wanita

Perempuan memang butuh lelaki untuk menjaganya. Tapi, itu butuh tahapan. Harus ada hal yang dijalaninya sebelum memasuki jenjang baru itu. Jika tak ada persiapan, kekecewaanlah yang ia dapatkan.

Tak ada yang mengetahui isi hati perempuan kecuali dirinya sendiri. Tentang rasa yang ia pendam atau cinta yang ia rahasia. Hati perempuan tercipta dari kelembutan. Mudah terbuka, mudah terluka.

Selama tak ada yang pasti, perempuan tak salah jika terus menutup hatinya. Ada saatnya lebih baik dijauhi dibanding merasakan patah hati. Bukankah demikian?

Patah hati bukan hal yang mudah disembuhkan. Kita semua sepakat. Perlu waktu dan tenaga untuk memulihkannya.

Perempuan bisa menghindari luka, tapi ia tak mudah melupakan siapa yang telah menorehkannya.

***

Perempuan adalah makhluk kepastian. Segala yang masih kabur, tak tentu, serbamungkin, akan dihindarinya.

Tak sulit memahaminya melakukan hal itu. Di balik ketidakpastian, bagaimanapun, terkandung banyak hal yang bisa membuatnya jatuh kecewa. Dan perempuan mana pun, mungkin, kenyang dengan pengalaman ini. Pengalaman-pengalaman itulah yang semakin menguatkan hati mereka untuk hanya memilih “yang pasti-pasti”.

Buku Perempuan Teduh karya @haruntsaqif menjelaskan tentang perempuan impian di mata lelaki dan masalah-masalah yang umumnya ia temui, termasuk dan terutama sekali: cinta. Penulis menggunakan banyak metafor untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya terkait perempuan. Pembaca akan menemukan betapa kemudahan memahami uraian di dalam buku ini bisa dilakukan setarikan nafas dengan menikmati pilihan katanya yang puitis.

 

*Sumber foto: pixabay.com

perempuan teduh wanita saleha

Perempuan Teduh: Tentang Kehormatan Wanita

Perempuan teduh adalah anugerah dari Allah Taala.

Ada banyak hal yang Allah titipkan padanya. Salah satunya adalah kehormatan.

Perempuan diberi amanah yang berat. Ia diwajibkan merawat diri dan menjaga kehormatan.

Bagi perempuan, itu adalah suatu hal yang harus dijaga. Memang tak mudah, tapi justru itulah letak kemuliaannya. Siapa pun yang bisa menjaga diri dan kehormatannya, Allah akan memberi balasan yang mulia.

Perempuan dibaluti rasa malu. Malu ketika melanggar perintah Allah, juga saat mengabaikan kemuliaan dirinya. Kadang perempuan lupa bahwa ia berharga. Kadang lupa bahwa Allah memuliakannya.

Paras cantik dan suara yang lembut memang ujian. Tidak mudah menjaga keduanya. Terlebih, sebagian perempuan mudah takluk. Saat diberi perhatian, ia bisa terbawa perasaan.

Anugerah Allah Punya Alasan

Allah memberi anugerah tersebut bukan tanpa alasan. Saat perempuan bisa menjaga yang dititipkan, justru itu sebuah kemuliaan baginya. Seberapa berat ujian yang ia terima, berbanding lurus dengan pahala yang diberikan padanya.

Kemuliaan perempuan bukan dari parasnya. Kecantikan pasti memudar. Keindahan yang melekat pada tubuhnya tidak bertahan lama. Seiring usia bertambah, kecantikan itu semakin tak tampak di wajahnya.

Kemuliaan itu terletak pada hatinya. Hati yang jernih akan membuatnya terus menjaga diri. Hati yang bersih senantiasa mendekatkan dia pada Allah. Kecantikan hati akan terkenang sampai ia menutup usia. Bahkan membuat orang-orang membicarakan kebaikannya.

Hati perempuan begitu lembut. Mudah terbawa suasana. Hal itulah yang membuatnya sulit dijaga.

Jika perempuan berhasil menjaganya, hatinya akan menuntun dia pada arah yang lebih baik. Hatinya takkan ingin berbuat yang salah, karena hendak menjaga apa yang dititipkan oleh-Nya.

Perempuan harus terhormat. Hendaknya ia menjaga diri, karena kecantikannya bukan sesuatu yang bisa sembarang orang nikmati.

Allah memuliakan perempuan. Dengan menjaga aurat, ia telah meringankan dosa ayahnya. Dengan merawat diri, ia telah menjaga pandangan laki-laki. Bagaimana perempuan tidak mulia, sedangkan surga ada di bawah telapak kakinya.

***

Kemuliaan perempuan tertulis dalam buku Perempuan Teduh karya @haruntsaqif. Buku tersebut membahas perempuan dan fitrah yang Allah berikan padanya. Penulis memaparkan kemuliaan perempuan satu persatu. Ditambah dengan ilustrasi cerita, Perempuan Teduh semakin layak untuk dibaca.

Buku Perempuan Teduh bisa dipesan secara online. Informasi bisa didapatkan akun instagram @qultummedia.

Tentang buku Perempuan Teduh, lihat di sini.

 

*Sumber foto: pixabay.com

Siapa Pun Tak Mudah untuk Menerima Kepergiannya

Kau harus menerima kenyataan bahwa dia telah pergi. Tak perlu menyesalinya. Jika dia memang baik untukmu, Allah akan membuatnya dekat denganmu.

Dia tak punya kewajiban menyatukan kalian hari ini. Sebab Dia tahu waktu yang paling baik untuk kalian. Allah hanya sedang memisahkan. Sementara.

Tak ada larangan untukmu merawat cinta. Asal cinta itu menuntunmu semakin dekat pada-Nya.

Baca juga: Tentang Kepergiannya: Mengapa Kau Harus Kecewa?

Kalaupun bukan dia yang terbaik, Allah punya cara untuk menjaga jarakmu dengannya. Dan Dia akan menggunakan cara yang paling halus. Yang bisa kau terima, tanpa perlu mengeluh pada-Nya.

Tak perlu menyesal.

Takdirmu sudah Allah gariskan. Entah kelak seperti apa. Yang pasti, itu akan menjadi jalan terbaik untukmu. Mungkin juga untuknya.

Penyesalan hanya akan menambah sedihmu. Sampai-sampai kau berpikir seandainya dan seandainya. Hingga lupa Allah penulis cerita yang paling sempurna.

Penyesalan takkan membuat lukamu pergi. Sebaliknya, ia akan membuatnya menetap lebih lama.

Semakin kau memikirkan kesalahanmu, semakin kau tak punya waktu untuk mengingat-Nya.

Berdoalah. Hadirkan Allah di hatimu. Seharusnya cinta yang Dia beri tak menjauhkanmu dari-Nya. Jadi, sekarang Dia hanya ingin mengembalikan jalanmu. Dari jalan yang menghadirkan luka menuju jalan yang dicintai-Nya.

Baca juga: Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Ikutilah jalan yang Allah hadiahkan itu. Tak semua orang mendapatkan anugerah yang Dia beri padamu. Bersyukurlah, karena Dia tak ingin kau terjerumus dalam cinta yang salah.

Ceritakan semua dalam doamu. Ungkapkan perasaan yang menyesakkan dadamu. Mempersempit kebahagiaanmu. Dan mengurangi prasangka baikmu. Ceritakan. Allah akan mendengarnya.

Hapus penyesalan yang menghambat langkahmu. Sebab satu langkah ke depan lebih baik daripada beribu-ribu penyesalan.

Pilihan ada di tanganmu. Jika kau tak bisa melupakan dia yang kau cintai, adukan pada Allah. Bertanyalah bagaimana caranya. Seperti apa baiknya.

Cintamu pada-Nya harus lebih besar daripada cintamu padanya.

Jangan sampai cinta yang seharusnya menjadi fitrah, justru membuatmu semakin jauh dari-Nya. Jangan sampai.

***

Persoalan dalam hidup bisa datang kapan saja. Kita sering tidak bisa mengatur apalagi menghindarinya. Dan, satu di antara persoalan-persoalan itu adalah soal … kehilangan orang terkasih.

Klise, mungkin. Tapi masalah tetap masalah, dan karena itu tetap harus kita selesaikan.

Siapa pun tak ingin kekasihnya pergi. Tapi, kenyataan sering tak bisa diajak kerjasama. Sebesar apa pun cinta kita, seluas apa pun perhatian kita, ketika sesuatu itu harus terlepas, tak ada yang bisa kita lakukan.

Kita tentu tak sedang baik-baik saja. Tapi bagaimanapun, kita tetap harus melanjutkan hidup. Seperti dikatakan penulis buku I’m Not Fine ini.

Buku yang baru kami rilis pada bulan Maret ini sudah tersedia di toko buku; menunggu dihampiri dan dibaca. Direnungkan dan dijadikan teman setia, saat seseorang beranjak dari sisimu.

Selamat membaca!

 

Sumber foto: pixabay.com

tak usah kecewa terlalu lama

Tentang Kepergiannya: Mengapa Kau Harus Kecewa?

Relakanlah.

Tak perlu bersedih karena dia meninggalkanmu. Sejatinya, Allah ingin mengajarimu kesucian cinta. Dia tak rela perasaanmu dipermainkan orang yang salah.

Sadarilah, Allah sedang menyelamatkanmu. Dia tak ingin kau mengenal cinta dengan cara yang tak diridhai-Nya.

Mari renungkan pertanyaan ini: mengapa cinta yang kau punya berakhir dengan kecewa? Bukankah itu artinya ada yang perlu dibenahi? Bukankah harusnya cinta itu justru membahagiakanmu?

Baca juga:
Cinta Lebih Membutuhkan Keikhlasan Dibanding Pengorbanan
Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Supaya kau tak larut dalam kesedihan, Allah memberi jarak antara dirimu dengan orang yang kau cintai. Bukan Dia melarangmu menyimpan perasaan padanya. Allah hanya ingin menuntunmu bagaimana merawatnya.

Kepergian memang menyakitkan. Terlebih, ditinggal orang yang kita cintai. Tapi, selalu ada hikmah di balik apa yang kita alami.

Hikmah akan menghentikan langkah kita pada apa yang kita senangi. Tapi, membuat hati tak merasakan luka yang lebih dalam lagi.

Orang yang menjauh darimu tak lebih mencintaimu dibandingkan Allah. Allah akan melakukan apa pun yang terbaik untukmu. Meski mungkin saat patah, kau menganggap perlakuan-Nya sama sekali tak adil.

Hidupmu tak berhenti di hari ini. Tapi jika kau kecewa hari ini, bagaimana kau akan melangkah menuju masa depan?

Bangkitlah!

Hapus kesedihanmu. Raih tujuan yang ingin kau gapai. Jangan biarkan cinta yang salah membuatmu menghentikan langkah.

Allah selalu ada untukmu. Walau kau tak menyadarinya, tiap peristiwa yang kau alami tak terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Dia tak menghendaki sesuatu yang buruk terjadi padamu.

Tegakkan kepalamu. Masih banyak mimpi yang harus kau ubah menjadi nyata. Masih ada orang-orang yang harus kau bahagiakan.

Tumbuhkan cinta pada Yang benar-benar mencintaimu. Yang selalu ada di saat kau putus asa. Yang tak pernah pergi ketika kau punya masalah. Yang setia menemanimu di setiap langkah.

Percayalah, Allah tak mungkin mengecewakanmu. Tugasmu adalah berprasangka baik pada-Nya. Selebihnya biar Allah yang mengatur. Dan kau akan bahagia setelahnya.

 

*Sumber foto: pixabay.com

Fitrah Cinta Menumbuhkan Iman Kepada Allah SWT

Fitrah manusia selalu mengarah pada kebaikan.

Karena cinta adalah bagian dari fitrah manusia maka cinta pasti mengarah pada kebaikan. Saat kita mencintai seseorang, bayangan tentangnya muncul setiap saat. Keinginan untuk bertemu memuncak. Semakin lama tak bertemu, semakin kuat rindu yang tumbuh.

Cinta membuat kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai. Menjalani hidup berdua tanpa menghiraukan masalah yang ada. Seolah di dunia ini tak ada orang lain, kecuali hanya kita dan orang yang kita cintai. Kita hidup bahagia dengannya dan berjanji menjalani masa depan bersama.

Baca juga:
Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

fitrah kebaikan

 

Mungkin saat ini kita sedang memendam cinta pada orang lain. Entah ia mengetahuinya atau tidak, kita ingin selalu bisa berjumpa. Bersamanya menceritakan segala isi hati. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang yang dinanti.

Tapi, tunggu dulu.

Sebelum berbicara jauh tentang cinta, bukankah sebaiknya kita mengenal siapa yang telah menanamkannya di hati kita?

Cinta ada karena Allah yang menumbuhkannya. Dan tidak mungkin Allah menanamkan sesuatu, kecuali ada maksud yang baik di balik semua itu.

Sebelum mencintai yang lain, Allah ingin kita mencintai-Nya terlebih dulu. Dia tak ingin kita menduakan-Nya, karena itulah Dia ingin kita menjadikan-Nya alasan di balik cinta kita pada yang lainnya.

Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, Dia akan membantu kita untuk mendekatinya. Jika tidak, Allah akan memisahkan dengan cara-Nya yang mungkin tak terduga.

Yang tahu makna cinta akan berusaha menjaganya. Jika belum waktunya, ia tak akan mengungkapkan. Sebab ia tahu, Allah tak ingin dirinya lupa dengan hakikat cinta itu sendiri.

Ia akan terus berdoa dan memohon pada-Nya, jika memang cinta itu baik baginya maka tolong jangan hilangkan. Tapi jika ternyata tidak, ia berharap Allah menghilangkannya tanpa meninggalkan luka.

Punya cinta tak perlu diumbar. Teruslah berusaha menjaga dan merawatnya. Hingga waktunya tiba, Allah yang akan melengkapinya.

Cinta ada agar kita mendekat pada-Nya, cinta ada agar kita mensyukuri karunia-Nya, dan cinta tumbuh agar kita tak semakin menjauh dari-Nya.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

aldilla-ibf-depan

Talkshow Bareng Aldilla Dharma, Penulis Jangan Pernah Menyerah!

Talkshow bersama Aldilla Dharma mengundang perhatian penonton Islamic Book Fair 2016 di Istora Senayan. Mereka penasaran bagaimana penulis Jangan Pernah Menyerah! tersebut menjalani proses penulisan buku yang kemudian menjadi bestseller itu.

Islamic Book Fair 2016 sudah dimulai sejak Jumat, 26 Februari lalu. Sebagai salah satu peserta yang mengikuti pesta buku islami ini, Qultum Media menghadirkan serangkaian acara menarik. Salah satunya adalah talkshow buku Jangan Pernah Menyerah! bersama Aldilla D. Wijaya, penggagas @BeraniBerhijrah.

Baca juga:
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)
Kegagalan Hari Ini Adalah Pelajaran untuk Kesuksesan Esok Hari

Acara yang digelar pada Sabtu, 27 Februari 2016 di Ruang Mekah, stan 205, Istora Senayan Jakarta ini ramai didatangi pengunjung. Mereka antusias mengikuti talkshow bersama Dilla, sapaan akrab Aldilla D. Wijaya.

Pada kesempatan itu, Dilla berkesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya seputar dunia kepenulisan. Lantas, bagaimana ya perasaannya yang baru pertama kali menulis buku ini?

“Awalnya saya berpikir setelah buku ini terbit dan disukai banyak orang, saya akan bangga. Tapi setelah merasakannya sendiri, dalam diri saya malah muncul rasa takut,” kata laki-laki yang masih terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya ini.

Lebih lanjut Dilla mengungkapkan, rasa takut itu muncul karena menurutnya apa yang ia tulis merupakan amanah. “Kalau dalam perjalanannya membuat saya sombong, sayalah orang pertama yang akan masuk neraka,” tambah Aldilla saat diwawancarai Qultum Media di acara tersebut.

Sebagai orang yang kali pertama menulis buku, Dilla mengaku sempat minder. Namun, rasa minder itu bisa ia tepis dengan bantuan dari berbagai pihak, termasuk redaksi Qultum Media. Ia pun mulai memfokuskan diri untuk menuntaskan penulisan buku ini. Menurutnya, untuk meraih sesuatu yang besar harus melalui perjuangan yang besar juga.

Setelah sesi bincang bareng penulis berakhir, acara dilanjutkan dengan tanya-jawab dan game seru. Keseruan semakin terlihat saat Dilla ditantang untuk mengikuti permainan tebak kata. Di akhir acara, para pengunjung berkesempatan untuk berfoto bersama penulis dan melakukan booksigning.

Acara tersebut ditutup dengan sepatah-dua patah kata penulis yang berharap agar even Islamic Book Fair bisa menjadi trigger yang bisa mengajak orang menjadi lebih islami dengan cara yang ramah dan menyenangkan.

WhatsApp chat