Berhati-hatilah dari Sifat Sombong - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
25037
single,single-post,postid-25037,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-3.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
sombong

Berhati-hatilah dari Sifat Sombong

sombongSifat sombong adalah salah satu sifat yang dibenci Allah SWT. Sifat sombong ini banyak jenis dan bentuknya, ada yang nyata dan ada juga yang samar-samar. Kesombongan yang nyata adalah kesombongan yang dapat dilihat oleh manusia, seperti merendahkan orang lain, memamerkan harta, membanggakan kedudukan jabatan, membanggakan keturunan, merasa lebih daripada orang lain, dan lain sebagainya.

Kesombongan yang samar-samar adalah kesombongan orang yang berilmu dalam beragama, yang di dalam hatinya merasa bahwa ia memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada orang lain. Dalam kata-katanya seperti orang yang merendahkan diri, tapi dalam tindak-tanduknya ia menunjukkan bahwa ia adalah orang yang patut dihormati karena kelebihan ilmunya, merasa lebih mengerti tentang agama, dan merasa lebih dekat kepada Allah.

Kesombongan yang samar-samar seperti ini, tanpa disadari telah banyak menjerumuskan para ahli agama ke dalam neraka. Kesombongan semacam ini disebut riya, gila pujian, pengaguman terhadap diri sendiri, dan yang lebih berbahaya lagi adalah dekat pada penyembahan terhadap diri sendiri.

Sifat sombong akan dapat melahirkan beberapa sifat dan perilaku tercela lainnya, seperti munafik, pembohong, sering menggunjing, iri hati, dengki, sifat gila pujian, dan masih banyak lagi. Kesombongan tidak akan melahirkan sifat yang baik dan tidak akan membawa akibat yang baik. Orang-orang yang sombong tidak pernah mewarisi sesuatu selain kehinaan dan kutukan dari Allah SWT.

“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu.’ Menjawab iblis, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’.” (QS AI-A’raaf [71: 12)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang sombong karena merasa dirinya lebih baik daripada orang lain adalah sikap kesombongan yang sama seperti sikap kesombongan yang pernah dilakukan oleh Iblis laknatullah terhadap Adam. Selanjutnya, pada ayat 13, Allah berfirman,

“Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’.” (QS Al-A’raaf [7]: 13)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang sombong pada hakikatnya adalah orang-orang yang tersingkir dari rahmat dan karunia Allah. Mereka adalah orang-orang yang hina.

Firman Allah,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS AI-Isra’ [17]:  37)

Ayat ini menunjukkan bahwa betapa tidak pantasnya manusia itu untuk berperilaku sombong, hanya Allah saja yang pantas untuk menyandang kesombongan itu karena hanya Allah yang mampu menembus bumi, dan hanya Allah saja yang Mahatinggi.
Ayat-ayat di atas juga menunjukkan bahwa sifat sombong adalah warisan dari Iblis yang dilaknat Allah SWT. Apabila sifat ini ada pada manusia, sama saja si manusia yang sombong itu memiliki nasab garis keturunan sifat dari sifat iblis yang dilaknat Allah.

Waspadailah, iblis senantiasa berusaha menggunakan segala macam cara untuk menjebak manusia supaya masuk ke dalam jeratannya dengan muslihatnya, tipu dayanya sangat halus dan canggih dalam menanamkan kesombongan dalam hati manusia. Apalagi, kebanyakan dari manusia sudah tidak lagi dapat membedakan mana bentuk kesombongan yang kasat mata dan mana kesornbongan yang tersembunyi? Kebanyakan manusia sudah tidak lagi dapat membedakan antara yang haq dan yang batil.

 

Segala hal yang berupa materi menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi, tuntunan ajaran agama hanya dianggap sebagai beban penghalang, perilaku akhlakul karimah seperti akhlak Rasulullah sudah dianggap kuno, menggunjingkan aib orang lain sudah dianggap sebagai hiburan, antara yang halal dan yang haram sudah tidak tampak lagi perbedaannya, simbol-simbol agama hanya dijadikan kepentingan untuk mencapai tujuan nafsu duniawi, peringatan dan ancaman hukuman Allah hanya dijadikan olok-olok dan bahan tertawaan, ayat-ayat Allah tidak dipedulikan, orang-orang miskin dicibirkan, kejujuran dianggap sesuatu keanehan, perbuatan dosa diagung-agungkan, kebohongan sudah menjadi kebiasaan, kecurangan sudah menjadi kebutuhan, dan harta benda sudah menjadi sembahan.

“(Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.” (QS An–Nisa’ [4]: 120).

“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS Al-An’am [6]: 116).

Demikian uraian yang disampaikan Sayid Fahmi Shahab dalam bukunya, “Hubbul Qur’an” (QultumMedia) menjelaskan tentang fenomena dan sifat-sifat kesombongan yang diperbuat manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, kita mesti hati-hati agar kita tidak termasuk orang yang sombong. Allah telah memberikan contoh akibat dari perilaku sombong atas Iblis yang enggan bersujud kepada Nabi Adam.

 

No Comments

Post a Comment

X

Pin It on Pinterest

X