Demikian juga pada Mei. Nah, ada tiga hal yang membuat Mei menjadi sebal dan sensitif: pertama, pernyataan atau apresiasi terhadap berat badan yang bertambah. Kedua, pertanyaan kapan menikah. Ketiga, keluarga yang bermaksud menjodohkannya. Ketiga hal ini membuat Mei tertekan secara fisik maupun mental, terutama soal pernikahan.
Di usianya saat ini, sepertinya Mei belum begitu berpikir untuk mencari jodoh. Namun, pada suatu pagi sesuai sahur persoalan marriage tiba-tiba membuatnya kebingungan hingga ia curhat dengan sahabatnya, Kitty. Kitty pun merasa itu bukan persoalan yang mudah. Bayangkan, Mei mendapat tantangan super berat dari Tante Nur untuk mendapatkan jodoh dalam 30 hari.
Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, Mei menginjak selembar kertas A4 bertuliskan tangan dari Kitty: Mei, to be or not to be, Project Finding Soulmate For MeiStarting NOW!
Nah, bagaimana kisah Mei dalam berproses menjalani kehidupannya, terutama ketika ia mencari jodoh? Lewat “kenekadan, kegigihan, ikhtiar, serta doa, ia mencoba menjalaninya. Ya, mencari jodoh memang bukanlah hal gampang, butuh ujian dan perjuangan secara lahir dan batin. Dengan dibantu Kitty, Mei mencoba menemukan soulmate-nya. Berhasilkah Mei mendapatkan pria idaman yang ia harapkan?
Kisah novel Islami ini bisa kita simak dalam Finding Soulmate for Mei yang ditulis oleh Ollie. Novel ini dikemas dengan menarik, penuh kejutan, lucu, dan mengusung pesan-pesan moral dalam Islam. Lewat bahasa yang ringan Ollie menjahit kisah Mei dengan lancar dan spontan. Penasaran kan?
Temukan petualangan Mei yang mendebarkan dalam novel religi Finding Soulmate for Mei yang diterbitkan oleh Qultummedia.
Leave a Comment