melangkah searah Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
797
archive,tag,tag-melangkah-searah,tag-797,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Bincang-bincang Bareng Penulis “Melangkah Searah”

Buku Melangkah Searah sudah memasuki cetakan kedua sejak diterbitkan bulan lalu. Aji Nur Afifah, sang penulis buku, berbagi pengalaman tentang proses penulisan buku ini dan sekelumit tentang isinya. Mari ikuti perbincangan kami dengan penulis kelahiran Malang yang kini menetap di Yogyakarta ini.

***

 

Assalamualaikum, Mbak Apik, apa kabar?

Wa’alaikumussalam, kabar alhamdulillah baik. Ini lagi pulang kampung, jadi semakin merasa baik, karena bahagia bisa kangen-kangenan sama keluarga. Hehehe.

Sebelumnya, kami sampaikan selamat atas terbitnya buku terbaru Mbak. Boleh dong, Mbak, diceritakan sepintas saja tentang ide awal menulis buku ini …

Ide awalnya, sebenarnya tulisan-tulisan semacam ini sudah lama tercecer di blog. Saya dan suami membuat sebuah rubrik di Tumblr yang berjudul “Rumah Tangga Muda” atau biasa disebut RTM. Lalu kami merasa, sepertinya akan lebih bermanfaat jika mengumpulkannya menjadi sebuah buku yang runut dan bisa dijangkau oleh lebih banyak pembaca. Karena, kan, kalau di Tumblr kebanyakan yang baca, ya, orang-orang Tumblr. Kalau sudah dalam bentuk buku, akan lebih banyak lagi yang bisa membacanya.

Ada yang bilang kalau sepasang kekasih itu sebenarnya tidak cukup mengenal satu sama lain sampai keduanya menikah. Menurut Mbak bagaimana?

Saya sepakat dengan statemen tersebut. Menurut saya pribadi, menikah itu memang ajang mengenal yang paling komprehensif. Semuanya bisa terbuka, itulah mengapa kita dan pasangan adalah ‘pakaian’ satu sama lain. Ya karena aib-aib kita, kebiasaan kecil, sifat asli, karakter, semuanya akan terbuka setelah menikah. ‘Pakaian’ itu sejatinya menutupi dan melindungi. Nah, itulah mengapa dalam Islam sebenarnya nggak ada istilah kekasih sebelum menikah, adanya kenalan saja, untuk menyamakan visi-misi pernikahan. Pacaran bertahun-tahun juga nggak menjamin bisa mengenal pasangan dengan sebenarnya, Makanya, dalam Islam nggak boleh (pacaran, red.). Karena bukannya saling mengenal, nanti malah kebablasan setan yang mengenalkan kita ke yang nggak-nggak. Hehehe.

Ada nggak sih sesuatu yang mengejutkan, lucu, atau mengharukan setelah Mbak dan suami hidup bersama?

Banyak sih, saya dan suami ini tipe orangnya yang bercanda terus kayaknya tiap hari. Adaa aja yang dibuat bahan. Mulai dari berondongan pertanyaan, “Itu handuk basah yang naruh situ siapa?” sampai “Kamu masak apa, Dek, ini kok baunya gosong?” Hahaha. Tapi, kesalahan-kesalahan kecil nggak pernah jadi masalah buat kami. Jadi, diketawain aja. Dibuat lucu. Upaya saling mengenal tiap hari itu udah butuh tenaga, ya, jangan dihabisin buat meributkan hal-hal kecil. Yang mengejutkan, lucu, dan haru sudah banyak saya bahas di buku. Makanya, ayo baca bukunya! Hihi …

Ide untuk tidak marah sampai usia pernikahan mencapai 40 hari itu menarik. Apa latar belakang membuat kesepakatan tersebut? Dan kenapa 40 hari?

Itu saya sendiri dikasih tahu seorang kerabat. Jadi, dulu beliau juga diberi nasihat seperti itu, lalu berhasil mempraktikkan dan menularkannya kepada saya. Kenapa 40 hari? Karena katanya sebuah kebiasaan kalau sudah dilakukan selama 40 hari, ibarat otot, udah lemes. Udah jadi biasa. Hehehe. Jadi, kita coba 40 hari itu. 40 hari pertama mulai terbuka tuh (karakter pasangan, red.) sedikit-sedikit.

Di buku itu Mbak Apik juga bercerita bahwa Mbak dan suami punya kesepakatan untuk tidak tidur sebelum masalah yang tengah dihadapi saat itu selesai dibicarakan. Ini praktiknya ‘kan susah, Mbak? Ada tip-tip nggak biar kita bisa konsisten mengikuti ide itu?

Apa ya, nggak ada tips macem-macem, sih. Cuma saya dan suami sepakat, apa pun masalahnya, yang pertama kali jadi orientasi kita adalah sabar dan fokus ke solusi. Sabar, karena menghadapinya kalau bisa nggak perlu marah-marah, karena kita yakin yang dinilai sama Allah itu juga prosesnya. Jangan sampai kita diuji malah nggak lolos ujian ini, karena kita menjalani prosesnya dengan kondisi emosi yang buruk. Kedua, fokus di solusi untuk meminimalisir drama. Ya, pasangan mana sih yang mau berantem? Marahan sama pasangan setelah nikah itu nggak ada seru-serunya, nggak ada benefitnya. Jadi, kita fokus ke solusi, biarpun pahit prosesnya, tapi ini untuk kebaikan bersama. Saya jadi belajar buat nggak kelamaan ngambek, suami juga belajar buat lebih memahami kalau saya ngambek karena, ya, itu tadi … fokus ke solusi. Hehehe.

Pasangan suami-istri itu ‘kan perlu saling mengerti, terutama setelah punya anak. Ada pengalaman menarik tentang hal ini?

Setelah kelahiran anak pertama, saya jadi banyak belajar. Begitupun suami. Waktu itu saya merasa bahwa sayalah yang harus dipahami, apalagi sebagai ibu baru. Tapi, ternyata setelah berbulan-bulan berselang, suami saya bercerita bagaimana bingungnya dia, bagaimana rasanya dia saat menjadi ayah yang baru. Di situ saya sadar, bahwa yang beradaptasi dengan kondisi ini nggak cuma saya, tapi suami juga. Yang syok nggak cuma saya, suami juga. Yang berkorban nggak cuma saya, tapi suami juga. Saya dan suami suka sekali bercerita dan sharing di sela-sela mengasuh anak atau menjelang tidur, tentu saja dengan rules: gadget ditaruh dulu, hehehe. Dan waktu-waktu itu menjadi waktu yang berharga buat kami untuk saling bertukar pikiran atas apa yang dirasakan satu sama lain.

Pertanyaan terakhir dan mungkin banyak menjadi uneg-uneg di benak pasangan muda nih, Mbak: Ada nggak tip-tip biar disayang mertua? Apa saja?

Ini ada di buku Melangkah Searah! Hihi. Tapi, menurut saya, sebenarnya beda mertua, ya beda rumusnya. Kalau saya sih, ketika ingin disayang, kita juga harus mulai untuk menyayangi. Berkirim hadiah juga bisa menjadi salah satu upaya. Sering-sering telepon kalau jauh dari mertua. Kalau seatap, posisi pasangan juga harus tegas untuk lebih adil menempatkan kita dan pasangan. Tunjukkan bakti kita kepada mertua, sebagaimana kepada orangtua sendiri. Dan yang paling krusial adalah minta sama Allah agar hati kita dan mertua dilembutkan. Karena memang adaptasi mertua-menantu ini tantangan.

***

 

Menapaki kehidupan rumah tangga ibarat menempuh sebuah perjalanan. Kadang kita menemui jalan yang lurus, berliku, menanjak, atau menurun. Kadang bergelombang dan terjal, tapi kadang sangat mulus dan mudah dilalui.

Selama beberapa tahun Aji Nur Afifah menuliskan pengalaman rumah tangganya di www.ajinurafifah.tumblr.com dan awal tahun ini, alhamdulillah, ia telah merampungkan naskahnya yang berjudul Melangkah Searah dan diterbitkan oleh Qultummedia.

Buku ini bisa Pembaca dapatkan secara online di republikfiksi.comGramedia.com dan toko buku online yang lain, atau secara offline di GramediaGunung AgungTM Bookstore, dan toko buku offline yang lainnya. 

*Sumber foto: freepik.com

Aji Nur Afifah: Cerita-cerita Perjalanan

Cerita #1

 

Hidup memang nggak selamanya seperti yang kita mau. Kadang ada masanya kita kecewa sekali. Sampai nggak tahu lagi mau marah ke siapa. Marah ke Tuhan? Kok, kurang ajar. Akhirnya kita cuma ngadu dan ngadu.

Nangis sejadinya. Nggak berkata-kata, cuma nangis aja.

Tapi, diam-diam kita berdoa. Memohon agar semuanya lekas usai. Memohon agar kuat menghadapi ini semua. Memohon banyakkkk sekali, tapi intinya agar rasa kecewa ini diangkat, dicabut seakar-akarnya.

Permohonan-permohonan itu kita teriakkan lantang saat senyap. Yang mengerti hanya kita dan Tuhan. Nggak perlu orang lain. Rasanya cukup Tuhan saja. Karena … kita tidak mau lagi kecewa dengan respon orang lain atas kita. Cukup …

Saat itu, sebenarnya yang kita perlu cuma didengarkan. Dan kembali, di saat semuanya tampak tak mau mendengar, lagi-lagi ada Tuhan yang tanpa diminta pun sudah mau mendengar.

Tuhan mungkin sedang ingin menunjukkan, kalau kita ini makhluk yang lemah. Yang tidak ada apa-apanya, apalagi diberi masalah berat sedikit. Tuhan mungkin sedang rindu dijadikan nomer satu, dijadikan segala-galanya.

Tuhan mungkin benar-benar rindu. Selama ini kita terlalu jauh. Selama ini kita tak benar-benar bicara dengan hati. Selama ini kita terlampau asyik dengan urusan-urusan kita, bahkan kadang mengatasnamakan-Nya, tapi nyatanya tak setulus karena-Nya …

Di balik kekecewaan kita ini, Tuhan ingin kita mendekat … Tuhan sedang bilang pelan-pelan pada kita:

“Ada Aku … Ingat, ada Aku.”

***

 

Cerita #2

 

Menurut saya, kemantapan hati itu perjalanan spiritual tersendiri bagi masing-masing individu. Susah ditakar. Susah pula dideskripsikan.

Kalau mantap, ya, insyaAllah mau bagaimana sikonnya mantap melangkah. Begitupun kalau ragu … adaa saja yang buat enggan.

Masalah kemantapan hati sebelum menikah akhir-akhir ini, masyaAllah, lumayan banyak yang mengirim ask dan DM ke saya dengan berbagai macam kasus yang berbeda.

Tapi …

Jawaban saya sama, general, masing-masing hati nampaknya lebih tahu. Saya nggak bisa kasih saran macam-macam, selain istikharah.

Perbanyak dialog dengan Yang Maha Memiliki Kuasa Atas Hati. InsyaAllah masing-masing orang akan menemukan jawaban masing-masing.

Toh, kadang sebenarnya kita sudah punya jawabannya … dan hanya butuh dikuatkan.

Maka, jika kebutuhan itu adalah dikuatkan, atau butuh masukan, dengarkanlah saran dari yang begitu menyayangimu. Yang ridhanya masih kamu cari: orangtuamu.

Karena jawaban istikharah tidak melulu dari mimpi. Bisa juga restu kedua orangtua.

***

 

Cerita #3

 

Aku selalu suka mendengarkan dia bercerita, tentang petualangannya mendaki gunung, mulai dari berjuang menabung untuk beli sepatu, sampai ia yang sempat terperosok saat turun.

Seakan-akan aku ikut di belakangnya, dia menggandengku sampai ke puncak.

Ceritanya yang detail membuatku ingin bersorak setiap ada kejadian seru, seperti saat makan bersama dengan perbekalan yang tersisa, bagaimana membangun tenda, sampai segala upaya yang dia lakukan saat kedinginan.

“Kalau sudah mendaki, nggak boleh sok-sok nggak enakan sama rombongan. Kalau sakit ya bilang, kalau ada yang capek juga nggak boleh egois –kita berhenti dulu, istirahat.”

Bagi aku yang terhalang sakit ini, menjadi pendengar setia ceritanya saja sudah suatu kebahagiaan.

Aku bisa menikmati gunung demi gunung lewat langkahnya, lewat sudut pandangnya, lewat semua keindahan yang terekam di memorinya.

Aku tidak jadi marah, karena Tuhan tidak izinkan aku mendaki ke atas.

Setelah waktu mempertemukanku dengan mas-mas pendaki ini, aku jadi paham,

kisahnya adalah penawar sakitku –atas harap menghirup aroma khas pepohonan, ranu yang terngiang dalam bayangan, dan puncak yang selalu ingin kuraih.

Aku sudah mendapatkannya sepaket.

Ada padanya.

 

–Aji Nur Afifah, penulis “Melangkah Searah”

 

***

 

Menapaki kehidupan rumah tangga ibarat menempuh sebuah perjalanan. Kadang kita menemui jalan yang lurus, berliku, menanjak, atau menurun. Kadang bergelombang dan terjal, tapi kadang sangat mulus dan mudah dilalui.

Selama beberapa tahun Aji Nur Afifah menuliskan pengalaman rumah tangganya di www.ajinurafifah.tumblr.com dan awal tahun ini, alhamdulillah, ia telah merampungkan naskahnya yang berjudul Melangkah Searah dan diterbitkan oleh Qultummedia.

Buku ini bisa Pembaca dapatkan secara online di republikfiksi.com, Gramedia.com dan toko buku online yang lain, atau secara offline di Gramedia, Gunung Agung, TM Bookstore, dan toko buku offline yang lainnya. 

 

*Sumber foto: freepik.com

WhatsApp chat