ramadan Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
706
archive,tag,tag-ramadan,tag-706,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

9 Peristiwa Besar Ini Terjadi di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan menjadi saksi perjalanan sejarah umat Islam. Kenangan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya membuat kita takjub sekaligus haru dengan agama ini. Mulai perjuangan Rasulullah, sahabat, ulama, hingga pahlawan negara kita, Ramadan terlibat sebagai latar waktu.

***

Kemuliaan Ramadan bukan hanya terletak pada banyaknya pahala yang bisa kita raih dengan melakukan amal saleh di dalamnya, tapi juga kisah perjuangan yang menyentuh hati yang terjadi pada momentum mulia ini. Pembaca yang dirahmati Allah, berikut kami rangkumkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi atau dialami oleh umat Islam di bulan Ramadan. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan dan meningkatkan iman kita sebagai muslim.

1. Al-Quran Diturunkan

Mendekati masa-masa Al-Quran diturunkan, Rasulullah sering berkhalwat di Gua Hira. Mengasingkan diri dari manusia dan beribadah dengan tenang di sana. Kadang puluhan hari, kadang bisa sampai satu bulan.

Pada tanggal 17 Ramadan tahun 13 Sebelum Hijriah, Rasulullah menerima wahyu pertama di gua tersebut, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa itu merupakan momentum terbitnya cahaya Islam yang kemudian menyinari segenap penjuru dunia, berabad-abad sesudahnya.

2. Perang Badar

Perang Badar adalah perang yang sangat penting dan menentukan dalam sejarah umat Islam. Perang ini merupakan perang pertama dan awal bagi kemenangan kaum muslimin dalam peperangan-peperangan berikutnya.

Perang Badar terjadi pada Jumat, 17 Ramadan tahun 2 Hijriah. Berkat pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut, meski kalah jauh dari segi jumlah pasukan.

3. Pembebasan Kota Mekkah

Pada tanggal 20 Ramadan tahun 8 Hijriah, kaum muslimin mendapat anugerah yang sangat mereka syukuri. Pada tanggal tersebut, doa Rasulullah dan para sahabat agar Allah memenangkan perjuangan mereka merebut Mekah dan memberikan hidayah bagi penduduknya dikabulkan.

Orang-orang Mekah berbondong-bondong masuk Islam. Pada hari itu juga, Rasulullah juga memaafkan orang-orang yang dulu menyakiti dan mengusir beliau.

4. Syiar Islam Sampai ke Yaman

Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Tidaklah sebuah negeri dinaunginya, kecuali banyak keberkahan ditemukan di sana.

Pada bulan Ramadan tahun 10 Hijriah, Islam telah sampai di Yaman. Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib membawa surat beliau untuk penduduk Yaman, khususnya Suku Hamdan, dan menyiarkan Islam kepada mereka. Tak sia-sia, hanya dalam satu hari, mereka semua memeluk Islam.

5. Pembebasan Andalusia

Pada tanggal 28 Ramadan tahun 92 Hijrah, Bani Umayyah mengirim panglima Islam Tariq bin Ziyad untuk membebaskan Andalus, atau saat ini kita kenal dengan Spanyol. Tariq dan pasukan muslim menggunakan armada yang tangguh untuk menyeberangi laut yang memisahkan benua Afrika dan Eropa.

Setelah sampai, Tariq berinisiatif untuk membakar kapal-kapal kaum muslimin, agar tak ada yang berpikir untuk mundur dari pertempuran. Atas rahmat Allah, Andalusia akhirnya jatuh ke tangan mereka.

6. Kekalahan Tentara Mongol

Pada tahun 1260 hingga 1405 Masehi, tentara Mongol melakukan penaklukan hingga hampir seluruh benua Asia. Pada tahun 1258, tentara pimpinan Hulagu Khan menyerang Baghdad. Dalam serangan itu, banyak umat Islam yang terbunuh.

Pada tanggal 15 Ramadan tahun 658 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1260 Masehi, tentara Islam bangkit dan melakukan serangan balasan dibawah pimpinan Sultan Qutuz. Dalam pertempuran itu, pasukan muslim meraih kemenangan.

7. Kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi

Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil meraih kemenangan dalam Perang Salib pada bulan Ramadan tahun 584 Hijriah.

Pada hari penaklukannya, Shalahuddin Al Ayyubi berkata, “Demi Allah, sesungguhnya penghancuran benteng di Asqalan (masuk wilayah Palestina saat ini) lebih kusukai walaupun aku harus kehilangan seluruh anakku, karena penguasaan Asqalan demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin.”

8. Penaklukan Konstantinopel

Peristiwa besar terjadi pada bulan Ramadan tahun 874 Hijriah. Usai shalat subuh, pasukan kapal perang kaum muslimin menggempur benteng Konstantinopel dari arah belakang.

Dengan izin Allah, pada hari pengepungan ke-53, takluklah benteng Konstantinopel. Perlawanan tentara Romawi Timur sangat sengit, tapi perjuangan pasukan muslim tak mampu mereka atasi.

9. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Bertepatan dengan 17 Agustus 1945 atau 9 Ramadaan 1364 Hijriah, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno dan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat.

Ramadan adalah bulan yang punya banyak keistimewaan. Termasuk pengalaman umat muslim dalam perjuangan-perjuangan yang kami paparkan di atas. Semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali dengan bulan yang mulia tersebut.

***

Sab’ul Munjiyat, bermakna tujuh surat yang dengan izin Allah bisa memberikan pertolongan.

Sebagai muslim yang baik, sudah selayaknya kita menyambut datangnya bulan Ramadan dengan suka cita. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan bahwa siapa pun yang bahagia dengan datangnya bulan suci itu, ia akan masuk surga.

Kebahagiaan yang dimaksud tentu disebabkan oleh balasan kebaikan yang Allah lipatgandakan pahala dan keberkahannya. Sebuah anugerah yang tidak akan kita terima di luar bulan mulia itu.

Untuk menemani puasa dan detik-detik menjelang berbuka, Qultummedia menerbitkan buku Sab’ul Munjiyat: 7 Surat Pembuka Jalan Keluar ini. Sebuah buku yang menghimpun surat-surat di dalam Al-Qur’an yang mengandung hikmah dan banfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Buku ini sudah tersedia di toko buku online dan offline.

*Sumber gambar: freepik.com

bulan suci ramadan

Bulan Suci Ramadan dan 6 Fakta Menarik Tentangnya

Bulan suci Ramadan adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Selama ini kita sudah biasa menjalankan puasa di bulan suci Ramadan. Dan sebagaimana orang lain yang menyambutnya dengan bahagia, kita juga merasakan hal yang sama saat bulan suci itu tiba. Namun begitu, ternyata ada banyak hal menarik tentang puasa dan bulan Ramadan yang mungkin belum semuanya kita ketahui. Apa saja?

1 Arti kata Ramadan

‘Ramadan’ berasal dari bahasa Arab ‘romadhoon’, yang merupakan turunan dari kata ‘romadhu’ atau ‘romdhoo`’, yang artinya “panas yang menyengat pada musim kemarau”. Ada juga yang mengartikannya sebagai “waktu ketika dosa-dosa dibakar oleh amal saleh”.

Kata ‘ramadan’ sangat populer di Indonesia, sampai-sampai tak sedikit orang yang menjadikannya sebagai nama untuk anaknya. Biasanya karena sang anak lahir bertepatan pada bulan Ramadan.

2. Rasulullah berpuasa Ramadan hanya 9 kali seumur hidup

Puasa Ramadan diwajibkan pada umat Islam di bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau tahun kedua Rasulullah berdomisili di Madinah. Setelah ada perintah berpuasa pada bulan Sya’ban itu maka pada bulan berikutnya, yakni bulan suci Ramadan, Rasulullah mengajak para sahabat untuk berpuasa.

Masa hidup Rasulullah di Madinah sekitar 10 tahun, yang artinya beliau bertemu dengan bulan suci Ramadan hanya 9 kali, karena puasa Ramadan baru diperintahkan pada tahun kedua Hijriyah. Menariknya, dari 9 kali bulan Ramadan, Rasulullah hanya satu kali menjalankan puasa secara penuh, sedang 8 bulan Ramadan yang lainnya tidak. Sepertinya beliau menghadapi kendala (uzur) yang menyebabkan beliau tidak berpuasa, mungkin sakit, melakukan perjalanan jauh, atau berperang.

3. Ramadan adalah bulan Al-Quran diturunkan untuk pertama kalinya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat pertama Al-Quran yang diturunkan pada Rasulullah. Pendapat yang paling populer ada dua. Pertama, yang menyatakan bahwa surah yang pertama turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, dan kedua, yang menyatakan bahwa surah yang dimaksud adalah Surah Al-Muddatstsir.

Betapapun demikian, saat ini umat Islam cenderung tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat itu, dan justru fokus pada momen peringatan turunnya Al-Quran tersebut, yang biasanya dikenal dengan istilah Nuzulul Quran. Di berbagai tempat di Indonesia, baik di masjid atau di rumah-rumah, umat Islam memperingati sejarah turunnya Al-Quran ini dengan menyelenggarakan tausiyah dan pengajian, yang biasanya diadakan pada malam ke-17 Ramadan.

4. Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan

Selain Nuzulul Quran, umat Islam juga mengenal yang namanya Lailatul Qadar atau secara bahasa artinya Malam yang Mulia. Disebut Malam yang Mulia, karena malam tersebut diyakini sebagai malam diturunkannya Al-Quran (QS. Al-Qadar: 1) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah, sebuah tempat yang berada di langit dunia.

Menurut Al-Quran sendiri, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. “Lailatul Qadar lebih mulia dibandingkan seribu bulan (QS. Al-Qadar: 3).” Karena kemuliaannya itu, amal baik yang kita kerjakan di dalamnya akan mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat-lipat.

5. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan

Perang Badar adalah salah satu perang paling terkenal dalam sejarah Islam, sekaligus perang yang paling menentukan bagi perkembangan dakwah Islam. Nama ‘Badar’ diambil dari nama tempat yang terletak di sebuah lembah di antara Makkah dan Madinah.

Perang Badar pecah pada tanggal 2 Ramadan tahun kedua Hijriyah. Tentara muslim terdiri dari 313 pasukan, dengan perlengkapan perang yang terbatas, melawan tentara kafir yang berjumlah 1000 pasukan.

Meski kalah dari sisi jumlah, tentara muslim akhirnya berhasil mengalahkan tentara kafir. Sebanyak 70 tentara kafir terbunuh dan 70 lainnya ditawan. Tentu saja, kemenangan ini adalah anugerah dari Allah Ta’ala.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Al-Imran: 123)

6. Fathu Makkah terjadi pada bulan Ramadan

Peristiwa bersejarah lain yang juga terjadi pada bulan suci Ramadan adalah pembebasan kota Makkah atau Fathu Makkah, yang terjadi pada tanggal 10 Ramadan tahun kedelapan Hijriyah. Dalam peristiwa ini, setelah mengungsi dari Makkah karena tekanan orang-orang kafir, umat Islam berhasil merebut kota tersebut dan kembali ke pangkuannya.

Meski terdengar seperti sebuah penyerbuan, karena melibatkan 10.000 umat Islam, dalam peristiwa ini umat Islam tidak menggunakan kekerasan sama sekali. Berhala-berhala yang berjajar di sekeliling Ka’bah memang dihancurkan tapi tak satu pun penduduknya dianiaya.

Sebuah riwayat menyatakan bahwa saat itu umat Islam sempat meneriakkan ancaman pada penduduk Makkah. “Hari ini adalah hari pembalasan (Al-yawmu yawmul malhamah)!” seru mereka. Tapi, ketika kata-kata itu didengar oleh Rasulullah, beliau memerintahkan untuk menggantinya menjadi, “Hari ini adalah hari kasih sayang (Al-yawmu yawmul marhamah)!

Itulah hal-hal menarik yang berkaitan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang selalu kita tunggu-tunggu kedatangannya dan membuat kita berdoa agar selalu diberi panjang umur oleh Allah agar bisa bertemu kembali dengannya. Nah, Pembaca yang baik, mari membuat agenda kegiatan untuk mengisi bulan Ramadan tahun ini!

Semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala dan nanti setelah Ramadan pergi kita betul-betul menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin …

 

Gambar didapat dari: http://bersamadakwah.net

hawa nafsu dan berbagai penyakit hati yang ditimbulkannya

Hawa Nafsu dan Penyakit Hati yang Ditimbulkannya

Puasa adalah ibadah yang sedikit berbeda dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya. Kalau orang yang sedang mengerjakan salat, zakat, haji, atau ibadah lain bisa mudah dikenali maka tidak demikian dengan mereka yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa hampir-hampir tak ada bedanya dengan orang yang tak berpuasa.

Perbedaan ini ternyata menempatkan puasa sebagai ibadah yang utama, sebab orang yang berpuasa lebih mudah untuk menjalankan ibadah tersebut sepenuh hati. Mengapa demikian? Karena mengerjakan ibadah yang tak diketahui oleh orang lain hanya membuka sedikit celah di hati kita untuk riya’, ‘ujub, atau sombong.

Dalam kaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan kebaikannya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya pada orang yang melakukannya,” (HR. Bukhari).

Lawan Hawa Nafsumu Sendiri!

Mengapa riya’, ‘ujub, dan sombong tampak sangat merugikan dan karenanya harus kita hindari?

Riya’ artinya hasrat untuk dilihat oleh orang lain dengan perasaan kagum. Ini adalah salah satu gelagat yang menunjukkan kotornya hati sekaligus rendahnya diri kita di sisi Allah SWT. Meski manusiawi dan biasa tebersit di hati, ternyata sikap hati ini sangat merugikan. Amal yang kita kerjakan sehari-semalam bisa rusak karenanya.

Mengapa bisa demikian? Karena riya’ akan mengacaukan niat kita yang sebelumnya hanya karena Allah Ta’ala menjadi tercampur dengan tujuan-tujuan yang lain, yang di antaranya adalah hasrat untuk dikagumi oleh orang lain tadi. Sehingga secara tak langsung, diam-diam, dan tanpa kita sadari, kita menyekutukan (asy syirk) Allah dalam ibadah kita.

‘Ujub adalah istilah untuk menyebut rasa bangga terhadap diri sendiri. Sikap ini lebih lembut dan tak terasa dibandingkan riya’. Orang yang melakukan amal baik boleh jadi niatnya tak goyah, yakni karena Allah semata, bukan mencari perhatian orang lain. Tapi boleh jadi ia mengeram rasa bangga di dalam hatinya terhadap dirinya sendiri.

Karena rajin ke masjid, ia merasa sudah bertakwa pada Allah. Karena bacaan Al-Quran-nya lancar dan merdu, ia merasa lebih baik ketimbang teman-temannya. Tentu saja pergi ke masjid dan lancar membaca Al-Quran adalah sesuatu yang positif, hanya saja menyertai amal baik itu dengan ‘ujub akan membuat pahala kita menguap sia-sia.

Yang terakhir adalah sombong. Berbeda dengan riya’ dan ‘ujub yang biasanya hanya berupa gelagat hati, sombong seringkali mewujud dalam kata-kata dan perbuatan. Sombong adalah sikap yang rendah dan sangat dibenci dalam Islam, sebab pelakunya merasa dirinya yang paling tahu, paling suci, dan singkat kata paling baik.

Padahal, Allah SWT tak menjadikan seseorang mengerti, bertakwa, dan berbagai karakter positif lainnya kecuali Dia juga menciptakan manusia-manusia lain yang lebih baik darinya. “Wa fawqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim, dan di atas setiap orang yang luas ilmunya ada orang lain yang lebih luas lagi ilmunya,” firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 76.

Hawa Nafsu: Biang Keladi Munculnya Penyakit Hati

Ketiga ‘penyakit hati’ itu, yang sayangnya tak banyak disadari oleh manusia, adalah akar dari segala kerusakan. Keutamaan orang alim menjadi sirna gara-gara ketiganya. Pahala dan keberkahan seorang abid musnah tanpa sisa karena ketiganya. Pertanyaan kita, siapa yang paling bertanggung jawab bagi munculnya tiga ‘penyakit’ itu?

Hawa nafsu.

Hawa nafsu, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, adalah musuh terbesar kita. Lebih tepatnya, ‘musuh dalam selimut’. Boleh saja kita mengira musuh kita adalah orang-orang kafir dan mereka yang zalim, tapi kekuatan terbesar kita seharusnya lebih banyak dicurahkan untuk melawan yang namanya hawa nafsu ini.

“Kita sudah selesai dengan perang kecil ini,” ujar Rasulullah setelah memenangkan Perang Badar, “dan akan segera menyongsong perang yang lebih besar.” Para sahabat terkejut, bagaimana bisa perang sehebat itu disebut perang kecil? Bagaimana pula rupa perang besar yang dimaksud oleh Rasulullah? Apa mungkin umat Islam memenangkannya?

“Perang apa maksudmu, ya Rasul?” tanya salah seorang sahabat.
“Perang terhadap hawa nafsu,” jawab beliau, singkat.

Hawa nafsu inilah yang kerap menipu kita, dengan menanamkan riya’, ‘ujub, dan sombong di dalam hati kita. Ia membuat kesan seolah amal baik yang kita kerjakan adalah wujud ketaatan pada perintah Allah dan Rasulullah, padahal sebenarnya itu tak lebih ekspresi dari hasrat tersamar kita, yakni keinginan untuk dikagumi dan dipuja-puji oleh sesama.

“Inna akhwafa maa akhaafu ‘alaa ummatii ar riyaa’u wasy syahwah al khafiyyah, sesungguhnya hal yang paling kutakutkan dilakukan oleh umatku adalah riya’ dan kepentingan yang tersamar.” Begitu kata Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majjah.

Alhasil, hidup kita sejatinya adalah pergumulan yang tak pernah selesai, melawan hawa nafsu, atau ego kita sendiri. Kapan pun kita merasa aman darinya, saat itulah sebenarnya kita sedang berada dalam cengkeramannya. Nah, di bulan Ramadan ini, mari kita mengangkat senjata dan maju ke medan perang besar sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Semoga di bulan Syawal nanti, di hari kita mengumandangkan takbir Idul Fitri, kita benar-benar menjadi pribadi yang suci. Sebab seperti sering kita dengar, Idul Fitri bukan untuk orang-orang yang hanya bisa membanggakan pakaian mewah tapi untuk mereka yang pribadinya semakin baik dan ketaatannya bertambah.

 

*Gambar diperoleh dari https://justbetweenus.org

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita akan kembali berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan. Bulan ketika Allah melimpahkan kasih sayang (rahmah) dan ampunan (maghfirah)-Nya pada kita. Sebagai muslim yang penuh rasa cinta pada Islam, kita tak bisa menutupi rasa bahagia dengan datangnya bulan suci ini, sebab ini menunjukkan dua hal.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasullah

Pertama, doa kita tahun lalu agar Allah memberi umur yang panjang dan mempertemukan kembali dengan bulan mulia ini dikabulkan. Ini tentu patut kita syukuri. Di tengah usaha kita untuk memperbaiki masa lalu dan menambah bekal hidup di akhirat, Allah memperpanjang umur kita: sebuah kesempatan emas untuk melanjutkan usaha kita itu.

Kedua, kita mendapat kesempatan lagi untuk melakukan kebaikan yang pada bulan puasa tahun lalu belum kita kerjakan. Apa yang sudah kita kerjakan pada tahun sebelumnya akan kita lanjutkan pada bulan suci tahun ini, dan akan kita tambah dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Dengan begitu, semoga Allah semakin mengasihi kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Kalau sebelumnya hanya mampu membaca Al-Quran satu rubu’ (seperempat juz) sehari, semoga pada Ramadan tahun ini bisa membaca satu juz penuh.

Kalau kemarin baru bisa bersedekah seadanya untuk para tetangga yang membutuhkan, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa menyedekahkan sesuatu yang lebih bernilai.

Kalau tahun lalu salat Tarawih kita bolong-bolong, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa memenej waktu untuk lebih istiqamah.

Ramadan dan Perlawanan Hawa Nafsu Kita

Biasanya, menjelang datangnya bulan Ramadan kita punya banyak rencana, dan semuanya sangat positif. Misalnya, untuk salat Tarawih kita memilih masjid-masjid megah yang bacaan imamnya merdu, untuk pengajian kita mendatangi majelis-majelis yang dihadiri oleh ustadz yang sedang tenar, dan untuk tilawah kita menargetkan satu bahkan dua juz Al-Quran.

Insya Allah, apa yang sudah kita niatkan itu Allah catat sebagai tambahan kebaikan untuk bekal kita di akhirat nanti, dan insya Allah semua itu semakin baik jika betul-betul kita kerjakan dan sebisa mungkin kita istiqamahkan. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, kuatnya keinginan dan tekad untuk beramal saleh di bulan Ramadan seringkali tak lebih kuat dibandingkan dengan hawa nafsu kita.

Karena hilang kendali, kita menyantap terlalu banyak makanan ketika berbuka, sehingga perut kekenyangan saat mau ikut salat Tarawih. Ujung-ujungnya kita absen ke masjid.

Karena kurang bisa mengatur jadwal tidur, kita mengantuk di tempat kerja. Jangankan membaca Al-Quran saat istirahat, mengerjakan tugas saja berantakan.

Hari demi hari berganti, sementara semangat kita yang kadung dipukul jatuh oleh hawa nafsu tak pernah bangkit lagi. Niat dan rencana yang kita susun menjelang bulan mulia itu tiba juga lamat-lamat kita lupakan. Kita lalu menghibur diri dengan program hiburan di televisi dan menyibukkan diri dengan ibadah (setidaknya begitu harapan kita) lainnya: mudik lebaran dan silaturahmi.

Ramadan: Momen untuk Semakin Mengenali Diri Sendiri

Pembaca yang baik, pada bulan Ramadan kali ini, mari kita berusaha untuk lebih mengenali diri sendiri. Mari kita jujur pada hati, apa yang kita inginkan dengan datangnya bulan suci ini, apa yang ingin kita raih di dalamnya, apa usaha kita untuk merayakannya, dan sejauh mana kita sanggup menjalankan niat atau rencana-rencana kita.

Kita boleh merencanakan ibadah ini dan itu, tentu saja itu bagus. Tapi, jika semua itu hanya hasrat setarikan nafas untuk kemudian kita lupakan begitu bulan suci betul-betul tiba, dengan atau tanpa alasan, tidakkah itu artinya kita menyia-nyiakan anugerah agung ini dan mengabaikan kesempatan untuk meraih berbagai keutamaan di dalamnya?

Jadi, mari berkomitmen lagi pada diri sendiri. Sayang, jika bulan yang penuh keberkahan ini kita lewati hanya dengan rasa lapar, dahaga, dan rencana-rencana yang tak pernah kita kerjakan. Mari kita tata terlebih dulu niat kita sebelum memasuki bulan mulia ini, mari kita atur lagi rencana-rencana kita untuk mengisinya. Tak usah muluk-muluk, tak usah mempersulit diri sendiri.

Mengikuti salat Tarawih atau mendengar pengajian di musala yang dekat dengan rumah kita, juga membaca Al-Quran meski hanya satu atau dua halaman saja, sudah baik, asal bisa kita kerjakan dengan istiqamah. Allah tak akan mempersoalkan di masjid mana kita beribadah, siapa ustadz yang kita dengar ceramahnya, dan sebanyak apa ayat suci-Nya kita baca.

Dia justru akan mempersoalkan sekuat apa kita menjaga keistiqamahan beribadah pada-Nya dan seikhlas apa kita mengerjakannya. Ingat, beramal banyak tapi tidak istiqamah dan ikhlas tak lebih baik lho dibandingkan beramal sedikit tapi istiqamah dan ikhlas. Sebab, “Allah tidak memandang rupa kalian, juga tidak harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian,” (HR. Muslim).

Ramadan adalah perayaan panjang, yang curahan pahala dan gempita keberkahan Allah turunkan pada siang dan malamnya. Tak ada siang atau malam di bulan suci ini yang tak Dia penuhi dengan kasih sayang dan ampunan-Nya. Amal baik yang kita kerjakan di dalamnya, sekecil apa pun itu, insya Allah menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh untuk kita panen kelak di akhirat.

 

*Gambar dipinjam dari: https://occupiedpalestine.wordpress.com

jum'atan adalah kewajiban setiap muslim laki-laki

Tip-tip Ini Akan Membuat Doa Anda Cepat Dikabulkan

“Berdoalah maka akan Aku kabulkan.” 

Inilah ajakan berdoa dari Sang Pencipta pada hambanya. Di dalamnya terkandung makna kewajiban dan hak hambanya untuk berdoa. Berdoa menjadi bagian penting bagi kehidupan orang-orang yang meyakini kebesaran-Nya.

Disebutkan dengan jelas di dalam surat Al-Baqarah ayat 186, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka sesungguhkan Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”

Apa sebenarnya makna doa? Berdoa adalah salah satu media komunikasi manusia kepada Tuhan. Lewat keyakinan dan sikap optimis, secara psikologis ada rasa lega setelah manusia merapalkan doa. Mungkin bisa dikatakan inilah cara curhat seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Apa yang dipanjatkan dalam sebuah doa?  Berdoa bisa apa saja, asal mengandung unsur kebaikan. Doa yang berisi suatu yang buruk tidak akan terkabul. Doa yang baik misalnya, memohon diberi kesehatan, usia panjang, keselamatan dunia dan akhirat, berkah rezeki, dimudahkan jodoh, dibebaskan dari segala masalah, dan lain-lain.

Berikut contoh doa agar terbebas dari masalah:

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku.”

Berdoa ada tata caranya. Inilah salah satu jalan apakah sebuah doa yang dipanjatkan akan terkabul atau tidak, cepat atau lambat. Tatacara ini semacam sopan santun seorang hamba kepada kunjungan-Nya, misalnya usai salat, lakukan dzikir, lantunkan shalawat, kirimkan doa kepada orangtua, guru-guru, dan kakek-nenek.

Berdoa tidak boleh tergesa-gesa. Lakukan dalam keadaan tenang dan damai. Perhatikan juga waktu-waktu khusus untuk berdoa, misalnya usai shalat fardhu, usai shalat Tahajud, di antara azan dan iqomah, dan lain sebagainya.

Berikut  beberapa tip agar doa kita segera terkabul:

1. Mencari waktu yang mustajab

Waktu yang mustajab adalah hari Arafah (9 Zulhijjah), bulan Ramadan, hari Jumat, dan waktu sahur atau sepertiga malam yang terakhir.

2. Memanfaatkan keadaan yang mustajab untuk berdoa

Saat perang, saat turun hujan, ketika sujud, waktu di antara azan dan iqamah, atau ketika menjelang berbuka puasa adalah waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa.

3. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan

Dikisahkan dari Jabir ra, saat itu Nabi Muhammad saw berada di padang Arafah, lalu beliau menghadap kiblat dan terus berdoa sampai matahari terbenam (HR. Muslim).

Namun, berdoa saja tidak cukup. Harapan kita perlu diiringi ikhtiar terus-menerus. Di sini motivasi dan semangat berdoa juga perlu dijaga. Selengkapnya ada Tuntunan Shalat, Doa, dan Zikir Sehari-hari yang bisa dijadikan referensi dan akan memandu Anda menyempurnakan wudhu, shalat, shalat jamak, Qasar, shalat Hajat, dan shalat Jenazah. Buku ini juga berisi kumpulan doa dan zikir, seperti doa dilapangkan rezeki, doa memohon kemuliaan dunia akhira, doa agar amal ibadah diterima, doa selamat dunia akhirat, dan lain sebagainya.

Pin It on Pinterest

WhatsApp chat