iman Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
662
archive,tag,tag-iman,tag-662,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Fitrah Cinta Menumbuhkan Iman Kepada Allah SWT

Fitrah manusia selalu mengarah pada kebaikan.

Karena cinta adalah bagian dari fitrah manusia maka cinta pasti mengarah pada kebaikan. Saat kita mencintai seseorang, bayangan tentangnya muncul setiap saat. Keinginan untuk bertemu memuncak. Semakin lama tak bertemu, semakin kuat rindu yang tumbuh.

Cinta membuat kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai. Menjalani hidup berdua tanpa menghiraukan masalah yang ada. Seolah di dunia ini tak ada orang lain, kecuali hanya kita dan orang yang kita cintai. Kita hidup bahagia dengannya dan berjanji menjalani masa depan bersama.

Baca juga:
Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

fitrah kebaikan

 

Mungkin saat ini kita sedang memendam cinta pada orang lain. Entah ia mengetahuinya atau tidak, kita ingin selalu bisa berjumpa. Bersamanya menceritakan segala isi hati. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang yang dinanti.

Tapi, tunggu dulu.

Sebelum berbicara jauh tentang cinta, bukankah sebaiknya kita mengenal siapa yang telah menanamkannya di hati kita?

Cinta ada karena Allah yang menumbuhkannya. Dan tidak mungkin Allah menanamkan sesuatu, kecuali ada maksud yang baik di balik semua itu.

Sebelum mencintai yang lain, Allah ingin kita mencintai-Nya terlebih dulu. Dia tak ingin kita menduakan-Nya, karena itulah Dia ingin kita menjadikan-Nya alasan di balik cinta kita pada yang lainnya.

Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, Dia akan membantu kita untuk mendekatinya. Jika tidak, Allah akan memisahkan dengan cara-Nya yang mungkin tak terduga.

Yang tahu makna cinta akan berusaha menjaganya. Jika belum waktunya, ia tak akan mengungkapkan. Sebab ia tahu, Allah tak ingin dirinya lupa dengan hakikat cinta itu sendiri.

Ia akan terus berdoa dan memohon pada-Nya, jika memang cinta itu baik baginya maka tolong jangan hilangkan. Tapi jika ternyata tidak, ia berharap Allah menghilangkannya tanpa meninggalkan luka.

Punya cinta tak perlu diumbar. Teruslah berusaha menjaga dan merawatnya. Hingga waktunya tiba, Allah yang akan melengkapinya.

Cinta ada agar kita mendekat pada-Nya, cinta ada agar kita mensyukuri karunia-Nya, dan cinta tumbuh agar kita tak semakin menjauh dari-Nya.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

idul adha dan maknanya

Idul Adha: Pengorbanan Nabi Ibrahim & Ketaatan Nabi Ismail

Idul Adha tak sebatas hari raya tapi juga peringatan tentang pengorbanan besar yang pernah dilakukan oleh seorang anak manusia.

Sebentar lagi, tepatnya pada 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Qurban. Seperti kita ketahui, Idul Adha merupakan momen hari raya Islam yang erat kaitannya dengan nilai-nilai pengorbanan.

Tentunya nilai-nilai pengorbanan ini mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tak lain merupakan titik mula sejarah hari raya Idul Adha.

Idul Adha: Pengorbanan Nabi Ibrahim

Ya, Nabi Ibrahim menjadi sosok utama dalam sejarah ini. Nabi Ibrahim—yang juga dikenal dengan sebutan Al-Khalil—adalah manusia dengan tingkat keimanan yang sangat tinggi. Begitu pun dengan Nabi Ismail. Ia adalah seorang anak yang memiliki keyakinan luar biasa.

Oleh karena itu, saat Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih anaknya sendiri, ia pun dengan ikhlas menjalankannya sebagai bentuk keimanan kepada Allah SWT. Sedangkan Nabi Ismail sendiri secara ikhlas menerima hal tersebut sebagai baktinya terhadap orangtua dan ketaatannya pada Allah SWT.

Tanpa ragu, Nabi Ibrahim mulai mengarahkan pisaunya ke leher Nabi Ismail dan Nabi Ismail pun ikhlas untuk melalui semua itu atas nama Allah SWT. Ketaatan serta keikhlasan orangtua dan anak ini pun tidak perlu diragukan lagi, sehingga Allah SWT mengganti posisi Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban yang besar.

Begitulah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam sejarah Idul Adha. Dalam hal itu, pengorbanan bukan sekadar bentuk bakti terhadap orangtua semata dan ketaatan kita terhadap Allah SWT, tetapi juga wujud rasa syukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.

“Sesungguhnya kami telah memberi kamu nikmat yang banyak, karena itu dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah,” firman Allah dalam QS. Al-Kautsar: 1-2.

Idul Adha: Apa yang Harus Kita Teladani?

Saat ini, nilai pengorbanan Nabi Ibrahim dan nilai ketaatan Nabi Ismail sudah sangat terkikis. Kita begitu mudah melupakan betapa sebagai hamba, kita adalah milik Allah Taala. Dan karenanya, pengorbanan dan ketaatan pada-Nya adalah sesuatu yang niscaya dan menjadi tolok ukur keimanan kita.

Melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sudah selayaknya kita meresapi kembali nilai pengorbanan dan ketaatan pada Allah Taala, sebab dalam shalat pun kita berikrar, bahwa hidup dan mati kita hanya untuk Allah Taala. Pengorbanan dan ketaatan yang tulus adalah pondasi untuk memastikan bahwa amal-amal kita bukan untuk siapa-siapa melainkan Allah semata.

Selamat Hari Raya Idul Adha!