pernikahan Archives - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
693
archive,tag,tag-pernikahan,tag-693,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive

Melangkah Searah: Catatan 40 Hari Tanpa Bertengkar

Menikah tak menjamin hidup kita lepas dari masalah. Bagi sebagian orang, menikah justru mengundang masalah yang tak pernah datang dalam hidup orang yang melajang. Perbedaan dengan pasangan sering menjadi penyebab. Terlebih jika kita kurang dewasa menyikapinya.

***

Ada yang berkata bahwa 40 hari pertama pernikahan adalah masa-masa yang sulit. Sebab, saat itu kita tengah berproses untuk lebih mengenal pasangan. Bukan mustahil pasangan kita ternyata pribadi yang sama sekali berbeda dari yang kita kenal sebelumnya. Atau setidaknya, tidak persis seperti yang kita kenal.

Mungkin karena alasan itu, beberapa pasangan muda mencoba untuk menahan emosi pada 40 hari pertama pernikahan mereka. Tujuannya agar masing-masing belajar menguasai hati dan menjaga perasaan pasangannya.

Anjuran sebagian orang itu tentu bukan main-main. Dan dari hal tersebut, tersirat pesan bahwa menikah harus dipersiapkan dengan matang. Seandainya masalah rumah tangga itu sederhana, tak mungkin ada anjuran seperti itu.

Aji Nur Afifah, penulis Melangkah Searah, berbagi kisah pribadinya saat mengikuti tantangan tersebut. Berikut kami sadurkan ceritanya dari buku bestseller itu.

***

“Beberapa bulan kemudian, aku mengajukan tantangan itu pada suamiku. Kupikir yang harus berjuang bukan hanya aku sendiri, melainkan harus ada kerja sama di antara kami berdua.

“Benar seperti kata orang, hari-hari awal pernikahan tidaklah mudah. Perlahan, aku mengenal Mas lebih dekat. Saat itu, perbedaan-perbedaan kecil hampir mematahkan komitmen kami.

“Mas pun lebih tahu tentangku. Aku yang notabene anak rumahan, cukup terkejut saat harus banyak melakukan hal secara mandiri. Terlebih aku merasa minder saat Mas mengetahui aku tak pandai masak.

“Tapi, alhamdulillah, Allah menganugerahiku suami yang pengertian. Mas tak pernah protes akan hal itu. Bahkan Mas sering mengantarkanku ke pasar untuk menuntunku belajar menu masakan baru.

“Kepribadian Mas yang peka terhadap sekitar membuat aku belajar. Di awal pernikahan, Mas sering mendahuluiku berbenah dan merapikan rumah. Sebagai seorang istri, aku merasa malu. Namun, secara perlahan aku bisa mencontoh kebaikan darinya.

“Tantangan 40 hari tanpa bertengkar berhasil kami lewati. Kami belajar untuk tidak mengungkit kesalahan satu sama lain. Kami tak pernah merahasiakan masalah. Semuanya harus diceritakan.

“Seusai menikah, tak perlu ada yang kita tutupi. Justru saat ada luka yang terpendam, itu akan menambah masalah yang lebih besar.

“Ajak pasangan untuk bercerita. Luangkan waktu sejenak untuk berdua. Menikah bukan lagi soal aku dan kamu, karena takdir telah mengubahnya menjadi kita.”

***

Rumah tangga ibarat samudera yang luas. Kita membutuhkan bahtera yang kuat untuk mengarunginya, bukan sampan kecil yang rapuh, agar ombak yang datang atau badai yang menghadang tak sampai membuatnya karam.

Pasangan yang baru menjalani kehidupan rumah tangga kadang kurang sabar dalam mengelola perbedaan; ombak atau badai yang sebenarnya wajar bagi siapa pun yang berumah tangga. Padahal, boleh jadi itu baru perbedaan kecil di antara mereka. Sementara perbedaan besar akan datang beberapa tahun setelah mereka menjalani hidup bersama.

Jika perbedaan kecil membuat mereka bingung dan kehilangan arah, bagaimana dengan perbedaan besar yang kelak datang?

Nah, Teman-teman, mumpung masih ada kesempatan, mari terus belajar dan persiapkan segalanya dengan lebih baik. Tidak ada dua orang yang hidup bersama yang identik kepribadian, kebiasaan, kecenderungan, cara berpikir, bahkan hobinya. Artinya, perbedaan adalah sesuatu yang biasa.

Tak perlu kita mengkambinghitamkannya sebagai penyebab rusaknya bahtera kita.

***

Melangkah Searah, karya Aji Nur Afifah

Menapaki kehidupan rumah tangga ibarat menempuh sebuah perjalanan. Kadang kita menemui jalan yang lurus, berliku, menanjak, atau menurun. Kadang bergelombang dan terjal, tapi kadang sangat mulus dan mudah dilalui.

Selama beberapa tahun Aji Nur Afifah menuliskan pengalaman rumah tangganya di www.ajinurafifah.tumblr.com dan awal tahun ini, alhamdulillah, ia telah merampungkan naskahnya yang berjudul Melangkah Searah dan diterbitkan oleh Qultummedia.Meski baru sebulan terbit, buku ini sudah memasuki cetakan kedua.

Buku ini bisa Pembaca dapatkan secara online di republikfiksi.comGramedia.com dan toko buku online yang lain, atau secara offline di GramediaGunung AgungTM Bookstore, dan toko buku offline yang lainnya. 

hati kita perlu dijaga

Hati Kita Bisa Ragu Tiba-tiba, Karenanya Jagalah Senantiasa

Hati kita memang sifatnya berubah-ubah.

Mudah terbolak-balik sesuai dengan situasi yang kita hadapi. Karena itu, keyakinan yang letaknya juga di dalam hati kita tentu ikut pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup. Salah satunya saat menentukan jodoh dan melakukan persiapan menjelang pernikahan.

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen dari pelakunya untuk istiqamah menjalaninya. Hanya saja, jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen diri sendiri, maka berbeda dengan pernikahan. Pernikahan adalah satu-satunya ibadah yang membutuhkan komitmen dari diri kita dan pasangan.

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa semakin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, bisa juga muncul dari diri kita sendiri. Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya.

Ragu karena perbedaan cara berpikir, ragu karena latar belakang keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Hati Kita Harus Selalu Dijaga

Jika tak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada hari-hari kita melakukan persiapan hari bahagia. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, kita bisa membaca beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia ini.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan.

  1. Memahami bahwa tak ada manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan dimaksudkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang tak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan kita tak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang penggenggam hati kita.
  5. Saat keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.
Hati Kita Rawan Terpengaruh

Ada saudara jauh yang mengendarai kendaraan baru, hati kita bergumam, “Kapan memiliki kendaraan seperti itu?” Ada tetangga membeli furnitur mewah, hati kita bertanya, “Kenapa aku bisanya hanya mendapatkan furnitur seperti ini?” Dan tatkala seorang teman menggandeng pasangannya yang lebih tampan atau cantik di sebuah pesta, hati kita kembali berbisik, “Calon kita kok jauh banget, ya?”

Dear Pembaca, kiat-kiat di atas adalah satu dari sekian banyak kiat tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari bersama pasangan kita. Buku Jungkir Balik Nikah Muda ini bukan hanya menjelaskan apa saja yang perlu kita persiapkan dalam menyambut hari bahagia tapi juga realita kehidupan rumah tangga pasangan muda.

Membaca buku ini membuat kita tak hanya membayangkan indahnya menikah muda tapi juga mempersiapkan mental dalam mengelola permasalahan yang akan kita hadapi.

 

Sumber foto: studiosomething.com

WhatsApp chat