agung, Author at Qultum Media - Laman 6 dari 6
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
7
archive,paged,author,author-agung,author-7,paged-6,author-paged-6,wp-theme-stockholm,wp-child-theme-stockholm-child,theme-stockholm,woocommerce-no-js,metaslider-plugin,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-7.4,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-30952
hawa nafsu dan berbagai penyakit hati yang ditimbulkannya

Hawa Nafsu dan Penyakit Hati yang Ditimbulkannya

Puasa adalah ibadah yang sedikit berbeda dibandingkan ibadah-ibadah yang lainnya. Kalau orang yang sedang mengerjakan salat, zakat, haji, atau ibadah lain bisa mudah dikenali maka tidak demikian dengan mereka yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa hampir-hampir tak ada bedanya dengan orang yang tak berpuasa.

Perbedaan ini ternyata menempatkan puasa sebagai ibadah yang utama, sebab orang yang berpuasa lebih mudah untuk menjalankan ibadah tersebut sepenuh hati. Mengapa demikian? Karena mengerjakan ibadah yang tak diketahui oleh orang lain hanya membuka sedikit celah di hati kita untuk riya’, ‘ujub, atau sombong.

Dalam kaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan kebaikannya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya pada orang yang melakukannya,” (HR. Bukhari).

Lawan Hawa Nafsumu Sendiri!

Mengapa riya’, ‘ujub, dan sombong tampak sangat merugikan dan karenanya harus kita hindari?



Riya’ artinya hasrat untuk dilihat oleh orang lain dengan perasaan kagum. Ini adalah salah satu gelagat yang menunjukkan kotornya hati sekaligus rendahnya diri kita di sisi Allah SWT. Meski manusiawi dan biasa tebersit di hati, ternyata sikap hati ini sangat merugikan. Amal yang kita kerjakan sehari-semalam bisa rusak karenanya.

Mengapa bisa demikian? Karena riya’ akan mengacaukan niat kita yang sebelumnya hanya karena Allah Ta’ala menjadi tercampur dengan tujuan-tujuan yang lain, yang di antaranya adalah hasrat untuk dikagumi oleh orang lain tadi. Sehingga secara tak langsung, diam-diam, dan tanpa kita sadari, kita menyekutukan (asy syirk) Allah dalam ibadah kita.

‘Ujub adalah istilah untuk menyebut rasa bangga terhadap diri sendiri. Sikap ini lebih lembut dan tak terasa dibandingkan riya’. Orang yang melakukan amal baik boleh jadi niatnya tak goyah, yakni karena Allah semata, bukan mencari perhatian orang lain. Tapi boleh jadi ia mengeram rasa bangga di dalam hatinya terhadap dirinya sendiri.

Karena rajin ke masjid, ia merasa sudah bertakwa pada Allah. Karena bacaan Al-Quran-nya lancar dan merdu, ia merasa lebih baik ketimbang teman-temannya. Tentu saja pergi ke masjid dan lancar membaca Al-Quran adalah sesuatu yang positif, hanya saja menyertai amal baik itu dengan ‘ujub akan membuat pahala kita menguap sia-sia.

Yang terakhir adalah sombong. Berbeda dengan riya’ dan ‘ujub yang biasanya hanya berupa gelagat hati, sombong seringkali mewujud dalam kata-kata dan perbuatan. Sombong adalah sikap yang rendah dan sangat dibenci dalam Islam, sebab pelakunya merasa dirinya yang paling tahu, paling suci, dan singkat kata paling baik.

Padahal, Allah SWT tak menjadikan seseorang mengerti, bertakwa, dan berbagai karakter positif lainnya kecuali Dia juga menciptakan manusia-manusia lain yang lebih baik darinya. “Wa fawqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim, dan di atas setiap orang yang luas ilmunya ada orang lain yang lebih luas lagi ilmunya,” firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 76.

Hawa Nafsu: Biang Keladi Munculnya Penyakit Hati

Ketiga ‘penyakit hati’ itu, yang sayangnya tak banyak disadari oleh manusia, adalah akar dari segala kerusakan. Keutamaan orang alim menjadi sirna gara-gara ketiganya. Pahala dan keberkahan seorang abid musnah tanpa sisa karena ketiganya. Pertanyaan kita, siapa yang paling bertanggung jawab bagi munculnya tiga ‘penyakit’ itu?

Hawa nafsu.

Hawa nafsu, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, adalah musuh terbesar kita. Lebih tepatnya, ‘musuh dalam selimut’. Boleh saja kita mengira musuh kita adalah orang-orang kafir dan mereka yang zalim, tapi kekuatan terbesar kita seharusnya lebih banyak dicurahkan untuk melawan yang namanya hawa nafsu ini.




“Kita sudah selesai dengan perang kecil ini,” ujar Rasulullah setelah memenangkan Perang Badar, “dan akan segera menyongsong perang yang lebih besar.” Para sahabat terkejut, bagaimana bisa perang sehebat itu disebut perang kecil? Bagaimana pula rupa perang besar yang dimaksud oleh Rasulullah? Apa mungkin umat Islam memenangkannya?

“Perang apa maksudmu, ya Rasul?” tanya salah seorang sahabat.
“Perang terhadap hawa nafsu,” jawab beliau, singkat.

Hawa nafsu inilah yang kerap menipu kita, dengan menanamkan riya’, ‘ujub, dan sombong di dalam hati kita. Ia membuat kesan seolah amal baik yang kita kerjakan adalah wujud ketaatan pada perintah Allah dan Rasulullah, padahal sebenarnya itu tak lebih ekspresi dari hasrat tersamar kita, yakni keinginan untuk dikagumi dan dipuja-puji oleh sesama.

“Inna akhwafa maa akhaafu ‘alaa ummatii ar riyaa’u wasy syahwah al khafiyyah, sesungguhnya hal yang paling kutakutkan dilakukan oleh umatku adalah riya’ dan kepentingan yang tersamar.” Begitu kata Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majjah.

Alhasil, hidup kita sejatinya adalah pergumulan yang tak pernah selesai, melawan hawa nafsu, atau ego kita sendiri. Kapan pun kita merasa aman darinya, saat itulah sebenarnya kita sedang berada dalam cengkeramannya. Nah, di bulan Ramadan ini, mari kita mengangkat senjata dan maju ke medan perang besar sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Semoga di bulan Syawal nanti, di hari kita mengumandangkan takbir Idul Fitri, kita benar-benar menjadi pribadi yang suci. Sebab seperti sering kita dengar, Idul Fitri bukan untuk orang-orang yang hanya bisa membanggakan pakaian mewah tapi untuk mereka yang pribadinya semakin baik dan ketaatannya bertambah.

 

*Gambar diperoleh dari https://justbetweenus.org

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kita akan kembali berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan. Bulan ketika Allah melimpahkan kasih sayang (rahmah) dan ampunan (maghfirah)-Nya pada kita. Sebagai muslim yang penuh rasa cinta pada Islam, kita tak bisa menutupi rasa bahagia dengan datangnya bulan suci ini, sebab ini menunjukkan dua hal.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasullah

Pertama, doa kita tahun lalu agar Allah memberi umur yang panjang dan mempertemukan kembali dengan bulan mulia ini dikabulkan. Ini tentu patut kita syukuri. Di tengah usaha kita untuk memperbaiki masa lalu dan menambah bekal hidup di akhirat, Allah memperpanjang umur kita: sebuah kesempatan emas untuk melanjutkan usaha kita itu.

Kedua, kita mendapat kesempatan lagi untuk melakukan kebaikan yang pada bulan puasa tahun lalu belum kita kerjakan. Apa yang sudah kita kerjakan pada tahun sebelumnya akan kita lanjutkan pada bulan suci tahun ini, dan akan kita tambah dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Dengan begitu, semoga Allah semakin mengasihi kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Kalau sebelumnya hanya mampu membaca Al-Quran satu rubu’ (seperempat juz) sehari, semoga pada Ramadan tahun ini bisa membaca satu juz penuh.

Kalau kemarin baru bisa bersedekah seadanya untuk para tetangga yang membutuhkan, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa menyedekahkan sesuatu yang lebih bernilai.

Kalau tahun lalu salat Tarawih kita bolong-bolong, semoga pada Ramadan tahun ini kita bisa memenej waktu untuk lebih istiqamah.

Ramadan dan Perlawanan Hawa Nafsu Kita

Biasanya, menjelang datangnya bulan Ramadan kita punya banyak rencana, dan semuanya sangat positif. Misalnya, untuk salat Tarawih kita memilih masjid-masjid megah yang bacaan imamnya merdu, untuk pengajian kita mendatangi majelis-majelis yang dihadiri oleh ustadz yang sedang tenar, dan untuk tilawah kita menargetkan satu bahkan dua juz Al-Quran.

Insya Allah, apa yang sudah kita niatkan itu Allah catat sebagai tambahan kebaikan untuk bekal kita di akhirat nanti, dan insya Allah semua itu semakin baik jika betul-betul kita kerjakan dan sebisa mungkin kita istiqamahkan. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, kuatnya keinginan dan tekad untuk beramal saleh di bulan Ramadan seringkali tak lebih kuat dibandingkan dengan hawa nafsu kita.

Karena hilang kendali, kita menyantap terlalu banyak makanan ketika berbuka, sehingga perut kekenyangan saat mau ikut salat Tarawih. Ujung-ujungnya kita absen ke masjid.

Karena kurang bisa mengatur jadwal tidur, kita mengantuk di tempat kerja. Jangankan membaca Al-Quran saat istirahat, mengerjakan tugas saja berantakan.

Hari demi hari berganti, sementara semangat kita yang kadung dipukul jatuh oleh hawa nafsu tak pernah bangkit lagi. Niat dan rencana yang kita susun menjelang bulan mulia itu tiba juga lamat-lamat kita lupakan. Kita lalu menghibur diri dengan program hiburan di televisi dan menyibukkan diri dengan ibadah (setidaknya begitu harapan kita) lainnya: mudik lebaran dan silaturahmi.

Ramadan: Momen untuk Semakin Mengenali Diri Sendiri

Pembaca yang baik, pada bulan Ramadan kali ini, mari kita berusaha untuk lebih mengenali diri sendiri. Mari kita jujur pada hati, apa yang kita inginkan dengan datangnya bulan suci ini, apa yang ingin kita raih di dalamnya, apa usaha kita untuk merayakannya, dan sejauh mana kita sanggup menjalankan niat atau rencana-rencana kita.

Kita boleh merencanakan ibadah ini dan itu, tentu saja itu bagus. Tapi, jika semua itu hanya hasrat setarikan nafas untuk kemudian kita lupakan begitu bulan suci betul-betul tiba, dengan atau tanpa alasan, tidakkah itu artinya kita menyia-nyiakan anugerah agung ini dan mengabaikan kesempatan untuk meraih berbagai keutamaan di dalamnya?

Jadi, mari berkomitmen lagi pada diri sendiri. Sayang, jika bulan yang penuh keberkahan ini kita lewati hanya dengan rasa lapar, dahaga, dan rencana-rencana yang tak pernah kita kerjakan. Mari kita tata terlebih dulu niat kita sebelum memasuki bulan mulia ini, mari kita atur lagi rencana-rencana kita untuk mengisinya. Tak usah muluk-muluk, tak usah mempersulit diri sendiri.

Mengikuti salat Tarawih atau mendengar pengajian di musala yang dekat dengan rumah kita, juga membaca Al-Quran meski hanya satu atau dua halaman saja, sudah baik, asal bisa kita kerjakan dengan istiqamah. Allah tak akan mempersoalkan di masjid mana kita beribadah, siapa ustadz yang kita dengar ceramahnya, dan sebanyak apa ayat suci-Nya kita baca.

Dia justru akan mempersoalkan sekuat apa kita menjaga keistiqamahan beribadah pada-Nya dan seikhlas apa kita mengerjakannya. Ingat, beramal banyak tapi tidak istiqamah dan ikhlas tak lebih baik lho dibandingkan beramal sedikit tapi istiqamah dan ikhlas. Sebab, “Allah tidak memandang rupa kalian, juga tidak harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian,” (HR. Muslim).

Ramadan adalah perayaan panjang, yang curahan pahala dan gempita keberkahan Allah turunkan pada siang dan malamnya. Tak ada siang atau malam di bulan suci ini yang tak Dia penuhi dengan kasih sayang dan ampunan-Nya. Amal baik yang kita kerjakan di dalamnya, sekecil apa pun itu, insya Allah menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh untuk kita panen kelak di akhirat.

 

*Gambar dipinjam dari: https://occupiedpalestine.wordpress.com

arti cinta dalam hidup

Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Arti cinta tak selalu dimengerti oleh pemiliknya.

Cinta adalah sesuatu yang tak ternilai yang kita miliki. Itu sebabnya, kita mesti merawatnya dengan sepenuh hati. Itu sebabnya pula, kita tak mungkin memercayakannya pada sembarang orang.

Orang yang mau memberikan cintanya pada orang yang tak ia kenal, atau ia kenal tapi sebagai orang yang sebenarnya tak pantas mendapatkannya, mungkin tak menyadari betapa berharga arti cinta yang ia miliki itu.

Begitu pula orang yang mengharapkan cinta orang lain, lalu menukar apa yang ia miliki dengan cinta tersebut. Ia tak tahu betapa barang yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan cinta yang ia idamkan itu.

Arti Cinta Tak Bisa Dijelaskan dengan Kata-kata

Kalau kita keliru memercayakan cinta pada seseorang, kita akan menyesal pada akhirnya. Begitu pula jika kita salah sangka dan mengira cinta seseorang bisa ditukar dengan harta benda yang kita miliki.

Orang yang mau menyerahkan cintanya pada orang yang salah, dan orang yang mendapatkan cinta kekasihnya dengan menukar harta benda dengannya, sejatinya sama-sama tak mengerti arti cinta. Karena tak paham betapa bernilai cinta yang ia miliki atau yang ia dapatkan, tak mengherankan jika suatu saat cinta tersebut bisa dengan mudah mereka campakkan.

Siapa pun bisa bosan, bukan?

Arti Cinta: Harus Kita Pahami

Ini mirip orang yang mengidamkan sebuah kamera dengan berbagai fiturnya yang canggih, tapi saat berhasil memilikinya dan kemudian bosan dengannya, ia meletakkannya di tempat yang tak semestinya.

Kenapa ia bisa ceroboh seperti itu? Mungkin ia tak bisa mengoperasikan kameranya itu, sebab skill-nya masih kurang. Mungkin uang yang ia gunakan untuk membelinya ia dapat dengan meminta orangtuanya, ia tak tahu sulitnya mencari uang. Mungkin juga ia bukan orang yang pandai bersyukur dan mau menghargai apa-apa yang ada di sekitarnya.

Orang yang tak mengerti arti cinta yang ia miliki akan dengan mudah menyerahkan cintanya atau menerima cinta dari orang lain dengan cara yang tak semestinya. Ia juga, saatnya nanti, akan menyia-nyiakan cinta yang ia berikan pada orang lain atau cinta yang ia terima dari mereka.

Semoga kita bisa belajar tentang cinta dan bisa memperlakukannya dengan cara yang tepat.

 

Sumber foto: pixabay.com

amanah semakin langka

Amanah Adalah Karakter Manusia yang Semakin Langka

Amanah adalah satu di antara sedikit sifat mulia yang saat ini semakin langka ditemukan.

Kepercayaan orang lain tak dapat diberikan secara cuma-cuma. Kita harus menunjukkan reputasi terlebih dulu pada mereka bahwa kita bisa dipercaya, baru mereka akan memberikan kepercayaannya pada kita. Kepercayaan yang diberikan karena permintaan, apalagi muslihat, tak akan bertahan lama.

Kalau suatu toko dikenal curang karena menggunakan timbangan yang telah direkayasa, maka selamanya toko itu akan dijauhi oleh pelanggannya. Bahkan meski pemiliknya bertobat dan tak mau mengulangi kesalahannya, ia tetap akan menemui kesulitan menghapus citranya sebagai toko yang curang.

Amanah: Belajar dari Nabi Muhammad

Bahkan sebelum diangkat menjadi seorang rasul, Nabi Muhammad saw telah mendapat kepercayaan yang besar dari masyarakat Mekah. Itu beliau dapatkan karena reputasinya sebagai pemuda yang jujur; kata-katanya bisa dipegang, perbuatannya terjaga dari maksiat dan hal yang sia-sia.

Kepercayaan masyarakat terhadap beliau juga tumbuh karena kemampuannya yang dalam banyak hal bisa diandalkan, seperti dalam bisnis, diplomasi, dan perang. Ditambah lagi, beliau lahir dari keluarga yang terhormat, cucu penjaga Ka’bah yang disegani di seantero Arab: Abdul Muthallib.

Berkat reputasinya sebagai Al-Amin (Yang Terpercaya) pula, Khadijah, seorang bangsawan sekaligus saudagar Mekah, tak merasa khawatir saat kendali bisnisnya dipegang oleh Muhammad muda. Dan belakangan, karena alasan yang sama, ia bersedia menikah dengannya, meski usia keduanya terpaut jauh.

Siapa Pun Wajib Menjaga Amanah

Meraih kepercayaan orang lain tidak mudah. “Butuh satu tahun untuk membangun kepercayaan, tapi cukup satu menit saja untuk meruntuhkannya,” begitu kata pepatah. Kepercayaan memang seperti tunas kayu yang harus dijaga dan dirawat agar tumbuh kuat, selain waktu yang tak sebentar.

Itu sebabnya, jangan bermain-main dengan kepercayaan yang orang lain titipkan di pundak kita. Sekali dipercaya, selamanya kita harus menjaga amanah itu. Dan sekali saja meruntuhkannya, selamanya kita tak akan bisa mendapatkan kembali amanah itu. No second time for trust.

Mulai saat ini, mari kita menjaga kata dan sikap pada orang lain. Mari tumbuhkan kepercayaan mereka pada kita. Sebab bagaimanapun, kita tak pernah bisa hidup sendiri di dunia ini, dan celakanya, kita tak bisa selalu baik-baik saja. Suatu saat, mau atau tidak, kita pasti membutuhkan uluran tangan mereka.

Jika orang lain sudah percaya pada kita, mereka pasti sudi membantu mengeluarkan kita dari kesulitan. Jika tidak? Di situlah masalahnya. Apakah kita akan meminta tolong pada setan, sebab orang munafik (yaitu mereka yang ketika dipercaya lantas berkhianat) adalah kawan mereka?

Na’udzu billaahi min dzaalik.

 

Sumber foto: thetravellady.wordpress.com

rezeki kita harus dijemput

Rezeki Kita Tak Lancar? Mari Amalkan 7 Kiat Mudah Ini

Rezeki kita merupakan salah satu dari beberapa rahasia Allah SWT yang diberikan pada makhluknya.

Seperti jodoh dan kematian, rezeki kita telah diatur dan ditentukan oleh-Nya. Allah Mahakuasa atas apa yang ada di dunia, bumi dan langit beserta isinya, udara, air, tumbuhan, hewan, manusia, dan sebagainya.

Baca juga:
Amalan-amalan untuk Membuka Pintu Rezeki
Doa-doa Ini Akan Membuat Kita Dikejar-kejar Rezeki

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Ar-Rum [30]: 40)

Allah menciptakan semua itu semata untuk kemanfaatan bagi makhluk-makhluk-Nya. Tumbuhan untuk dikonsumsi manusia dan hewan, air dan matahari sebagai sumber kehidupan tumbuhan, langit dan bumi sebagai “rumah dan atap” tempat berlindung para makhluk-Nya.

Masya Allah, betapa besar kuasa dan kasih sayang-Nya untuk kita, para ciptaan-Nya di dunia. Rezeki kita dalam Islam hakikatnya adalah memahami bahwa segala yang Allah ciptakan di dunia adalah bagian dari kemudahan yang Dia berikan agar kita bisa hidup dan mengambil manfaat dari alam semesta,

Meskipun sudah ditetapkan dan diatur sedemikian baiknya oleh Allah, bukan berarti kita tidak perlu berikhtiar dalam memenuhi kebutuhan kita. Fasilitas dan kemudahan yang Allah ciptakan berupa alam semesta dan isinya ini hendaknya membuat kita lebih bersyukur. Bersyukur dengan semangat menjemput rezeki kita dan tidak berpangku tangan dalam menyejahterakan diri dan keluarga.

Menjadi kaya tidak dilarang dalam Islam. Apalagi jika rezeki kita itu membuat kita lebih dekat kepada Allah. Membuat kita tidak hanya semangat memperkaya diri sendiri, tapi juga berbagi dengan orang lain. Dengan begitu, rasa lelah yang kita rasakan saat bekerja berbuah pahala dan kebaikan dari Allah SWT.

Berikut ini beberapa hal yang bisa kita ikhtiarkan dalam mejemput anugerah dari-Nya:

  1. Bertakwa;
  2. Bertawakal;
  3. Bersyukur;
  4. Memperbanyak istighfar;
  5. Bersedekah;
  6. Shalat khusyu’ dengan menyempurnakan rukun, wajib, sunah, dan adab-adab shalat;
  7. Shalat Dhuha.

 

Selain berisi tentang bagaimana mengupayakan rezeki kita secara halal dan baik, buku Amalan-amalan untuk Mempercepat Datangnya Rezeki juga dilengkapi dengan amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan saat pagi, siang, dan malam hari. Buku ini juga dilangkapi dengan doa-doa untuk memperlancar pekerjaan dan terbebas dari utang juga kemiskinan.

 

Sumber foto: pixabay.com

menjaga hati

Menjaga Hati Saat Menyambut Datangnya Hari Bahagia

Menjaga hati tak selalu mudah, sebab tabiatnya memang mudah berubah-ubah. Ia membolak-balik sesuai dengan situasi dan mood yang sedang kita alami.

Keyakinan yang letaknya juga di hati tentulah pasang dan surut. Yakin dan ragu-ragu kerap melanda kita saat memutuskan hal-hal penting dalam hidup kita. Salah satunya saat menentukan jodoh dan bersiap menjelang pernikahan.

Baca juga:
Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah membutuhkan komitmen untuk istiqamah menjalaninya. Jika shalat, puasa, atau haji membutuhkan komitmen dengan diri sendiri maka berbeda dengan pernikahan.

Pernikahan juga merupakan ibadah yang membutuhkan komitmen erat dari kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga bersama.

Menjaga Hati Tatkala Keraguan Itu Muncul

Mendekati hari H, keraguan tak jarang muncul. Ujian pun terasa makin berat. Ujian itu bisa datang karena pihak ketiga, atau bisa juga munculnya dari diri kita sendiri.

Awalnya, kita yakin dengan profil calon pasangan kita, tapi mendekati hari H justru keraguan muncul atas sosoknya. Ragu karena perbedaan kesukaan, ragu karena keluarganya, ragu karena ada yang orang yang menurut kita lebih baik, dan lain-lain.

Jika tidak segera diatasi, keraguan itu bisa menjadi bumerang pada persiapan hari bahagia kita. Dalam buku Jungkir Balik Nikah Muda, disebutkan beberapa tips menghadapi keraguan dalam persiapan hari bahagia.

Berikut kiat-kiat yang bisa kita praktikkan:

  1. Memahami bahwa taka da manusia yang sempurna. Karena itu, sepatutnya pernikahan diarahkan untuk saling melengkapi kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing.
  2. Hati-hati dengan bisikan setan yang nggak berhenti menggoda dan membisiki kita agar muncul keraguan dan tidak jadi menikah.
  3. Komunikasikan dengan pasangan perihal segala perbedaan yang dimiliki. Bukan untuk menyamakan semuanya, tapi untuk saling memahami perbedaan tersebut.
  4. Perbanyak shalat Istikharah dan jangan bosan berdoa untuk meminta kemantapan hati kepada Allah SWT, Sang Penggenggam hati kita.
  5. Saat fase keraguan itu datang, ingatlah kembali apa tujuan kita berjuang bersama.
  6. Pahami hal ini: jika kita tergoda untuk mendapatkan yang lebih baik dan terus mencari seseorang yang sempurna, selamanya kita akan menjadi jomblowan dan jomblowati.

***

Topik di atas adalah satu dari sekian banyak topik tentang mempersiapkan pernikahan dan menjalani hari-hari awal bersama pasangan suami/istri kita. Buku ini bukan hanya menjelaskan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong hari bahagia, tapi juga realita menikah muda.

Membaca buku ini membuat kita tidak hanya berpikir pada indah-indahnya menikah muda, tapi sikap dan mental yang harus kita siapkan untuk mengelola permasalahan yang akan dihadapi.