cinta Archives - Page 3 of 3 - Qultum Media
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
527
archive,paged,tag,tag-cinta,tag-527,paged-3,tag-paged-3,woocommerce-no-js,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-4.11.1,vc_responsive
bahagia muncul dari diri kita, bukan dari luar diri kita

Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Seperti Dilakukan Oleh Para Nabi

Bahagia itu bisa dirancang dan diciptakan. Karenanya, bukan mustahil ia hadir tanpa jeda. Bahkan cara mewujudkannya pun sederhana.

Jika selama ini sudut pandang kita dalam memaknainya mengacu pada hal-hal yang sifatnya duniawi atau materiil, ubahlah segera. Percaya atau tidak, kebahagiaan seperti itu semu. Sebab, ia tak melulu ada kaitannya dengan kepuasan duniawi, materiil, apalagi sebatas finansial.

Baca juga:
Hujan Bahagia
Menikah Muda dan Hal-hal Tak Terduga di Dalamnya

Kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita dapatkan dengan meraih kepuasan batiniah, seperti memperbanyak ibadah, menghindari suuzhan, atau menahan diri saat makan agar tidak terlalu kenyang. Cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkannya adalah dengan membagikan ilmu yang bermanfaat dan tidak menyebarkan berita dusta (hoax) atau fitnah di media sosial.

Ucapan syukur sudah bisa menunjukkannya. Sebab itu berarti pengakuan bahwa segala sesuatu yang kita dapat adalah anugerah dari Allah; bukan semata-mata karena usaha kita.

Bisa juga kita memaknainya dengan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk mengabdi kepada-Nya. Tidak ada penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan perbuatan kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Tidak kita gunakan untuk melanggar aturan-Nya. Semua digunakan untuk beribadah.

Bisa juga kita maknai bahwa dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit, kita tetap ikhlas bersedekah. Sedikit yang kita miliki, kita sisihkan untuk kita sedekahkan. Sebagaimana sedekahnya para sahabat Nabi Muhammad, seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar bin Khaththab, dan Ustman bin Affan.

Bahagia Ala Nabi Muhammad saw

Meski dijamin masuk ke surga dan terbebas dari dosa, Nabi Muhammad tetap menghabiskan sepertiga malam yang sunyi dan dingin dengan beribadah dan bermunajat kepada-Nya dengan takbir, ruku’, dan sujud, hingga air mata pun membasahi pipi dan kedua kakinya bengkak. Inilah cara Nabi Muhammad saw bahagia dengan bersyukur (‘abdan syakuuraa).

Bahagia Ala Nabi Yusuf as

Sementara itu, Kebahagiaan bagi Nabi Yusuf as adalah menjaga nafsunya dari ajakan bermaksiat seorang istri pejabat. Ia memilih dikurung dalam penjara daripada menuruti bujuk rayunya.

Bahagia Ala Nabi Ayub as

Kebahagiaan itu seperti Nabi Ayub yang kian dekat kepada-Nya dan tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Berkat kesaabarannya, penyakit Nabi Ayub diangkat dan bisa kembali hidup normal dan bahagia.

***

Uraian di atas diambil dari buku “Berupaya Tanpa Jeda, Beryukur Tanpa Kendur.” Buku yang ditulis oleh Syaiful Anshor ini memberikan banyak inspirasi dan ajakan agar kita selalu menyukuri segala keadaan yang diberikan Sang Pencipta. Sebab, saat kita bersyukur maka akan ada janji bahwa nikmat-Nya itu akan ditambah.

 

foto: unsplash.com

nikah mudah itu butuh persiapan

Nikah Ajalah, Hari Gini Pacaran Udah Nggak Zaman

Nikah itu saatnya kita bangun dari “tidur”, sementara pacaran adalah ketika kita masih “terlelap” dan “bermimpi”…

Baca juga:
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)
Sabar Itu Cinta yang Menghadirkan Ketenangan
Cinta Lebih Membutuhkan Keikhlasan Dibanding Pengorbanan

Menentukan pasangan hidup dan mengambil keputusan untuk menikah di usia yang belia tentu butuh pertimbangan yang matang. Kita perlu memikirkan bagaimana persiapannya, bagaimana prosesnya, dan bagaimana meraih cita-cita bersama. Penulis buku Jatuh Cinta Tak Pernah Salah yang juga pengelola akun Instagram @negeriakhirat, Arum Listyowati Suprobo atau yang akrab disapa Arum, berbagi pengalamannya menikah di usia muda. Mari simak wawancara kami dengannya.

Mbak Arum, saya lihat tulisan-tulisan di akun Instagramnya sering bicara tentang nikah di usia muda. Mengapa?

Sederhana sih, Mas, sebenarnya. Saya ingin membuka pikiran teman-teman bahwa nikah muda itu tidak berarti mencari masalah, asal niat kita lillaahi Ta’aalaa dan dijalani dengan berpegang pada syariat-Nya. Bukan ingin ngomporin sih, tapi asumsi bahwa pacaran itu bisa menjamin kehidupan rumah tangga yang baik sudah seharusnya ditinjau ulang.

Sebelum berhijrah, saya dan suami sama-sama pernah pacaran dengan orang lain, tapi akhirnya jodoh kami bukan mereka. Saya dan suami malah bertemu secara tidak terduga. Pengalaman pribadi saya itulah salah satunya yang ingin saya bagi pada teman-teman.

Kalau boleh tahu berapa usia Mbak Arum saat menikah dulu?

Saya menikah usia 20 tahun, suami saya 23 tahun. Jadi memang sama-sama baru menginjak usia 20-an tahun.

Ada tidak kendala sebelum memutuskan untuk nikah muda, misalnya dari keluarga, teman, atau lingkungan?

Kendala utama jelas dari orangtua, karena waktu itu saya masih kuliah. Kedua dari diri saya sendiri. Waktu itu saya sulit sekali membayangkan di usia yang masih sangat muda saya harus memikirkan rumah tangga, ketika teman-teman saya yang lain hanya memikirkan kuliah mereka. Sedangkan kendala dari teman dan lingkungan tidak terlalu saya rasakan. Ya paling teman-teman saya hanya terkejut dan tidak percaya, tapi setelah saya jelaskan alhamdulillaah mereka bisa mengerti pilihan saya.

Kalau menurut Mbak Arum sendiri, apakah saat itu Mbak Arum sudah merasa matang secara emosional?

Secara emosional saya sebenarnya belum bisa dibilang matang, tetapi alhamdulillaah suami sudah cukup dewasa, mungkin karena beliau punya pengalaman yang cukup banyak meski usianya baru duapuluhan. Di awal-awal menikah saya merasa kurang persiapan untuk menghadapi permasalahan rumah tangga. Tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan, sebab kami memang punya komitmen untuk terus belajar, lebih-lebih ada dukungan dari orangtua kami yang bisa menjadi tempat kami mencurahkan isi hati.

Sekarang kami menyadari betapa untuk menikah kita perlu mempertebal iman, membersihkan hati, dan memperbanyak ilmu. Sebab kehidupan rumah tangga tidak untuk satu atau dua hari saja tetapi selamanya.

Boleh diceritakan apa makna Jatuh Cinta Tak Pernah Salah?

Jatuh cinta bisa terjadi pada siapa saja, bisa datang tiba-tiba atau perlahan, di tempat yang kita duga atau tidak, dan di waktu yang memungkinkan atau menurut kita mustahil. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kalau kemudian ada yang menjadi persoalan, itu adalah bagaimana kita merespon hati yang sedang jatuh cinta. Orang yang berpikiran panjang akan sanggup mengendalikannya, sedang mereka yang mudah termakan dorongan nafsu akan mudah terjerumus.

Dalam satu kalimat saja, pesan apa yang ingin Mbak Arum sampaikan dalam buku Jatuh Cinta Tak Pernah Salah ini?

Mencintai dan dicintai adalah anugerah dari Allah SWT yang harus senantiasa disyukuri.

Menurut Mbak Arum apa yang menarik dari buku ini?

Semuanya. Hahaaa… Begini, Mas, buku ini kan isinya quote dan kisah-kisah. Saya sebagai penulis berharap buku ini bisa memberikan pencerahan atau minimal penyemangat, terutama saat pembaca sedang dalam situasi yang tidak menentu.

Saya pribadi senang jika dalam situasi seperti itu membaca kalimat-kalimat yang menguatkan dan menghibur, sebab kadang saat sedang mendapat masalah, kita tidak memerlukan saran dari orang lain tentang solusinya, sebab kita sendiri mungkin sudah tahu. Yang kita butuhkan adalah perhatian dan rasa pengertian. Quote itu kan hasil renungan yang seolah-olah adalah bentuk perhatian pada kita.

jodoh impian

Jodoh Impian: Adakah Doa Khusus untuk Mendekatkannya?

Jodoh impian konon salah satu dari beberapa masalah yang menjadi misteri Ilahi. Mungkin ada benarnya, tapi bukan berarti kita hanya bisa pasrah begitu saja jika ia tak segera datang.

Sudah bertahun-tahun memanjatkan doa agar diberi pasangan hidup tetapi belum juga terjawab? Nah, jangan-jangan ada yang keliru dengan cara berdoa kita. Mari belajar kembali cara berdoa yang sesuai adab menurut Islam. Ingat, Allah selalu menjawab permohonan umat-Nya.

Baca juga:
Menjemput Jodoh dengan Istikharah
Jodoh Impian Bertamu Malam Ini. Kamu Sudah Siap?

Berdoa itu bagian dari ibadah. Seperti kita ketahui, manusia di muka bumi memiliki kewajiban beribadah kepada Allah. Tengoklah bacaan-bacaan di dalam shalat, semua adalah pujian kepada Allah dan mengandung banyak permohonan pada-Nya.

Yang terpenting, semua berangkat dari iman kepada Sang Pencipta. Memang, berdoa saja tidak cukup, perlu diiringi ikhtiar. Untuk itu, jangan lelah berusaha dan berdoa.

Jodoh Impian Datang, Tak Lama Lagi!

Setidaknya ada dua hal yang wajib kita lakukan sebelum berdoa. Pertama, menjauhi makanan haram. Hati yang kotor karena berbagai maksiat atau jiwa yang tak bersih dari perkara haram akan menjadi penghalang terkabulnya doa.

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang selama 40 hari hanya memakan makanan yang halal, Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya.” Dalam hadist yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa ingin doanya dikabulkan oleh Allah maka makanan dan pekerjaannya harus halal.”

Kedua, berbaik sangka kepada Allah. Berbaik sangka atau berpikiran positif kepada Sang Pencipta wajib hukumnya. Pikiran positif adalah awal yang baik untuk memanjatkan doa. Diriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman, “Aku sebagaimana hamba-Ku menyangka diri-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”

Selain kedua hal di atas, memperhatikan kekhusyukan saat berdoa juga penting. Sebab berdoa memerlukan ketenangan, kerendahhatian, dan fokus. Saat seseorang merapalkan doa dengan tergesa-gesa dan menyepelekannya, jangan berharap doa tersebut akan sampai ke ‘langit.’

Jika Anda sedang mendambakan seorang pasangan hidup, ikuti syarat-syarat di atas. Dan berdoalah dengan khusuk. Berikut contoh doanya.

Robbi laa tadzarnii fardan wa anta khoirul waaritsiin.

(Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.)

Robbi hablii milladunka zaujatan thoyyibah akhtubuhaa wa atazawwaju bihaa wa takuunnu shoohibatan lii fid diini wad du-nyaa wal aakhiroh.

(Ya Rabb, berikanlah kepadaku istri/suami (disesuaikan dengan permintaan) yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi, dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat.)

***

Selengkapnya, pengetahuan seputar doa, seperti alasan-alasan harus berdoa, tatacara berdoa, waktu yang tepat untuk berdoa, dan apa saja doa-doa yang tidak dikabulkan bisa simak lebih lanjut di dalam buku Jangan Lelah Berdoa! karya Nasrudin Abd. Rohim. Buku terbitan Qultummedia ini berusaha memaparkan alasan-alasan dan tatacara agar pembaca tidak putus asa dalam berdoa.

cinta ayah

Ayah: Hari-hari Bersamanya dan Kenangan Cinta darinya

Ayah adalah sosok yang istimewa di mata anak-anaknya.

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam salah satu tulisannya berkata, “Kenangan masa kecil yang paling indah adalah kau tidur di bagian rumah mana pun, tapi ketika terbangun kau sudah berada di tempat tidurmu. Ya Allah, kasihanilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka telah mengasihiku sejak aku kecil.”

Saya senyum-senyum sendiri saat membaca tulisan itu. Rasa-rasanya ia mewakili sisi paling personal diri saya.

Sewaktu masih anak-anak, menonton TV sambil tiduran di karpet adalah kebiasaan saya sepulang mengaji. Menariknya, saat terbangun keadaan saya pasti sudah berbeda; masih di tempat yang sama tapi berbalut selimut atau sudah pindah ke dalam kamar. Siapa yang melakukannya? Ayah.

Sebelum keluarga kami punya TV, menonton TV di rumah kerabat hampir tiap malam saya lakukan. Dan tiap kali saya ketiduran, Ayahlah yang selalu sabar menggendong saya pulang, meski jaraknya lumayan jauh. Sebisa mungkin ia menjaga saya agar tak terbangun.

Betapa indah kala itu, masa-masa ketika pelukan Ayah secara ajaib selalu ada untuk saya. Kini, semua berubah. Saya sudah dewasa dan tubuh Ayah semakin termakan usia. Saya mengerti, kewajiban itu kini beralih ke tangan saya. Sayalah saat ini yang harus menunjukkan kasih sayang yang sama, meski tak mungkin setimpal, pada Ayah. Saya paham kenapa Ayah selalu menggeleng setiap kali saya tanya apa yang ia inginkan. Ia enggan merepotkan saya.

Lucu, bukan? Saya, anaknya, bertahun-tahun merepotkannya. Kini setelah saya dewasa dan ingin membalas kebaikannya, ia menjawab tak ingin merepotkan saya. Sering saya berbisik dalam doa-doa saya, semoga Allah memberi umur panjang dan kesehatan yang berkah padanya. Setidaknya, agar saya terus bisa berbagi kebahagiaan bersamanya. Semoga Allah mengabulkan. Amin.

 

Ditulis oleh Hendra Wirawan

***

Cerita singkat ini adalah Pemenang Pertama Kompetisi Menulis Pengalaman Pribadi yang diadakan oleh Penerbit Qultummedia dan Komunitas Teladan Rasul. Tema tulisan dalam kompetisi ini bersumber dari buku Open Your Heart, Follow Your Prophet karya Arif Rahman Lubis, yaitu tentang ayah.

 

*Gambar didownload secara gratis dari http://bossfight.co/man-baby-barn/

yang penting yakin insya Allah bisa

Yang Penting Yakin! Bincang-bincang Bareng Komunitas @tausiyahku_

Yang penting yakin! Apa pun impian kita, bagaimanapun keadaan kita sekarang, asal kita punya keyakinan bahwa suatu saat kita akan berhasil mewujudkannya, kita akan benar-benar berhasil mewujudkannya. Dengan izin Allah.

Suasana yang penuh-sesak rupanya tidak menyurutkan niat para pengunjung Islamic Book Fair 2016 untuk bertemu dengan penulis favoritnya. Hal itulah yang terjadi saat para admin @tausiyahku_ melakukan talkshow buku Yang Penting Yakin! pada hari Minggu, 6 Maret 2016 lalu.

Baca juga:
Yang Penting Yakin! (Special Edition)
Bukan Jodohnya yang Tak Kunjung Datang

Acara yang berlangsung sejak pukul 13.30 wib ini, menghadirkan dua orang admin @tausiyahku_ untuk berbagi pengalamannya selama menulis buku Yang Penting Yakin!.

Yang Penting Yakin! merupakan buku keempat @tausiyahku_ yang diterbitkan oleh Qultum Media. Beberapa dari para adminnya merupakan anak muda yang masih duduk di bangku kuliah dan memiliki banyak aktivitas kampus. Hal itu pula yang ternyata menjadi salah satu kendala saat mereka harus menyelesaikan naskahnya tepat waktu.

“Biasanya yang menjadi kendala adalah waktu, karena kami juga masih kuliah,” kata Mulkan Fauzi, salah satu admin @tausiyahku_. Lebih lanjut Mulkan mengatakan, “Tapi alhamdulillah, ada teh Nunung yang selalu mengingatkan.”

 

Yang Penting Yakin! dan Sosok Utama di Balik Akun @tausiyahku_

Bisa dibilang, @tausiyahku_ tidak pernah absen mengikuti Islamic Book Fair sejak buku perdananya terbit. Tentunya, bagi Anda yang aktif di Instagram, sudah tidak asing dengan akun tersebut, dong. Bagaimana tidak, akun ini sudah diikuti oleh lebih dari 800 ribu follower, lho. Hmmm… kira-kira siapa sih, sosok utama di balik akun @tausiyahku_?

Dialah Nunung Fathur. Kepada Qultum Media, Nunung mengaku bahwa ia adalah orang yang tidak bisa berdiam diri. Keinginannya untuk berdakwah sangat tinggi. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk membuat akun sosmed guna melancarkan proses dakwahnya tersebut.

Alhamdulillah, banyak yang suka. Banyak yang nge-like dan share quote-quote dari @tausiyahku_, bahkan ada pula yang curhat,” kata Nunung saat ditemui Qultum Media di sela-sela acara.

Lantas, bagaimana cara Nunung menjaga keutuhan akun yang ia gagas ini?

“Yang pasti, saya mencoba untuk tetap menjaga karakter akun @tausiyahku_. Akun ini sebenarnya ‘kan berisi puisi dengan bahasa yang agak-agak lebay, ya, jadi itu yang dipertahankan,” kata Nunung.

Tak terasa, keseruan talkshow Yang Penting Yakin! sudah harus berakhir. Setitik harapan Nunung ungkapkan sebelum acara ini berakhir.

“Semoga tahun depan @tausiyahku_ bisa berada di panggung utama Islamic Book Fair. Dengan begitu, dakwahnya bisa lebih luas lagi,” kata Nunung mengakhiri wawancara ini.

impian dalam hidup

Move On Mungkin Nggak Mudah, Tapi Semua Orang Bisa Melakukannya

Move On itu tanda kalau kita cukup dewasa menjalani hidup…

Cause honey your soul can never grow old
It’s ever green
Baby your smile forever in my mind and memory
And I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways

Lagu Ed Sheran ini sempat menjadi lagu favorit gue selama berminggu-minggu. Yap, lagu romantis yang udah kepikiran bakal jadi soundtrack pas resepsi pernikahan gue. Tapi, semua berubah ketika gue menerima sebuah undangan nikah dalam bentuk video.

Undangannya unik dan kreatif. Cuman yang bikin nyesek, itu adalah undangan nikah mantan gue. Salah satu yang paling spesial, karena secara fisik doi mirip banget sama Raisa. Hehe… Cuman parahnya, backsong di undangan itu lagunya Ed Sheran yang lagi gue gandrungin itu.

Seketika gue illfeel sama lagu itu.

 

Move On Bukan Melupakan

Pernah nggak mengalami hal serupa? Berusaha move on, tapi merasa usaha yang kita lakukan sia-sia. Sia-sia karena mendadak ada wangi parfum dari undangan pernikahan mantan.

Sama seperti yang lo rasakan, gue juga pernah merasakan hal serupa. Tapi, akhirnya gue sadar kesalahan gue. Selama ini gue berusaha melupakan dia. Dan, itu ternyata salah besar.

Move on bukan tentang melupakan. Sebab, apa yang pernah menyentuh hati nggak akan bisa terlupakan. Semakin kita berusaha melupakan, semakin kita akan sulit untuk melangkah.

Mencari pengganti buat move on? Hmm… Itu nggak selamanya berhasil. Kita memang nggak bisa membohongi diri sendiri dengan mencari pengganti yang mirip dengannya. Karena hati kecil kita pasti teriak kalau tahu itu bukan dia.

Sekali lagi, move on bukan tentang melupakan atau mencari pelarian. Move on itu tentang bagaimana kita menerima kenyataan. Kenyataan kalau dia memang sudah pergi.

 

Hargai Keputusannya

Hargai keputusannya untuk pergi, lalu buru-buru sadari kalau yang selama ini membuat kita sakit hati adalah harapan kita sendiri. Sadari kalau yang membuat kita sakit hati adalah ketakutan kita menjalani hari esok tanpa dia yang menemani.

Nggak perlu menyalahkan, nggak perlu membenci. Cinta bukan untuk saling benci. Hargai saja keputusannya untuk pergi. Dia memang indah, tapi jangan lupa, tanpanya hidup kita masih berharga dan memiliki arti.

 

*Brili Agung, penulis ME: Fokus pada Kekuatan, Jangan Sibuk dengan Kelemahan
**Sumber foto: https://blogofthebeardedone.wordpress.com

jodoh dari allah itu yang terbaik

Jodoh dari Allah, Maka Kepada-Nya Kita Memohon

Jodoh dari Allah, bukan dari selain-Nya.

Menentukan pilihan nggak boleh asal-asalan. Dan, untuk mengenali apakah seseorang merupakan jodoh dari Allah atau bukan caranya sederhana, yaitu dengan melihat sejauh mana komitmennya terhadap ajaran Islam.

 

Jodoh dari Allah: Tips Memilih Calon Suami

“Bila seorang laki-laki yang kau ridai agama dan akhlaknya meminang anak perempuanmu, nikahkanlah dia. Apabila engkau tidak menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi)

Adalah fitrah seorang muslimah untuk menikah dengan laki-laki yang kaya, memiliki status sosial yang terpandang, berasal dari keluarga yang baik, dan tampan. Itu nggak salah. Tapi, jangan dilupakan, kualitas agamanya harus tetap dinomorsatukan.

Nah, sekarang muncul pertanyaan. Bagaimana sih cara melihat komitmen seorang laki-laki terhadap agamanya? Ada beberapa hal yang harus ada pada laki-laki itu.

  1. Laki-laki itu harus beragama Islam;
  2. Lelaki itu melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agamanya, yaitu salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, haji bila mampu;
  3. Berakhlak baik;
  4. Memiliki usaha untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik;
  5. Memiliki semangat untuk mengajak orang lain menuju kebaikan dan mencegah keburukan.

Urusan tampan, status sosial, dan kaya itu nggak harus 100%. Boleh kok diturunkan menjadi 80% atau 70%. Tapi, kalau untuk agama nggak bisa ditawar-tawar. Dia harus Muslim, akhlaknya baik, dan dia melaksanakan ajaran agamanya dengan baik.

 

Jodoh dari Allah: Tips Memilih Calon Istri

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, atau agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Betapa bahagia jika kelak kita memiliki istri saleha yang taat dan selalu mendukung kebaikan suaminya, yang apabila dipandang menyejukkan, bisa menjaga dirinya, dan bisa menjaga keutuhan rumah tangganya.

Biar bisa melihat perempuan yang memiliki potensi agama yang baik, kita bisa memperhatikan dari hal-hal ini dalam dirinya.

  1. Dia harus beragama Islam;
  2. Dia melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agama: salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan haji bila mampu;
  3. Dia berakhlak baik;
  4. Dia memiliki kesiapan untuk berubah menjadi lebih baik;
  5. Dia memiliki semangat untuk mengajak orang lain menuju kebaikan dan mencegah keburukan.

Jadi, Teman, pilihlah wanita yang baik agama dan mulia akhlaknya. Bukan hanya demi keberuntungan kita, tapi juga bagi kebaikan anak-anak kita kelak. Abul Aswad Ad-Du’ali berkata kepada putra-putranya, “Anak-anakku, aku telah berbuat baik kepada kalian sejak kalian masih kecil hingga dewasa, bahkan sejak kalian belum lahir.”

“Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?”

“Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang wanita terbaik di antara sekian banyak wanita, seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik untuk anak-anaknya.”

Nah, ngomong-ngomong, orang yang sedang kamu ikhtiarkan itu udah memenuhi syarat-syarat di atas belum?

 

*Diambil dari buku Halaqah Cinta: Follow Your Prophet, Find Your True Love karya Arif Rahman Lubis (penggagas @teladanrasul)

**Sumber foto: http://www.pertheventphotography.com.au

keluarga bahagia idaman semua orang

Keluarga Bahagia Itu Seperti Masakan yang Kaya Rasa

Keluarga ibarat masakan.

Masakan akan terlihat kurang menarik kalau cuma satu warna. Keluarga juga demikian.

Keluarga akan makin sempurna dengan karakter suami-istri yang beragam. Dan, justru karena itu pula, suami-istri disebut pasangan. Mereka berpasangan bukan hanya karena perbedaan biologis tapi juga psikologis.

Keluarga: Bagaimana Agar ‘Kaya Rasa’?

Agar sebuah keluarga itu ‘kaya rasa’ namun tetap harmonis, perlu racikan bumbu pengetahuan, pengertian, dan komunikasi. Baik calon suami maupun calon istri perlu tahu karakter masing-masing sebelum mereka sepakat melangkah ke pelaminan. Untuk itu, Islam menganjurkan ta’aruf.

Di samping untuk mengenal, ta’aruf juga perlu dilakukan agar kedua calon benar-benar mengerti hak dan kewajiban masing-masing. Pengetahuan ini penting sekali sebagai rambu-rambu pergaulan dalam menjalani hidup berkeluarga.

Namun demikian, pengetahuan saja ternyata belum cukup. Pengetahuan perlu dihidupkan dengan rasa pengertian, menerima, dan menghormati perbedaan yang ditemui di hampir sepanjang jalan hidup keluarga.

Pengertian membuat seseorang menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya dan pasangannya. Pengertian pula yang akan melahirkan kesabaran dalam melihat kekurangan dan rasa syukur dalam memandang kelebihan.

Pengetahuan dan pengertian dengan sendirinya akan tercermin dalam komunikasi sehari-hari suami-istri. Nah, cara komunikasi inilah yang menentukan seberapa romantis dan tangguh keluarga yang mereka bangun.

Komunikasi yang baik dengan pasangan menandakan pengetahuan dan pengertian yang baik antara keduanya. Sebaliknya, komunikasi yang macet biasanya disebabkan oleh pengetahuan dan pengertian yang minim antara keduanya.

Keluarga Harmonis Hasil Tempaan Kehidupan

Di atas semua itu, keluarga yang harmonis dan kokoh tidak dibangun sekali jadi. Ia dibangun melalui tempaan masalah dan cobaan. Dan, kekuatan terbesar untuk menghadapi tempaan itu adalah niat yang kuat saat akan memasuki gerbang pernikahan dan kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Buku Arasy Cinta karya @teladanrasul ini berisi uraian penting baik bagi mereka yang sedang membina keluarga maupun yang masih akan membangun mahligai rumah tangga.

Kalau kamu sudah membaca karya @teladanrasul sebelumnya yang berjudul Halaqah Cinta, buku ini wajib ada dalam daftar belanjaan kamu selanjutnya.

rindu ayah

Rindu Ayah dan Kenangan Tentang Masa-masa Saat Masih Bersamanya

Rindu Ayah kadang datang tanpa alasan. Ketika kerinduan itu datang, pikiran tentang masa lalu perlahan-lahan terbuka kembali.

Sejak perpisahan kedua orangtuanya, Anneke kerap merindukan sosok ayahnya. Orang yang menjadi pelindung dan teladan hidup sehari-hari. Dulu, ketika rumah tangga orangtuanya masih utuh, ia mendapatkan kebahagiaan yang lengkap darinya.

Ayahnya sering memberikan kejutan pada Anneke dan sang bunda. Rasa cinta pun selalu terpancar dari sorot matanya. Ia merasa aman dan nyaman ketika berada di dekat ayahnya. Cinta pertama Anneke di dalam hidupnya.

Sang ayah menjadikan Anneke sebagai seorang putri dan ibunya sebagai ratu di kerajaan kecilnya. Semua terasa menyenangkan, tak ada sedikit pun yang kurang. Hingga suatu saat, badai itu menerpa.

Entah bagaimana mulanya, ayah Anneke tergoda dan kemudian berpaling pada wanita lain. Ia melupakan cintanya pada ibu Anneke dan mencampakkan kebahagiaan yang telah ia ukir bersamanya selama puluhan tahun.

Ia tak mampu lagi mempertahankan rumah tangga yang sebelumnya ia bangga-banggakan sebagai kerajaan kecilnya itu. Karena berlarut-larut, masalah itu pun terus membesar, sehingga perpisahan akhirnya tak bisa dihindari. Anneke kecil kini hidup berdua saja bersama sang bunda.

Sejak hari itu, rindu ayah terus mengendap di hati Anneke. Kadang membuatnya menerawang ke tempat ayahnya kini tinggal, kadang membuatnya mengenang hari-hari mereka menghabiskan waktu bersama. Dan kapan pun Anneke membiarkan pikirannya kosong, rindu ayah di hatinya semakin tak tertahankan.

Anneke tak menampik rindu ayah di dasar hatinya. Tapi kerinduan itu berbanding lurus dengan rasa kecewanya. Hingga saat ia dewasa, sang bundalah yang membuatnya tersadar: bahwa hanya keikhlasan yang mampu menghilangkan sakit dan duka dalam hati seseorang. Termasuk kepada sang ayah.

Bundanya telah ikhlas melepas sang ayah, walaupun tentu masih menyisakan luka yang sangat dalam. Anneke sadar, bundanya merasakan sakit yang lebih dalam dari rasa sakit yang dirasakannya. Namun bundanya mampu bangkit dan ikhlas dengan rencana Allah. Mampukah Anneke mengikhlaskan rindu ayah dan kecewanya terhadap raja yang pernah bertahta di hatinya?

***

Temukan kisah kasih seorang anak terhadap sosok ayahnya dan cerita tentang rindu ayah itu di dalam buku Tentang Rindu karya tim penulis @tausiyahku. Membaca kisah-kisah di dalamnya akan membuat kita teringat masa-masa kecil saat limpahan kasih sayang masih mengalir dari orang-orang tersayang: ayah, ibu, saudara, dan sahabat.

 

Sumber foto: pixabay.com

kesetiaan adalah kunci

Kesetiaan Wanita Saleha Adalah Permata yang Paling Berharga

Kesetiaan tak ternilai harganya. Tak terbeli dengan uang sebanyak apa pun, tak bisa ditukar dengan benda paling mahal sekalipun.

Sebagai seorang istri, wanita memiliki tugas untuk mendampingi suami di mana pun dan kapan pun, termasuk saat sang suami sedang berada dalam kesulitan. Dari sana kita bisa mengetahui apakah sang istri layak dikategorikan sebagai pendamping setia atau tidak.

Belajar Kesetiaan pada Khadijah

Mengenai kesetiaan, dalam sejarah Islam terdapat kisah abadi yang dapat dicontoh oleh wanita zaman sekarang. Adalah kisah cinta Nabi Muhammad saw dan Khadijah ra. Kita semua tahu bagaimana perjuangan Rasulullah saw dalam menegakkan Islam. Dan, di balik keteguhan hati beliau, ada seorang istri cantik yang senantiasa mendampingi beliau hingga nafas terakhirnya.

Khadijah binti Khuwailid namanya, seorang janda 40 tahun yang juga seorang saudagar kaya-raya. Sepeninggal suaminya, ia kerap didatangi para bangsawan yang ingin meminangnya. Namun, Khadijah menolak. Sampai akhirnya, kepada lelaki muda bergelar “Pemuda Jujur”-lah hatinya berlabuh. Mulai sejak itu, ia mengabdi dan setia mendampingi suaminya.

Bukti kesetiaan Khadijah terlihat saat Rasulullah saw mendapat wahyu dari Allah. Rasulullah terengah-engah mendatangi Khadijah dengan wajah yang pucat pasi. Beliau mengatakan bahwa dirinya akan menjadi utusan Allah SWT. Mendengar itu, Khadijah tidak panik, melainkan justru menenangkan suaminya dan menghiburnya. Ia berkata kepada suaminya agar sepatutnya bergembira dan tidak mengkhawatirkan keadaan.

Kesetiaan Sampai Nafas Terakhir

Sejak Rasulullah saw diangkat menjadi seorang rasul, Khadijah dengan setia selalu mendampingi Rasulullah saw di mana pun ia berada. Khadijah pula yang membawakan bekal untuk Rasulullah saw ketika kerap berdiam diri di Gua Hira. Ia juga selalu menanti kedatangan Rasulullah saw dengan sabar di rumahnya. Dalam perjuangannya menyebarkan Islam, Khadijah dengan rela menyerahkan harta kekayaannya untuk membantu Rasulullah saw.

Khadijah adalah wanita pertama yang mengimani ajaran Islam. Ia percaya bahwa suaminya mampu memperjuangkan Islam hingga akhir hayatnya. Panutan seorang istri saleha dan setia ada pada diri Khadijah.

Semasa hidupnya, Rasulullah dicintai oleh banyak orang. Tidak hanya Khadijah, anak-anaknya sampai budak pun mencintai Rasulullah. Temukan kisah-kisah mereka dalam buku Mencintai Muhammad karya Irfan L. Sarhindi. Kekaguman tanpa batas melahirkan cinta dan kerinduan terhadap sosok Rasulullah.

 

Skumber foto: pixabay.com

WhatsApp chat