Admin Qultum, Author at Qultum Media - Laman 6 dari 82
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
2
archive,paged,author,author-admin-qultum,author-2,paged-6,author-paged-6,wp-theme-stockholm,wp-child-theme-stockholm-child,theme-stockholm,woocommerce-no-js,metaslider-plugin,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,smooth_scroll,wpb-js-composer js-comp-ver-7.4,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-30952

Buku Praktis Mudah Menghafal Juz Amma

Kita tentu tidak asing dengan Juz Amma. Ya, Juz Amma merupakan kumpulan surat-surat pendek —berisi 37 surat— yang dimulai dengan surat An-Naba` dan diakhiri dengan surat An-Nas.

Buku ini menyajikan Juz Amma secara komplit. Tidak sekadar menghafal, buku ini juga memberi kemudahan kepada pembaca untuk memahami dan memaknai, karena di dalamnya terdapat tajwid berwarna, terjemah, cara baca, dan tafsir sebagian ayatnya.

Pastinya, Juz Amma ini sangat cocok bagi pembaca yang ingin belajar lebih dalam tentang surat-surat pendek di dalam Al-Qur`an. Selain versi cetaknya, pembaca juga bisa mendapatkan versi e-book-nya melalui PlayStore.

Selamat belajar!

roadshow buku

Roadshow Pertama Aldilla Dharma: “Benar-benar Luar Biasa!”

Roadshow ke beberapa kota dilakukan oleh Aldilla Dharma dan Penerbit Qultummedia. Banyak kesan positif yang didapatkan.

Setelah sukses “melahirkan” karya pertamanya, Jangan Pernah Menyerah, Aldilla Dharma memiliki sejumlah kegiatan baru dalam karier kepenulisannya, yakni berpromosi.

Baca juga:
Jangan Takut Gagal! (Special Edition)
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)

“Kemarin sempat roadshow dan siaran radio di beberapa kota, seperti Jakarta, Kediri, Surabaya, Malang, Solo, Jogjakarta, Semarang, dan Banjarmasin,” kata Aldilla saat diwawancara Qultum Media via surel.

Ya, roadshow dan siaran radio adalah beberapa jenis promosi yang dijalankan Aldilla terkait karyanya. Berbagai pengalaman menarik dan seru pun dirasakan pria yang sedang berjuang untuk menyelesaikan tesisnya di Jurusan Magister Kenotariatan, Universitas Brawijaya ini.

“Seru sih, bertemu teman-teman baru. Jadi banyak belajar hal-hal baru juga di tiap daerah,” kata Aldilla.

Roadshow yang Luar Biasa

Selama roadshow, Aldilla menemukan banyak hal baru yang dapat membuatnya ‘geleng-geleng kepala’. Salah satunya adalah respons pembaca yang datang ke acara roadshow buku Jangan Pernah Menyerah.

“Luar biasa. Respon mereka sangat luar biasa,” ungkap Aldilla. “Aku bilang luar biasa, ya, soalnya aku juga bahkan bisa “gila-gilaan” bareng mereka,” tambah pria yang bercita-cita menjadi notaris syariah ini.

Menurut Aldilla, meski di beberapa kota para pembaca yang datang awalnya bersikap malu-malu, setelah dipancing mereka ternyata tak ragu untuk bersuara.

Selain respons yang luar biasa, kejutan lain yang dirasakan Aldilla saat berada di tengah-tengah para pembacanya adalah aksi curhat-curhatan.

“Awalnya aku harus memotivasi mereka. Belakangan malah mereka yang memotivasi aku buat berhijrah dari keterpurukan cinta,” ungkap Aldilla.

Alhasil, ajang tersebut menjadi ajang curhatan antara penulis dan pembacanya. Meski baper, alhamdulillah roadshow dan siaran radio tetap berjalan dengan lancar.

Roadshow dan Hadirnya Buku Kedua

Nah, bagi kamu yang sudah membaca buku pertama Aldilla, kini sudah bisa menikmati buku keduanya, lho. Dalam buku berjudul Jangan Takut Gagal! ini, Aldilla memaparkan jawaban atas beberapa pertanyaan.

“Kalau di buku pertama aku lebih menebar kegelisahan yang membuat orang bertanya-tanya, di buku kedua ini justru memaparkan jawaban atas segala pertanyaan itu,” kata Aldilla.

Penasaran, kan, dengan buku keduanya? Jangan khawatir, kamu sudah bisa mendapatkannya di toko buku terdekat atau membeli ebook-nya melalui PlayStore.

shalat tahajud adalah ibadah sunah yang utama

Shalat Tahajud: Bagaimana Agar Kita Istiqamah Mengerjakannya?

Shalat Tahajud adalah salah satu shalat sunah yang tak pernah Rasulullah tinggalkan semasa hidupnya, setidaknya ketika beliau tidak dalam kondisi sakit. Meski begitu, istiqamah mengerjakan shalat sunah ini tidak mudah.

Susah bangun malam tidak hanya dialami oleh segelintir orang. Banyak yang sepakat dengan hal itu. Jangankan untuk Shalat Tahajud dan berzikir, berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu saja rasanya berat. Selain mengantuk, udara dingin juga menjadi sebabnya.

Baca juga:
Penuntun Mengerjakan Shalat Tahajud
9 Hal Agar Dimudahkan Menjalankan Shalat Tahajud

Sebenarnya, asal kita mengerti apa saja manfaat Shalat Tahajud, kita akan termotivasi untuk mengerjakannya. Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya agar kita bisa bangun malam dan menunaikannya? Langsung saja yuk kita simak tips-tips berikut.

  1. Tidur tidak larut malam. Usahakan tidur tidak lebih dari pukul 22.00, sehingga kita bisa bangun pukul 3.00 atau 3.30 dini hari. Tidur selama lima jam sudah cukup bagi orang dewasa. Badan terasa segar, mata pun tidak mengantuk lagi;
  1. Makan malam secukupnya. Makan yang terlalu kenyang akan menyebabkan perut kita kepenuhan, sehingga mudah mengantuk dan sulit bangun. Rasulullah saw memberikan teladan yang baik tentang makan, yaitu berhenti makan sebelum perut terasa kenyang;
  1. Tidur dalam posisi miring ke kanan. Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian hendak tidur di pembaringan, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah kamu dengan berbaring di lambung kananmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rahasia tidur Rasulullah saw tersebut dapat mengistirahatkan otak kiri, jantung, dan lambung. Secara otomatis, istirahat kita akan lebih maksimal dan begitu bangun, tubuh dan otak sudah segar;
  1. Tidur siang. Usahakan untuk menyempatkan diri tidur siang, walaupun hanya sebentar. Tidur siang idealnya dilakukan kurang dari 1 jam. Rasulullah saw juga menganjurkan kaum muslim untuk tidur siang, karena manfaatnya yang banyak. Di antaranya, bisa bangun dini hari dengan mudah, meningkatkan kinerja otak, menyehatkan badan, dan menghilangkan stres;
  1. Memasang alarm atau meminta bantuan kepada orang terdekat;
  1. Niat yang kuat. “Segala amal tergantung niatnya,” ujar Nabi Muhammad saw dalam salah satu haditsnya. Hadits ini cukup populer di kalangan umat Islam. Niat akan menentukan sekuat apa kita berusaha meraih apa yang kita niati itu, termasuk menjalankan shalat tahajud.

Bagaimana, sudah siap mengerjakan Shalat Tahajud?

Buku Penakluk Subuh karya Muhammad Iqbal mengajak kita meraih keberkahan hidup melalui 13 amalan pagi yang penuh rahasia dan manfaat. Buku bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Gunung Agung, TM Bookstore, dan toko-toko buku online.

hidayah adalah keberuntungan

Hidayah dan Orang yang Beruntung Mendapatkannya

Hidayah adalah sesuatu yang menggerakkan hati kita untuk mencintai dan setia di jalan kebaikan.

Dear pembaca, salah satu anugerah terbesar yang wajib kita syukuri adalah hidayah atau petunjuk dari Yang Mahakuasa. Semata-mata karena petunjuk-Nya, hingga detik ini kita masih bernaung di bawah teduhnya ajaran agama kita, Islam.

Baca juga:
Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Seperti Dilakukan Oleh Para Nabi
Hidup Sehat, Berkah, dan Bahagia dengan Shalat

Namun, hidayah atau petunjuk Allah bukan sesuatu yang mudah kita mengerti. Ada orang yang tak kunjung diberi petunjuk oleh Allah meski sudah memintanya siang dan malam. Ada juga orang yang tak pernah menginginkannya tapi tanpa sengaja malah menemukannya.

Hidayah Tak Terduga Datangnya

Hidayah mungkin istilah yang tepat untuk menyebut rahmat Allah untuk memalingkan hati seorang hamba pada-Nya, dengan cara yang misterius. Sesuatu yang kadang tak masuk akal tapi nyata, atau sulit dimengerti tapi benar-benar terjadi.




Kita tentu pernah mendengar cerita tentang seorang bandit yang bertobat di tengah aksinya. Sebut saja Ibrahim bin Adham, salah satu tokoh sufi terkenal, dan Berandal Lokajaya atau Sunan Kalijaga, salah satu penyebar Islam di Jawa.

Cerita-cerita tersebut, terlepas dari unsur-unsur imajinatif yang mungkin menyelimutinya, adalah contoh betapa petunjuk Allah bisa datang pada siapa saja, tanpa pandang bulu. Siapa pun yang dikaruniai petunjuk, sehebat apa pun maksiat yang sudah dilakukannya, akan bertekuk lutut di hadapan-Nya.

Adakalanya petunjuk Allah datang bak angin semilir, menyadarkan penerimanya secara lembut dan perlahan. Mula-mula ia berbenah dari sesuatu yang sederhana, seperti mengubah caranya bertutur atau berbusana, lalu berlanjut mengubah caranya dalam mencari dan menggunakan rezekinya.

Adakalanya juga ia menerjang seperti badai yang ganas, menghantam kesadaran penerimanya dan membangunkannya seketika. Tanpa butuh waktu lama, ia mengoreksi semua yang ia pandang tak sesuai agama, mulai pikirannya, hatinya, hingga perbuatannya.

Hidayah Adalah Tanda Keberuntungan

Mengapa petunjuk Allah datang dengan cara yang berbeda-beda mungkin selamanya tak bisa kita jawab. Yang pasti, siapa pun penerimanya, dia adalah orang yang beruntung.

Kita tak bisa memastikan menjadi orang yang beruntung itu. Tapi, bukankah Allah dan Rasul-Nya sering mengingatkan kita agar memohon apa pun yang kita butuhkan? Mari terus meningkatkan takwa kita pada-Nya. Semoga sebelum ajal menghampiri, Dia bermurah hati memberikan hidayah-Nya pada kita.

Amin…

 

Regard,

Firdaus Agung (Editor Qultummedia)

baper dan rasional

Baper atau Rasional: Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Baper atau “bawa perasaan” tak melulu karena perkataan orang lain yang tak sopan tapi juga telinga dan hati kita yang terlalu sensitif.

Suatu waktu, dua orang sahabat saling bertanya tentang diri mereka. Salah seorang dari keduanya mengatakan bahwa temannya itu adalah orang yang rasional.

“Maksudnya?” tanya sang teman.

“Maksudnya, meski kau tak selalu ada di sampingku, aku selalu bisa mendapatkan saran yang logis setiap kali kita membincangkan sesuatu.”

Baca juga:
Jangan Lelah Berdoa!
Mudik dan Perjuangan untuk Mengalahkan Ego Kita

Cuplikan dialog dua sahabat tersebut, kalau kita perhatikan, memberikan informasi yang menarik bagi kita. Selama ini tanpa kita sadari, kita kerap baper atau “bawa perasaan” saat menjalin pertemanan.

“Kalau nggak baper berarti nggak solid pertemanannya.”
“Kalau nggak pakai hati berarti palsu persahabatannya.”

Begitu alasan yang disampaikan oleh beberapa teman yang merasa tertuding.

Namun, benarkah demikian? Bukankah baper juga bisa tidak baik untuk sebuah hubungan? Terlalu jauh melibatkan perasaan dalam banyak kesempatan hanya akan membuat kita terlalu cepat menilai, mudah tersinggung, atau gampang terbawa emosi.

Baper Terus, Mau Sampai Kapan?

Dalam menjalin hubungan, apa pun bentuknya, kita perlu mengedepankan rasionalitas. Tak apa jika jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Tak masalah kalau kita kerap berbeda pendapat. Dan, tak usah marah apabila teman kita menertawakan satu-dua keapesan yang kita alami.

Sepanjang semua masih dalam taraf wajar, menggunakan akal sehat kita dalam berteman pasti lebih menenangkan ketimbang baper sepanjang waktu.

Berinteraksi dengan orang lain tak melulu mendengar kalimat-kalimat pujian dari mereka. Sesekali kita akan mendengar berita yang tak baik, opini mereka tentang kita, mungkin juga kritikan terhadap kita. Semua itu wajar, sebab kita sadari atau tidak, kita pun melakukan hal-hal itu pada orang lain.

Ada saatnya kita berlapang dada dengan kata-kata yang tak menyenangkan hati kita; bagaimanapun dunia dan segala isinya tak selalu menyenangkan hati kita. Tak selalu sesuai dengan harapan kita. Kalau kita mengharapkan sebuah dunia yang selalu sesuai dengan keinginan kita maka kita sebenarnya sedang memimpikan sebuah kehidupan yang tak pernah ada.

Dan, tentu saja, itu tidak baik.

Mengapa? Sebab itu artinya kita tak siap menghadapi kenyataan hidup. Kita tak siap menaklukkan dunia, sebab munculnya harapan seperti itu adalah indikasi kita enggan berjuang. Mungkin juga pertanda kita tak punya semangat hidup bahkan tidak adanya kedewasaan dalam diri kita.

So, mari mengubah cara pandang kita bahwa nggak baper bukan berarti nggak saling terkoneksi, nggak saling care. Menjalin persahabatan yang rasional tentu lebih menyehatkan emosi kita.

 

Regard,

Tri Prihantini (Editor Qultummedia)

cinta ayah

Ayah: Hari-hari Bersamanya dan Kenangan Cinta darinya

Ayah adalah sosok yang istimewa di mata anak-anaknya.

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam salah satu tulisannya berkata, “Kenangan masa kecil yang paling indah adalah kau tidur di bagian rumah mana pun, tapi ketika terbangun kau sudah berada di tempat tidurmu. Ya Allah, kasihanilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka telah mengasihiku sejak aku kecil.”

Saya senyum-senyum sendiri saat membaca tulisan itu. Rasa-rasanya ia mewakili sisi paling personal diri saya.

Sewaktu masih anak-anak, menonton TV sambil tiduran di karpet adalah kebiasaan saya sepulang mengaji. Menariknya, saat terbangun keadaan saya pasti sudah berbeda; masih di tempat yang sama tapi berbalut selimut atau sudah pindah ke dalam kamar. Siapa yang melakukannya? Ayah.

Sebelum keluarga kami punya TV, menonton TV di rumah kerabat hampir tiap malam saya lakukan. Dan tiap kali saya ketiduran, Ayahlah yang selalu sabar menggendong saya pulang, meski jaraknya lumayan jauh. Sebisa mungkin ia menjaga saya agar tak terbangun.

Betapa indah kala itu, masa-masa ketika pelukan Ayah secara ajaib selalu ada untuk saya. Kini, semua berubah. Saya sudah dewasa dan tubuh Ayah semakin termakan usia. Saya mengerti, kewajiban itu kini beralih ke tangan saya. Sayalah saat ini yang harus menunjukkan kasih sayang yang sama, meski tak mungkin setimpal, pada Ayah. Saya paham kenapa Ayah selalu menggeleng setiap kali saya tanya apa yang ia inginkan. Ia enggan merepotkan saya.

Lucu, bukan? Saya, anaknya, bertahun-tahun merepotkannya. Kini setelah saya dewasa dan ingin membalas kebaikannya, ia menjawab tak ingin merepotkan saya. Sering saya berbisik dalam doa-doa saya, semoga Allah memberi umur panjang dan kesehatan yang berkah padanya. Setidaknya, agar saya terus bisa berbagi kebahagiaan bersamanya. Semoga Allah mengabulkan. Amin.

 

Ditulis oleh Hendra Wirawan

***

Cerita singkat ini adalah Pemenang Pertama Kompetisi Menulis Pengalaman Pribadi yang diadakan oleh Penerbit Qultummedia dan Komunitas Teladan Rasul. Tema tulisan dalam kompetisi ini bersumber dari buku Open Your Heart, Follow Your Prophet karya Arif Rahman Lubis, yaitu tentang ayah.

 

*Gambar didownload secara gratis dari http://bossfight.co/man-baby-barn/

ayahku adalah ayah terbaik

Ayahku dan Cintanya yang Tak Pernah Mengering

Ayahku bukan sosok yang sempurna, tapi…

Aku sering iri melihat teman-teman yang selalu punya tempat curhat. Tempat yang nyaman untuk berlindung dan mengadu. Kadang mereka bercerita tentang pengalaman serunya pada seorang ayah, lain waktu mereka bercerita tentang keresahan hatinya pada seorang ibu.

Bukan berarti Ayahku tak pernah punya waktu untukku. Aku tahu, ia juga sudah berusaha keras menjadi ‘ibu’ bagiku. Tapi, aku kadang berkhayal betapa indah dunia seandainya bisa tumbuh dewasa dengan orangtua yang lengkap.

Ada ibu dengan sikapnya yang lembut, juga ayah dengan keberadaannya yang menenangkan. Kadang aku belajar memasak bersama Ibu, kadang bermain-main di halaman bersama Ayah. Indahnya…

Saat pertama kali mengalami haid, Ayahlah yang menenangkanku yang malu sekaligus cemas. Ia memberi pengertian tentang fase bulananku sebagai anak perempuan, bahkan mengajariku bagaimana memakai pembalut.

Kadang aku berpikir, apa jadinya kalau Ayah tak ada di sisiku? Bagaimana duniaku berjalan tanpa sosok yang begitu ringan mengulurkan tangannya untukku?

Saat aku menikah, ia yang selalu mendampingiku. Saat aku melahirkan, ia juga yang menemani dan mengurus segala tetek-bengek persiapan persalinanku.

Ia adalah ayah satu-satunya dan yang terbaik bagiku. Kasih sayangnya seperti seorang ibu, sepanjang masa. Tak pernah aku berhenti bersyukur memiliki ayah sepertinya.

Suamiku mungkin kini menjadi ‘pangeran’ dalam hidupku, tapi selamanya Ayah adalah ‘raja’ yang bertahta di duniaku.

Saat ia berpulang akibat kecelakaan lalu lintas setahun yang lalu, aku merasa kiamat telah datang. Aku kehilangan pegangan. Suami dan keluargaku berusaha menenangkan, tapi rasa kehilanganku benar-benar tak terperi. Bagaimanapun, kami menjalani masa-masa penuh perjuangan bersama.

Harapanku, semoga Ayah mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah. Ia mungkin telah berpisah denganku, tapi kini ia telah menyatu dengan ibuku, cinta sejatinya.

 

Ditulis oleh Fitri Mada

***

Cerita singkat ini terpilih sebagai Pemenang Kedua Kompetisi Menulis Pengalaman Pribadi yang diadakan oleh Penerbit Qultummedia dan Komunitas Teladan Rasul. Tema tulisan dalam kompetisi ini bersumber dari buku Open Your Heart, Follow Your Prophet karya Arif Rahman Lubis.

 

*Gambar diunduh secara gratis dari http://alana.io/?al_free_download=11323

yang penting yakin insya Allah bisa

Yang Penting Yakin! Bincang-bincang Bareng Komunitas @tausiyahku_

Yang penting yakin! Apa pun impian kita, bagaimanapun keadaan kita sekarang, asal kita punya keyakinan bahwa suatu saat kita akan berhasil mewujudkannya, kita akan benar-benar berhasil mewujudkannya. Dengan izin Allah.

Suasana yang penuh-sesak rupanya tidak menyurutkan niat para pengunjung Islamic Book Fair 2016 untuk bertemu dengan penulis favoritnya. Hal itulah yang terjadi saat para admin @tausiyahku_ melakukan talkshow buku Yang Penting Yakin! pada hari Minggu, 6 Maret 2016 lalu.

Baca juga:
Yang Penting Yakin! (Special Edition)
Bukan Jodohnya yang Tak Kunjung Datang

Acara yang berlangsung sejak pukul 13.30 wib ini, menghadirkan dua orang admin @tausiyahku_ untuk berbagi pengalamannya selama menulis buku Yang Penting Yakin!.

Yang Penting Yakin! merupakan buku keempat @tausiyahku_ yang diterbitkan oleh Qultum Media. Beberapa dari para adminnya merupakan anak muda yang masih duduk di bangku kuliah dan memiliki banyak aktivitas kampus. Hal itu pula yang ternyata menjadi salah satu kendala saat mereka harus menyelesaikan naskahnya tepat waktu.

“Biasanya yang menjadi kendala adalah waktu, karena kami juga masih kuliah,” kata Mulkan Fauzi, salah satu admin @tausiyahku_. Lebih lanjut Mulkan mengatakan, “Tapi alhamdulillah, ada teh Nunung yang selalu mengingatkan.”

 

Yang Penting Yakin! dan Sosok Utama di Balik Akun @tausiyahku_

Bisa dibilang, @tausiyahku_ tidak pernah absen mengikuti Islamic Book Fair sejak buku perdananya terbit. Tentunya, bagi Anda yang aktif di Instagram, sudah tidak asing dengan akun tersebut, dong. Bagaimana tidak, akun ini sudah diikuti oleh lebih dari 800 ribu follower, lho. Hmmm… kira-kira siapa sih, sosok utama di balik akun @tausiyahku_?

Dialah Nunung Fathur. Kepada Qultum Media, Nunung mengaku bahwa ia adalah orang yang tidak bisa berdiam diri. Keinginannya untuk berdakwah sangat tinggi. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk membuat akun sosmed guna melancarkan proses dakwahnya tersebut.

Alhamdulillah, banyak yang suka. Banyak yang nge-like dan share quote-quote dari @tausiyahku_, bahkan ada pula yang curhat,” kata Nunung saat ditemui Qultum Media di sela-sela acara.

Lantas, bagaimana cara Nunung menjaga keutuhan akun yang ia gagas ini?

“Yang pasti, saya mencoba untuk tetap menjaga karakter akun @tausiyahku_. Akun ini sebenarnya ‘kan berisi puisi dengan bahasa yang agak-agak lebay, ya, jadi itu yang dipertahankan,” kata Nunung.

Tak terasa, keseruan talkshow Yang Penting Yakin! sudah harus berakhir. Setitik harapan Nunung ungkapkan sebelum acara ini berakhir.

“Semoga tahun depan @tausiyahku_ bisa berada di panggung utama Islamic Book Fair. Dengan begitu, dakwahnya bisa lebih luas lagi,” kata Nunung mengakhiri wawancara ini.

ummu-balqis-ibf-depan

Smart Parenting: Sebuah Perbincangan dengan Ummu Balqis

Smart parenting adalah “kurikulum wajib” bagi orangtua yang ingin anaknya sukses menghadapi tantangan hidup zaman now.

Sabtu, 5 Maret 2016, merupakan hari yang cukup istimewa bagi Ummu Balqis—penulis Bukan Ibu Biasa. Pasalnya, ini merupakan kali pertama Ummu menyapa secara langsung para pembacanya di event Islamic Book Fair.

Baca juga:
Tak Ada Anak Hebat Tanpa Ayah Luar Biasa
Doa Ibu, Istri, dan Anak Saleha Mudah Dikabulkan Oleh Allah

 

Pada kesempatan itu, Ummu berbagi tentang pengalamannya dalam mendidik anak dengan cara yang sederhana, namun tepat sasaran. Sebagai contoh, Ummu membagi pengalamannya dalam mengajarkan anak belajar. Kebetulan, saat itu Ummu juga masih berstatus sebagai mahasiswi. Jadi saat ia belajar untuk keperluan pendidikannya, ia pun mengajak sang anak untuk belajar bersama.

 

Smart Parenting: Bukan Perkara Mudah

Ya, mendidik anak memang bukan perkara mudah. Untuk itu dibutuhkan banyak sekali sharing-knowledge antarorangtua. Hal inilah yang dilihat oleh Ummu. Oleh karenanya, ia pun tak ragu untuk menulis buku bergenre parenting.

“Saya melihat, pembaca buku di Indonesia masih sangat banyak dan genre parenting belum basi. Masih banyak orang yang membutuhkan buku parenting,” kata Ummu kepada Qultum Media di workshop Bukan Ibu Biasa.

Ummu pun bersyukur, buku perdananya mendapat respon positif dari pembaca dan follower-nya.

Terlepas dari itu, peran Ibu di dalam rumah tangga begitu penting. Menurut Ummu, Ibu merupakan pusat segala kenyamanan berada.

“Sejauh apa pun anak mengenal gadget, ia akan kembali ke ibunya. Oleh karena itu penting bagi seorang ibu—khususnya di zaman sekarang—untuk bisa memberikan kenyamanan bagi mereka dengan cara positif,” kata Ummu.

Selain berbagi pengalaman dalam mendidik anak, Ummu juga memberikan kesempatan kepada para pengunjung yang ingin melakukan konsultasi seputar cara mendidik anak secara langsung.

Di akhir acara, Ummu berharap semoga apa yang ia tulis dalam buku Bukan Ibu Biasa bisa diterima oleh masyarakat. “Kita saling berbagi dan sama-sama berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi. Menjadi rumah bagi anak-anak kita,” katanya menutup perbincangan ini.

aldilla-ibf-depan

Talkshow Bareng Aldilla Dharma, Penulis Jangan Pernah Menyerah!

Talkshow bersama Aldilla Dharma mengundang perhatian penonton Islamic Book Fair 2016 di Istora Senayan. Mereka penasaran bagaimana penulis Jangan Pernah Menyerah! tersebut menjalani proses penulisan buku yang kemudian menjadi bestseller itu.

Islamic Book Fair 2016 sudah dimulai sejak Jumat, 26 Februari lalu. Sebagai salah satu peserta yang mengikuti pesta buku islami ini, Qultum Media menghadirkan serangkaian acara menarik. Salah satunya adalah talkshow buku Jangan Pernah Menyerah! bersama Aldilla D. Wijaya, penggagas @BeraniBerhijrah.

Baca juga:
Jangan Pernah Menyerah! (Special Edition)
Kegagalan Hari Ini Adalah Pelajaran untuk Kesuksesan Esok Hari

Acara yang digelar pada Sabtu, 27 Februari 2016 di Ruang Mekah, stan 205, Istora Senayan Jakarta ini ramai didatangi pengunjung. Mereka antusias mengikuti talkshow bersama Dilla, sapaan akrab Aldilla D. Wijaya.

Pada kesempatan itu, Dilla berkesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya seputar dunia kepenulisan. Lantas, bagaimana ya perasaannya yang baru pertama kali menulis buku ini?

“Awalnya saya berpikir setelah buku ini terbit dan disukai banyak orang, saya akan bangga. Tapi setelah merasakannya sendiri, dalam diri saya malah muncul rasa takut,” kata laki-laki yang masih terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya ini.

Lebih lanjut Dilla mengungkapkan, rasa takut itu muncul karena menurutnya apa yang ia tulis merupakan amanah. “Kalau dalam perjalanannya membuat saya sombong, sayalah orang pertama yang akan masuk neraka,” tambah Aldilla saat diwawancarai Qultum Media di acara tersebut.

Sebagai orang yang kali pertama menulis buku, Dilla mengaku sempat minder. Namun, rasa minder itu bisa ia tepis dengan bantuan dari berbagai pihak, termasuk redaksi Qultum Media. Ia pun mulai memfokuskan diri untuk menuntaskan penulisan buku ini. Menurutnya, untuk meraih sesuatu yang besar harus melalui perjuangan yang besar juga.

Setelah sesi bincang bareng penulis berakhir, acara dilanjutkan dengan tanya-jawab dan game seru. Keseruan semakin terlihat saat Dilla ditantang untuk mengikuti permainan tebak kata. Di akhir acara, para pengunjung berkesempatan untuk berfoto bersama penulis dan melakukan booksigning.

Acara tersebut ditutup dengan sepatah-dua patah kata penulis yang berharap agar even Islamic Book Fair bisa menjadi trigger yang bisa mengajak orang menjadi lebih islami dengan cara yang ramah dan menyenangkan.