agung, Author at Qultum Media - Laman 5 dari 6
Qultummedia adalah penerbit buku islami
Qultummedia, qultum, novel islami, ibadah, buku, motivasi, pengembangan diri,
7
archive,paged,author,author-agung,author-7,paged-5,author-paged-5,wp-theme-stockholm,wp-child-theme-stockholm-child,theme-stockholm,woocommerce-no-js,metaslider-plugin,ajax_fade,page_not_loaded,,select-child-theme-ver-1.0.0,select-theme-ver-4.2,menu-animation-line-through,wpb-js-composer js-comp-ver-7.4,vc_responsive,elementor-default,elementor-kit-30952

Filosofi Ujian: Allah Ingin Kita Dekat dengan-Nya

Cobaan bisa datang kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun.

Kalau kita merasa hidup ini sulit, bersabarlah. Memang tak mudah, tapi sejatinya ini hanya jalan menuju kebahagiaan yang telah Allah rencanakan.

Jika kita ditolak dalam lamaran kerja, rasa kecewa sangat wajar kita rasakan. Tapi tetaplah berusaha dan berdoa, Allah akan membuka jalan yang baru bagi kita.

Jika akhirnya kita tak masuk universitas yang kita impikan, bersabarlah. Ada tahun-tahun berikutnya. Atau mungkin yang terbaik untuk kita memang bukan di sana. Sekali lagi, Allah akan membuka jalan baru yang lebih istimewa.

Cobaan Akan Mendewasakan Kita

Percayalah, kecewa yang kita alami akan membuat kita lebih dewasa. Masalah yang kita hadapi hari ini tidaklah seberapa dibanding dengan yang akan kita dapatkan di hari nanti. Allah ingin kita belajar dari masalah-masalah kecil agar ketika dihadapkan pada yang besar kita tak terlalu terkejut.

Saat kita menganggap beban masalah terlalu berat, yakinlah akan ada yang Allah ringankan. Mungkin bukan di dunia, bisa saja masalah tersebut merupakan tebusan untuk meringankan timbangan dosa kita di akhirat sana.



Tugas kita hanya merencanakan mau ke mana dan dengan cara apa. Setelah kita berusaha mewujudkannya, serahkan semuanya pada Allah. Sebab tak ada usaha yang sia-sia, serta tak pernah ada doa yang tak didengarkan-Nya.

Banyak Jalan untuk Bahagia

Kadang, ada keajaiban-keajaiban yang tak pernah kita pinta. Hingga kita menganggap kita merupakan orang yang beruntung. Padahal, itulah cara Allah menebus luka kita di masa lalu. Masa di mana kita ikhlas dan bersabar saat menanggung rasa pilu.

Tak hanya ada satu jalan untuk mencapai kebahagiaan. Allah punya jalan lain, jalan yang tak pernah kita anggap bisa melewatinya. Tapi, bagi Allah tak ada yang mustahil. Kekuasaan-Nya memang tak pernah bisa dicapai oleh akal manusia.

Masalah yang sedang kita alami saat ini, yang kecil maupun besar, semuanya akan mengantarkan kita menuju hikmah-Nya yang belum kita ketahui. Hikmah yang membahagiakan tiap kita yang menerimanya, juga hikmah yang membuat kita lupa pada perihnya masalah yang pernah ada.

iri adalah perbuatan rendah

Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang?

Iri bisa menjangkiti siapa pun, terutama mereka yang merasa kebal darinya.

Sering kita hanya fokus menatap dan menakar karunia yang Allah berikan pada orang lain, namun tak punya waktu untuk mensyukuri apa yang kita miliki.

Ungkapan “rumput tetangga lebih hijau” kadang masih berlaku bagi kita. Benar, bagi hati yang jarang mensyukuri nikmat Allah, istilah itu adalah hal yang sangat wajar dan bahkan dapat diterima oleh akal.

Teman kita beli handphone baru, kita iri dan menginginkannya. Tetangga punya mobil baru, kita mengeluh karena Allah tidak memberikannya pada kita. Begitulah jika mata hanya untuk melihat bahagia orang lain, tak ada ruang di hati kita untuk bahagia.



Padahal, sebelum teman atau tetangga kita punya sesuatu yang baru, hidup kita nyaman-nyaman saja. Handphone kita yang tadinya tak ada masalah, tiba-tiba menjadi sesuatu yang paling usang ketika melihat handphone teman lebih bagus dari yang kita punya.

Di sisi lain, ada orang yang hidup seadanya. Bahkan untuk sekadar mendapatkan makanan di hari esok saja mereka tak yakin. Tapi, banyak dari mereka yang bersyukur walau hanya bisa makan untuk hari ini.

Anehnya, kita justru yang melupakan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Jangankan perihal  materi, Allah padahal sudah memberi kita nikmat sehat yang tiada henti. Nikmat yang paling jarang kita syukuri, nikmat yang paling sering kita lupakan.

Tak salah kalau iri disebut penyakit yang sulit diobati. Sebab, ia bukan hanya menutup mata dari karunia Allah tapi juga menutup hati untuk mensyukurinya.

Dalam hidup ini, sejatinya untuk memperoleh bahagia itu sederhana. Terlebih soal harta, kita dianjurkan untuk melihat yang kekurangan. Selain untuk menambah syukur, itu juga membuat hati kita tergerak membantunya.

Jadi, bahagia itu seutuhnya kita yang memutuskan. Tak perlu melihat banyaknya nikmat orang lain, jika yang ada pada kita malah sering dilupakan.

Bersyukurlah.

Bahagia bukan terletak pada banyaknya harta, tapi pada hati yang selalu siap untuk mensyukurinya.

doa memperlancar rezeki

Sedekah: Agar Rezeki Melimpah dan Berkah

Sedekah akan membuka pintu rahmat-Nya, dan mengalirkan keberkahan yang tak berkesudahan pada hidup kita.

Sejatinya, harta yang betul-betul milik kita adalah harta yang kita berikan pada orang lain, bukan yang sekarang ada di tangan kita. Apa yang ada di tangan kita suatu saat akan kita tinggalkan, tapi apa yang kita berikan pada orang lain akan berbuah pahala dan menolong kita di hari kiamat nanti.

Sedekah Bukan Sembarang Ibadah

Sedekah adalah ibadah mulia yang harus kita biasakan mulai detik ini. Ibadah utama ini tak selalu berhubungan dengan harta tapi juga melakukan hal-hal baik yang bisa bermanfaat dan meringankan masalah sesama.

Menyingkirkan duri di jalan juga sedekah. Senyum kita pada orang lain juga sedekah.

         Baca juga:
         Ustadz Abdul Somad
         Ulama Pemimpin

Rasulullah bersabda, “Infaqkanlah hartamu! Janganlah menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak maka Allah akan menghilangkan barakah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029)

Berbagi tak akan mengurangi harta yang kita miliki. Sebaliknya, ia akan menambah rezeki kita, menambah pahala kita, juga menambah rasa kedermawanan kita pada orang lain.


Al-Quran membuat perumpamaan bagi sedekah sebagai “sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir”. Hal ini karena begitu banyaknya pahala yang diterima oleh orang yang bersedekah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Jangan ragu berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain, sebab itu adalah benih pahala yang kita tanam di ladang surga. Biasakan berbagi dengan rutin, walau jumlahnya sedikit. Karena Allah lebih menyukai amalan ringan tapi terus dilakukan, dibanding amalan besar tapi dilakukan sesekali saja.

sosial media harus menjadi ladang pahala, bukan ladang dosa

Sosial Media: Bagaimana Kita Mendapatkan Pahala darinya?

Sosial media bisa menjadi ladang pahala, bisa juga menjadi ladang dosa. Pilihannya ada pada kita: bagaimana kita memanfaatkannya.

Jika kita punya keterbatasan dalam memposting kebaikan, lebih baik tahan jari untuk memposting atau mengomentari hal-hal yang tak bermanfaat. Bukan hanya sia-sia, pahala kita pun bisa berkurang karenanya.

Di dunia maya sekali pun, kita harus menjaga perkataan yang tak selayaknya ditulis. Menjaga kesopanan di dunia maya sama dengan di dunia nyata. Mungkin malah lebih sulit di dunia maya, karena kita tak langsung bertemu dengan lawan bicara kita.

Jika teman kita memposting suatu kebaikan, tak perlu langsung menuduhnya riya. Bukankah sangat mungkin ia bertujuan untuk mendapatkan pahala dari apa yang mampu ia lakukan?

Justru ketika ada postingan kebaikan, mari kita renungkan. Jika kita tak bisa berbagi kebaikan, lakukanlah kebaikan dari apa yang teman-teman kita sudah bagikan. Tetaplah berbaik sangka, sebab Allah menyukainya.

Sebelum kita mengomentari sesuatu, seharusnya kita pahami dulu apa yang ingin kita komentari. Jika hal tersebut memang sesuatu yang harus diperbaiki, silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan dan tak menyakiti hati.

Kalau kita berkomentar dengan cara yang tak baik, banyak sekali kerugian yang akan kita dapatkan. Pertama, komentar yang sia-sia akan mengurangi pahala. Kedua, orang lain akan berprasangka yang tak baik pada kita.

Bukankah kita tak ingin mendapatkan keduanya?

Mari gunakan sosial media dengan bijak. Jika belum bisa menebar kebaikan, tak perlu berulah dengan keburukan. Tahan emosi dan perasaan, semoga Allah senantiasa menjaga kita dari apa yang tak diridhai-Nya.

Bukankah kita semua ingin masuk surga? Dan, bukankah surga hanya dipenuhi oleh orang-orang baik lagi bersih hatinya?

Gunakanlah sosial media dengan cara yang baik. Tak perlu ada pertikaian di dalamnya, sebab Islam memerintahkan kita untuk cinta perdamaian.

Di Dunia Maya Pun Kita Harus Santun Berkata-kata

Santun berkata-kata di dunia maya sama pentingnya dengan di dunia nyata.

Kita sering memikirkan kebaikan apa yang bisa kita bagikan di dunia maya, tapi lupa untuk menjaga sikap santun saat menyampaikannya.

Kita adalah makhluk yang dianugerahi oleh Allah perasaan yang berbeda-beda. Ada orang yang mudah marah, ada yang sangat sabar dalam menangani masalah. Ada yang mudah mengontrol emosi, ada yang sulit untuk menjaganya.

Kita tak dilarang untuk mengomentari tulisan apa pun di dunia maya. Tapi agar tak melukai hati sesama, sudah sepatutnya kita memperhatikan adab di dalamnya. Salah satunya adalah bersikap santun.

Informasi di dunia maya tak bisa dicegah. Entah fakta atau rekayasa, semuanya ada. Karena itu, kita harus pandai memilah mana yang benar dan mana yang salah.

Jika ada postingan yang tak kita sukai, jangan langsung terbawa emosi. Karena kalau sedang marah, biasanya hati kita tak bisa berpikir panjang untuk melakukan apa yang seharusnya.

Kalau amarah atau emosi sudah menguasai diri kita, akibatnya tak sepele. Mungkin kita akan mengeluarkan kata yang tak seharusnya ditulis. Terlebih di dunia maya, kita tak tahu tujuan seseorang memposting hal yang tak kita sukai.

Coba teliti ulang, apakah benar informasi yang kita baca. Jika memang tak sesuai, ingatkan pengunggahnya dengan cara yang santun. Menjaga hati seseorang lebih utama daripada meluapkan perasaan yang kita punya.

Kita tak perlu melukai hati sesama. Sebagaimana kita tak ingin ada yang melukai hati kita, sudah sepatutnya kita menjaga perasaan orang lain walaupun berbeda pendapat dengan kita.

Dunia maya bisa menjadi ladang amal untuk kita. Kita bisa menambah pahala dengannya. Karena, siapa yang memberi tahu suatu kebaikan, ia akan mendapat pahala yang sama dengan pelakunya, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya.

Mari lebih bijak saat berinteraksi di dunia maya. Selagi bisa menambah pahala, kenapa harus kita gunakan untuk menguranginya?

Relakan, Agar Cinta Sejatimu Segera Datang

Relakan. Sebab bukan dia yang sejatinya pergi, tapi Allah yang menjauhkan.

Allah tak ingin kita salah mengartikan cinta. Yang seharusnya mendekatkan pada-Nya, malah kita jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kita.

Memang berat ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Namun, itu lebih baik daripada kita mendapatkan luka-luka yang sama jika terus bersamanya. Relakan, itu lebih baik bagi kita.

Allah tak ingin perasaan kita dipermainkan, sebab itu Dia tak mengizinkan kita pacaran. Karena yang serius tak akan mengulur waktu untuk menempuh hidup baru. Dia pasti menyegerakan jalinan kasih yang sah dan diridhai oleh-Nya.

Allah tak ingin hati kita disakiti. Walau kadang kita merasa dicintai, kenyataan sebenarnya tidaklah demikian. Sebab, tak mungkin ada manisnya cinta tanpa ridha dari Yang Mahakuasa. Tak akan ada setia bagi cinta yang menjauhkan kita dari-Nya.

Relakan …

Biarkan hati tenang tanpanya.

Dulu, malammu indah dengannya. Saling bertukar pesan. Saling berkabar. Namun, Allah punya yang lebih baik dari itu. Indahnya doa tak pernah dikalahkan oleh indahnya cinta tanpa izin-Nya.

Dulu, ketika bertemu dengannya mungkin senyummu tak bisa berbohong. Itu wajar, banyak yang mengalaminya. Namun, Allah punya yang lebih indah dari itu. Menundukkan pandangan lebih baik dibanding melampiaskan pada yang belum Allah izinkan.

Kisahmu bersamanya akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Kau tak akan pernah merasa sendiri. Kau tak mungkin dihantui sepi. Allah selalu ada untukmu, di siang ataupun malam hari.

Allah Mahabijaksana dengan membuatmu terpisah darinya. Bukan untuk membuat salah satu di antara kalian kecewa, tapi Dia punya cara lain yang bisa membuatmu dan dia bahagia.

Kalaupun memang dia yang Allah takdirkan untukmu, akan ada waktu dia kembali padamu. Sebagai orang yang berbeda, sebagai orang yang lebih taat pada-Nya.

Tak perlu bersedih karena kepergiannya. Sebab, kepergian orang yang belum Allah izinkan bersama jauh lebih baik daripada dia tetap bersamamu tapi selalu menumbuhkan luka yang baru.

Perasaan Orang Lain Pun Perlu Kita Jaga

Perasaan orang lain juga harus kita jaga, bukan hanya perasaan kita saja.

Ketika masalah terlalu sulit untuk diselesaikan, emosi dan perasaan kita menjadi tidak stabil. Akibatnya, kita mudah melampiaskannya pada orang lain.

Kadang, kita lupa bahwa yang dapat masalah dalam hidup ini bukan kita saja. Kita terlalu memikirkan ego sendiri, hingga tak ingat bahwa mungkin masalah kita tidaklah seberapa dibanding masalah orang lain.

Bermula dari Perasaan yang Tertekan

Saat kesibukan semakin hari semakin bertambah, kita mencoba menyelesaikannya satu persatu. Awalnya memang terkesan biasa saja, namun di belakangnya diri kita tidak selalu kuat untuk menanggungnya.

Akibat tak siap menanggung beban, akhirnya kita melampiaskannya pada orang yang salah. Pada teman, kerabat, atau bahkan orangtua kita.

Melampiaskan perasaan memang boleh-boleh saja, asalkan dengan cara dan di waktu yang tepat. Perlu diingat, bukan hati kita saja yang lelah. Bukan kita saja yang punya masalah. Orang lain saja bisa menahan amarahnya, kenapa kita begitu mudah melampiaskannya?

Hati orang lain pun mesti kita jaga. Luka yang ada di hati bisa kita obati. Dengan izin Allah, insya Allah akan sembuh. Namun jika orang lain terluka karena kita, masalahnya tak lagi sederhana, sebab kita harus mendapatkan maafnya.




Mungkin tugas kuliah membuat kita penat. Pekerjaan yang ada membuat kita tak bisa beristirahat. Atau mungkin yang sudah berkeluarga, keluhan pasangan menjadikan hidup tak lagi nikmat.

Mengadukan Perasaan kepada Yang Maha Menggenggam

Jika itu semua sedang kita rasakan, maka tenangkan diri kita sejenak. Pikirkan ulang bahwa inilah jalan hidup yang kita ambil. Seharusnya rintangan yang ada hanya kita yang merasakan, tak perlu membuat orang lain terluka karena masalah kita sendiri.

Ketika hati sudah terlalu lelah, luangkanlah waktu untuk bertemu dengan-Nya. Memang masalah tak langsung selesai, tapi setidaknya Allah akan menenangkan kita dari sulitnya masalah yang ada.

Jangan patah semangat. Sulitnya hidup hanya sebagian kecil dari manisnya hasil yang akan Allah berikan nanti.

Jagalah hati kita dan hati orang lain. Tak perlu melampiaskan perasaan kita secara berlebihan, sebab orang lain pun punya masalah yang harus diselesaikan.

syukur

Syukur dan Ketenangan Hidup yang Kita Dambakan

Syukur adalah kunci kebahagiaan hidup. Tanpanya, kita akan sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebab selalu saja ada yang kurang, tak sempurna, dan tak memuaskan hati.

Pernah tidak kita merasa sulit untuk bahagia? Padahal, semua yang kita butuhkan sudah Allah kasih. Doa yang kita panjatkan sudah Allah jawab. Serta satu persatu mimpi yang kita inginkan semakin banyak yang menjadi nyata.

Ternyata, yang kurang itu bukan karunia Allah, melainkan rasa syukur kita pada pemberian-Nya.

Baca juga:
Rezeki Kita Memang Sudah Ada yang Mengatur, Tapi …
Rezeki Kita Tak Lancar? Mari Amalkan 7 Kiat Mudah Ini

Itu sebabnya, hanya orang yang sakit yang tahu betul bahwa kesehatan mahal harganya. Hanya orang yang kehilangan yang benar-benar mengerti arti dari memiliki. Hanya orang yang kecewa yang sadar dirinya kurang bersyukur pada Allah.

Percayalah, dalam hidup ini Allah tidak mungkin mengecewakan kita. Mustahil bagi Allah ingin melihat hamba-Nya kesusahan. Dia selalu ingin kita hidup dalam ketenangan.

Namun, ketenangan itu ada di dalam hati, bukan terletak pada materi. Berapa banyak orang kaya namun ternyata tak bahagia? Berapa banyak pula orang yang sederhana tapi dalam keseharian justru sangat mensyukuri hidupnya?

fitrah cinta tumbuh berkat Allah Taala

Yang memberi ketenangan dalam hidup adalah Allah. Jadi, dekatilah Dia. Jangan menunggu waktu luang, justru luangkanlah waktu untuk berdoa dan bercerita pada-Nya.



Di balik sesuatu yang pergi, pasti ada yang lebih baik menghampiri. Setelah ada yang hilang, pasti ada yang segera datang. Hidup ini hanya tentang bersyukur saat menerima dan bersabar saat menunggu karunia-Nya.

Tak perlu melihat karunia yang Allah berikan pada orang lain. Karunia tiap orang pasti berbeda, karena ujian-Nya pun tak pernah sama. Cukup lihat yang kita punya, dan ucapkan dalam hati, “Syukurku jarang sekali, tapi Allah tetap memberiku karunia-Nya. Allah memang baik.”

Mulai saat ini, mari kita gapai ketenangan itu. Ketenangan yang sederhana. Bahwa tidak semua yang pergi harus membuat kita kecewa, karena ganti dari Allah nanti pasti lebih istimewa.

Mari bersyukur. Mari qanaah. Meski kadang hasil yang kita dapatkan tak sesuai keinginan, tetaplah percaya bahwa Allah pasti punya hikmah di balik ini semua.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

Fitrah Cinta Menumbuhkan Iman Kepada Allah SWT

Fitrah manusia selalu mengarah pada kebaikan.

Karena cinta adalah bagian dari fitrah manusia maka cinta pasti mengarah pada kebaikan. Saat kita mencintai seseorang, bayangan tentangnya muncul setiap saat. Keinginan untuk bertemu memuncak. Semakin lama tak bertemu, semakin kuat rindu yang tumbuh.

Cinta membuat kita ingin selalu bersama orang yang kita cintai. Menjalani hidup berdua tanpa menghiraukan masalah yang ada. Seolah di dunia ini tak ada orang lain, kecuali hanya kita dan orang yang kita cintai. Kita hidup bahagia dengannya dan berjanji menjalani masa depan bersama.

Baca juga:
Arti Cinta yang Tak Semua Orang Sanggup Memahaminya

Cinta yang Hakiki Adalah Cinta Makhluk pada Khaliknya

fitrah kebaikan

 

Mungkin saat ini kita sedang memendam cinta pada orang lain. Entah ia mengetahuinya atau tidak, kita ingin selalu bisa berjumpa. Bersamanya menceritakan segala isi hati. Betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang yang dinanti.

Tapi, tunggu dulu.



Sebelum berbicara jauh tentang cinta, bukankah sebaiknya kita mengenal siapa yang telah menanamkannya di hati kita?

Cinta ada karena Allah yang menumbuhkannya. Dan tidak mungkin Allah menanamkan sesuatu, kecuali ada maksud yang baik di balik semua itu.

Sebelum mencintai yang lain, Allah ingin kita mencintai-Nya terlebih dulu. Dia tak ingin kita menduakan-Nya, karena itulah Dia ingin kita menjadikan-Nya alasan di balik cinta kita pada yang lainnya.

Jika kita mencintai sesuatu karena Allah, Dia akan membantu kita untuk mendekatinya. Jika tidak, Allah akan memisahkan dengan cara-Nya yang mungkin tak terduga.

Yang tahu makna cinta akan berusaha menjaganya. Jika belum waktunya, ia tak akan mengungkapkan. Sebab ia tahu, Allah tak ingin dirinya lupa dengan hakikat cinta itu sendiri.

Ia akan terus berdoa dan memohon pada-Nya, jika memang cinta itu baik baginya maka tolong jangan hilangkan. Tapi jika ternyata tidak, ia berharap Allah menghilangkannya tanpa meninggalkan luka.

Punya cinta tak perlu diumbar. Teruslah berusaha menjaga dan merawatnya. Hingga waktunya tiba, Allah yang akan melengkapinya.

Cinta ada agar kita mendekat pada-Nya, cinta ada agar kita mensyukuri karunia-Nya, dan cinta tumbuh agar kita tak semakin menjauh dari-Nya.

 

 

Sumber Foto: Pixabay.com

shalat 5 waktu

Bulan Suci Ramadan dan 6 Fakta Menarik Tentangnya

Bulan suci Ramadan adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat Islam, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Baca juga:
Tip Ramadan Ini Akan Membuat Puasamu Semakin Lancar
Ramadan & Rencana-rencana yang Mudah Kita Lupakan

Selama ini kita sudah biasa menjalankan puasa di bulan suci Ramadan. Dan sebagaimana orang lain yang menyambutnya dengan bahagia, kita juga merasakan hal yang sama saat bulan suci itu tiba. Namun begitu, ternyata ada banyak hal menarik tentang puasa dan bulan Ramadan yang mungkin belum semuanya kita ketahui. Apa saja?

1 Arti kata Ramadan

‘Ramadan’ berasal dari bahasa Arab ‘romadhoon’, yang merupakan turunan dari kata ‘romadhu’ atau ‘romdhoo`’, yang artinya “panas yang menyengat pada musim kemarau”. Ada juga yang mengartikannya sebagai “waktu ketika dosa-dosa dibakar oleh amal saleh”.

Kata ‘ramadan’ sangat populer di Indonesia, sampai-sampai tak sedikit orang yang menjadikannya sebagai nama untuk anaknya. Biasanya karena sang anak lahir bertepatan pada bulan Ramadan.

2. Rasulullah berpuasa Ramadan hanya 9 kali seumur hidup

Puasa Ramadan diwajibkan pada umat Islam di bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau tahun kedua Rasulullah berdomisili di Madinah. Setelah ada perintah berpuasa pada bulan Sya’ban itu maka pada bulan berikutnya, yakni bulan suci Ramadan, Rasulullah mengajak para sahabat untuk berpuasa.

Masa hidup Rasulullah di Madinah sekitar 10 tahun, yang artinya beliau bertemu dengan bulan suci Ramadan hanya 9 kali, karena puasa Ramadan baru diperintahkan pada tahun kedua Hijriyah. Menariknya, dari 9 kali bulan Ramadan, Rasulullah hanya satu kali menjalankan puasa secara penuh, sedang 8 bulan Ramadan yang lainnya tidak. Sepertinya beliau menghadapi kendala (uzur) yang menyebabkan beliau tidak berpuasa, mungkin sakit, melakukan perjalanan jauh, atau berperang.

3. Ramadan adalah bulan Al-Quran diturunkan untuk pertama kalinya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat pertama Al-Quran yang diturunkan pada Rasulullah. Pendapat yang paling populer ada dua. Pertama, yang menyatakan bahwa surah yang pertama turun adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, dan kedua, yang menyatakan bahwa surah yang dimaksud adalah Surah Al-Muddatstsir.

Betapapun demikian, saat ini umat Islam cenderung tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat itu, dan justru fokus pada momen peringatan turunnya Al-Quran tersebut, yang biasanya dikenal dengan istilah Nuzulul Quran. Di berbagai tempat di Indonesia, baik di masjid atau di rumah-rumah, umat Islam memperingati sejarah turunnya Al-Quran ini dengan menyelenggarakan tausiyah dan pengajian, yang biasanya diadakan pada malam ke-17 Ramadan.

4. Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan

Selain Nuzulul Quran, umat Islam juga mengenal yang namanya Lailatul Qadar atau secara bahasa artinya Malam yang Mulia. Disebut Malam yang Mulia, karena malam tersebut diyakini sebagai malam diturunkannya Al-Quran (QS. Al-Qadar: 1) dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah, sebuah tempat yang berada di langit dunia.

Menurut Al-Quran sendiri, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. “Lailatul Qadar lebih mulia dibandingkan seribu bulan (QS. Al-Qadar: 3).” Karena kemuliaannya itu, amal baik yang kita kerjakan di dalamnya akan mendapatkan balasan kebaikan yang berlipat-lipat.

5. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan

Perang Badar adalah salah satu perang paling terkenal dalam sejarah Islam, sekaligus perang yang paling menentukan bagi perkembangan dakwah Islam. Nama ‘Badar’ diambil dari nama tempat yang terletak di sebuah lembah di antara Makkah dan Madinah.

Perang Badar pecah pada tanggal 2 Ramadan tahun kedua Hijriyah. Tentara muslim terdiri dari 313 pasukan, dengan perlengkapan perang yang terbatas, melawan tentara kafir yang berjumlah 1000 pasukan.

Meski kalah dari sisi jumlah, tentara muslim akhirnya berhasil mengalahkan tentara kafir. Sebanyak 70 tentara kafir terbunuh dan 70 lainnya ditawan. Tentu saja, kemenangan ini adalah anugerah dari Allah Ta’ala.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Al-Imran: 123)

6. Fathu Makkah terjadi pada bulan Ramadan

Peristiwa bersejarah lain yang juga terjadi pada bulan suci Ramadan adalah pembebasan kota Makkah atau Fathu Makkah, yang terjadi pada tanggal 10 Ramadan tahun kedelapan Hijriyah. Dalam peristiwa ini, setelah mengungsi dari Makkah karena tekanan orang-orang kafir, umat Islam berhasil merebut kota tersebut dan kembali ke pangkuannya.

Meski terdengar seperti sebuah penyerbuan, karena melibatkan 10.000 umat Islam, dalam peristiwa ini umat Islam tidak menggunakan kekerasan sama sekali. Berhala-berhala yang berjajar di sekeliling Ka’bah memang dihancurkan tapi tak satu pun penduduknya dianiaya.

Sebuah riwayat menyatakan bahwa saat itu umat Islam sempat meneriakkan ancaman pada penduduk Makkah. “Hari ini adalah hari pembalasan (Al-yawmu yawmul malhamah)!” seru mereka. Tapi, ketika kata-kata itu didengar oleh Rasulullah, beliau memerintahkan untuk menggantinya menjadi, “Hari ini adalah hari kasih sayang (Al-yawmu yawmul marhamah)!

Itulah hal-hal menarik yang berkaitan dengan bulan suci Ramadan, bulan yang selalu kita tunggu-tunggu kedatangannya dan membuat kita berdoa agar selalu diberi panjang umur oleh Allah agar bisa bertemu kembali dengannya. Nah, Pembaca yang baik, mari membuat agenda kegiatan untuk mengisi bulan Ramadan tahun ini!

Semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala dan nanti setelah Ramadan pergi kita betul-betul menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin …

 

Gambar didapat dari: http://bersamadakwah.net