Beristighfar Tujuh Puluh Kali atau Seratus Kali
Di antara kekhususannya ialah bahwa beliau beristighfar sebanyak tujuh puluh kali setiap hari. Ini disebutkan Ibnu al-Qash dan diriwayatkan Ibnu Mulqin dalam Al-Khashāis dan Muslim dalam Shahihnya. Abu Daud juga meriwayatkan dari hadits al-Agharrul Muzni ra dengan lafaz:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى, وَإِنِّى لأََسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah) dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dalam sehari seratus kali.
Lafaz ini juga yang dikemukakan oleh Muslim. Sedangkan dalam riwayat Abu Daud dengan lafaz “dalam setiap hari.
Syeikh Waliyuddin bin Al-Iraqi mengatakan, “Pada dzahirnya kalimat kedua merupakan akibat dari kalimat sebelumnya. Sebab istighfar adalah lupanya hati mengingat Allah, seperti yang ditunjukkan oleh sabdanya dalam riwayat Nasai dalam buku Amalul Yaumi Wallailati:


Tubuh manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan berbagai kecerdasan yang luar biasa dan kecerdasannya melekat dalam diri manusia.Masing-masing kecerdasan memerluka pemeliharaan yang rutin. Islam sebagai agama yang hanif ini ternyata memiliki tata cara pemeliharaan kecerdasan tubuh tersebut. Semua itu merupakan manifesatasi/rasa syukur terhadap penciptaan-Nya. Kecerdasan tubuh yaitu kemampuan seseorang untuk memahami, mencintai dan merawat tubuhnya agar dapat berfungsi secara optimal. Membangun kecerdasan tubuh adalah melalui serangkaian kebiasaan baru yang secara disiplin tersebut akhirnya tertanam dalam fikiran bawah sadar dan mengubah sikap, pola pikir, maupun pola tindakan dalam membangun kehidupan yang sehat.